Industri Manufaktur Dihadapkan pada Ketidakpastian Pasca-Lebaran
Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia mengalami penurunan setelah periode Lebaran, yang biasanya menunjukkan tren kontraksi setelah adanya ekspansi musiman. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), menjelaskan bahwa pasca-Lebaran, sektor manufaktur Indonesia cenderung melandai akibat faktor-faktor seperti pelemahan daya beli kelas menengah dan tekanan global, termasuk kebijakan proteksionis dari Presiden AS Donald Trump. Faisal menilai perlu adanya perubahan kebijakan untuk mengatasi akar permasalahan, seperti peningkatan permintaan domestik melalui insentif yang dapat meningkatkan daya beli.
Namun, Sri Mulyani, Menteri Keuangan, menyatakan bahwa manufaktur Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara industrialis lainnya, seperti China, Vietnam, dan negara-negara Uni Eropa. Dia menekankan bahwa PMI Manufaktur Indonesia lebih cepat pulih dibandingkan negara-negara lain, dan Indonesia berada di posisi kedua setelah India di antara negara-negara G20 dan Asean-6 pada Februari 2025.
Meskipun demikian, Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengingatkan bahwa ekspansi sektor manufaktur Indonesia masih harus dilakukan dengan hati-hati, mengingat tantangan yang ada dan dampak dari faktor eksternal seperti persiapan Ramadan yang turut mempengaruhi permintaan.
Tags :
#Industri ManufakturPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023