Harga Murah Beras dan Nasib Petani
Produksi beras awal tahun ini
diperkirakan 13,95 juta ton, rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Setelah dua tahun terdampak El Nino, yang membuat luas panen menyusut dan
memaksa pemerintah mengimpor lebih dari 3 juta ton beras pada 2023, lonjakan produksi
kali ini terasa sebagai pencapaian besar. Pada awal 2025, pemerintah bahkan
menyatakan tidak membuka keran impor tahun ini. Dengan suplai melimpah, harga
beras turun. Masyarakat, terutama dari kelompok berpenghasilan rendah,
merasakan langsung manfaatnya. Biaya pengeluaran untuk kebutuhan pokok jadi
lebih ringan. Mereka punya ruang membelanjakan uang pada kebutuhan lain jelang
Ramadhan dan Lebaran. BPS juga mencatat deflasi pada Februari 2025, kejadian
langka menjelang hari raya Idul Fitri.
Harga beras, cabai, tomat, dan daging
ayam turun signifikan, sekaligus menjadi faktor utama yang mendorong deflasi.
Menurut laporan berjudul ”Dinamika Ekonomi Pangan dan Energi Menjelang Lebaran”
oleh Center of Food, Energy, and Sustainable Develompent Institute for
Development of Economics and Finance (Indef), kondisi itu memperkuat daya beli
masyarakat. Turunnya harga beras meningkatkan daya beli riil karena porsi
pendapatan untuk membeli beras mengecil. Konsumsi bisa tetap terjaga meskipun
harga-harga barang/jasa lain cenderung naik di periode ini. Akan tetapi, situasi
yang menggembirakan bagi konsumen ini tidak berlaku bagi petani. Mereka justru yang
paling terdampak.
Panen raya padi pada akhir Maret
hingga awal April 2025, yang semestinya jadi momen panen keuntungan, berubah
menjadi masa krisis. Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah jatuh di
bawah Rp 6.000 per kg. Padahal, pemerintah telah menetapkan harga pembelian pemerintah
(HPP) untuk GKP sebesar Rp 6.500 per kg. Guna melindungi petani, pemerintah
mendorong Bulog aktif menyerap gabah dalam negeri dan membeli gabah tanpa
syarat rafaksi. Artinya, tak boleh ada pengurangan harga meski kualitas gabah
rendah. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan petani mendapat harga minimal
yang layak, terlepas dari kondisi gabah. Tapi, implementasi di lapangan menunjukkan
berbagai persoalan teknis dan struktural. Musim panen awal tahun ini
berlangsung ditengah curah hujan yang masih tinggi.
Akibatnya, gabah yang dipanen
cenderung basah, bahkan berkadar air di atas 30 %. Dalam kondisi itu, menjual
gabah sesuai HPP nyaris mustahil. Penggilingan kecil, yang biasanya menjadi
mitra utama petani, tak mampu mengolah gabah basah karena keterbatasan alat
pengering. Bulog pun menghadapi kendala serupa. Hal ini memicu antrean panjang
truk pengangkut gabah di depan gudang Bulog. Di beberapa daerah, keluhan petani
sampai memicu pencopotan pimpinan wilayah Bulog. Hingga 21 Maret 2025, Bulog
telah menyerap 473.000 ton setara beras. Uniknya, mayoritas penyerapan kali ini
dalam bentuk gabah, bukan beras seperti biasanya, sebagai langkah darurat untuk
menampung hasil panen petani. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023