;

KREDIT MACET : BANK PERLU SELEKTIF BIAYAI FINTECH

Ekonomi Hairul Rizal 30 Sep 2023 Bisnis Indonesia
KREDIT MACET : BANK PERLU SELEKTIF BIAYAI FINTECH

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia memprediksi, bank bakal lebih selektif memberikan pembiayaan kepada financial technology peer-to-peer lending menyusul peningkatan kredit macet di industri itu. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, masalah kredit macet dalam industri financial technology (fintech) peer-to-peer lending memang menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. “Ke depannya bank akan lebih selektif dan ketat dalam memberikan pembiayaan ke fintech,” ujarnya pada Bisnis, Jumat (29/9). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit macet di pinjaman online (pinjol) atau industri peer-to-peer (P2P) lending terpantau masih mengalami peningkatan. Data OJK per Juli 2023, tingkat kredit macet pinjol atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP 90) naik dari 3,29% pada Juni 2023 menjadi 3,47% pada Juli 2023. Per Juli 2023, jumlah outstanding pinjol dari fintech lending mencapai Rp55,98 triliun dengan sebanyak Rp1,94 triliun merupakan kredit macet yang melebihi 90 hari. Trisoka menjelaskan sejumlah pinjol merupakan saluran perbankan untuk menyalurkan pinjaman kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), misalnya, yang telah menyalurkan pembiayaan ke P2P lending senilai hingga akhir Juni 2023 sebesar Rp2,2 triliun atau tumbuh 77% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengatakan BRI berhasil menjaga kualitas kredit yang disalurkan kepada P2P lending. Hal tersebut tecermin dari rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) yang sebesar 1,5%. Adapun, strategi menjaga kualitas NPL untuk segmen ini, Hendy menyebut BRI selektif dalam pemilihan mitra dan borrower. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. membukukan total penyaluran kredit melalui kerja sama dengan perusahaan digital dan fintech P2P lending mencapai Rp3,09 triliun kepada lebih dari 227.000 debitur. Dalam kerja sama tersebut ditandatangani oleh SVP SME Banking Bank Mandiri Alexander Dippo, Bank Mandiri berharap kerja sama itu bisa memperluas akses pembiayaan sektor UMKM dan mengakselerasi inklusi keuangan dan ekosistem digital antarpelaku usaha. Berbeda dengan BRI dan Bank Mandiri, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) justru terus meninjau kembali kerja sama penyaluran kredit P2P lending. Hingga Juni 2023, belum ada data portofolio aktif P2P lending. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan, BCA senantiasa berkomitmen mengutamakan prinsip kehati-hatian dan selaras dengan risk appetite di setiap pengambilan keputusan dalam menyalurkan kredit. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman mengatakan regulator terus memantau 23 penyelenggara tersebut.

Download Aplikasi Labirin :