Ekonomi
( 40512 )Saatnya Industri Pelayaran Nasional Unjuk Gigi
Saatnya UMKM Mulai Tingkatkan Kualitas Produk
Meneropong Kesiapan LPS untuk Penjamin Polis
Ancaman di Destinasi Wisata Prioritas
Transaksi Dagang Terlarang
Konsekuensi Hilirisasi Tekan Bea Keluar
Penerapan kebijakan hilirisasi komoditas mineral dengan
sepenuhnya melarang ekspor produk mentah mulai menekan penerimaan negara dari
pos bea keluar. Untuk mengganti potensi hilangnya pendapatan dari larangan itu,
pemerintah mengkaji opsi penerapan pajak atas ekspor produk turunan setengah
jadi dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutan industri. Data Kemenkeu menunjukkan,
sepanjang tahun 2023, penerimaan bea keluar mengalami kontraksi. Pada
Januari-Agustus 2023, penerimaan bea keluar ”terjun bebas” atau terkontraksi
80,3 %. Jatuhnya penerimaan dari pos bea keluar itu merupakan imbas kebijakan
perpajakan untuk mendukung hilirisasi sumber daya alam (SDA) dan melandainya
harga sejumlah komoditas andalan. Sejauh ini sudah ada beberapa komoditas
mineral yang dikenakan larangan ekspor bentuk mentah, seperti nikel dan bauksit.
Ada lima komoditas yang masih diizinkan ekspor dalam bentuk mentah
sampai Mei 2024, yaitu tembaga, besi, timbal, seng, dan lumpur anoda hasil
pemurnian tembaga. Direktur Penerimaan dan Perencanaan Strategis Ditjen Bea
Cukai Kemenkeu Mohammad Alfah Farobi, Selasa (26/9) mengatakan, sampai Agustus 2023,
penerimaan bea cukai baru mencapai 56,59 % dari target APBN. Ia memperkirakan,
hingga akhir tahun, penerimaan kepabeanan dan cukai hanya akan sebesar Rp 300,1
triliun, lebih rendah daritarget awal Rp 317,8 triliun. ”Kondisi bea cukai
sedang menantang. Kemungkinan target tahun initidak bisa tercapai. Selain harga
komoditas menurun, tantangan lain yang perlu diantisipasi tahun depan adalah
dampak hilirisasi SDA mineral dan progres penyelesaian sejumlah smelter mineral
terhadap pemasukan bea keluar,” kata Alfah dalam diskusi APBN 2024 di Cipanas,
Jabar. (Yoga)
Proyek Patungan PT TCL Diluncurkan
PLN Teken Kerja Sama Pendanaan
Hilirisasi Rumput Laut Jadi Proyek Strategis Nasional
Pemerintah terus menggenjot industri hilir atau hilirisasi
rumput laut dengan tujuan meningkatkan nilai tambah. Hilirisasi rumput laut akan
dimasukkan dalam Proyek Strategis Nasional. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita
mengemukakan, program hilirisasi industri semakin digaungkan karena memberikan
peluang bagi komoditas yang awalnya diekspor dalam bentuk mentah atau bahan
baku untuk dikapalkan dalam bentuk barang setengah jadi atau produk jadi
sehingga mempunyai nilai jual lebih tinggi. ”Hilirisasi telah menciptakan sejumlah
dampak positif bagi perekonomian Indonesia, di antaranya membuka kesempatan
kerja secara signifikan,” kata Agus dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (26/9).
Salah satu sektor yang kini sedang dipacu hilirisasinya adalah rumput laut.
Industri rumput laut dinilai mampu menghasilkan banyak
produk turunan yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah. Saat ini,
Indonesia menjadi penghasil rumput laut terbesar nomor dua di dunia, negara
eksportir karagenan keenam di dunia, dan negara eksportir agar ketujuh di
kancah global. Negara tujuan ekspor produk olahan rumput dari Indonesia, antara
lain, China, AS, dan Korsel. Untuk mendukung kebijakan hilirisasi industri
rumput laut, Kemenperin berupaya meningkatkan diversifikasi produk yang
diminati pasar global, serta SDM. Data KKP menunjukkan, nilai pasar rumput laut
dunia pada tahun 2022 mencapai 3,7 miliar USD atau meningkat 32 %
dibandingkan tahun 2021. Sementara nilai ekspor rumput laut Indonesia sebesar 600
juta USD atau 16 % terhadap nilai pasar rumput laut dunia. Perdagangan rumput
laut ke luar negeri didominasi dalam bentuk bahan mentah. (Yoga)
Komoditas Ekspor Terdampak
Kekeringan panjang akibat dampak El Nino tidak hanya
memengaruhi produksi beras. Fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi
normal itu juga akan menyebabkan penurunan produksi dan harga komoditas ekspor
Indonesia, seperti CPO, karet, dan kopi. Berdasarkan kajian Tim Ekonom PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk, El Nino dapat memengaruhi sejumlah komoditas perkebunan
yang diekspor Indonesia dan Malaysia. Untuk CPO, misalnya, El Nino ekstrem
dapat menurunkan produksi komoditas itu pada 3-6 bulan ke depan. ”Dengan asumsi
dasar tidak ada faktor lain yang memengaruhi (cateris paribus), produksi CPO
diperkirakan dapat turun 3-7 % dan harganya dapat naik sekitar 4-10 %,” kata Vice
President for Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani, Selasa
(26/9) di Jakarta.
Selain CPO, El Nino juga akan memengaruhi 60 % tanaman kopi
Indonesia. BPS mencatat, pada 2022, perkebunan dan produksi kopi di Indonesia
masing-masing seluas 1,25 juta hektar dan sebanyak 794.800 ton. Begitu juga
karet. Merujuk data BPS dan Statista, luas perkebunan dan produksi karet Indonesia
pada 2022 masing-masing 3,83 juta hektar dan 3,14 juta ton. Menurut Dendi,
penurunan produksi kopi diperkirakan bisa mencapai 15-20 % karena lebih
sensitif terhadap cuaca. Adapun karet, penurunan produksinya relatif kecil,
diperkirakan sekitar 2 %. ”Harga karet alam pada 2023 dan 2024 akan relatif
stabil, masing-masing diperkirakan 1,5 USD per kg dan 1,6 USD per kg. Sementara
harga kopi bisa meningkat sekitar 15 %,” ujarnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









