;
Kategori

Ekonomi

( 40512 )

Mengantisipasi Lonjakan Harga Pangan

26 Jul 2023

Tak cukup dengan dampak El Nino, Indonesia kini dibayangi ancaman lonjakan kembali harga pangan dunia akibat mundurnya Rusia dari inisiatif biji-bijian Laut Hitam. Seperti dilaporkan Kompas (25/7/2023), setelah beberapa kali diperpanjang, Rusia pada 17 Juli lalu menarik diri dari kesepakatan yang membolehkan pengiriman komoditas pangan komersial dan pupuk dari Ukraina, melalui Pelabuhan Laut Hitam (Black Sea Grain Initiative/BSGI) tersebut. Langkah Rusia berpotensi menaikkan harga pangan dunia, seperti gandum dan jagung. Ukraina serta Rusia menyumbang 30 % suplai gandum dunia. PBB bahkan mulai bicara kemungkinan bencana kemanusiaan akibat penggunaan pangan sebagai senjata oleh Rusia pada perang Rusia-Ukraina yang melibatkan NATO, yang belum mereda hingga sekarang.

Antisipasi terhadap potensi lonjakan harga pangan di dalam negeri harus segera kita lakukan. Ukraina selama ini menyumbang 20 % pasokan gandum ke Indonesia. Sebagian besar suplai produksi pupuk Indonesia juga dari Belarus dan Rusia. Semua itu dilakukan melalui Laut Hitam. Potensi lonjakan harga pangan dunia ini membuat ketahanan pangan kita kembali dipertaruhkan, di tengah fenomena El Nino yang mengancam pangan global, dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mengakibatkan musim kemarau lebih panjang dan ekstrem sehingga mengancam produksi pangan kita, serta meningkatkan kebutuhan untuk impor pangan.

Ketergantungan yang besar pada impor pangan selama ini sudah membuat kondisi kita rentan. Selain gandum dan kedelai yang 100 % serta lebih dari 90 % masih harus diimpor, kita juga mengimpor enam dari sembilan bahan pokok, yakni beras, susu, bawang, garam, daging, dan gula. Kenaikan harga pangan yang memunculkan tekanan inflasi pangan akan langsung memukul kesejahteraan masyarakat bawah, dengan separuh lebih pengeluaran rumah tangga masih didominasi pengeluaran untuk makanan. Untuk mengantisipasi dampak El Nino, pemerintah menempuh berbagai langkah memperkuat stok pangan. Ancaman krisis baru pangan ini menjadi momentum bagi kita untuk lebih keras dan serius lagi membenahi ketahanan pangan di dalam negeri, khususnya produksi dan produktivitas. (Yoga)


Seimbangkan Manfaat DHE

26 Jul 2023

Kendati sudah kehilangan momentum, kewajiban menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri tetap berpotensi menarik devisa yang cukup signifikan bagi negara. Kebijakan itu akan lebih efektif jika pemerintah bisa menyeimbangkan antara manfaatnya secara makro bagi perekonomian negara dan kerugiannya secara mikro bagi eksportir. Kewajiban memarkir DHE itu tertuang dalam PP No 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam (SDA), berlaku mulai 1 Agustus 2023.

Eksportir SDA, seperti pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan, wajib menyimpan 30 % devisanya di sistem keuangan domestik selama minimal tiga bulan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Selasa (25/7) berpendapat, kebijakan itu sebenarnya sudah kelewatan momentum. Sebab, tahun ini harga komoditas dunia melandai dan kinerja perdagangan internasional melambat. Kebijakan ini idealnya sudah berlaku sejak 2022 ketika surplus neraca perdagangan melejit. Kendati demikian, kebijakan wajib parkir DHE tetap dibutuhkan untuk menjaga cadangan devisa dan menstabilkan nilai tukar rupiah. Potensi devisa yang bisa diraup negara yakni 1 miliar USD-1,7 miliar USD per bulan. (Yoga)


BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

26 Jul 2023

Posisi inflasi Juni 2023 sebesar 3,52 persen telah kembali ke rentang target tahun ini, yakni 2-4 persen. Ini menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada posisi 5,75 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa (25/7/2023), menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap terkendali di kisaran 2-4 persen. (Yoga)

Platform E-dagang Dilarang Jadi Produsen

26 Jul 2023

Platform digital penyedia fasilitas perdagangan secara elektronik atau e-dagang dilarang untuk sekaligus menjadi produsen barang. Izin yang diberikan untuk menjadi penyelenggara platform digital berbeda dengan izin menjadi produsen barang. ”Platform digital tidak boleh sekaligus sebagai produsen. Sebagai contoh, platform digital tertentu mulanya merupakan lokapasar, lalu ternyata memproduksi barang, ini tidak boleh. Lembaganya beda, maka izinnya beda,” ujar Mendag Zulkifli Hasan seusai memberikan sambutan di acara Alibaba Cloud Data Management Summit, Selasa (25/7) di Jakarta.

Pernyataan disampaikan Mendag berkaitan revisi Permendag No 50 Tahun 2020 tentang Ketentuan  Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Menurut Zulkifli, pembahasan substansi revisi permendag itu sudah melibatkan kementerian/lembaga, termasuk Kementerian Koperasi dan UKM dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Pembahasan substansi, menurut Zulkifli, kini telah selesai. Revisi permendag itu kini berada pada harmonisasi dengan peraturan lain yang dijadwalkan selesai pada 1 Agustus 2023. (Yoga)


Indeks Saham Kembali Menuju Jalur 7.000

26 Jul 2023

Sesuai ekspektasi pasar, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75%. Keputusan itu ditetapkan bank sentral dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada Senin (24/7) hingga Selasa (25/7) kemarin. Kini, para pelaku pasar masih tinggal menanti arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS). Pada hari ini hingga besok, bank sentral AS atau  The Federal Reserve (The Fed) bakal menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Pelaku pasar memperkirakan,  The Fed masih menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,25%-5,5%. Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan menilai, The Fed masih menaikkan federal fund rate (FFR) satu kali lagi sebesar 25 bps di September 2023. Pasalnya, The Fed masih mengejar target inflasi di level 2%. Bank sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) juga berpeluang mengambil sikap serupa The Fed. Analis Saham Rakyat by Samuel Sekuritas, Billy Halomoan menganalis, jika The Fed jadi mengerek suku bunga ke level 5,5%, maka selisih dengan suku bunga BI hanya tersisa 0,25% atau 25 bps. Dus, BI perlu menjaga arus capital outflow agar tidak deras mengalir keluar. Head of Research Center Mirae Asset Sekuritas, Roger MM, mengingatkan arah suku bunga acuan BI dan The Fed akan menentukan pergerakan pasar. Arah IHSG dan rupiah. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi melihat, jika The Fed masih menaikkan suku bunga, maka imbal hasil alias yield US Treasury masih bergerak sideways dalam rentang yang terbatas.

Kemendag Ubah Regulasi Pasir Laut

26 Jul 2023

Kemendag diam-diam telah mengubah regulasi ekspor pasir laut dari barang yang dilarang diekspor menjadi barang yang dapat diekspor. Perubahan regulasi itu melengkapi PP No 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi Laut yang memperbolehkan kembali ekspor pasir laut. Semula larangan ekspor pasir laut itu tertuang dalam Permendag No 18 Tahun 2021 tentang Barang yang Dilarang Ekspor dan Dilarang Impor. Dalam lampiran regulasi itu tertera pasir alam lainnya, termasuk pasir laut, berkode klasifikasi barang (HS) 25059000 merupakan salah satu barang yang dilarang diekspor. Dalam lampiran regulasi penggantinya, Permendag No 22 Tahun 2023 tentang Barang yang Dilarang Diekspor, pasir alam lainnya sudah tidak tertera lagi.

Komoditas itu justru tercantum dalam lampiran Permendag No 23/2023 tentang Kebijakan Pengaturan Ekspor. Pasir alam lainnya masuk dalam daftar barang pertambangan untuk keperluan penelitian dan pengembangan, keperluan ekspor kembali, serta keperluan ekspor produk industri. Untuk mengekspor pasir alam lainnya, termasuk pasir laut, wajib mendapatkan persetujuan ekspor (PE) dan penelusuran teknis (LS). Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Muhammad Suaib Sulaiman sudah dihubungi, Selasa (25/7) terkait hal itu, namun, Suaib tidak memberikan keterangan. Meskipun PP No 26/2023 sudah berlaku sejak 15 Mei 2023, BPS menyebutkan belum ada ekspor pasir laut pada Mei 2023. (Yoga)


Harga Komoditas Setir Harga Saham

26 Jul 2023

Anomali terjadi pada indeks saham IDX Value30 (IDXV30). Lihat saja, di tengah tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), gerak indeks saham IDXV30 justru merosot. Kemarin, Selasa (25/7), indeks saham Value30 turun 0,76% dibanding hari sebelumnya. Jika diakumulasi sejak awal tahun 2023, kinerja indeks saham IDXV30 sudah longsor 5,99% di posisi 139,84. Pelemahan IDXV30 hanya kalah dari Jakarta Islamic Index yang ambles 6,33% secara year to date (YTD). Meski begitu, IDXV30 sempat melonjak paling tinggi di antara indeks lain, dengan kenaikan 1,28% pada awal pekan ini, Senin (24/7). Sejumlah faktor menjadi pemicu jebloknya kinerja indeks yang dihuni 30 saham emiten ini. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengamati, dengan porsi dominan dalam pembobotan indeks, laju saham emiten energi dan komoditas menyetir arah kinerja saham IDXV30. Tapi, ada juga saham yang punya kinerja ciamik dan menempati jajaran top gainer IDXV30, yakni DOID, ELSA, dan MEDC. Sedangkan saham jawara di IDXV30 adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM), yang mengalami lonjakan harga 57,78% di sepanjang tahun berjalan ini. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menilai, saham emiten energi mendominasi IDXV30. Sebab, secara valuasi masih terbilang murah dengan price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang cukup rendah. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal pergerakan IDXV30 sedang berada di fase uptrend dalam jangka menengah. Hanya saja, secara jangka pendek akan rawan terkoreksi terlebih dulu.

Penurunan Biaya Provisi Mengatrol Laba Bank

26 Jul 2023

Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) masih berhasil melanjutkan pertumbuhan kinerja positif. Sepanjang semester pertama 2023, bank ini mengantongi laba bersih Rp 10,3 triliun atau tumbuh 17% secara tahunan. Perolehan laba BNI ditopang penurunan biaya provisi atau pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai aset yang cukup signifikan. Nilainya turun 29,5% secara tahunan jadi Rp 4,5 triliun. Sementara total pendapatan bank pelat merah ini hanya mencapai Rp 27,5 triliun, naik 1,34% secara tahunan. Pendapatan bunga bersihnya memang masih tumbuh 5,1% jadi Rp 20,6 triliun, tetapi pendapatan non bunga terkontraksi 8,3% jadi Rp 6,92 triliun. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, pihaknya akan berupaya mengakselerasi pertumbuhan kinerja pada paruh kedua tahun ini. BNI yakin, masih ada ruang untuk tumbuh lebih baik. "Masih ada ruang untuk tumbuh lebih baik lagi yang akan kami akselerasi di semester dua,” ujar Royke, Selasa (25/7). Direktur International Banking BNI Silvano Rumantir menyebut, dalam lima tahun terakhir BNI mencetak pertumbuhan kredit rata-rata 9,5%, melalui jaringan bank di luar negeri. "Kinerja international banking masih jadi salah satu sumber utama di BNI dalam menjawab tantangan pertumbuhan global," kata dia.

Bunga Obligasi Multifinance Terus Naik

26 Jul 2023

Multifinance masih gencar menerbitkan obligasi. Bunga obligasi yang ditawarkan perusahaan pembiayaan pun mengalami kenaikan seiring tren kenaikan suku bunga acuan. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, rata-rata kupon surat utang yang ditawarkan multifinance di tahun ini mengalami kenaikan. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menjelaskan, kenaikan terjadi terutama untuk obligasi yang memiliki tenor satu tahun dan tiga tahun. "Obligasi korporasi multifinance berperingkat AAA dengan tenor 3 tahun rata-rata menawarkan kupon 6,40%," ujar Nasrudin kepada KONTAN, kemarin. Tentu saja, semakin rendah peringkat utang dari perusahaan multifinance, maka bunga yang ditawarkan ke investor juga akan lebih tinggi lagi. Artinya, biaya dana yang harus dibayar perusahaan multifinance akan tetap tinggi. Toh, multifinance tetap gencar menerbitkan obligasi. Penerbitan obligasi multifinance per semester I-2023 mencapai Rp 15,11 triliun. Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa menyampaikan, obligasi masih menarik karena sampai saat ini tingkat bunga pinjaman yang dikenakan perbankan masih lebih tinggni. "Akan tetapi melihat kondisi ekonomi saat ini, kami berharap bunga pinjaman bank akan turun menyamai bunga obligasi," kata dia, kemarin. Direktur Utama Mandiri Utama Finance Stanley Setia Atmadja menyebut, bunga obligasi masih tak terlalu jauh dari bunga bank. Ia mencontohkan obligasi tenor tiga tahun bunganya bisa mencapai 7,3% per tahun.

PROSPEK INVESTASI SAHAM : MAGNET KUAT EMITEN JUMBO

26 Jul 2023

Pasar modal sedang punya pijakan kuat untuk melompat lebih tinggi, yang salah satunya bakal terlihat dari kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG). Faktor kuat pendorong fase bullish IHSG adalah kinerja saham emiten-emiten berkapitalisasi pasar jumbo, di atas Rp100 triliun, yang kembali unjuk gigi, di tengah musim pelaporan kinerja keuangan semester I/2023. Adapun, emiten big caps di sektor perbankan, telekomunikasi, dan teknologi dinilai atraktif bagi investor pada paruh kedua tahun ini.Saat ini sebanyak 14 emiten tercatat memiliki kapitalisasi pasar lebih dari Rp100 triliun. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tak tergoyahkan di posisi puncak dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp1.117 triliun.Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menjadi pendatang baru dengan market capitalization yang menyentuh Rp165 triliun. Menggemuknya kapitalisasi pasar AMMN sejalan dengan apresiasi harga sahamnya yang melesat 35,69% dari harga IPO ke level Rp2.300 per saham pada Selasa (25/7).Alhasil, perusahaan afi liasi PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang baru melantai di BEI pada 7 Juli 2023 itu menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar ke-9 di Bursa Efek Indonesia menyalip PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).

Di sisi performa finansial, sebanyak tiga emiten big caps sudah melaporkan kinerja keuangan semester I/2023. Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas BBCA dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) kompak meningkat sepanjang paruh pertama 2023.BBCA mengantongi pertumbuhan laba bersih 34,02% year-on-year (YoY) dari Rp18,05 triliun menjadi Rp24,19 triliun. Sementara itu, laba bersih BBNI naik 17,02% secara tahunan menjadi Rp10,3 triliun dari Rp8,8 triliun pada semester I/2022.Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menuturkan realisasi laba bersih itu sejalan dengan peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 5,1% YoY menjadi Rp20,6 triliun pada 6 bulan pertama tahun ini. Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan pertumbuhan laba bank didorong oleh kenaikan volume kredit, perbaikan kualitas pinjaman, serta peningkatan volume transaksi dan pendanaan. Ira Noviarti, Presiden Direktur Unilever Indonesia, mengatakan penurunan laba bersih dipicu oleh sejumlah tantangan, yakni kenaikan infl asi dan peningkatan biaya hidup masyarakat yang menyebabkan tren perlambatan konsumsi rumah tangga.Meski begitu, dia menyebut margin kotor UNVR per Juni 2023 mencapai 50,5% lebih tinggi dari level 49,3% per Maret 2023. Perihal emiten jumbo, Head of Research InvestasiKu Cheril Tanuwijaya menilai emiten perbankan masih memiliki prospek positif. Hal itu sejalan dengan tingkat suku bunga saat ini masih berada dalam level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir tetapi sudah mencapai puncak, pemulihan ekonomi, dan berlanjutnya pertumbuhan kredit.