Ekonomi
( 40733 )Merdeka Cooper Gelontorkan Investasi Rp 4 Triliun
UE Meluncurkan Batas Tarif Karbon
Dukung Perekonomian, Fundamental Koperasi Perlu di Perkuat
Kereta Cepat diresmikan: Perlu Promosi Lebih demi Okupansi
Minat Investasi Retail Meningkat
Tantangan Optimalkan Kekayaan Laut Sumbar
Selain negeri agraris, Sumbar juga provinsi yang kaya
potensi laut dan perikanan. Memasuki usia ke-78 pada 1 Oktober 2023, provinsi
di pesisir barat Sumatera ini masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan
pemanfaatan kekayaan laut. Kekayaan laut Sumbar dalam beberapa dekade terakhir
belum tergarap secara baik, terlihat dari kontribusi sektor perikanan yang
masih kecil dibanding pertanian. BPS mencatat, produk domestik regional bruto
(PDRB) atas dasar harga berlaku di Sumbar tahun 2022 sebesar Rp 285,38 triliun.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 21,20 % atau Rp 60,50
triliun atas PDRB Sumbar. Akan tetapi, sumbangan sektor perikanan masih jauh
lebih kecil dibanding pertanian. Porsi sektor perikanan Rp 12,22 triliun,
sedangkan porsi sektor pertanian mencapai Rp 45 triliun. Adapun sektor
kehutanan menyumbang Rp 3,27 triliun.
Sumbar yang berhadapan dengan Samudra Hindia punya wilayah
laut yang luasnya mencapai 186.580 km persegi, terdiri dari 57.880 km persegi
zona teritorial dan 128.700 km persegi zona ekonomi eksklusif, empat kali lipat
luas daratan Sumbar. Provinsi ini juga memiliki total panjang garis pantai
2.285,96 km dan 219 pulau di tujuh kabupaten / kota. Data Dinas Kelautan dan Perikanan
Sumbar tahun 2023 menyebutkan, potensi perikan an tangkap mencapai 565.100 ton
per tahun, tapi produksi perikanan tangkap tahun lalu baru 207.976,05 ton dan
tahun ini 89.463,144 ton. ”Masih besar peluang kita untuk mengembangkan perikanan
tangkap, apalagi wilayah penangkapan perikanan Sumbar berada pada WPP (wilayah pengelolaan
perikanan) 572,” kata Gubernur Sumbar Mahyeldi dalam keterangannya, Jumat
(29/9/2023). Selain perikanan tangkap, Sumbar juga punya potensi lahan
perikanan budidaya seluas 425.047 hektar. Sebanyak 74 % di laut, 13 % daerah
payau/pesisir, dan 13 % budidaya air tawar. (Yoga)
Menggairahkan Bursa Karbon Kita
Dibukanya Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) oleh Presiden
Jokowi, 26 September lalu, menandai dimulainya aktivitas perdagangan karbon di
Indonesia. Presiden mengungkapkan, dari besaran target pengurangan emisi gas rumah kaca, potensi
perdagangan karbon ditaksir mencapai Rp 3.000 triliun. Dana ini selanjutnya
bisa diputar kembali untuk proyek-proyek pengurangan emisi karbon. Keberadaan
bursa itu wujud konkret komitmen dekarbonisasi Indonesia menuju nol emisi
karbon pada 2060. Berdasarkan dokumen kontribusi nasional (NDC) terbaru, kita
ditargetkan mengurangi lebih dari 3 gigaton CO2 hingga 2030.
Pada perdagangan perdana, Selasa (27/9) berhasil diperdagangkan
459.953 ton unit karbon senilai Rp 29,2 miliar dalam 27 transaksi. Penjualnya
Pertamina, pembelinya didominasi industri perbankan dan keuangan. Sayangnya,
hari berikutnya tak terjadi transaksi. Ibarat barang baru, mungkin kita semua
masih belajar. Bagaimana menggairahkan bursa karbon menjadi tantangan mendesak
kita selanjutnya. Perlu kerja keras, komitmen, konsistensi, dan transparansi.
Hal ini penting bukan hanya karena potensi dan komitmen di NDC, melainkan juga
karena kita menjadi salah satu pihak yang paling akan merasakan dampak
perubahan iklim ekstrem. (Yoga)
PERUMAHAN, Keberpihakan yang Meredup
Pemerintah memutuskan memangkas fasilitas likuiditas pembiayaan
perumahan atau FLPP tahun depan. Dukungan pembiayaan rumah bersubsidi untuk
masyarakat berpenghasilan rendah itu turun 25 %, dari 220.000 unit pada tahun
ini menjadi 166.000 unit pada tahun 2024. Keputusan itu cukup mengejutkan di
tengah tantangan kekurangan rumah yang masih besar. Tercatat masih ada 12,7
juta rumah tangga di Indonesia yang belum bisa memiliki rumah. Jumlah ini belum
termasuk laju kebutuhan rumah setiap tahun yang meningkat sekitar 800.000 unit,
seiring dengan bertambahnya keluarga-keluarga baru. FLPP digulirkan sejak tahun
2010 berupa kredit pemilikan rumah bersubsidi (KPR FLPP) untuk masyarakat
berpenghasilan rendah, baik lajang maupun berkeluarga. Batasan penghasilan
bulanan saat ini dipatok pada kisaran Rp 7 juta-Rp 10 juta menurut zonasi.
Sejak berlakunya FLPP pada tahun 2010 hingga 25 September
2023, sebanyak 1.330.163 masyarakat berpenghasilan rendah telah mengakses rumah
bersubsidi. Jika dirata-rata, alokasi FLPP selama hampir 3 tahun itu berkisar 102.000 unit per tahun.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2019-2024, pemerintah
menargetkan total penyaluran FLPP sejumlah 900.000 unit. Keterbatasan itu
menyebabkan angka kekurangan (backlog) rumah sulit teratasi. Besarnya kebutuhan
rumah sejatinya adalah peluang bagi pertumbuhan industri dan penyerapan
lapangan kerja. Industri properti yang memiliki keterkaitan dengan 185 industri
terkait memberikan efek berganda yang sangat masif untuk menggerakkan industri
lain, mulai dari material bangunan sampai peralatan rumah tangga. Keberpihakan
dan komitmen pemerintahan mendatang terhadap pemenuhan kebutuhan dasar papan
sepatutnya semakin ditingkatkan. (Yoga)
Digitalisasi Dorong Inklusi Keuangan Syariah
Pengembangan Transportasi Massal Didorong
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









