Ekonomi
( 41386 )SAMPAH MAKANAN, Dibuang Warga, Dimakan Pemulung
Jam menunjukkan pukul 13.30 WIB. Terik, becek air lindi, dan bau busuk dari gunung sampah bercampur aduk menghiasi aktivitas ratusan pemulung di zona 3 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Besarnya tenaga yang terkuras selama pencarian sampah tidak jarang membuat pemulung juga melirik sampah makanan yang masih layak dikonsumsi. Seperti salah seorang pemulung, Rohadi (47), yang menemukan sebungkus roti sobek dan langsung melahapnya di lokasi. ”Makanan yang masih layak seperti ini, ya, dimakan,” kata Rohadi. Tidak jauh dari lokasi Rohadi mencari kertas dan kardus, Sarmi (45) dan Adim (40) mencicipi kue kering yang mereka temukan dalam kantong plastik bening di antara tumpukan sampah. ”Iseng makan gitu. Kalau lapar dikit, malas turun ke bawah untuk beli nasi, ya, apa saja dimakan, yang penting sehat gitu saja,” kata Sarmi. Adim bahkan menambahkan, tidak hanya makanan jadi, tetapi bahan mentah, apabila dirasa masih layak, bisa dibawa pulang ke rumah. ”Jangankan makanan, ikan, ayam saja kalau masih bagus, ya, dibawa pulang, dimasak lagi. Engkar (43) gemar mencari makanan kemasan dan makanan siap masak di sela-sela menyortir sampah kertas dan plastik. Makanan kemasan sering ia dapatkan langsung ketika ada truk yang datang ke TPST Sumur Batu, Bekasi. Engkar menunjukkan berbagai benda hasil temuannya, sebotol madu, adonan puding instan, makaroni kering, sekantong kacang almon, hingga sebungkus lembaran kulit taco, makanan khas Meksiko. Bagi Engkar, tidak ada yang spesial dari makanan-makanan impor tersebut. Asalkan tidak ada bungkusan yang berlubang, baginya semua masih layak untuk dimakan.
Menurut Ketua Koalisi Persampahan Nasional Bagong Suyoto, pemulung juga merupakan simbol konkret kelompok ringkih ketahanan pangan. ”Jadi, bagaimana caranya mereka mencukupi pangan? Salah satunya mencari sisa pangan yang masih bisa digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Itu sebagai upaya untuk mempertahankan hidup,” lanjutnya. Apa yang dilakukan para pemulung itu bukanlah tanpa risiko. Menurut hasil laporan puskesmas setempat yang ia pegang, Bagong menjelaskan, sampah di TPA menjadi sumber beberapa penyakit. ”Secara kasatmata bahaya tak tampak, tetapi udara kotor bikin ISPA, air kotornya bisa disentri, muntaber, atau gatal kulit,” katanya. ”Itu kalau usianya 40, 30 tahun, mereka masih sehat. Masih hebatlah mereka. Makan tanpa cuci tangan. Mereka tidak berpikir jika itu gas metana, karbon dioksida, dan zat macam-macam sangat berpengaruh terhadap ketahanan tubuhnya. Kelak, kalau sudah 50, 60 tahun, bengeknya mulai kelihatan,” ujar Bagong. Secara nasional, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian LH dan Kehutanan pada 2021, sisa makanan menyumbang lebih dari seperempat sampah yang dihasilkan setiap hari. Ini pun telah mengalami penurunan dari 40 % pada 2019. (Yoga)
Tsunami Inflasi Mulai Mengancam
Negara-negara yang tergabung dalam klub elite G20 secara umum mengalami pertumbuhan positif walau masih menyisakan banyak persoalan ekonomi domestik masing-masing. Demikian halnya emerging economies juga tumbuh positif sehingga ikut memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi yang positif dan ekspansif itu ternyata juga membuka potensi ancaman baru dalam bentuk semakin tingginya angka inflasi. Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral sudah menyuarakan kekhawatiran mereka mengenai ancaman inflasi yang sudah terlihat di mana-mana. Inflasi di AS Maret 2022 telah menyentuh 8,3 % (yoy), angka tertinggi sejak Januari 1982. Inflasi di negara-negara Uni Eropa (UE) juga telah menyentuh 7,8 % pada Maret 2022, sebuah peningkatan yang luar biasa. Di Australia, inflasi mencapai 5,1 % dan di Korsel 4,1 %. Inflasi di beberapa emerging economies pada Maret 2022 juga melesat. Di India 6,95 %, Brasil 10,98 %, Afrika Selatan 5,9 %, dan bahkan di Turki 61,14 %. Di beberapa negara ASEAN, inflasi juga meningkat walaupun tak sebesar negara-negara maju.
Saat ini inflasi telah menjadi momok yang menakutkan dan terjadi bukan hanya di negara-negara maju, melainkan juga di negara-negara berkembang. Laju inflasi yang sangat cepat terjadi hampir serentak di semua negara sehingga menciptakan semacam ”pandemi inflasi” di mana-mana. Beberapa faktor pendorong gelombang inflasi di hampir semua negara di dunia adalah, Pertama, Di saat penularan Covid-19 melambat dan semakin melemah, konsumsi masyarakat meningkat sangat drastis, bahkan di luar dugaan para pakar. Sementara ketersediaan barang dan jasa yang ada tidak lagi mampu mengimbangi permintaan. Kondisi ini memicu naiknya harga-harga barang dan jasa sehingga mendorong laju inflasi ke level yang lebih tinggi. Kedua, faktor kelangkaan energi yang terjadi akibat perang Rusia-Ukraina menjadi pemicu naiknya harga-harga komoditas energi. Harga minyak mentah meroket hingga 110 USD per barel, Sementara sumber energi baru dan terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan di negara-negara maju belum siap menggantikan energi berbasis fosil. Ketiga, rantai pasok global untuk mendukung proses produksi barang belum sepenuhnya kembali normal akibat pandemi yang berkepanjangan.
Masyarakat akan dirugikan oleh kenaikan laju inflasi yang sangat tinggi mengingat merekalah yang akan merasakan dampaknya secara langsung. Pertama, pada 2022 ini konsumen harus membayar harga listrik dan bahan bakar lebih mahal dari sebelumnya karena perusahaan penyedia energi membebankan kenaikan harga-harga sumber energi langsung ke konsumen. Kedua, kenaikan harga listrik dan bahan bakar memicu meningkatnya biaya produksi karena listrik dan bahan bakar merupakan salah satu komponen penting dari proses produksi barang ataupun jasa. Ketiga, kenaikan harga barang dan jasa menyebabkan biaya hidup menjadi meningkat tanpa bisa dihindari lagi. Inflasi yang tinggi akan membuat masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah semakin tertekan sehingga akan memberatkan mereka. Pemerintah ataupun pengusaha harus menyisihkan anggaran yang lebih besar untuk membiayai pegawai mereka ataupun memperbanyak bantuan tunai bagi masyarakat miskin, dengan tujuan untuk memperkuat daya beli. (Yoga)
Digitalisasi demi Inklusi Keuangan
Digitalisasi merupakan salah satu solusi untuk memperluas inklusi keuangan di masyarakat. Layanan jasa keuangan digital memiliki struktur perusahaan ramping dan model bisnis yang memungkinkan untuk memberi pinjaman dalam jumlah kecil. Oleh karena itu, layanan jasa keuangan digital bisa menjangkau segmen yang sebelumnya tidak tersentuh layanan konvensional. Digitalisasi dan inklusi keuangan juga merupakan agenda presidensi Indonesia pada G20. Digitalisasi yang dapat memperluas inklusi keuangan diyakini sebagai salah satu jlan menuju pemulihan ekonomi. Pada seminar ”Digital Transformation for Financial Inclusion of Women, Youth, and MSMEs to Promote Inclusive Growth” pekan lalu, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, perluasan inklusi keuangan sangat krusial dalam proses pemulihan ekonomi. ”Semakin inklusif atau semakin luas layanan jasa keuangan itu bisa diakses oleh masyarakat, kecepatan pemulihan ekonomi bisa terakselerasi,” ujar Sri Mulyani.
Global Partnership Financial Inclusion (GPFI) Co-chair Bank Sentral Italia Magda Bianco menjelaskan, digitalisasi telah mentransformasi kehidupan secara umum dan sistem keuangan secara khusus. Digitalisasi menjadi penolong utama di masa pandemi, membuka kesempatan luas bagi UMKM untuk inovasi produk dan jasa keuangan yang berkualitas, serta mendukung kemudahan akses. Digitalisasi juga efektif mengurangi biaya transaksi dan menjadi prasarana dalam evaluasi kelayakan kredit. Prasarana ini berkontribusi pula memperkuat inklusi yang lebih luas. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menegaskan, digitalisasi layanan jasa keuangan merupakan salah satu pendorong perluasan inklusi keuangan. OJK telah menyusun strategi perluasan inklusi keuangan yang terangkum dalam dokumen Strategi Nasional Keuangan Inklusif. ”Kami menargetkan inklusi keuangan 2024 bisa tercapai pada level 90 %, artinya 90 % penduduk Indonesia sudah mengakses layanan jasa keuangan,” ujarnya. Ketua Indonesia Fintech Society (IFSoc) Rudiantara menjelaskan, layanan jasa keuangan digital bakal memperluas inklusi keuangan karena kemampuannya menjangkau segmen yang sebelumnya tidak dijangkau lembaga keuangan konvensional. Segmen ini di sebut unbankable. Mereka tidak bisa jadi debitor bank lantaran tidak punya jaminan untuk pinjaman yang diberikan. Layanan jasa keuangan digital, seperti tekfin ataupun bank digital, mempunyai struktur dan model bisnis yang berbeda dari perbankan konvensional. Mereka mau dan mampu memberikan pendanaan modal kerja dalam jumlah kecil, seperti Rp 10 juta. Beberapa tekfin bahkan punya visi dan misi secara khusus hanya memberikan pendanaan pada debitor perempuan pengusaha dan anak muda. (Yoga)
Industri Pengolahan Sokong Surplus Neraca Dagang
Kinerja ekspor sektor pengolahan atau manufaktur dalam negeri telah menopang surplus neraca perdagangan nasional. Untuk menjaga kinerja positif ini sekaligus memperbaiki struktur ekonomi secara berkelanjutan, pemerintah akan terus mendukung ekspor produk hilirisasi sumber daya alam dari industri manufaktur. BPS melaporkan, ekspor Indonesia April 2022 sebesar 27,32 miliar USD, tumbuh 47,76 % secara tahunan. Sedang nilai impor 19,76 miliar USD, turun 10,01 % secara tahunan. Dengan demikian, angka surplus April 4,53 miliar USD. Surplus neraca perdagangan telah terjadi dalam empat bulan beruntun sejak awal 2022. Jika diakumulasikan, surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2022 sebesar 16,89 miliar USD, lebih besar dari surplus pada empat bulan pertama tahun 2021 sebesar 7,81 miliar USD. Secara struktur, ekspor nonmigas menyumbang 94,75 % terhadap total ekspor April 2022 dengan rincian sektor industri pengolahan 69,86 persen (19,09 miliar USD), industri pertambangan 23,45 % (6,41 miliar USD), serta industri pertanian, kehutanan, dan perikanan 1,44 % (390 juta USD).
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio N Kacaribu (18/5) menilai positif kinerja ekspor sektor industri pengolahan yang menjadi komponen penyumbang tertinggi ekspor nonmigas. Secara tahunan, pertumbuhan ekspor industri pengolahan pada April 2022 mencapai 27,92 persen. Ia menambahkan, sektor pengolahan atau manufaktur adalah sektor yang memiliki nilai tambah tinggi dalam perekonomian, terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja. Arah kebijakan pemerintah, lanjutnya, akan terus menggalakkan kinerja ekspor pada sektor pengolahan yang bernilai tambah tinggi dengan memperkuat hilirisasi sumber daya alam Indonesia. Sejumlah contoh produk sektor manufaktur penopang ekspor adalah produk hilirisasi tambang dan mineral, seperti produk besi dan baja. Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Faisal Rachman, mengatakan, angka realisasi surplus neraca perdagangan April 2022 jauh lebih tinggi dari perkiraan konsensus pasar sebesar 4 miliar USD. Ia memperkirakan, surplus neraca barang pada neraca transaksi berjalan hingga akhir tahun akan menyusut karena impor akan mengejar ekspor seiring dengan pemulihan ekonomi. (Yoga)
USAID dan Mars Bantu 9.000 Petani Kakao
Lembaga donor dari Amerika Serikat, USAID, dan PT Mars berkolaborasi mendorong pengembangan pertanian kakao berkelanjutan melibatkan 9.000 petani di Sulsel dan Sulteng. Setidaknya 7,2 juta USD (Rp 104 miliar) dikucurkan. Program ini diluncurkan di laboratorium pengembangan kakao Mars di Kabupaten Pangkep, Sulsel, Rabu (18/5). (Yoga)
VALUASI KRIPTO TERJUN BEBAS, G7 MAU ATUR PASAR MATA UANG DIGITAL
Kelompok negara industri terkaya atau G7 semakin mematangkan rencana pengaturan pasar uang kripto. Perlindungan konsumen menjadi alasan utama setelah nilai pasar kripto tersapu 1,8 triliun USD dalam enam bulan terakhir. Nilai yang hilang itu mencapai lebih dari 1,5 kali PDB Indonesia. Gubernur Bank Sentral Perancis Francois Villeroy de Galhau mengatakan, pengaturan pasar kripto akan dibahas dalam pertemuan para pejabat keuangan G7 di Jerman pada pekan ini. ”Hal yang terjadi beberapa waktu terakhir adalah tanda harus ada regulasi global,” ujarnya, Selasa (17/5) malam waktu Paris atau Rabu dini hari WIB. Bersama 26 negara lain di Uni Eropa (UE), Perancis sudah mendorong regulasi pasar kripto di UE. Dikenal sebagai aturan MICA (Marketin Crypto Asset), UE menghendaki pasar kripto diatur untuk memberikan perlindungan kepada investor kecil. Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS, Gary Gensler mengatakan, pasar kripto amat spekulatif. Kepercayaan masyarakat bisa tersapu kalau kondisi itu dibiarkan.
Pernyataan mereka muncul menyusul pasar kripto yang kembali anjlok. Dalam sepekan terakhir, sebagaimana dicatat CoinGecko dan Coinbase, nilainya tersapu 1,2 triliun USD. Sebagai pembanding, nilai PDB atau nilai agregat seluruh kegiatan perekonomian Indonesia adalah 1,1 triliun USD. Jika dihitung sejak November 2021, nilai yang tersapu dari pasar kripto semakin besar. Dari 3,1 triliun USD pada November, akumulasi nilai pasar seluruh mata uang kripto hanya tinggal 1,3 triliun USD pada 16 Mei 2022. Kehancuran pasar kripto, antara lain, dipicu kejatuhan nilai luna, salah satu mata uang kripto. Nyaris tak ada mata uang kripto yang tidak anjlok. Dari saat valuasi tertinggi mencapai hampir 69.000 dollar AS per bitcoin, bitcoin kini nilainya di kisaran 29.000 dollar AS. Dengan kata lain, bitcoin kehilangan 57 % nilai sejak November 2021. ”Ada pesimistis dan kehilangan investasi karena penurunan nilai pasar. Ini masalah kehilangan nilai pasar 1 triliun USD meski sebagian besar hanya aset tercatat di kertas dan sebagian besar juga aset yang dinilai berlebihan,” kata ekonom peneliti uang kripto pada Columbia Business School, Eli Noam.
Ekonom Universitas Torono, Joshua Gans, mengungkapkan, ”Dalam mata uang kripto, tidak ada penjaminnya. Hanya pengelola lembaga yang bodoh mau masuk ke sana. Memang ada beberapa lembaga memiliki divisi kripto. Akan tetapi, hal itu tidak berarti mereka akan masuk ke sana secara besar-besaran”. Gans bukan orang pertama yang mengingatkan nihilnya penjamin dalam pasar kripto. Banyak pihak mengingatkan bahwa tidak ada yang mengetahui apa faktor pembentuk harga mata uang kripto. Sampai sekarang tidak diketahui mengapa nilai bitcoin menembus 69.000 dollar AS, lalu terpangkas lebih dari separuh. (Yoga)
Pelonggaran Prokes Jadi Titik Kebangkitan Sektor Transportasi
Pelonggaran protokol kesehatan (prokes) perjalanan dalam dan luar negeri diyakini menjadi ttik kebangkitan sektor transportasi. Presiden Joko Widodo telah mengumumkan kebijakan pelonggaran penerapan prokes penggunaan masker serta perjalanan dalam dan luar negeri pada Selasa (17/5) lalu. Menindaklanjuti adanya kebijakan ini, Kemenhub telah menerbitkan surat edaran (SE) petunjuk pelaksanaan perjalanan orang dalam negeri, yaitu SE 54 Tahun 2022 untuk transportasi darat, SE 55 Tahun 2022 untuk trasnportasi laut, SE 56 Tahun 2022 untuk transportasi udara, dan SE 57 Tahun 2022 untuk transportasi perkertapian. Selain itu, Kemenhub juga menerbitkan SE juklak perjalanan orang luar negeri yaitu SE 58 untuk transportasi udara, SE 59 untuk transportasi laut, SE 60 untuk transportasi darat. SE Kemenhub tersebut diterbitkan merujuk pada SE Satgas Covid-19 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Pada Masa Pandemi Covid-19, yaitu SE Nomor 18 Tahun 2022 untuk perjalnan dalam negeri dan SE Nomor 19 Tahun 2022 untuk perjalanan luar negeri. (Yetede)
Tembus US$ 69,59 Miliar, Industri Manufaktur Masih Dominasi Ekspor
Industri pengolahan atau manufaktur masih memberikan konstribusi yang dominan terhadap nilai ekspor nasional, dengan capaian sebesar 74,46% sepajang Januari-April 2022. Selama empat bulan pertama 2022, kinerja pengapalan produk sektor menufaktur menembus hingga lebih US$ 69,59 miliat atau naik 29,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Guniwang Kartasamita menerangkan, hasil tersebut menunjukkan bahwa upaya dan kebijakan ekonomi nasional yang dilakukan oleh pemerintah berjalan dengan baik. Apalagi, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, sasaran ekspor Indonesia harus pada basis komoditas-komoditas dengan nilai tambah yang tinggi. "Tingginya dominasi sektor industri manufaktur pada capaian nilai ekspor nasional juga menstimulasi pengikatan nilai surplus terhadap neraca perdagangan kita saat ini," jelas Menperin. Surplus neraca perdagangan itu diperoleh dari nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan nilai impor pada periode tersebut. (Yetede)
Luar Biasa! BRI Jadi Perusahaan Publik Terbesar di Indonesia Oleh Forbes Global 2000
Kinerja positif yang ditorehkan oleh perusahaan-perusahaan dari Indonesia mencatatkan pretasi gemilang di dunia internasional, salah satunya adalah masuknya tujuh perusahaan asal Indonesia di daftar 2.000 perusahaan terbesar di dunia versi majalah Forbes. Salah satunya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI yang dinobatkan menjadi perusahaan publik terbesar di Indonesia dalam pemeringkatan Forbes 2022 Global 2000 Worlds Largest Public Company in Indonesia. BRI menempati rangking ke 349 dunia atau naik peringkat dari urutan ke 362 pada tahun lalu.
Mengutip situs resmi Forbes, terdapat 7 prusahaan publik di Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut. dan 4 diantaranya adalah perusahaan BUMN. Dengan pencapaian ini, BRI menempatkan peringkat tertinggi di Indonesia untuk 8 tahun berturut-turut, "Hal ini tentu menjadi prestasi bagi perseroan, karena kendati ekonomi dihadang krisis akibat pandemi Covid-19, BRI tetap mampu menjaga kinerja positif. Hal tersebut diraih BRI dengan kembali fokus pada pemberdayaan dan menyelamatan segmen UMKM di masa sulit, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam program pemulihan ekonomi nasional," ujar Direktur Utama BRI Sunarso, menegaskan. (Yetede)
Rusia Berharap Terhindar dari Krisis Keuangan
Rusia yakin telah berhasil menghindarkan timbulnya krisis keuangan seiring reli mata uang rubel dan data-data ekonomi menunjukkan tanda-tanda merebak. Tetapi menurut para analis, data-data itu juga menutupi beberapa kenyataan buruk bagi Negara Beruang Merah. Meskipun inflasi di negara tersebut sedang tinggi, tapi terdapat pertanda bahwa kenaikan harga akan melambat dan terus menurun. Sementara mata uang Rubel telah berbalik dari titik rendah sepanjang masa pada Maret menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia pada tahun ini.
Menurut laporan, inflasi Rusia mencapai tingkat tertinggi dalan dua dekade, 17,8% year-on-year (yoy) pada April atau naik dari 16,7% pada Maret. Namun kenaikan harga mulai menunjukkan tanda-tanda melambat. Disebutkan, laju pertumbuhan konsumen melambat tajam dari 7,6% pada Maret menjadi 1,6% pada April Sedangkan harga barang non-makanan naik 0,5% dibandingkan 11,3% pada Maret. Kondisi ini terjadi setelah Bank Sentra Rusia (CBR) menerapkan kenaikan suku bunga darurat yang mendorong suku bunga acuan negara dari 9,5% menjadi 20% pada akhir Februari, beberapa hari setelah invasi Rusia ke Ukraina, sebagai upaya untuk menyelamatkan rubel. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









