;
Kategori

Ekonomi

( 40512 )

Pemerintah Pacu Konsumsi Domestik

08 Aug 2023

Kendati masih mencatat pertumbuhan di atas 5 % sampai triwulan II-2023, potensi perlambatan ekonomi di sepanjang sisa tahun ini mulai diwaspadai. Berkaca dari ekspor yang mulai terkontraksi, pemerintah akan beralih mengandalkan konsumsi domestik. Defisit fiskal berpotensi diperlebar di atas target untuk mengungkit daya beli dan menggerakkan ekonomi. BPS mencatat, ekonomi Indonesia pada triwulan II-2023 masih tumbuh 5,17 % secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan I-2023 di 5,04 %. Capaian itu melanjutkan tren pertumbuhan ekonomi di atas 5 % selama tujuh triwulan berturut-turut. Di tengah berlanjutnya tren perlambatan ekonomi global, ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh tinggi hingga pertengahan tahun karena ditopang konsumsi rumah tangga. Belanja masyarakat menguat akibat faktor momentum ”musiman”, seperti Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, serta momentum libur sekolah.

Sepanjang triwulan II-2023, konsumsi masyarakat tumbuh 5,23 % secara tahunan, lebih tinggi dari triwulan I-2023 yang sebesar 4,54 %. Konsumsi rumah tangga pun menjadi komponen penyumbang pertumbuhan ekonomi yang terbesar hingga 53,57 %. Meski masih tumbuh di kisaran 5 %, tanda-tanda pelemahan ekonomi Indonesia mulai tampak lewat ekspor yang semakin melambat. BPS mencatat, ekspor mulai terkontraksi atau tumbuh minus 2,75 % secara tahunan pada triwulan II-2023. Ini pertama kalinya ekspor tumbuh negatif setelah tumbuh melejit sepanjang 2021-2022 seiring momentum lonjakan harga komoditas global (commodity windfall). Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud, Senin (7/8) mengatakan, pelemahan ekspor terjadi di tengah tren normalisasi harga komoditas dunia. Sektor yang paling banyak memengaruhi penurunan adalah ekspor produk pertambangan yang tumbuh minus 0,17 % dan berkontribusi hingga 76,58 % terhadap kontraksi pertumbuhan ekspor. Di sisi lain, momentum laju konsumsi rumah tangga yang tinggi diperkirakan tidak akan bertahan hingga akhir tahun. (Yoga)


Industri Unggulan Tumbuh Melambat

08 Aug 2023

Pertumbuhan industri unggulan Indonesia, yakni makanan dan minuman, pada triwulan II-2023 tercatat 4,62 % secara tahunan. Pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan triwulan I-2023 di 5,33 %. Momentum Ramadhan dan Lebaran tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan di sektor makanan dan minuman. ”Saat menjelang Lebaran, masih ada pertumbuhan (permintaan), tetapi sedikit lambat. Berdasarkan hasil survei kami, terdapat pergeseran pola pengeluaran konsumen yang mengurangi makanan yang tergolong sekunder untuk belanja pengalaman, seperti travelling,” tutur Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman saat dihubungi, Senin (7/8) di Jakarta.

Tak hanya industri makanan dan minuman yang tumbuh melambat saat Ramadhan-Lebaran, industri tekstil dan pakaian jadi justru terkontraksi lebih dalam pada triwulan II-2023, yakni minus 1,7 %. Kondisi tersebut lebih buruk dibandingkan triwulan I-2023 yang tumbuh minus 0,07 %. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, percepatan penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) menjadi cara menguatkan pertumbuhan PDB industri manufaktur nonkomoditas lewat peningkatan ekspor. Saat ini ekspor Indonesia ke Uni Eropa dikenai biaya masuk 10-17 %. ”Padahal, negara yang sudah memiliki perjanjian  dagang dengan UE, seperti Vietnam,tidak dikenai bea masuk,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin. (Yoga)


Pergerakan Cadangan Devisa Stabil

08 Aug 2023

Posisi cadangan devisa Juli 2023 tercatat 137,7 miliar dollar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi Juni 2023 yang sebesar 137,5 miliar dollar AS. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, Senin (7/8/2023), menjelaskan, kenaikan itu, antara lain, dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (Yoga)

PMN Waskita Dialihkan ke Hutama Karya

08 Aug 2023

Pemerintah mengalihkan penyertaan modal negara (PMN) tahun anggaran 2022 dari PT Waskita Karya Tbk kepada PT Hutama Karya (Persero). Pengalihan tersebut dilakukan dengan cara mengambil aset yang dimiliki oleh Waskita Karya. ”Jangan sampai korporasi dibantu, tetapi nanti ada penyelewengan. Ini masalah yang ada di BUMN Karya,” kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/8/2023). (Yoga)

Pertanian Lahan Pasir

08 Aug 2023

Cabai dan melon merupakan komoditas andalan para petani lahan pasir di tepi pantai pesisir selatan DIY di Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut. Setelah panen cabai, para petani membersihkan lahan pertanian bekas tanaman cabai, pada Senin (7/8/2023), agar bisa ditanami kembali. (Yoga)

Kinerja Ekspor Bakal Berjalan Tersendat-sendat

08 Aug 2023

Pertumbuhan ekspor hingga akhir tahun ini diperkirakan bakal tersendat, penyebabnya adalah penurunan harga komoditas global dan pelemahan permintaan negara tujuan utama ekspor. Kontraksi ekspor pada triwulan II-2023 mengindikasikan gejala itu. Vice President for Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani, Senin (7/8) mengatakan, tren harga komoditas global memang tengah turun. Namun, penurunan harga itu masih menguntungkan Indonesia karena masih lebih tinggi dibandingkan 2019 atau sebelum pandemi Covid-19. Ia mencontohkan, harga batubara dan CPO global pada akhir 2022 masing-masing 404,15 USD per ton dan 947,89 USD per ton. Harga CPO bahkan pernah tembus 1.244 USD per ton pada akhir 2021. Namun, hingga penutupan perdagangan pekan lalu, harga batubara dan CPO masing-masing turun menjadi 136,85 USD per ton dan 902,14 USD per ton. Harga batubara dan CPO itu masih lebih tinggi dibandingkan harga pada akhir 2019 yang masing-masing sebesar 67,7 USD per ton dan 734,17 USD per ton. 

”Pada akhir 2023, harga batubara diperkirakan jadi 168,8 USD per ton dan harga CPO 891 USD per ton. Harga kedua komoditas masih terus berproses membentuk keseimbangan baru, bahkan hingga tahun depan,” kata Dendi ketika dihubungi di Jakarta. Dendi berpendapat, penurunan harga komoditas global itu wajar karena telah mengalami lonjakan yang tidak normal pada 2021 dan 2022. Penurunan harga itu juga bakal memengaruhi kinerja ekspor Indonesia sehingga perlu dikompensasi dengan meningkatkan volume ekspor. Kendati begitu, tantangan meningkatkan volume ekspor hingga akhir tahun nanti tidak mudah. Permintaan negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia, seperti AS, China, dan kawasan Uni Eropa, masih lemah meski ekonomi nya mulai membaik. Penurunan permintaan juga dialami industri berorientasi ekspor, seperti garmen, furnitur, dan kayu olahan. Meski mulai tumbuh pada Mei 2023 setelah terkontraksi pada Agustus 2022-April 2023, permintaan belum benar-benar pulih. (Yoga)

Pariwisata Dongkrak Pemulihan Ekonomi Bali

08 Aug 2023

Ekonomi Bali pada triwulan II-2023 bertumbuh positif 5,60 persen dibandingkan triwulan II-2022, atau tumbuh 6,96 persen dibandingkan triwulan I-2023. Pertumbuhan positif ekonomi Bali pascapandemi Covid-19 dipengaruhi pulihnya pariwisata. Kepala BPS Provinsi Bali Endang Retno Sri Subiyandani, Senin (7/8/2023), mengatakan, hal itu mengindikasikan pertumbuhan yang mengesankan hal baik dan positif. (Yoga)

Ekonomi Bisa Lelet di Tahun Pemilu

08 Aug 2023

Indonesia masih bisa menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada tahun ini. Memasuki tahun politik 2024, ada ancaman pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian pada periode April 2023 hingga Juni 2023 tumbuh 5,17% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka ini memang lebih tinggi dari pencapaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2023 yang sebesar 5,04% (yoy). Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud mengemukakan, nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 5.226,7 triliun. Apabila dilihat atas dasar harga konstan (ADHK), PDB tercatat Rp 3.075,7 triliun. Di sisi lain, tren pertumbuhan ekonomi menjelang hajatan Pemilu 2024 memang patut diwaspadai. Mengacu data historis pertumbuhan ekonomi selama lima kali pemilu di Indonesia, cuma tahun 2004 saja ekonomi tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya. Sisanya, pertumbuhan ekonomi pada tahun politik selalu menurun secara tahunan. Bukan cuma pertumbuhan ekonomi, inflasi Indonesia di masa pemilu juga selalu tertekan. Meski ada catatan sejarah yang kurang enak, berdasarkan data BPS, Edy menyebutkan, faktor menjelang Pemilu 2024 ternyata sudah memberikan kontribusi sedikit ke pertumbuhan ekonomi. Beberapa ekonom juga masih meyakini perhelatan Pemilu 2024 akan memberikan berkah terhadap perekonomian Indonesia. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, dampak pesta rakyat terhadap pertumbuhan ekonomi akan lebih terasa di semester II-2023. Sementara Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengungkapkan, permintaan domestik akan meningkat mendekati pemilu. Ia memproyeksikan pertumbuhan tahun 2023 di level 5,3%.

Emiten Mengebut Serapan Belanja Modal

08 Aug 2023

Penyerapan belanja modal alias capital expenditure (capex) sejumlah emiten LQ45 masih bernilai minim. Meski demikian, emiten masih meyakini belanja modal dapat terserap di sisa tahun ini. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) misalnya, baru menyerap capex sebesar Rp 363 miliar per akhir Juni 2023. Nilai itu belum sampai separuh dari target capex yang dianggarkan tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun. Sekretaris Perusahaan INTP Dani Handajani mengatakan, penggunaan capex akan digenjot pada semester kedua, terutama untuk perbaikan dan pemeliharaan operasional bisnis INTP. Sedangkan emiten pertambangan, menyiapkan capex lebih jumbo tahun ini. PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatat realisasi belanja modal sebesar US$ 70,9 juta. Rinciannya, US$ 5,7 juta digunakan untuk Indika Indonesia Resources, lalu US$ 3,4 juta untuk Kideco Jaya Agung. Vice President Director dan Group CEO INDY Azis Armand mengatakan, selain mendorong ESG, INDY juga memperkuat diversifikasi di sektor nonbatubara , termasuk bisnis energi baru dan terbarukan, kendaraan listrik, dan nature-based solutions. Tahun ini, INDY menganggarkan belanja modal US$ 302,4 juta. Sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) berhasil menyerap capex sebesar US$ 600 juta. Realisasi ini setara dengan 50% dari anggaran capex 2023 sebesar US$ 1,2 miliar. Sementara untuk growth capital, sebagian besar belanja modal adalah untuk keperluan akuisisi lahan dan sebagian lagi untuk pengerjaan awal proyek pabrik smelter.

Laba Minuman Beralkohol Menebal

08 Aug 2023

Penjualan dan laba mayoritas emiten minuman beralkohol semakin nikmat di semester I-2023. Prospek bisnis minuman keras pun ditaksir masih mentereng hingga tutup tahun ini. Dari empat emiten minuman beralkohol di Bursa Efek Indonesia (BEI), semisal, hanya PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) yang kinerjanya menyusut. Penjualan DLTA merosot 5,98% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 361,50 miliar pada semester I-2023. Laba bersih DLTA ikut menciut 9,58% yoy menjadi Rp 107,04 miliar per Juni 2023. Berbeda dari DLTA, kinerja PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER), dan PT Hatten Bali Tbk (WINE) kompak menanjak. MLBI meraup penjualan Rp 1,50 triliun, melesat 13,63% yoy sekaligus mendongkrak laba bersih 16,10% menjadi Rp 457,73 miliar. Sedangkan BEER membukukan penjualan bersih Rp 25,37 miliar dalam enam bulan pertama 2023, tumbuh 10,30%. Laba paling tinggi dicatatkan WINE, dengan lonjakan 341,88% yoy menjadi Rp 20,68 miliar hingga Juni 2023. Direktur dan Sekretaris Perusahaan WINE, Ketut Sumarwan mengatakan, pertumbuhan kinerja WINE tak lepas dari dorongan industri pariwisata yang pulih usai pandemi. Research Analyst Reliance Sekuritas, Ayu Dian mengatakan, bertumbuhnya industri pariwisata setelah pandemi dan banyaknya hari libur pada semester pertama turut mendorong mobilitas dan meningkatkan konsumsi masyarakat. Momentum ini berbarengan dengan penurunan tingkat inflasi dan daya beli masyarakat yang masih terjaga. Analis Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto sepakat, sebagai barang konsumsi yang sifatnya tersier, prospek emiten minuman beralkohol masih positif selama daya beli masyarakat meningkat. Hanya saja, sebagai pilihan investasi, perlu kembali mencermati valuasi dan momentum teknikal tiap sahamnya.