Ekonomi
( 40473 )Laba KINO Naik 186%, Tapi Margin Dipredikasi Menurun
PT Kino Indonesia Tbk (KINO) membukukan kinerja yang positif sepanjang kuartal I-2022. Pendapatan dan laba bersih emiten produk perawatan tubuh ini kompak menguat. Mengutip laporan keuangannya, KINO mengantongi penjualan hingga Rp 1,13 triliun atau naik 17,69% secara tahunan.
Peningkatan dari sisi penjualan itu turut mengerek laba bersih KINO hingga tiga digit, tepatnya 186,52% yoy menjadi Rp 47,22 miliar.
laba pejualan aset tetap dan laba selisih kurs-neto mengalami peningkatan masing-masing 146,80% yoy dan 356,84% yoy.
Kinerja Emiten Sektor Energi Tumbuh Pesat
Pertumbuhan kinerja emiten sektor energi masih berlanjut. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, sebagian besar emiten sektor energi mengantongi kenaikan pendapatan dan laba bersih. Laba bersih PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) misalnya, tumbuh 40% secara tahunan menjadi Rp 428 miliar pada kuartal I-2022. Di periode yang sama, laba bersih PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bahkan melesat 92,68% secara tahunan.
HEAL Bidik Pendapatan Rp 5 Triliun
Pengelola rumah sakit PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) berencana menambah tiga hingga empat rumah sakit baru. Di saat yang sama, Hermina akan mengakuisisi satu rumah sakit pada tahun ini.
Direktur PT Medikaloka Hermina Tbk Aristo Setiawidjaja mengungkapkan, rencana penambahan rumah sakit tersebut tidak seluruhnya akan dilakukan sepanjang tahun 2022. Sementara tiga rumah sakit baru rencananya akan hadir di Aceh, Tasikmalaya, dan Ciawi. Saat ini Hermina mencatat tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) sudah mencapai 60% dari target sekitar 70% di sepanjang tahun 2022. Dengan strategi dan ekspansi yang akan dijalankan, Hermina optimistis bisa meraup pendapatan Rp 5 triliun di sepanjang tahun ini.
INFLASI APRIL 2022
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2022 sebesar 0,95% month-to-month (MtM) atau sebesar 3,47% secara year-on-year (YoY) yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak goreng, daging ayam ras dan telur ayam ras.
Kapitalisme Baru Jepang
PM Jepang yang terpilih secara resmi awal Oktober 2021, Fumio Kishida, mengusung konsep anyar: kapitalisme baru. Berbicara dalam Davos Agenda Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada Januari 2022, Kishida menyatakan, Jepang bertekad memimpin tren global dengan bentuk kapitalisme baru itu. Ia ingin menunjukkan contoh nyata bagaimana kapitalisme dapat berkembang, termasuk saat Jepang akan memegang kepemimpinan G7 pada 2023. Kishida menyatakan, saat ini dunia berada di era perubahan paradigma kebijakan. Ia becermin dari pengalaman serupa, kala negara-negara Barat berupaya mendorong negara kesejahteraan pada era 1950-an hingga 1960-an. Ada pula contoh kebangkitan neoliberalisme oleh Presiden AS Ronald Reagan dan PM Inggris Margaret Thatcher pada dasawarsa 1980-an dan 1990-an. Ia mengaku bakal terus mempromosikan reformasi ekonomi dan sosial, sambil tunduk pada penilaian kritis oleh warga Jepang lewat pemilu. Agar berhasil, para pemimpin pemerintah, industri, dan buruh wajib bekerja sama menghasilkan momentum besar dan menciptakan gelombang sejarah: sebuah pergeseran paradigma global dalam kebijakan lewat kapitalisme baru itu.
Kapitalisme baru ala Kishida mencakup pertumbuhan ekonomi dan pemerataan secara bersamaan. Dua komponen ini harus dicapai dengan menghasilkan siklus pertumbuhan ekonomi yang baik dan meningkatkan upah melalui kolaborasi sektor publik dan swasta. Kishida menyadari risiko masalah rantai pasok untuk bahan dan teknologi yang penting dan strategis belakangan makin meningkat. Ini terjadi karena ketegangan geopolitik yang makin intens dan risiko bencana alam dan kesehatan, termasuk penyakit menular baru. Pascapandemi Covid-19, ujian itu terutama datang dari efek berantai dari perang Rusia-Ukraina. Dalam ketidakstabilan geopolitik dunia, Kishida menjanjikan investasi asing langsung menjadi 80 triliun yen (617 miliar USD), setara 12 % PDB Jepang 2030. Kishida juga menyatakan, Jepang terus mendorong perusahaan untuk meningkatkan upah dan membelanjakan lebih banyak untuk penelitian dan pengembangan. Kishida mengakui tantangan negaranya tidak ringan. Dia antara lain menyebutkan soal kurangnya tenaga kerja dan perlunya mendorong keberagaman jenis dan skala perusahaan-perusahaan di Jepang. Untuk itu, dia berjanji akan memperkenalkan insentif pajak untuk mendorong sektor swasta meningkatkan upahnya. Investasi pada riset dan pengembangan mau tidak mau diperlukan untuk mencapai tingkat internasional. (Yoga)
Kasus ”Robo Trading” Ponzi: Jangan Membunuh Tikus dengan Membakar Lumbung
Akhir-akhir ini media massa marak membahas kasus penipuan dengan modus robo trading menggunakan skema ponzi. Sudah ribuan orang tertipu. Korban menderita kerugian jutaan, bahkan miliaran rupiah. Beberapa perusahaan bahkan mengeluarkan imbauan keras agar karyawan mereka tak ikut robo trading.Pada dasarnya, robo trading adalah metode trading menggunakan robot berbentuk perangkatlunak (software) yang diprogram untuk membaca dan menganalisis data pasar dan melakukan eksekusi sesuai strategi trading tertentu. Robo trading sangat membantu trader karena robot dapat memantau harga komoditas dengan lebih presisi dan mampu melakukan eksekusi dengan lebih cepat dan lebih akurat. Kinerja robot tergantung kecanggihan metode yang digunakan. Robot yang sederhana umumnya hanya mengandalkan logika rule-based yang sederhana saja, sedangkan yang canggih bisa menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan machine learning untuk mengenali pola-pola pasar.
Robo trading pada dasarnya alat bantu trading bersifat netral. Dalam kasus kejahatan menggunakan robo trading, yang salah bukanlah robo trading-nya, melainkan robo trading yang dijadikan kedok skema ponzi. Seperti umumnya skema ponzi, modus penipuan robo trading menggunakan skema MLM. Robo trading yang relative berisiko tinggi dijual dengan metode MLM oleh sales amatir tak besertifikat. Indikasi utama robo trading berskema ponzi adalah robot yang ditawarkan hanya bisa digunakan di broker tertentu yang terafiliasi. Penggunaan broker terafiliasi memungkinkan penyedia layanan robo trading memanipulasi atau, istilah pasarnya, ”melukis” harga. Dengan demikian, penyedia robo trading bisa memastikan keuntungan trading sehingga tampak menarik bagi investor awal. Ini dilakukan sampai suatu saat nanti mereka ”exit” dengan cara membuat semua investor kalah dan mereka sendiri kabur.
Jadi, OJK juga perlu berperan melakukan pengaturan. Akan lebih baik lagi jika Bappebti dan OJK berkoordinasi. Para regulator bisa saja mengambil langkah mudah dengan melakukan pelarangan terhadap semua robo trading. Namun, jika ini dilakukan, triliunan rupiah pasar robo trading akan lenyap kalau semua robot dianggap ilegal dan tidak boleh beroperasi. Hal pertama yang perlu dilakukan regulator adalah membuat proses pendaftaran penyedia robo trading. Saat ini,tak ada aturan dan proses resmi untuk melakukan itu. Selanjutnya perlu dilakukan proses akreditasi penyedia layanan robo trading. Regulator mengeluarkan kriteria tertentu yang bisa menjamin standar kualitas penyedia robo trading sedemikian rupa sehingga konsumen terlindungi. Setelah itu, baru bisa dilakukan proses perizinan formal. Selain pendaftaran, akreditasi, dan perizinan, regulator juga dapat mendorong terbentuknya asosiasi robo trading. Di dunia digital yang semakin maju ini, robo trading adalah alat bantu yang tidak terelakkan lagi bagi para trader dan investor. Oleh karenanya, jika ada penyalahgunaan seperti marak terjadi saat ini, hendaknya regulator tak bereaksi dengan melarang robo trading, tetapi melakukan pengaturan yang lebih spesifik agar konsumen dan investor terlindungi. Intinya jangan membunuh tikus dengan membakar lumbung. (Yoga)
Keramba Jaring Apung untuk Budidaya Lobster
Sudah saatnya budidaya lobster Indonesia mendunia. Pengembangan teknologi budidaya lobster dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi ratusan juta benih lobster yang selama ini dikirimkan ke luar negeri. Jika benih-benih ini dikembangkan di Tanah Air, Indonesia bisa bersaing dalam pasar lobster kelas dunia. Negara-negara tetangga pun mulai melirik komoditas perikanan dengan nilai jual tinggi ini. Bahkan, Australia menunjukkan keseriusannya menjajal teknologi keramba jaring apung (KJA) submersible merek Aquatec dari PT Gani Arta Dwitunggal. Nilai ekspor untuk satu paket KJA sistem kerangkeng terbenam ini mencapai 100.000 USD atau Rp 1,4 miliar. Paket tersebut dikirimkan dari pabriknya di Padalarang, Bandung Barat, Jabar, Senin (18/4). Paket ini dimasukkan ke dalam satu kontainer yang akan dikirimkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di situ, sejumlah petugas sibuk menyusun peralatan di dalam peti kemas. Sementara itu, satu unit forklift mondar-mandir mengantarkan paket peralatan dengan ukuran yang beraneka ragam.
Dirut PT Gani Arta Dwitunggal Budiprawira Sunadim, yang turut melepas paket ekspor tersebut, menyatakan, pembeli dari Australia ini adalah Ornatas, perusahaan budidaya lobster kenamaan dari ”Negeri Kanguru” itu. Selain Australia, Papua Niugini juga tengah menjalin komunikasi dengan Aquatec untuk membeli KJA submersible.”Ini tidak menutup kemungkinan untuk pemesanan berikutnya. Apalagi, kabarnya Australia menyediakan dana 1,8 miliar dollar Australia untuk pengembangan budidaya lobster. Menurut kami, pembelian ini adalah bentuk pengakuan dari perusahaan internasional terhadap teknologi yang kami kembangkan,” tuturnya. Teknologi KJA ini memastikan kerangkeng lobster tidak berada di permukaan air, tetapi tetap bertahan di kedalaman tertentu. Hal itu dilakukan untuk memastikan benih lobster mendapatkan suhu dan kondisi air yang stabil selama budidaya berlangsung. Budiprawira mengklaim, kelangsungan hidup (survival rate) dari budidaya dengan sistem ini bisa mencapai 80 %. Tingkat keberhasilan yang cukup tinggi itu tentu sangat menguntungkan bagi pelaku budidaya lobster. Apalagi, daging lobster bernilai tinggi di pasar makanan laut (seafood). Dari laman Aquatec.co.id, lobster mutiara berukuran 300 gram mencapai Rp 600.000 per kg. Adapun ukuran 1 kg ke atas bisa dijual hinggaRp 1,2 juta per kg. Harga ini tidak jauh berbeda dengan lobster yang dijual di pasar daring.
GM Aquatec Andi Jayaprawira Sunadim menjelaskan, pihaknya terus mengembangkan teknologi budidaya lobster agar mendapatkan hasil terbaik. Andi menyebutkan,teknologi budidaya dengan KJA submersible yang dikembangkan Aquatec ini bisa ditempatkan di pesisir mana saja. Sebagian konstruksi dan peralatannya menggunakan kerangka stainless steel dan plastik HDPE (high density polyethylene) yang ramah lingkungan. Andi mencontohkan paket yang dikirim ke Australia. Sistem KJA ini terdiri atas 22 keramba kerangkeng lobster ukuran S (kecil), M (menengah), dan L (besar). Ukuran terkecil digunakan untuk mengembangkan benih dan akan dipindahkan seiring dengan bertambahnya ukuran lobster. ”Setiap kerangkeng ini dibenamkan dengan ketinggian tertentu sesuai kebutuhan. Posisi kerangkeng di tengah, tidak di permukaan atau di dasar, ini baik untuk lobster agar terhindar dari polusi dan kontak lain karena benih lobster ini sensitif,” ujarnya. Metode ini, menurut Andi, telah diuji coba bersama sejumlah pihak. Tidak hanya dari pemerintah melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, perguruan tinggi seperti Unpad dan IPB juga ikut mencoba teknologi tersebut. (Yoga)
Harga TBS Petani Sawit Swadaya Makin Tertekan
Tengkulak semakin menekan harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit di tingkat petani swadaya akibat imbas larangan ekspor minyak kelapa sawit mentah dan sejumlah produk turunannya. Harga TBS, yang biasanya 70-80 % harga patokan di tingkat provinsi, saat ini turun menjadi 40-60 % dari harga patokan itu. Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto (8/5) mengatakan, praktik pembelian TBS sawit di tingkat petani oleh tengkulak sudah berlangsung lama. Biasanya selisih hargaTBS berkisar 20-30 % harga TBS yang dipatok tim penetapan harga TBS tingkat provinsi. ”Lantaran kebijakan larangan ekspor CPO dan produk turunannya, gap harga TBS dengan harga patokan semakin besar, berkisar 40-60 %. Petani sawit swadaya tidak punya pilihan lain mau menjual TBS ke mana lagi selain ke tengkulak karena tidak terhubung langsung dengan pabrik,” ujarnya. SPKS mencatat, hargaTBS di tingkat petani sawit swadaya di beberapa daerah anjlok dari harga tertinggi Rp 3.500 per kg jadi Rp 1.400 per kg untuk harga terendah. Di tingkat petani plasma, harga TBS juga turun, tapi masih di kisaran Rp 2.000 per kg hingga Rp 3.000 per kg.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai penurunan harga TBS kelapa sawit di tingkat petani bukan akibat spekulasi pasar. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan harga TBS turun, seperti sentimen pasar terhadap kebijakan pemerintah dan periode Lebaran. Sekjen Gapki Eddy Martono menuturkan, ada jarak waktu antara pengumuman larangan ekspor minyak goreng beserta bahan bakunya yang dilakukan Presiden Jokowi dengan detail bahan baku yang dimaksud dan diumumkan oleh Menko Bidang Perekonomian. Hal itu membuat pasar salah menangkap informasi. Penurunan harga TBS terbesar terjadi ditingkat petani swadaya sawit, yaitu di kisaran Rp 1.000-Rp 1.500 per kg. Di petani sawit plasma, penurunan harga TBS relatiflebih sedikit, yaitu di kisaran Rp 300-Rp 400 per kg. (Yoga)
Deindustrialisasi Dini Masih Mengancam
Realisasi investasi di sektor manufaktur pada triwulan I tahun 2022 meningkat cukup signifikan seiring upaya hilirisasi industri dan membaiknya kondisi penanganan pandemi Covid-19. Namun, kekhawatiran akan ancaman deindustrialisasi dini masih membayangi struktur perekonomian nasional. Terlebih, jika investasi yang masuk tidak diarahkan dengan tepat. Sepanjang Januari-Maret 2022, realisasi investasi sektor industri pengolahan mencapai Rp 103,5 triliun. Ini berkontribusi 36,7 % total nilai investasi sepanjang triwulan I-2022 sebesar Rp 282,4 triliun. Secara tahunan, investasi sektor manufaktur meningkat 17 %. Industri pengolahan mengalami pertumbuhan sejak dua tahun lalu meski di tengah pandemi. Berdasarkan data Kementerian Investasi, realisasi PMDN di industri manufaktur senilai Rp 25,6 triliun, berkontribusi 18,9 % total capaian PMDN yang menembus Rp 135,2 triliun.
Investasi terbesar pada industri makanan dan minuman senilai Rp 9,7 triliun melalui 2.181 proyek. Sementara realisasi PMA di sektor manufaktur senilai 5,4 miliar USD atau Rp 78,2 juta triliun (kurs Rp 14.498 per USD). Investasi itu menyumbang 52,9 % total capaian PMA pada triwulan I-2022 yang nilainya 10,3 miliar USD atau Rp 149,3 triliun. Penyumbang terbesar adalah investasi di industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar 2,5 miliar USD atau Rp 36,2 triliun dengan total 443 proyek. Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance Andry Satrio Nugroho menilai, kenaikan investasi di sektor manufaktur itu tidak serta-merta menunjukkan Indonesia sudah lepas dari bayang-bayang ancaman deindustrialisasi dini. Pasalnya, penurunan kontribusi industry manufaktur terhadap PDB masih terjadi. Pada 2021, industri pengolahan berkontribusi 19,25 % PDB, dengan kontribusi industri pengolahan nonmigas sebanyak 17,3 % PDB. Hal itu tetap menurun jika dibandingkan capaian tahun 2011, ketika kontribusi industri pengolahan terhadap PDB sebesar 21,76 % dan kontribusi industri pengolahan nonmigas 18,3 % ”Artinya, deindustrialisasi dini di Indonesia sebenarnya sudah terjadi. Kita belum mencapai peak atau puncak dari kinerja industri manufaktur, tetapi kontribusinya terus menurun,” kata Andry, Sabtu (7/5). (Yoga)
Dampak Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed Minim
Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed sebesar 50 basis poin pada Rabu (4/5) diyakini tidak memengaruhi kinerja industri properti di Tanah Air. Jika BI merespon langkah The Fed itu dengan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate, penyesuaian kredit kepemilikan rumah oleh bank juga tidak akan langsung diterapkan. ”BI mungkin akan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate, tetapi akan penuh kehati-hatian. Jika itu jadi dilakukan pun, pemerintah akan berhati-hati ambil kebijakan selanjutnya. Sebab, kondisi Indonesia, termasuk industri properti, sedang menuju pemulihan,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida (8/5). Menurut dia, 65 % pangsa pasar properti rumah adalah warga kelompok generasi milenial. Sebanyak 91 % pembelian rumah tapak memakai KPR. Harga rumah tapak yang mereka minati biasanya berkisar antara Rp 500 juta dan Rp 1 miliar. Pembayaran cicilan KPR ini biasanya mengandalkan sepertiga gaji mereka. Apabila suku bunga acuan BI naik, lalu bunga KPR ikut mengalami penyesuaian, hal itu akan memengaruhi nasabah
Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI Gede Widiade menambahkan, pemulihan bisnis dari dampak pandemi Covid-19 belum sepenuhnya terjadi. Di sisi lain, harga produksi properti sudah naik. Ini membuat harga jual ke masyarakatikut meningkat. Sementara kemampuan daya beli masyarakattak sama. Apalagi kemampuan pulih dari efek pandemi pun beragam. Rumah tapak yang paling laku berkisarRp 400juta hing- ga Rp 1 miliar. Tipe rumahnya biasanya memiliki luas bangunan mulai dari 36 meter persegi dan luas tanah mulai 60 meter persegi. Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatakan, pihaknya memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan tiga hingga empat kali lagi sampai akhir tahun karena melihat tren inflasi yang persisten. April lalu BI masih mempertahankan suku bunga acuanBI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50 %. Tingkat suku bunga ini bertahan sejak Februari 2021. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









