JALAN BENIH ”BONGO” DEMI MENJAGA ”DUTU
Tradisi dutu atau upacara antar harta dalam upacara peminangan
memuat sejumlah hasil bumi yang wajib dibawa oleh calon mempelai pria, salah
satunya kelapa yang ada tunasnya (tumula). Bagi masyarakat Gorontalo, tunas kelapa memiliki makna
filosofi kehidupan baru sekaligus menjadi teladan bagi kedua calon mempelai
agar dapat hidup di mana pun dan memberikan banyak manfaat kepada siapa pun.
Sebagai masyarakat asli Gorontalo, Mohamad S Hulopi atau akrab disapa Adi tak
mau tradisi yang telah diturunkan dari generasi pendahulunya pudar. Kelapa menjadi
salah satu hantaran yang amat penting dan bahkan dibicarakan secara serius
dalam adat tolobango atau upacara musyawarah saat hendak melangsungkan
pernikahan.
”Saya senang bisa menyediakan tunas kelapa untuk kebutuhan
adat. Tak jarang, mereka yang butuh tunas kelapa untuk lamaran, biasanya enam
butir, tidak saya patok harga. Berapa pun saya terima,” katanya, Sabtu (23/9). Pada 1999, Adi mendirikan CV Hati Mas sebagai
badan usaha pembibitan kelapa. Di lahan seluas 3 hektar, pria paruh baya itu
membudidayakan tiga varietas kelapa lokal, yakni molowahu, kramat, dan panua. Dalam
setahun, Adi mampu membibitkan 300.000 bibit kelapa. Rata-rata harga bibit
kelapa tersebut dijual Rp 18.000- Rp 32.500 per bibit, bergantung varietasnya.
CV Hati Mas merupakan satu-satunya produsen bibit kelapa lokal di Provinsi Gorontalo
yang tercantum dalam e-katalog. (Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023