Ekonomi
( 40512 )Pemerintah Janji Percepat Bangun Tanjung Banun
Pemerintah melalui Badan Pengusahaan Batam menyatakan bakal mempercepat pembangunan kawasan di Tanjung Banun, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepri, yang dijadikan lokasi pemindahan warga. Pemerintah tetap akan memindahkan warga beberapa kampung di Pulau Rempang karena tempat tinggalnya bakal dijadikan kawasan Rempang Eco City. Kepala Badan Pengusahaan Batam sekaligus Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan, Tanjung Banun cocok menjadi perkampungan baru. Letaknya di tepi pantai sehingga warga nelayan masih bisa melaut seperti biasa. ”Kami mengikuti keinginan masyarakat,” kata Rudi dalam konferensi pers di Batam, Selasa (26/9). Penetapan Tanjung Banun sebagai lokasi pemindahan, lanjut dia, sesuai permintaan warga.
Lima kampung menjadi prioritas pemindahan tahap awal, yakni Belongkeng, Pasir Panjang, Pasir Merah, Sembulang Tanjung, dan Sembulang Hulu. Pada lima kampung itu terdapat 950 keluarga. Hingga Selasa (26/9), Rudi menyebutkan, 291 keluarga telah bersedia pindah ke Tanjung Banun. Sementara 437 keluarga telah berkonsultasi dengan tim BP Batam. Rudi meyakini keluarga yang telah berkonsultasi suatu waktu akan setuju pindah. Pemindahan penduduk dari kampung itu, lanjutnya, harus dilakukan. Sebab, BP Batam akan menyerahkan lahan kepada investor. Kebutuhan lahan untuk tahap awal seluas 2.350 hektar, yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik dan tower. Rudi melanjutkan, akan dibangun sekitar 900 hingga 1.000 unit rumah permanen di Tanjung Banun. Lahan yang dipersiapkan seluas 300 hektar untuk menyiapkan perkampungan baru nanti. Selain rumah, akan dibangun juga fasilitas umum, seperti sekolah, puskesmas, kantor kelurahan dan kantor polisi. (Yoga)
Mewujudkan Poros Karbon Dunia
Mengakselerasi UMKM Go Digital
Menanti Sepak Terjang Satgas Peningkatan Eskpor
Profil Inka, BUMN yang Bergerak di Bidang Perkeretaapian
Otoritas Harus Tegas Agar Nasabah Tak Terkuras
Sinyal Window Dressing di Ujung Tahun
Pembiayaan Otomotif Naik
MENANGKAP PELUANG BURSA KARBON
Kehadiran Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon menjadi batu loncatan penting dalam strategi penanganan perubahan iklim di Tanah Air. Besarnya potensi perdagangan karbon bisa menjadi insentif bagi dunia usaha untuk lebih ‘hijau’. Bursa karbon utamanya bermanfaat bagi perusahaan yang memiliki inisiatif pengurangan karbon serta keberlanjutan. Dengan bursa karbon, korporasi dapat membuat komitmen pengurangan karbonnya menjadi lebih bernilai. Terlebih, Presiden Joko Widodo mengatakan potensi bursa karbon mencapai Rp3.000 triliun. Peluang tersebut kian mendorong perusahaan untuk lebih menyadari inisiatif hijau dan berkelanjutan. Keberadaan bursa karbon dapat menjadi langkah konkret Indonesia untuk mengejar target net zero emission pada 2060, berkesinambungan dengan upaya lainnya mulai dari komitmen transisi energi hingga masalah fiskal. Meski begitu, sejumlah pekerjaan rumah lanjutan siap menanti jika Indonesia bermimpi menjadi poros perdagangan karbon dunia, antara lain penyelesaian peta jalan perdagangan karbon sektor dan pajak karbon. Pemerintah pun masih harus merampungkan sejumlah peraturan pendukung, seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) terkait Nationally Determined Contribution (NDC) dan perdagangan karbon luar negeri. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang juga Ketua Komite Pengarah Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon bakal mengawal PMK Pajak Karbon. “Supaya ini tidak lari dari hasil keputusan ratas lalu,” katanya. Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan, selain memberikan transparansi pada harga, perdagangan IDXCarbon juga memberikan mekanisme transaksi yang mudah dan sederhana.
IDXCarbon terhubung dengan Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI) milik KLHK sehingga mempermudah administrasi perpindahan unit karbon dan menghindari double counting. Adapun pembeli unit karbon a.l. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT CarbonX Bumi Harmoni, PT MMS Group Indonesia, juga beberapa anak usaha PT Pertamina (Persero). Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar terdapat 99 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang berpotensi untuk ikut perdagangan karbon. Kepala Peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov menyebut bursa karbon akan memberikan tekanan agar pelaku usaha memacu berbagai inisiatif pengurangan emisi karbon. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai bahwa kinerja keberhasilan perdagangan karbon tahap awal akan terlihat pada Februari 2024.
Peluang & Tantangan Bursa Karbon
Kehadiran Bursa Karbon di Indonesia (IDXCarbon) diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar, selain bertujuan ikut berkontribusi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo yang membuka perdagangan perdana IDXCarbon pada Senin (26/9), menyampaikan bahwa kehadiran bursa karbon sebagai bentuk kontribusi nyata Indonesia dalam menangani dampak dari perubahan iklim. Dengan potensi karbon yang besar, Presiden optimistis Indonesia bisa menjadi poros karbon dunia dengan tetap konsisten membangun dan menjaga ekosistem karbon di dalam negeri. Menariknya, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang 60% pemenuhan pengurangan emisi karbonnya berasal dari sektor alam. Presiden juga menyebutkan, berdasarkan data yang dimiliki, Indonesia mempunyai potensi 1 gigaton karbon dioksida yang bisa ditangkap. Bila dikalkulasikan, potensi bursa yang bisa diraih mencapai Rp3.000 triliun. Angka yang tidak sedikit. Berdasarkan laporan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan karbon perdana kemarin sampai dengan pukul 11.30 WIB, IDXCarbon mencatatkan perdagangan karbon sebanyak 459.953 ton unit karbon, dan terdapat sebanyak 27 kali transaksi. Penyedia unit karbon pada perdagangan perdana, yaitu Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) yang menyediakan unit karbon dari Proyek Lahendong Unit 5 dan Unit 6 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. Sementara itu, perusahaan-perusahaan yang berperan sebagai pembeli unit karbon pada perdagangan perdana IDXCarbon, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas. Selain itu, untuk mendorong suksesnya penyelenggaraan perdagangan perdana unit karbon di Bursa Karbon, berdasarkan data dari Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero) terdapat 99 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara, yang berpotensi ikut perdagangan. Jumlah ini setara dengan 86% dari total PLTU Batu Bara yang beroperasi di Indonesia.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









