Ekonomi
( 40789 )INDUSTRI PARIWISATA : Arus Wisman Belum Samai 2019
SUARA PENGUSAHA, Berharap Pemilu Tanpa Gejolak
Di tengah persaingan antarcalon peserta Pemilu 2024 yang
sangat kompetitif, para pengusaha berharap penyelenggaraan pemilu berjalan aman
dan damai. Siapa pun yang terpilih nanti diharapkan bisa membawa perbaikan bagi
Indonesia. Para penyelenggara pemilu juga harus memastikan persiapan hingga
penyelenggaraan pemilu berjalan sesuai dengan rencana. Di sisi lain, pemilih
juga harus diedukasi agar memilih pemimpin yang kuat gagasan sekaligus mampu
memunculkan langkah-langkah konkret, serta memiliki rekam jejak yang baik. Harapan
itu, antara lain, mengemuka dari sejumlah peserta diskusi Kompas Collaboration
Forum-Afternoon Tea#15 bertajuk ”Peta Politik 2024” yang digelar harian Kompas
di Jakarta, Jumat (29/9). Diskusi dipandu Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta
Dharmasaputra.
Sekitar 20 pengusaha menghadiri acara ini, di antaranya CEO
Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani, CEO Citibank Indonesia Batara Sianturi,
Komisaris Utama PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk Antonius J Supit, Presdir PT AKR
Corporindo Tbk Haryanto Adikoesoemo, Komisaris Independen Bank OCBC NISP Betti
S Alisjahbana, dan Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang. Dalam
diskusi tersebut Shinta Widjaja Kamdani menyampaikan sejumlah harapan pengusaha
terkait Pemilu 2024. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia itu mengungkapkan,
salah satunya pemilu bisa berlangsung tenang dan tak ada gejolak dari sisi
keamanan. Para peserta pemilu juga diharapkan bisa berkompetisi secara jujur,
adil, serta saling menghargai hasil pemilu. Artinya, yang kalah harus menghargai
siapa pun yang keluar menjadi pemenang. ”Yang penting, dari hasilnya, jangan
ribut-ributlah. Silakan bertanding kalian, tetapi don’t make the winner takes
it all, silakan berbagi sehingga ini jadi pemilu yang siapa pun pemenangnya,
yang penting semua bisa baik untuk negeri,” ujar Shinta. (Yoga)
BEI Bersiap Catatkan Rekor Baru
Beban Ganda Perdagangan Maritim Dunia
Industri perdagangan maritim global tengah menghadapi dua tantangan
besar. Di satu sisi, pertumbuhannya masih lambat kendati berangsur pulih. Di sisi
lain, sektor tersebut perlu mewujudkan pelayaran hijau bebas karbon. Kedua poin
itu menjadi bahasan pokok Ulasan Perdagangan Maritim 2023 Konferensi
Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD). Laporan
bertajuk ”Menuju Transisi Hijau dan Adil” tersebut dirilis UNCTAD pada 27 September
2023, di Geneva, Swiss, waktu setempat. Pada 2022, volume perdagangan maritim
terkontraksi atau tumbuh minus 0,4 %. Namun, tahun ini, perdagangan tersebut
dapat tumbuh lebih baik meski masih lambat. UNCTAD memperkirakan pertumbuhan volume
perdagangan maritim global pada 2023 sebesar 2,4 %. Untuk jangka menengah,
2024-2028, perdagangan maritim diperkirakan tumbuh lebih dari 3 %. Angka itu
masih di bawah rata-rata pertumbuhan perdagangan maritim tiga dekade sebelumnya,
di 7 %. Hal itu terjadi lantaran pasokan dan permintaan global belum seimbang.
Perang Rusia dan Ukraina menjadi hambatan pelayaran barang. Sebagian alur
perdagangan maritim berubah dan bertambah panjang.
Industri pelayaran global dituntut pula berkontribusi mengatasi
perubahan iklim dengan mempercepat dekarbonisasi. Industri tersebut menyumbang
3 % dari total emisi global. UNCTAD mencatat, pada periode 2012-2022, kontribusi
kapal-kapal angkutan barang milik 29 negara terhadap emisi karbon meningkat. ”Transportasi
laut perlu mempercepat dekarbonisasi sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi.
Langkah itu penting guna menyeimbangkan kelestarian lingkungan, kepatuhan
terhadap peraturan, dan tuntutan ekonomi untuk masa depan transportasi laut
yang adil dan berkelanjutan,” kata Sekjen UNCTAD Rebeca Grynspan. UNCTAD
menyebutkan, dekarbonisasi sektor itu membutuhkan biaya besar karena banyak
kapal yang terlalu tua untuk diperbaiki atau terlalu muda untuk dibongkar. Pada
awal Januari 2023, rata-rata usia kapal-kapal tersebut 22,2 tahun dengan
separuhnya berusia lebih dari 15 tahun. Sebanyak 98,8 % armada itu masih menggunakan
bahan bakar fosil kendati bahan bakar alternatif sangat menjanjikan. UNCTAD
mencatat, diperlukan tambahan 8-28 miliar USD per tahun untuk mendekarbonisasi
kapal-kapal di dunia hingga 2050. (Yoga)
Pukulan Bertubi-Tubi Harga Beras Hingga BBM
Gejolak Harga Pangan & Komoditas Kerek Inflasi
Saham Penggerak Berpotensi Mendaki
AGROFORESTRI DAN HARAPAN SEJAHTERA DI BATUTEG
Dari jalan setapak, isi Hutan Lindung Batutegi, Lampung,
mulai tersingkap. Tanaman kopi robusta berjajar di sela-sela pepohonan.
Bunganya bermekaran dan wangi semerbak, pertanda kopi siap berbuah. Di gubuk
perkumpulan berdinding kayu, sejumlah petani anggota Gabungan Kelompok Tani
(Gapoktan) Sumber Makmur berkumpul, Jumat (15/9). Mereka bersiap mengikuti
sekolah lapangan yang difasilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia
(YIARI). Beberapa petani menunjukkan hasil pupuk organik yang telah dibuat. Pupuk
siap digunakan, tetapi mereka harus menunggu hujan untuk memupuk tanaman. Bahan
untuk membuat pupuk organik salah satunya adalah kotoran dan air seni kambing. Petani
juga menyiapkan lahan persemaian secara mandiri. Salah satu bibit yang
disiapkan adalah pinang dan pala.
Uniknya, mereka tidak menggunakan plastik polybag untuk
menaruh bibit semai, melainkan bambu yang banyak tumbuh di sekitar hutan untuk
membuat wadah. Kantong bibit dari bahan bambu itu bisa ikut ditanam karena ramah
lingkungan. Sri Atmiatun (43) bahkan menyiapkan buku khusus untuk mencatat
materi pelajaran, terutama bahan-bahan untuk membuat formula pupuk organik dan
pestisida nabati. Sri membawa beberapa contoh pupuk cair dan pestisida nabati
buatannya. ”Saya sudah pernah menggunakan pupuk organik dan sudah mulai kelihatan
bedanya. Daun tanaman jadi lebih mengilap. Pohon kopi yang terserang hama
penyakit juga sembuh setelah diberi pestisida nabati dan pupuk organik,” kata
Sri. Menurut Sri, hasil panen kopi robusta di lahan yang ia garap merosot tajam
dalam dua tahun terakhir karena cuaca ekstrem. Banyak tanaman yang mati akibat terserang
hama. Hasil panen kopi yang biasanya bisa mencapai 1 ton per hektar anjlok menjadi
hanya 2-3 kuintal.
YIARI mengadakan kegiatan sekolah lapang sejak September 2022.
Petani diajarkan membuat pupuk organik dan pestisida nabati dengan memanfaatkan
bahan-bahan yang ada di sekitar hutan. Selain murah dan mudah, petani juga
menjadi lebih mandiri. Penerapan pola tanam agroforestri juga membuat petani tak
lagi bergantung pada tanaman kopi. Saat panen kopi terpuruk seperti tahun lalu,
petani tetap mendapat penghasilan dari menjual pisang, pala, jengkol, durian,
atau kemiri. Salah satu petani yang telah menikmati hasil agroforestri di
kawasan hutan lindung Batutegi adalah Purwanto (43). Di lahan yang ia garap,
ada 500 batang pohon kemiri. Setiap bulan, ia bisa menjual 3-4 kuintal kemiri.
Hasilnya paling sedikit Rp 3 juta dari satu jenis tanaman. Selain kemiri,
Purwanto juga mengandalkan pohon jengkol, durian, pisang, dan kopi. Ia juga
memelihara kambing dan tertarik memanfaatkan kotorannya untuk pupuk seperti
petani lain di hutan itu. (Yoga)
OJK Wajibkan Bank Blokir Rekening Mencurigakan
TERJERAT PINJAMAN CEPAT
Lagi-lagi urusan pinjaman cepat berbasis digital atau pinjaman online, memantik polemik. Kemudahan yang ditawarkan oleh platform pinjaman digital, membuat banyak kelompok masyarakat, terutama kalangan muda terjerembab dalam utang dan repotnya ngemplang alias tidak bayar cicilan. Tanpa disadari, perkembangan industri digital keuangan menjadikan semua data dan informasi peminjam mudah terekam. Hal yang dikhawatirkan terkait dengan tunggakan utang di kelompok muda yakni pengaruhnya terhadap masa depan perekonomian Indonesia.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









