Ekonomi
( 40733 )Chandra Asri Group Raksasa Energi dan Kimia Asia Tenggara
Presiden Ingin Berdialog dengan Tokoh yang Pesimistis Masa Depan RI
Optimisme Penjualan Industri Keramik
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menerangkan, pihaknya memandang dampak kebijakan Trump terhadap industri keramik nasional tidak terlalu mengkhawatirkan, karena selama ini AS tidak masuk tujuan impor. Namun, Asaki mengamati dampak lonjakan impor dari negara lain akibat kebijakan tersebut. Dia menerangkan, Asaki harus mengamati dengan serius ancaman lonjakan impor keramik dari China, India dan Vietnam akibat kebijakan tarif tersebut. AS selama ini melakukan importasi keramik terbesar dari India dan China, "Asaki mendesak Pemerintah untuk membuka kran impor dan memberlakukan DMO/Domestic Market Obligation Gas untuk industri dalam negeri," ucap Edy.
Asaki membutuhkan atensi serius dan kehadiran Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM berkaitan dengan daya saing industri keramik nasional. Daya saing cenderung semakin menurun akibat gangguan supply gas oleh PGN dengan memberlakukan kuota pemanfatan volume gas HGBT 60%-70%. "Selain itu, harga regasifikasi gas US$ 16,77/mmbtu telah merugikan industri keramik nasional," ucap dia. Edy menjelaskan, pihaknya sedang mengamati angka impor keramik yang melonjak signifikan dari tahun-tahun dari India pasca diterapkan BMTP/safeguard dan penerapan BMAD atas keramik Impor dari China. "Tidak tertutup kemungkinan adanya indikasi unfair dari India seperti tindakan dumping dan predatory pricing karena mengalami oversupply dan overcapacity," ujar dia. (Yetede)
OJK Menyambut Baik Mengembangkan Ekosistem Bank Emas
Sektor Kereta Api Masih Memiliki Potensi Pecah Kepadatan Mudik
Angkutan moda transportasi kereta api masih memiliki potensi besar memecah kepadatan pemudik yang menggunakan angkutan pribadi kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang. Djoko Setijowarno mengatakan, utilitas penggunaan angkutan pribadi di moda perkeretapian masih bisa digenjot. "Utilitasnya masih besar, selama ini pemerintah fokusnya terlalu besar di moda angkutan jalan. Padahal, memanfaatkan moda lain dengan kapasitas yang besar itu bisa memindahkan sebagian besar itu bisa memindahkan sebagian besar pemudik berkendaraan, terutama di kereta api," ujarnya kepada Investor Daily.
Ia memisalkan kapasitas tampung untuk kereta cepat Whoosh saja masih berkisar di presentase 80% atau rata-rata mencapai 24 ribu penumpang per hari. Sedangkan kapasitas kursi yang tersedia bisa mencapai 31 ribu. "Ini lumayan, (Whoosh) memecah pemudik menuju ke Bandung tau sekitar Jawa Barat. Dan apa yang terjadi pada periode mudik lebaran 2025 itu konsep one way di jalan tol harusnya tidak perlu terjadi karena jumlah pengendara hanya meningkat tipis," pungkasnya. Periode mudik lebaran tahun ini Kereta Api Indonesia Group (KAI/Persero) mengangkut sebanyak 23 juta penumpang yang berlangsung sejak 21 Maret hingga 7 April 2025. Ini menunjukkan sektor kereta api masih menjadi tulang punggung transportasi massal memecah kepadatan pemudik. (Yetede)
Serikat Pekerja Mengusulkan Agar Pemerintah Perlu Bentuk Satgas PHK
RI Ambil Langkah Kompromi Hadapi Trump
Pemerintah Indonesia tengah menghadapi tantangan besar akibat rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif bea masuk resiprokal sebesar 32% terhadap sejumlah produk ekspor Indonesia. Alih-alih melakukan retaliasi, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk memilih jalur negosiasi dan solusi saling menguntungkan (win-win solution). Dalam forum Sarasehan Ekonomi, Prabowo menyatakan kesiapan Indonesia meningkatkan impor dari AS, seperti rig pengeboran, LPG, dan LNG.
Langkah konkret lainnya termasuk pengiriman surat resmi ke otoritas perdagangan AS, deregulasi perpajakan, pelonggaran kuota impor, dan pelonggaran syarat TKDN. Presiden juga memerintahkan agar peraturan teknis yang menghambat dunia usaha diawasi langsung dan hanya dikeluarkan dengan izin presiden.
Upaya ini disambut positif pelaku usaha, seperti Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani, yang menekankan pentingnya pengawalan implementasi kebijakan agar tidak berhenti sebatas wacana. Di sisi lain, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) siap meningkatkan impor kapas dari AS hingga 50% untuk menekan dampak tarif dan mendorong potensi keringanan tarif ekspor pakaian jadi ke AS.
Dengan fundamental ekonomi yang dinilai cukup kuat, Indonesia berupaya menjadikan tekanan tarif ini sebagai peluang untuk memperbaiki neraca perdagangan dengan AS.
IHSG Runtuh, Sinyal Buruk untuk Ekonomi Nasional
Pada 8 April 2025, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Indonesia mengalami penurunan signifikan, turun hingga 10% yang menyebabkan penghentian perdagangan saham untuk kedua kalinya setelah kejadian serupa pada 18 Maret 2025. Penurunan ini dipicu oleh dampak kebijakan tarif tinggi Presiden Amerika, Donald Trump, yang diberlakukan terhadap beberapa negara termasuk Indonesia, menyebabkan panik di kalangan investor.
Menurut Warren Buffet, dalam situasi ini di mana banyak investor "takut" dan menjual saham, justru merupakan kesempatan untuk membeli, karena harga saham utama Indonesia saat ini sedang terdiskon dan relatif murah. Indikator P/E ratio dan PBV menunjukkan bahwa saham-saham utama Indonesia berada pada posisi yang menarik untuk dibeli, meskipun terjadi penurunan.
Faktor eksternal, terutama kebijakan protektif Amerika, memengaruhi iklim ekonomi global dan berimbas pada penurunan indeks saham, baik di Indonesia maupun Amerika. Meskipun demikian, dalam jangka panjang, Indonesia diprediksi akan kembali bangkit seiring dengan adanya kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia untuk mendorong stabilitas ekonomi.
Secara keseluruhan, meski mengalami penurunan tajam, potensi kenaikan saham dalam jangka panjang tetap ada, terutama karena secara fundamental, saham-saham Indonesia masih menunjukkan kinerja yang bagus. Oleh karena itu, saat ini bisa menjadi waktu yang tepat bagi para investor untuk membeli saham dengan harga yang relatif murah dan berpotensi memberikan keuntungan di masa depan.
Stimulus Ekonomi Jadi Harapan Investor
RI Genjot Utang untuk Redam Dampak Perang Tarif
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









