;

Kisah Sri Mulyani Soal "Walk Out"

Ekonomi Yoga 04 May 2022 Kompas
Kisah Sri Mulyani Soal "Walk Out"

Pertemuan kedua menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Washington DC, 20 April 2022, menjadi barometer kegiatan G20 pasca perang Rusia-Ukraina. Awalnya, banyak ancaman boikot. Namun, pada saat pelaksanaan kegiatan, mayoritas undangan utama hadir. Kebanyakan menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 hadir secara fisik. Beberapa undangan hadir secara virtual. Ada aksi walk out dari AS dan sekutu saat Rusia menyampaikan pemikirannya pada sesi pertama. Namun, setelah itu, semua masuk kembali ke ruangan untuk melanjutkan pembahasan. Dalam sesi pertama, yaitu mengenai pemulihan ekonomi global, membahas krisis energi, krisis pangan, kenaikan inflasi dunia, kemungkinan terjadi kebijakan moneter dan segala hal. Sesi kedua, tentang keuangan dan kesehatan serta kesiapan dan pembiayaan pandemi, semua sudah duduk bersama dan bicara sangat substantif dengan banyak kemajuan, terutama pada fasilitas keuangan.

Menkeu Sri Mulyani (22/4) bercerita, “awalnya, perhatian AS dan sekutu lebih kepada PBB. Berikutnya, perhatian G7 plus bergeser ke forum-forum lain yang dijadikan alat untuk menekan Rusia mengakhiri perang. Sanksi ekonomi, misalnya, lalu merambat pada forum-forum ekonomi karena sanksi itu menimbulkan dampak ekonomi, forum ekonomi yang paling besar dan nyata dan paling dekat adalah G20 di mana April akan ada forum yang high profile, yaitu menteri keuangan dan gubernur bank sentral. Di situlah muncul tekanan atau permintaan. Tadinya posisinya Rusia harus dikeluarkan dari keanggotaan G20. Presiden Biden sudah menyampaikan secara publik. Menkeu AS Janet Yellen juga sudah menyampaikan secara publik. Saya bicara dengan semua anggota G20, tidak hanya G7, sebagai presidensi, tanggung jawab Indonesia menjaga forum ini tetap berjalan sebagai suatu forum membangun consensus untuk kerja sama, kerja sama ekonomi, untuk menyelamatkan dunia. Jadi, waktu mulai ada keinginan Rusia tidak diundang atau Rusia dikeluarkan dari G20, ini menimbulkan suatu pertanyaan mendasar, kalau Indonesia sebagai presidensi memutuskan negara A tidak diundang atau negara B kemudian dikeluarkan dari G20, berarti nanti presiden yang akan datang bisa melakukan hal serupa ke negara yang dia tidak suka. Akhirnya ini tidak menjadi G20, bisa pecah menjadi G19. Bisa jadi G19, akan ada solidaritas terhadap satu negara itu. Nanti menjadi G18 dan seterusnya. Hal itu semuanya kemudian bisa berakhir dengan, G10, yaitu G7 plus plus. Waktu semua tekanan dan masukan masuk, saya bicara dengan semua menteri keuangan G20, satu demi satu. Saya Tanya, kamu kepengin G20 tetap ada atau dihancurin? Mereka mengatakan, G20 harus ada karena dunia makin bahaya. Terus, G7 plus bilang bahwa mereka enggak bisa kalau Rusia diundang. Mereka bilang enggak bisa di dalam satu ruangan sama Rusia. Mereka ingin menunjukkan tidak satu paham atau bahwa menentang apa yang dilakukan Rusia. Lalu saya bilang, ya sudah, kalau Anda membutuhkan ekspresi politik kayak gitu, bisa saja bahwa waktu Rusia bicara kalian walk out aja. Tapi habis itu, kalian (G7 plus) ngomong lagi, balik lagi, saat forum ngomongin substansi.” (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :