Ekonomi
( 40748 )MSCI Kocok Ulang Small Cap Index
Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan penyesuaian atau rebalancing terhadap para penghuni indeksnya. Susunan anyar ini akan berlaku 1 September 2023. Dalam rebalancing minor ini, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) bergabung ke dalam MSCI Small Caps Index. Ketiganya menggeser posisi PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), PT Temas Tbk (TMAS), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Masuknya AUTO tak lepas dari kinerja anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu. Laba bersihnya per Juni 2023 sebesar Rp 801,55 miliar, melesat 85,33 % dibandingkan periode sama tahun lalu. (Yoga)
Kilau Laba dari Emas dan Tembaga
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) punya segudang rencana usai mencatatkan sahamnya di papan bursa. Tujuannya, emiten yang terafiliasi dengan Grup Medco ini ingin terus mendorong produksi emas dan tembaga miliknya.
Amman Mineral adalah perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia. Ini berkat pengoperasian Tambang Batu Hijau di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Saat ini, Amman Mineral sedang fokus pada proyek penambangan tambang Batu Hijau fase ketujuh. Pada saat bersamaan, perusahaan ini juga menggarap pengembangan tahap kedelapan yang diperkirakan dapat memperpanjang usia Tambang Batu Hijau hingga tahun 2030.
Setelah itu, Amman Mineral akan menyiapkan proyek eksplorasi Elang untuk memulai operasional penambangan di tahun 2031 hingga 2046.
Fasilitas pengolahan ini memiliki kapasitas input mencapai 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun.
Direncanakan smelter tersebut bakal menghasilkan 222.000 ton katoda tembaga dan 830.000 ton asam sulfat dengan konsentrasi 98,0%. Lalu pemurnian logam mulia akan menghasilkan 18 ton emas batangan, dengan kemurnian emas 99,9%, 55 ton perak batangan, dan logam mulia lainnya.
Kartika Octaviana,
Vice President Corporate Communications & Investor Relations
Amman Mineral mengatakan, pihaknya tengah mengebut pengerjaan smelter.
Batu Hijau juga memiliki cadangan tembaga terbesar kelima di dunia jika dikombinasikan dengan Cebakan Elang. Tambang Batu Hijau merupakan tambang tembaga dan emas terbuka konvensional. Bijih dari tambang diproses menjadi konsentrat tembaga, yang juga mengandung emas dan perak sebagai mineral pengikutnya.
Belum lama ini, anak usaha Amman Mineral Internasional, yakni PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) juga mendapatkan persetujuan ekspor konsentrat tembaga dari Kementerian Perdagangan. Izin ekspor yang diberikan sebesar 900.000
wet tons
konsentrat tembaga.
Transaksi Bank dari Agen Laku Pandai Melejit
Perbankan terus mengoptimalkan agen laku pandai untuk menjangkau potensi pasar yang selama ini belum tersentuh. Hasilnya transaksi perbankan lewat agen aku pandai melesat. Ini di alami Bank MAndiri Tbk. Dengan kode saham BMRI, yang memiliki 100.000 agen laku pandai, dengan 22.400 agen aktif. Terutama berkaitan dengan program pemerintah seperti Bansos, PKH, bantuan sembako dan kartu tani SEVP Micro & Consumer Finance Bank Mandiri Josephus K Tripakoso mengatakan, sampai Juli 2023, frekwensi Mandiri Agen, sebutan Agen Laku Pandai Bank Mandiri, mencapai 47 juta transaksi, naik 10% secara tahunan dengan volume penjualan Rp 53 triliun. (Yoga)
MIDI Agresif Ekspansi Gerai Baru
Emiten pengelola gerai Alfamidi dan Lawson, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) menargetkan pertumbuhan pendapatan di semester II ini tetap
dobel digit, seperti yang dicapai pada semester I 2023.
Untuk menopang target, MIDI masih gencar membuka jaringan gerai baru. "Kami terus melanjutkan ekspansi dengan menargetkan 150-200 gerai Alfamidi dan 500 gerai Lawson di 2023 (setahun penuh)," kata Suantopo Po,
Corporate Secretary
MIDI kepada KONTAN, Kamis (10/8).
Pasalnya, jumlah gerai Lawson selama 10 tahun terakhir stagnan di angka 65 gerai. Hingga semester I-2023, Lawson mencatatkan pembukaan gerai terbanyak dibandingkan gerai MIDI lainnya, yaitu 250 gerai. Perinciannya, 102 gerai
standalone
alias berdiri sendiri dan 148 gerai
store-in-store
atau berada dalam gedung lain.
Khusus untuk pembukaan gerai Lawson, MIDI menganggarkan belanja modal (capital expenditure
/capex) sebesar Rp 600 miliar, dari total belanja modal Rp 1,6 triliun. Setiap satu gerai Lawson membutuhkan capex yang lebih kecil dibandingkan gerai Alfamidi, yaitu rata-rata Rp 2 miliar untuk
standalone
(Alfamidi rata-rata Rp 3 miliar) dan Rp 500 juta untuk
store-in-store.
Dari sisi
merchandising, MIDI menyediakan produk yang lebih lengkap untuk memaksimalkan area penjualan dan optimalisasi margin dengan harga yang kompetitif. Dari sisi pemasaran, MIDI melanjutkan strategi pemasaran yang komprehensif.
Sejatinya, aksi ekspansi MIDI yang agresif sepanjang tahun ini tak terlalu mengejutkan. Pasalnya, meski telah terjadi perubahan perilaku berbelanja masyarakat melalui
online, namun faktanya belanja
offline
masih diminati, khususnya di kawasan yang dekat dengan tempat tinggal.
KREDIT KONSUMSI : MEGA Akselerasi Bisnis Kartu Kredit
PT Bank Mega Tbk. (MEGA) bakal memperkuat ekosistem dagang elektronik atau e-commerce guna mencapai target pertumbuhan bisnis kartu kredit yang dipatok 15% hingga 20% pada tahun ini. Wakil Direktur Utama Bank Mega Diza Larentie mengatakan bahwa bisnis kartu kredit Bank Mega sempat jeblok saat pandemi Covid-19. Namun, imbuhnya, seiring berlalunya pandemi, pertumbuhan bisnis kartu kredit mulai kencang, meskipun masih belum sebesar praCovid-19.
Oleh karena itu, perseroan kian mantap untuk meningkatkan bisnis kartu kreditnya pada tahun ini. “Tahun ini kami coba targetkan 15% sampai 20% pertumbuhan sales volume[kartu kredit],” katanya.
Bank Mega sebagai bagian dari ekosistem CT Corp mengandalkan berbagai entitas bisnis dalam satu ekosistemnya, seperti integrasi transaksi di Transmart.
“Behavior konsumen berubah, banyak saat ini yang berbelanja lewat platform e-commerce. Kita pun sediakan, e-commerce yang besar-besar kita ada,” jelasnya. Selain itu, Bank Mega menggelar event berkerja sama dengan PT. Antavaya Tour & Travel (Antavaya) bertajuk Mega Travel Fair bulan ini.
ANTISIPASI EL NINO : MITIGASI RISIKO ASURANSI PERTANIAN
Pelaku industri asuransi terutama yang memiliki produk asuransi pertanian diminta untuk melakukan upaya mitigasi risiko menyusul potensi fenomena El Nino tahun ini yang berpotensi menyebabkan gagal panen.
Hal tersebut diungkapkan oleh Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) yang menilai bahwalangkah mitigasi risiko harus dilakukan perusahaan asuransi dalam menghadapi fenomena El Nino. Apalagi, fenomena tersebut berpotensi memicu kemungkinan gagal panen yang dapat mengakibatkan klaim asuransi pertanian akan naik. Direktur Eksekutif AAUI Bern Dwiyanto menjelaskan kesiapan asuransi untuk menanggungnya adalah melalui pengelolaan risiko yang salah satunya dilakukan dengan mengatur penempatan reasuransi.
Hal ini, imbuhnya, diyakinai akan menurunkan potensi kerusakan/kematian tanaman. Selain itu, Bern memandang perlunya kedisiplinan petani dalam menerapkan praktik pertanian yang benar sesuai arahan petugas penyuluh lapangan.
Bern menilai bahwa fenomena El Nino tidak hanya berdampak pada asuransi pertanian. Namun juga meningkatkan kebutuhan akan asuransi kesehatan.
Di sisi lain, penetrasi asuransi pertanian di Indonesia dinilai perlu ditingkatkan menyusul sektor ini yang tak terlepas dari risiko bencana alam yang kerap terjadi di Tanah Air, termasuk fenomena El Nino.Fenomena ini diproyeksi bakal memicu cuaca panas ekstrem di Indonesia pada Agustus hingga Oktober 2023. Fenomena tersebut diprediksi menimbulkan kemarau panjang yang akan berlanjut hingga awal 2024.
Direktur Pengembangan Bisnis PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Diwe Novara mengatakan bahwa kebutuhan petani terkait asuransi pertanian saat ini sangat tinggi. Menurutnya, selain padi, beberapa komoditas lainnya seperti bawang merah dan jagung juga membutuhkan perlindungan asuransi.
Pada 2023, Asuransi Jasindo bersama Kementerian Pertanian serta Dinas Pertanian Kabupaten/Kota terus melakukan upaya percepatan realisasi AUTP sehingga petani dapat merasakan manfaat perlindungan asuransi khususnya dalam menghadapi El Nino.
Pasar Lesu, Eksportir Coba Beragam Cara
Permintaan dari negara mitra dagang utama Indonesia masih lesu. Eksportir coba mempertahankan usaha dengan beragam cara. Di sisi lain, pasar alternatif baru dan perjanjian dagang belum sepenuhnya dapat menggantikan permintaan yang hilang. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Kamis (10/8) mengatakan, hampir semua industri manufaktur berorientasi ekspor masih terdampak pelemahan permintaan global, khususnya industri yang memproduksi barang konsumsi tahan lama, seperti pakaian, sepatu, dan furnitur.
”Dalam kondisi saat ini, mengalihkan pasar atau mengikat kontrak dengan pembeli baru dari luar negeri tidak mudah, yang bisa dilakukan untuk bertahan adalah meningkatkan efisiensi produksi dengan konsekuensi penurunan produktivitas atau kapasitas terpakai,” ujarnya. Selain itu, tak sedikit perusahaan pengekspor yang mengalihkan produksi untuk menyediakan produk yang bisa dijual di dalam negeri. Adapun yang tidak bisa umumnya terus berkoordinasi dengan pembeli dari luar negeri, terutama yang memiliki kontrak penjualan atau rantai pasok untuk meminimalkan potensi stop produksi. Ada juga yang mulai mendiversifikasi pasar ke negara yang permintaannya lebih baik meski daya belinya lebih rendah. Mereka yang semula ekspor ke AS dan Uni Eropa, memindah pasar ke China, India, dan beberapa negara di Afrika. (Yoga)
Citi Indonesia Bukukan Laba Rp 1,2 Triliun di Semester I-2023
Citibank NA Indonesia atau Citi Indonesia membukukan laba bersih Rp 1,2 triliun pada semester I-2023. Perolehan itu naik 54 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Menurut CEO Citi Indonesia Batara Sianturi, Kamis (10/8/2023), di Jakarta, pertumbuhan laba bersih tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5,17 persen pada triwulan II-2023. Hal ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah masih lemahnya kondisi ekonomi global. Pada semester I-2023, Citi Indonesia menerbitkan obligasi hijau (green bond) perdana. (Yoga)
STRATEGI PETANI TAMBAK PANTURA SIDOARJO MENGATASI KEMEROSOTAN EKONOMI
Petani tambak di Sidoarjo terus memperluas pengembangan pola budidaya tumpang sari dengan komoditas unggulan rumput laut yang berorientasi pada pasar ekspor demi mengatasi kemerosotan ekonomi sekaligus mengembalikan produktivitas lahan di tengah sulitnya pupuk. Berdasarkan data KKP, total tambak tradisional di Indonesia 247.803 hektar, 70 diantaranya berada di pantai utara Jawa, termasuk di Kabupaten Sidoarjo, Jatim. Ironisnya, 99 % sudah tidak produktif untuk budidaya komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti udang vaname dan windu yang berorientasi pasar ekspor.
Supari (50), petambak di Jabon, mengatakan, tumpang sari atau polikultur diterapkan pada komoditas bandeng, udang vaname dan mujaer/nila. Pola budidaya tersebut menuai hasil menggembirakan dan memicu semangat petambak menggarap kembali lahannya. Namun, petambak di Sidoarjo tak pernah berhenti berinovasi demi mendapatkan nilai ekonomi tinggi. Salah satunya, memperluas pengembangan budidaya rumput laut yang sedang naik daun karena banyak diminati di pasar domestik dan pasar luar negeri. Di tingkat petani, harganya Rp 6.000 hingga Rp 8.000 per kg, yang dipanen setiap 45 hari dan baru menebar benih lagi setelah tiga kali masa panen sehingga biaya produksinya tergolong rendah. Perawatannya juga mudah serta tidak memerlukan banyak pupuk maupun obat-obatan pembasmi hama dan penyakit.
Menurut Supari, setelah menerapkan pola budidaya tumpangsari dengan komoditas utama bandeng, udang, dan rumputlaut, pendapatan petani mencapai Rp 110 juta setahun untuk setiap hektar tambak yang dikelola. Artinya, petani bisa menghasilkan Rp 9 juta-Rp 10 juta setiap bulan setiap hektar. Adapun rata-rata kepemilikan lahan petambak di Jabon mencapai 4-5 ha per petani. Pendapatan Rp 110 juta itu diperoleh dari hasil panen rumput laut Rp 45 juta. Selain itu, Rp 50 juta dari hasil panen bandeng dengan asumsi setahun panen dua kali, masing-masing Rp 25 juta. Untuk budidaya udang vaname, petambak bisa mendapat Rp 15 juta setahun dengan asumsi tiga kali dalam setahun, setiap kali panen dapat Rp 5 juta. (Yoga)
Awas, Lesu Ekonomi China Bisa Menekan Indonesia
Laju ekonomi Indonesia bakal tersendat pada tahun ini. Ini lantaran kondisi ekonomi China masih lesu. Alih-alih Tiongkok berlari kencang saat kebijakan pembukaan kembali pasca Covid-19, ekonomi negeri itu malah terus merosot.
Data terbaru, aktivitas perdagangan internasional China tampak menurun pada bulan Juli 2023. Bea Cukai China mengungkapkan, impor mereka turun sebesar 12,4% dan ekspornya pun menyusut 14,5% pada Juli 2023.
Kondisi ini sangat berpengaruh ke banyak negara, termasuk Indonesia. Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati juga mewanti-wanti atas kelesuan ekonomi China yang menjadi pemberat pemulihan ekonomi Indonesia hingga tahun depan.
Sejatinya kelesuan ekonomi China sudah terlihat di kuartal kedua tahun ini. "Dampaknya sudah dirasakan oleh Indonesia. Makanya kinerja ekspor menurun pada kuartal II-2023," ungkap Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual kepada KONTAN, kemarin.
Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatat, ekspor Indonesia periode April 2023 hingga Juni 2023 memang turun 2,75% secara tahunan.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyebutkan saat ini dampak kelesuan ekonomi China ke Indonesa belum seberapa. Hanya saja, masih ada kemungkinan perlambatan permintaan dari China akan lebih besar lagi, sehingga lampu merah bagi kinerja ekspor Indonesia.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









