Ekonomi
( 40707 )Lampu Kuning Ekspor
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, konsumsi rumah tangga yang tumbuh tinggi antara lain transportasi dan komunikasi; pakaian, alas kaki dan jasa perawatannya; serta hotel dan restoran. Pandemi yang mereda, diikuti mobilitas masyarakat yang meningkat, membuat konsumsi rumah tangga kian menguat. Sebaliknya, total ekspor, yang terdiri dari ekspor barang dan jasa, tumbuh negatif 2,75 %. Padahal, sejak triwulan I-2021, ekspor berturut-turut tumbuh positif. Peran atau distribusinya dalam PDB triwulan II-2023 sebesar 20,25 %. Ekspor barang terkontraksi, sedangkan ekspor jasa tumbuh positif ditopang kedatangan wisatawan mancanegara dan devisa dari luar negeri.
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Juni 2023 turun dibandingkan dengan Juni 2022 dan Mei 2023. Nilai ekspor komoditas unggulan, seperti minyak sawit, batubara, serta besi dan baja, pada Juni 2023 turun secara tahunan. Nilai ekspor nonmigas ke China, sebagai negara tujuan utama, pada Juni 2023 sebesar 4,58 miliar USD. Porsinya terhadap keseluruhan ekspor nonmigas Indonesia 23,7 %., turun 9,94 % secara tahunan dan 4,04 % secara bulanan. Kondisi kinerja ekspor ini mesti dicermati jika tidak ingin terus merosot dan berdampak pada PDB. Apalagi, kondisi perekonomian global, yang berhubungan dengan permintaan barang, belum pulih. (Yoga)
Hilirisasi Tak Cukup Atasi Deindustrialisasi
Gejala deindustrialisasi dini semakin nyata dihadapi Indonesia, strategi hilirisasi yang digencarkan pemerintah dinilai masih jauh panggang dari api. Manfaat hilirisasi lebih banyak dinikmati negara lain seperti China. Indonesia butuh kebijakan industrialisasi yang komprehensif, bukan sekadar hilirisasi yang tanggung. Gejala deindustrialisasi prematur, atau penurunan kontribusi industri manufaktur, terhadap PDB nasional mulai terlihat sejak tahun 2002. Namun, laju penurunan itu semakin cepat terjadi sejak tahun 2009. Sebagai perbandingan, pada 2008, porsi industri manufaktur terhadap PDB nasional masih 27,8 %. Pada 2010, kontribusinya mulai turun ke 22 %. Saat pandemi Covid-19, peran sektor pengolahan semakin mengecil ke 19,8 % pada 2020, turun lagi menjadi 19,25 % pada 2021, 18,34 % pada 2022, dan 18,25 % pada triwulan II tahun 2023.
Gejala deindustrialisasi juga tampak dari pertumbuhan industri pengolahan yang ada di bawah laju pertumbuhan ekonomi. Data BPS, pada triwulan II-2023, industri pengolahan tumbuh 4,88 %, di bawah pertumbuhan ekonomi yang 5,17 %. Ekonom Senior Indef Faisal Basri menambahkan, untuk membangkitkan kembali industri pengolahan, Indonesia butuh kebijakan industrialisasi yang komprehensif dengan pemetaan potensi sektoral yang jelas. Sayangnya, Indonesia belum memiliki strategi industrialisasi yang jelas, contohnya, hilirisasi nikel saat ini masih sebatas mengolah bijih nikel(ore nickel) menjadi nickel pig iron (NPI) atau feronikel. ”Lalu 90 % diekspor ke China. Jadi, hilirisasi di Indonesia mendukung industrialisasi di China. Kita sendiri hanya menikmati 10 %-nya, 90 %-nya ke China,” kata Faisal. (Yoga)
Bursa Kerja di Bantul
Untuk mengurangi pengangguran di Bantul yang pada tahun 2022 sebanyak 24.000 orang ,diadakan bursa kerja Bantul Career Expo di Pendapa SMK Negeri 1 Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai Selasa (8/8/2023).
Kegiatan yang digelar Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Bantul selama tiga hari ini menyediakan sekitar 4.000 lowongan pekerjaan dari 35 perusahaan. Di sini perwakilan perusahaan memberikan informasi kepada pencari kerja yang mengikuti bursa kerja Bantul Career Expo untuk memilih perusahaan yang memenuhi kriteria yang mereka dambakan. (Yoga)
Optimisme Konsumen Tetap Kuat
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2023 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2023 yang terjaga dalam zona optimis (>100) pada level 123,5. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono dalam keterangan resmi, Selasa (8/8/2023). (Yoga)
Target Emiten Baru BEI Terlampaui
Empat emiten baru secara bersamaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (8/8/2023). Dengan demikian, ada 59 emiten baru yang tercatat di BEI melalui penjualan saham perdana. Jumlah itu melampaui target 57 emiten baru untuk tahun ini. Direktur BEI I Gede Nyoman Yetna mengingatkan, harapan-harapan para investor harus diperhatikan emiten. (Yoga)
Maritim Perlu Dibangun Berkelanjutan
Pembangunan maritim menjadi prioritas di masa depan. Indonesia kini dalam jalan panjang membangun ekonomi maritim, peradaban, dan kekuatan maritim. Namun, tata kelola laut yang masih berorientasi daratan menjadi hambatan dalam membangun masa depan maritim yang tidak merusak lingkungan. Pada tahun 2045, kontribusi PDB maritim terhadap PDB Nasional ditargetkan 12,5 %, berfokus pada pembangunan konektivitas laut yang efisien dan efektif, industrialisasi perikanan yang berkelanjutan dan berdaya saing, serta pariwisata bahari yang inklusif. Target PDB maritim itu meningkat dari 2015, yakni 6,4 % dari total PDB.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengemukakan, sektor maritim berperan penting dalam mencapai Visi Indonesia Emas 2045, yakni ”Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan”. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, pemanfaatan sektor maritim, selain difokuskan pada upaya meningkatkan kontribusi moneter, juga perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya kelautan. ”Sekarang seakan-akan kita (mengalami) disorientasi,” ujarnya dalam Seminar Penguatan Tata Kelola Kelautan Berkelanjutan dan Berkeadilan dalam Rencana Pembangunan Nasional di Jakarta, secara hibrida, Selasa (8/8). (Yoga)
Bangun Wirausaha Muda Berbasis Pangan Lokal NTT
Untuk meningkatkan nilai lebih pangan lokal, anak-anak muda di Kabupaten Flores Timur dan Lembata dilatih kewirausahaan. Selama empat hari, mulai Minggu sampai Rabu (6-9/8/2023), 38 anak muda dari enam desa di Kabupaten Flores Timur dan Lembata, NTT, mengikuti pelatihan kewirausahaan di Sekolah Alam Agro Sorgum Flores di Desa Pajinian, Kecamatan Adonara Barat. Kegiatan ini digelar oleh Koalisi Pangan Baik, yang terdiri dari Yayasan Kehati, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Keuskupan Larantuka, dan Yayasan Ayu Tani.
Pada Selasa (8/8), anak-anak muda diminta mengolah beragam pangan lokal dari desa masing-masing. Hampir semua menampilkan aneka makanan nonberas, mulai dari jagung, sorgum, jewawut, hingga umbi-umbian dan pisang. Maria Loretha, pegiat sorgum dan pangan lokal di Flores Timur yang terlibat dalam pelatihan ini, mengatakan, banyaknya pangan nonberas yang ditampilkan menunjukkan pangan pokok di NTT masa lalu sangat beragam. Sebagian produk ini sudah diolah dan dikemas menarik.
Andika Kilog (26) dari Desa Tapo Bali, Kecamatan Wulandoni, Lembata, membuat produk olahan sorgum menjadi kopi sorgum, beras sorgum, sereal sorgum, dan tepung sorgum. Selain itu, anak-anak muda dari Tapo Bali juga menampilkan berbagai olahan protein laut yang difermentasi. Sementara itu, kelompok dari Desa Hokeng, Kabupaten Flores Timur, mengolah makanan mereka, seperti jagung bungkus dan ubi cincang, dengan cara memasukkan ke dalam bamboo kemudian dipanggang. (Yoga)
Daya Saing Dalam Ancaman
JAKARTA,ID-Daya saing perekonomian Indonesia yang dalam beberapa tahun mengalami perbaikan signifikan kembali menghadapi ancaman di masa mendatang. Ini dikarenakan oleh potensi penurunan kapasitas sumber daya manusia (SD) akibat hilangnya banyak kesempatan belajar para siswa di Tanah Air selama pandemi Covid-19 dari 2020 hingga 2022 silam. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, sebagaimana ditunjuk oleh laporan Institute for Management Development (IMD), daya saing perekonomian Indonesia meningkat tajam hingga 10 posisi dari rangking 44 di 2022 menjadi 34 tahun ini. bahkan, dari laporan ini terungkap bahwa Indonesia menjadi negara dengan peningkatan peringkat daya saing tertinggi di dunia. "Tahun 2023 kita nomor 34 dari 63 negara dan yang menjadi kunci utama adalah economic performance kita. Itu yang tadinya nomor 42 meningkat jadi 29. Goverment effciency meningkat dari 35 menjadi 31. Yang menarik adalah business efficiency dari nomor 31 menjadi 20," ujar Airlangga dalam diskusi Investor Daily Roundtable (IDR) yang dielar Investor Daily dan B-Universe di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (08/08/2023). (Yetede)
Keyakinan Konsumen Kuat, Inflasi Perlu Dijaga
JAKARTA,ID- Ekpektasi konsumen terhadap kondisi ekonomidalam enam bulan terpantau tetap kuat, sehingga pemerintah perlu menjaga daya beli dan stabilitas harga. Sementara itu, mencapai 3,08% pada Juni 2023 yang berada dalam rentang target pemerintah yaitu 3%-1%. Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan kedepan tersebut berdasarkan Survei Konsumen periode 2023 yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI), Selasa (8/8/2023). Survei BI mencatat ekspektasi konsumen tersebut tercermin dari IEK Juli 2023 yang tercatat dalam zona optimisme sebesar 133,2 (diatas 100), meskipun lebih rendah dari bulan sebelum 137,5. Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan tetap kuat terutama didukung oleh ekspektasi penghasilan yang tercatat dalam zona optimis sebesar 136,4 pada Juli 2023, meskipun menurun dibanding Juni 2023 sebesar 138,1. "Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Juli 2023 didorong oleh indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Juli 2023 masing-masing sebesar 113,8 dan 133,2, lebih rendah dari bulan sebelumnya 116,8 dan 137,5. IKE tetap terjeda antara lain didukung oleh optimisme Indeks Penghasilan Saat ini yang yang tetap kuat dan indeks Pembelian Barang Tahan Lama yang meningkat. Sementara itu, IEK tetap kuat terutama pada Indeks Ekspektasi Penghasilan," jelas Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan tertulis. (Yetede).
IPO Membludak Target BEI Terlampaui
JAKARTA,ID-Aktivitas penawaran umum perdana (Initial public offering) saham membludak sepanjang 2023. Hingga kemarin, jumlah IPO sudah mencapai 59, melampaui target Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini sebanyak 57 dan menyamai torehan tahunan lalu. Jumlah ini diyakini terus bertambah sampai akhir tahun. Sebab, sebanyak 34 perusahaan antre menggelar IPO sepanjang Agustus-Desember 2023 dan sudah masuk pipeline BEI. Maka tak heran, jika BEI menyebut IPO tahun 2023 akan memecahkan rekor sepanjang sejarah. Analis menilai, IPO kini menjadi primadona perusahaan untuk mencari pendanaan. Sebab, proses IPO lebih mudah ketimbang penerbitan obliasi. Alhasil, terjadi booming IPO tahun ini. Bahkan, per Juni 2023, nilai IPO di Indonesia menjadi terbesar di Asia Tenggara dan nomor empat dunia. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I gede Nyoman Yetna mengatakan, tahun ini, BEI menargetkan pencataran 200 intrusmen baru di bursa, terdiri atas saham, obligasi, waran terstruktur, kontak investasi real estat (KIK), dana investasi real estat (DIRE), dana investasi infrastruktur (Dinfra), exchange traded fund (ETF) dan efek beragun aset (EBA). (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









