Ekonomi
( 40554 )Fenomena Ekonomi Selama Idulfitri
Perayaan Idulfitri 2025 di Indonesia tampaknya berjalan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dengan sejumlah faktor yang memengaruhi antusiasme masyarakat. Tiga faktor utama yang menjadi penyebab perubahan ini adalah penurunan jumlah pemudik, penurunan daya beli masyarakat, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
-
Berkurangnya Arus Mudik: Diperkirakan jumlah pemudik pada Idulfitri 2025 akan turun sekitar 24% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 146,48 juta jiwa. Kenaikan biaya transportasi dan bahan bakar membuat banyak masyarakat memilih untuk tidak mudik atau menunda rencana tersebut.
-
Penurunan Daya Beli Masyarakat: Berkurangnya pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok, seperti pakaian baru, mencerminkan penurunan daya beli. Penjualan produk tekstil di awal 2025 hanya tumbuh 3%, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 15%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan pokok, seperti makan, cicilan rumah, kendaraan, dan pendidikan anak.
-
Dampak PHK: Tingginya angka PHK, terutama di sektor manufaktur dan tekstil, membuat banyak orang kehilangan pekerjaan menjelang Idulfitri. Pada awal 2025, terdapat tambahan 4.050 pekerja yang ter-PHK, dengan sektor tekstil dan manufaktur yang paling terdampak. Hal ini memperburuk kondisi keuangan keluarga yang sebelumnya bergantung pada pendapatan tetap.
Meskipun pemerintah mengucurkan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk sektor ASN dan swasta, dampak positifnya terhadap daya beli diperkirakan tidak sebesar yang diharapkan. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 55% masyarakat yang menggunakan THR untuk belanja perayaan Idulfitri, sementara sebagian besar memilih untuk membayar utang atau menabung untuk kebutuhan darurat.
IHSG Masih Berjuang Tembus 7.000
Awal tahun 2025 menjadi periode penuh tekanan bagi pasar saham Indonesia, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga di bawah 6.000 pada 24 Maret, sebelum akhirnya pulih ke 6.510,62 menjelang libur Lebaran. Penurunan 8,04% secara year-to-date menjadikan IHSG salah satu yang terburuk di Asia Pasifik.
Situasi ini diperburuk oleh kebijakan tarif dagang 32% dari Presiden AS Donald Trump terhadap produk Indonesia, yang memicu kekhawatiran pasar akan dampak negatif lebih lanjut terhadap ekspor dan nilai tukar rupiah. Sentimen negatif tersebut diperkirakan akan membayangi pasar saat dibuka kembali usai libur.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan pasar akan langsung menyesuaikan diri dengan sentimen global dan domestik saat perdagangan dibuka kembali. Ia menyarankan investor untuk tidak mengambil risiko berlebihan, dan menjaga portofolio tetap konservatif.
Senada, Reza Fahmi Riawan dari Henan Putihrai Aset Management menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan fokus pada investasi jangka panjang. Ia menyebut sektor teknologi, energi bersih, kesehatan, dan keuangan masih prospektif.
Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, melihat kondisi pasar saat ini sebagai peluang untuk mulai melakukan pembelian bertahap (cicil beli), terutama pada saham-saham bluechip yang terkoreksi tetapi punya fundamental kuat, seperti perbankan, unggas, dan pertambangan terkait hilirisasi.
Angga Septianus dari Indo Premier Sekuritas juga merekomendasikan strategi serupa, tetapi dengan porsi cash atau reksa dana pasar uang (RDPU) yang lebih dominan, yakni lebih dari 50%.
Felix Darmawan dari Panin Sekuritas dan Fath Aliansyah Budiman dari Maybank Sekuritas merekomendasikan saham perbankan dengan dividend yield tinggi sebagai pilihan utama.
Sementara itu, Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menekankan pentingnya analisis fundamental emiten dan aliran dana asing sebelum mengambil keputusan investasi.
Strategi Ampuh Hadapi Gelombang Tarif Balasan AS
Properti Lesu Dihantam Lemahnya Daya Beli
Perbankan Waspada: Likuiditas Menuju Titik Kritis
PDB Tergerus Tarif Resiprokal AS
Pengenaan tarif resiprokal oleh AS terhadap Indonesia berpotensi mengikis pertumbuhan ekonomi dan PDB. Pemerintah RI perlu bernegosiasi dengan AS bermodal laporan tahunan Estimasi Perdagangan Nasional (NTE) 2025 yang diterbitkan Kantor Perwakilan Dagang AS. Pemerintah RI juga diminta mengisi kekosongan dubes RI untuk AS. Pada 2 April 2025 waktu AS, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif resiprokal untuk Indonesia sebesar 32 %, berlaku 9 April 2025. Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, Jumat (4/4) berkata, AS merupakan mitra dagang terbesar kedua Indonesia. Kontribusi AS ke total ekspor Indonesia 10,3 %. Saat tarif resiprokal diimplementasikan, ekspor Indonesia, baik ke AS maupun mitra dagang lain, diperkirakan turun 2,83 %, karena dampak langsung ataupun tak langsung pemberlakuan tarif itu.
”Dampak tidak langsungnya, di saat ekspor negara-negara mitra dagang RI ke AS turun akibat kebijakan tarif AS, ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut juga bakal turun. Contohnya, ketika ekspor China ke AS turun, ekspor RI ke China juga berpotensi turun,” ujarnya dalam diskusi daring bertajuk ”Waspada Genderang Dagang”. Penurunan ekspor akibat dampak langsung dan tak langsung akan menyebabkan perlambatan produksi dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia, Budhi Wibowo mengatakan, akibat kenaikan tarif, beberapa calon pembeli di AS membatalkan pembelian. Sejumlah eksportir pengolahan udang juga menunda pembelian bahan baku dari petambak. Dampak terburuk jika tarif itu berlaku, adalah PHK di sektor industri pengolahan dan eksportir.
Olah karena itu, Pemerintah RI tak boleh meremehkan dampak pengenaan tarif resiprokal AS. Pemerintah harus segera menunjuk dubes RI untuk AS dan menjalankan misi diplomasi secara terukur dan intensif dengan Pemerintah AS. Fithra Faisal Hastiadi, pengamat perdagangan internasional dari Fakultas Ekonomi Bisnis UI, menilai, Pemerintah RI terkesan kurangmengantisipasi pemberlakuan tarif resiprokal AS. Salah satu indikatornya adalah Pemerintah RI tidak segera menunjuk dan melantik dubes RI untuk AS. Pemerintah RI juga terkesan kurang siap dengan berbagai tudingan AS terkait beberapa kebijakan Indonesia yang tertuang dalam NTE 2025 AS. Dalam NTE itu terdapat beberapa kebijakan RI yang dinilai merugikan AS, baik itu berupa kebijakan tarif maupun nontarif. (Yoga)
Menghadapi Realitas yang Pahit
Arus mudik dan arus balik tahun ini terbilang lancar. Namun, realitas pahit menghadang siapa saja seusai Lebaran ini. Jumlah pemudik secara nasional turun 24 % dibanding tahun 2024. Pemerintah juga menerapkan berbagai strategi, mulai dari program mudik gratis, rekayasa one way di ruas tol ataupun ke arah obyek wisata, sampai optimalisasi angkutan umum, untuk mendukung kelancaran mudik dan balik. Tak bisa dimungkiri bahwa mengecilnya angka pemudik merupakan dampak dari kondisi ekonomi yang melanda negeri ini. Sebagian warga memilih tidak mudik karena ketiadaan ongkos atau sengaja berhemat setelah mengalami tekanan, termasuk menjadi korban PHK.
Seusai Lebaran, hantaman baru bakal memperberat situasi, yaitu dampak kebijakan tarif Trump terhadap Indonesia. Sejumlah komoditas yang diekspor ke AS biayanya melonjak tinggi sehingga tidak kompetitif di pasaran domestik AS. Akibatnya, negara eksportir harus mengurangi pengiriman produknya atau melakukan efisiensi produksi sehingga harganya dapat ditekan agar tetap terjangkau di pasar AS. Negara eksportir juga dipaksa mencari negara tujuan ekspor di luar AS. Hal ini bakal menimbulkan gejolak bagi negara eksportir, seperti Indonesia, karena berpotensi menimbulkan perlambatan ekonomi, yang disebabkan berkurangnya permintaan barang dari AS.
Hal ini bahkan meningkatkan risiko PHK di sejumlah industri. Saat ini, sebagian petani karet dan sawit juga eksportir kopi Indonesia mengeluhkan dampak tarif Trump. Seiring arus balik Lebaran di tengah situasi sulit ini, cerita lama tentang orang yang ikut gelombang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan pasti berulang. Di kota, jika pekerjaan formal menjadi pegawai hingga buruh pabrik telah tertutup, sektor informal, seperti pedagang keliling atau pelayan warung, dinilai masih menjanjikan daripada tetap bertahan di kampung halaman. Daerah tujuan mencari peruntungan rezeki itu kini tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya,tetapi kawasan perkotaan lain yang kini tumbuh.
Urbanisasi, khususnya karena pertambahan penduduk, lagi-lagi terjadi. Tapi, kita alpa untuk menyiapkan antisipasi. Tidak heran jika kota-kota memadat minus fasilitas publik memadai, termasuk permukiman, air bersih, dan angkutan umum. Indonesia dan masyarakatnya sedang tidak baik-baik saja. Hantaman bertubi saat ini seharusnya benar-benar membangunkan semua pihak untuk dapat meresponsnya dengan lebih tepat. Semestinya pemerintah mengambil peran utama sebagai pemimpin dan penyelamat warga. (Yoga)
Modal Asing Berisiko Terbang
Pasar saham global dan indeks USD terpuruk menyusul pengumuman tarif resiprokal AS pada sejumlah negara. Pelaku pasar khawatir kebijakan ini memicu resesi ekonomi. Indonesia patut mewaspadai keluarnya arus modal akibat sentimen negatif global tersebut. Indeks saham utama AS serentak mencatatkan penurunan harian terdalam semenjak 2020 pada penutupan pasar Jumat (4/4) dini hari WIB. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di indeks S&P 500 kehilangan nilai pasar 2,4 triliun USD dalam sehari. Indeks Dow Jones turun 3,98 % dan Nasdaq memimpin penurunan di Wall Street dengan pelemahan 5,97 %. Tren serupa terjadi i Asia. Nikkei 225 Jepang turun 1.000 poin atau 2,75 %.
Tokyo Stock Exchange melemah 3,37 %. MSCI AC Asia Pasifik melemah 1,19 %. Indeks USD terhadap mata uang utama lainnya (DXY) punsempat amblas hingga ke level 101,54 atau terendah sepanjang 2025. Kurs mata uang beberapa negara, termasuk negara berkembang, menguat terhadap USD. Lembaga pemeringkat kredit Fitch Rating menyampaikan, kebijakan tarif AS telah mengubah prospek ekonomi global secara signifikan. Mulai 9 April, Indonesia akan dikenai tarif bea masuk 32 %. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Mohamad Fadhil Hasan, mengatakan, kebijakan tarif yang baru, memicu ketidakpastian global.
Kebijakan ini berpotensi menimbulkan stagflasi dan resesi ekonomi AS dalam jangka pendek, tetapi berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi AS dalam jangka panjang. Namun, asumsi ini sangat bergantung pada respons beberapa negara mitra yang terkena tarif tinggi oleh Pemerintah AS. Ekonom Bright Indonesia, Awalil Rizky, mengingatkan, faktor risiko global dan domestik berpotensi menimbulkan spekulasi dari para pelaku pasar. Artinya, pemilik modal akan lebih mempertimbangkan aspek keamanan dan keuntungan di tengah kondisi ketidakpastian saat ini.
Faktor spekulasi yang ditentukan oleh persepsi risiko ke depan, seperti ketidakpastian politik dan keuangan global, berisiko mengakibatkan arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut pada gilirannya dapat membuat pasar keuangan domestik, termasuk nilaitukar rupiah, terus tertekan. Berdasarkan data setelmen sejak awal 2025 hingga 26 Maret 2025, investor asing mencatatkan arus keluar secara neto Rp 4,96 triliun di pasar keuangan domestik. Menurut Awalil, cukup banyak modal asing di Indonesia saat ini yang sewaktu-waktu bisa keluar dengan mudah dan cepat, yakni investasi portofolio dan investasi lainnya. Kendati demikian, hampir tidak mungkin arus modal tersebut keluar seluruh atau sebagian besar dalam kurun waktu triwulanan. (Yoga)
Tarif Trump berdampak pada Pelaku Usaha
Kebijakan tarif 32 % yang diberlakukan AS terhadap Indonesia mulai berimbas pada pelaku usaha. Rencana ekspor kopi arabika Wanoja dari Bandung, Jabar, ke AS untuk sementara ditangguhkan. Kebun kopi yang berada di Lembah Kamojang di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut ini dikelola oleh Kelompok Tani Wanoja dan UMKM Wanoja Coffee. Sebanyak 108 petani dan 97 pekerja UMKM Wanoja Coffee terlibat dalam produksi kopi arabika Wanoja. Luas tanam kopi arabika Wanoja mencapai 108 hektar. Direktur Wanoja Coffee Satrea Amambi, Jumat (4/4) mengatakan, pihaknya harus menangguhkan sementara ekspor biji kopi yang telah disangrai (roasted bean) ke AS, untuk mempelajari kebijakan Trump dan dampaknya pada biaya operasional pengiriman biji kopi ke sana.
Ia memaparkan, Wanoja Coffee mengirimkan 300 kg roasted bean ke AS selama setahun terakhir, dengan harga 20 USD (Rp 331.200) per kg. ”Kebijakan Trump pastinya berdampak bagi pendapatan kami,” ungkap Satrea. Ia menuturkan, rencana ekspansi pengiriman 600 kg green bean ke AS tahun ini terpaksa ditunda. Ia masih mendiskusikan perubahan biaya pengiriman dengan calon importir pasca kebijakan bea masuk hingga 32 %. Produksi Wanoja Coffee mencapai 80 ton pada akhir 2024. Sebanyak 63 % dari total produksi diekspor ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Belanda, Jerman, Arab Saudi, dan AS. ”Kami berharap ada dukungan pemerintah pusat ataupun daerah pasca penerapan kebijakan bea masuk ke AS hingga 32 % seperti relaksasi pajak. Agar kegiatan ekspor tak terkendala tingginya biaya operasional,” ujar Satrea.
Tarif impor baru AS juga bakal memukul rumah tangga jutaan petani sawit dan karet. Pengusaha berpotensi membebankan kenaikan tarif pada petani dengan cara menekan harga panen. Pengamat ekonomi dan penasihat di Ikatan Alumni Universitas Jambi, Usman Ermulan, mengatakan, penerapan tarif bea masuk ke AS bakal segera berdampak terhadap jatuhnya harga-harga komoditas unggulan di daerah. Saat ini, harga sejumlah komoditas unggulan tengah tinggi. Harga rata-rata buah sawit (TBS) Rp 3.600 per kg. Harga getah karet mencapai 30.000 per kg. Itu merupakan harga tertinggi yang disambut antusias petani. ”Harga panen yang sedang bagus-bagusnya ini dikhawatirkan bakal segera terganggu oleh munculnya penerapan tarif impor AS,” ujar Usman. (Yoga)
Piala Dunia dan Olimpiade Terimbas Tarif Trump
Ketegangan global akibat perang dagang menyusul pemberlakuan tarif resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump bisa berdampak pada penyelenggaraan ajang olahraga besar di negara itu, antara lain Piala Dunia 2026 serta Olimpiade dan Paralimpiade Los Angeles 2028. Ajang-ajang ini sebetulnya memberi peluang bagi bisnis luar negeri untuk meningkatkan profit dan penjualan di AS. Namun, apakah peluang itu masih tetap terbuka setelah Trump mengumumkan daftar tarif bea impor ke negara itu pada Kamis (3/4) dini hari WIB, dimana Trump memberlakukan tarif dasar sebesar 10 % per 5 April 2025. Ia juga mengenakan tarif khusus yang besarannya beragam, termasuk Indonesia. Korsel, negara produsen mobil, dikenai tarif 25 %.
Pabrikan mobil Korea, Hyundai Group, sebelumnya berupaya memanfaatkan kesepakatan sponsor dengan FIFA selama Piala Dunia Antarklub 2025 di AS dan kemudian Piala Dunia 2026. Namun, John Zerafa, ahli strategi penawaran acara olahraga, menilai, para sponsor, termasuk Hyundai, akan berpikir ulang soal kesepakatan tersebut. ”Saya menduga beberapa sponsor sekarang menilai ulang bagaimana mereka ’mengaktifkan’ kesepakatan semacam itu di AS mengingat hambatan perdagangan yang kini telah diberlakukan,” kata Zerafa. Banyak tim olahraga dan atlet juga disponsori oleh merk pakaian olahraga. Padahal, sebagian besar perusahaan ini bergantung pada bahan dan manufaktur di Asia, tempat Trump mengenakan beberapa tarif tertinggi.
Selain China dengan 34 %, Trump juga memberlakukan tarif 49 % untuk Kamboja, 46 % untuk Vietnam, 36 % untuk Thailand, dan 32 % untuk Indonesia. Tak heran, harga saham di perusahaan produk olahraga terkemuka, seperti Nike, Adidas, dan Puma, turun tajam. Kanada dan Meksiko, yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama AS, juga dikenai bea impor hingga 25 %. Kedua negara itu siap membalas pemberlakuan tarif tersebut. Tujuh tahun lalu, ketika tawaran menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia disetujui, Presiden Federasi Sepak Bola AS Carlos Cordeiro mengutarakan tema utamanya adalah ”Persatuan Tiga Negara”. Bulan lalu, Trump mengklaim ketegangan politik dan ekonomi antara AS dan tuan rumah Piala Dunia tak akan berdampak pada turnamen itu. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









