Ekonomi
( 40733 )Indonesia-Jerman Kerja Sama di Sektor Energi
Kerja sama Pemerintah Indonesia-Pemerintah Jerman di sektor energi diperkuat dan ditingkatkan melalui fasilitas dialog, pendanaan, hingga penyediaan para ahli. Energy Hub Team Lead Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia Gitafajar Septyani, di Jakarta, Selasa (10/10/2023), mengatakan, kerja sama bertujuan mencapai target nasional penurunan emisi dan mendukung promosi penggunaan energi terbarukan bersama pemerintah daerah. (Yoga)
El Nino Berpotensi Pengaruhi MT I Padi
BMKG memprakirakan, El Nino akan memuncak pada Oktober 2023
dan berakhir pada Maret 2024. Namun, musim kemarau akibat dampak fenomena pemanasan
suhu muka laut di atas kondisi normal itu akan berakhir secara bertahap pada November
2023. Hal itu terjadi lantaran ada pergantian angina yang membawa uap air yang
bakal memicu hujan pada November 2023. Kementan memperkirakan awal musim tanam
(MT) I padi di sejumlah daerah lumbung beras akan dimulai pada November dan Desember
2023. Sementara itu, di daerah aliran irigasi Waduk Kedungombo, Jateng, yakni Demak,
Kudus, dan Grobogan, MT I berlangsung sejak awal Oktober 2023. El Nino masih berpotensi
memengaruhi MT I padi di sejumlah daerah.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten
Demak Hery Sugihartono, Selasa (10/10) mengatakan, petani di Kecamatan Gajah,
Dempet, dan Karanganyar, Kabupaten Demak, mulai menanam padi sejak awal Oktober
2023 sehingga panen diperkirakan terjadi pada Januari 2024. Kondisi serupa juga
terjadi di Kecamatan Undaan di Kabupaten Kudus, serta Kecamatan Purwodadi, Klambu,
dan Godong, Kabupaten Grobogan. ”Untuk menghemat dan meratakan pembagian air,
aliran air irigasi dari Bendung Klambu (salah satu infrastruktur jaringan
irigasi Waduk Kedongombo) digilir tiga kali sehari. Namun, kami tetap khawatir
sumber air irigasi bisa habis karena hujan masih belum terjadi hingga kini,”
ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta. Untuk mengoptimalkan MT I, Hery berharap
pemerintah perlu mengantisipasinya dengan hujan buatan. (Yoga)
Mutiara Indonesia Makin Tak Terjangkau
Indonesia tercatat sebagai penghasil terbesar komoditas
mutiara laut selatan (south sea pearl) di dunia. Mutiara asal Indonesia dikenal
dengan mutiara berwarna emas dan putih. Selama ini, mutiara laut itu diekspor
gelondongan dalam bentuk butiran. Selain Indonesia, mutiara laut selatan juga
dihasilkan oleh Australia, Filipina, dan Myanmar. Selama pandemi, ekspor
mutiara laut selatan asal Indonesia sempat merosot. Namun, sejak tahun 2022
ekspor mutiara laut terus melesat dengan nilai fantastis. Permintaan konsumen dunia
semakin besar, terutama dari China, Korea Selatan, dan India. Berdasarkan data
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), volume ekspor mutiara pada tahun 2022
sebesar 13.493 kg atau naik 300 % dibandingkan masa pandemi. Adapun nilai
ekspor mutiara tahun 2022 sebesar 54,65 juta USD, melampaui masa sebelum
pandemi. Sementara itu, selama Januari-Agustus 2023, ekspor komoditas mutiara
laut Indonesia mencapai 7.132 kg dengan nilai 74,47 juta USD.
”Harga jual mutiara saat ini merupakan tertinggi sepanjang
sejarah budidaya mutiara. Nilai jual diprediksi masih akan terus naik karena
permintaan dunia besar, sedangkan produksi (mutiara) masih terbatas” kata pemilik
CV Rosario Mutiara di Jakarta, Ambrosius Kengrry Retanubun, saat dihubungi,
Senin (9/10). Sebagai ilustrasi, harga gelondongan mutiara kualifikasi terbaik,
yakni kelas AAA berukuran 8-12 milimeter (mm), menembus 200-300 USD per gram.
Adapun mutiara kelas AAA berukuran 12-15 mm, laku dijual seharga 500 USD per
gram. Sementara itu, harga mutiara kualitas rendah berkisar 30 USD per gram.
Mutiara kelas rendah itu pun dinilai laku keras. Apabila dijadikan perhiasan,
harga sepasang anting mutiara laut selatan berukuran 8 mm mencapai Rp 10,5
juta. Harga itu jauh lebih mahal dibandingkan sepasang anting mutiara air tawar
asal China yang dibanderol di kisaran Rp 3 juta-Rp 4 juta. (Yoga)
Perbankan Berkomitmen Terlibat dalam Mitigasi Perubahan Iklim
Industri perbankan berkomitmen untuk terlibat dalam aksi
mitigasi perubahan iklim melalui program dan pembiayaan yang mendukung ekonomi
berkelanjutan. Di sisi lain, saat ini pemerintah tengah menyusun revisi taksonomi
hijau Indonesia di sector keuangan sebagai bentuk mitigasi perubahan iklim. Presdir
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, ekonomi
berkelanjutan dapat tercapai apabila para pemangku kepentingan memiliki
pemahaman yang sama tentang dampak perubahan iklim. Oleh sebab itu, pihaknya
kembali menyelenggarakan Indonesia Knowledge Forum (IKF) XII 2023 sebagai wadah
pertemuan antarpemangku kepentingan yang membahas aspek keberlanjutan dan upaya
menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.
”Melalui IKF XII 2023, kami bertekad menggali potensi
kolaborasi lintas sektor dan inovasi berbasis teknologi digital dalam
menghasilkan solusi ramah lingkungan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan,”
katanya saat membuka IKF XII 2023, di Jakarta, Selasa (10/10). Selain program
yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, BCA juga turut menyalurkan
pembiayaan hijau sebesar Rp 76 triliun pada triwulan I-2023 atau meningkat 4,9
% secara tahunan. Adapun penyaluran pinjaman paling besar pada sektor sumber daya
alam dan penggunaan lahan berkelanjutan sebesar Rp 60,4 triliun, sektor transportasi
berkelanjutan Rp 7 triliun, dan untuk pembiayaan energi terbarukan Rp 2,9
triliun. (Yoga)
Dilema Hilirisasi di Era Transisi Energi
Indonesia masih meniti langkah untuk mewujudkan hilirisasi
atau industrialisasi tambang yang lebih utuh dari hulu ke hilir. Konsekuensinya,
dibutuhkan jaminan pasokan energi terjangkau yang sejauh ini baru bisa didapat
dari tenaga batubara.Pengembangan energi terbarukan yang terjangkau dan ”menghijaukan”
batubara menjadi tantangan besar mewujudkan cita-cita tersebut. Sampai saat
ini, batubara masih menjadi sumber energi utama di sektor pembangkit listrik di
Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ESDM untuk tahun 2022, batubara berperan
67,21 % dalam bauran energi primer pembangkit listrik di Indonesia. Angka itu
naik dari 2021 di 66,01 %. Adapun porsi energi baru dan terbarukan di 2022
sebesar 14,11 % atau naik dari 2021 yang 13,65 %.
Menurut Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA)
Rachmat Makkasau, komitmen menekan emisi karbon lewat sektor pembangkit listrik
itu akan semakin menantang seiring dengan kebutuhan konsumsi yang tinggi di sektor
industri. Apalagi, Indonesia sedang menggenjot industrialisasi tambang yang
lebih utuh dari hulu ke hilir, yang otomatis akan ikut menyumbang kenaikan
emisi karbon. ”Dengan meningkatnya industrialisasi itu, konsekuensinya adalah
peningkatan power. Kita pasti akan membutuhkan banyak energi. Pemerintah dan
industri harus sama-sama memikirkan bagaimana batubara tetap bisa dipakai,
tetapi dengan emisi yang ditekan,” katanya dalam acara Indonesia Mining Summit
(IMS) yang digelar IMA bersama harian Kompas di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa
(10/10). (Yoga)
Bunga Acuan Perlu Dinaikkan
Tersangkut Masalah Iuran, 12 Dapen Dipelototi OJK
Pertamina Penuhi Kebutuhan Energi Jelang MotorGP Mandalika
2024, Jakarta Mendapat Tambahan Lima Hotel Baru
Emiten E-Commerce Berupaya Perbaiki Kinerja
Para emiten e-commerce tengah berlomba untuk bisa mencetak kinerja positif hingga tutup tahun. Paling minimal bisa mencatatkan adjusted earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) yang positif. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mengincar pendapatan tahun ini berkisar Rp 4,24 triliun–Rp 4,75 triliun. Hingga semester I-2023, Bukalapak telah mengantongi pendapatan Rp 2,18 triliun. Artinya Bukalapak sudah mengamankan 45,89% dari target pendapatan setahun. BUKA juga optimistis dapat mencapai keuntungan pada akhir 2022 dengan acuan adjusted EBITDA. Fairuza Ahmad Iqbal, AVP of Media and Communication Bukalapak menuturkan, pihaknya kini mendorong Mitra Bukalapak untuk memperluas variasi produk dan layanan. Jika mitra Bulakapak tumbuh, otomatis bisnis BUKA juga ikut naik. Kebanyakan perusahaan teknologi masih menggunakan adjusted EBITDA sebagai acuan. Seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengincar EBITDA yang disesuaikan positif pada kuartal IV-2023. Pada kuartal kedua 2023, GOTO mencatatkan perbaikan EBITDA yang disesuaikan sebesar 72% secara tahunan menjadi minus Rp 1,2 triliun. Patrick Walujo, Direktur Utama Grup GoTo mengatakan saat ini GOTO berada pada jalur yang tepat untuk mencapai EBITDA yang disesuaikan positif pada tahun ini. Ronald Winardi, Chief Financial Officer Blibli menjelaskan di sisa tahun ini, BELI akan terus mengoptimalkan bauran dari transaksi yang sudah terjadi atau total processing value (TPV) BELI hingga dapat menghasilkan laba kotor yang lebih tinggi. Dari ketiga emiten tersebut, Senior Research Analyst Reliance Sekuritas Lukman Hakim merekomendasikan speculative buy GOTO dengan target harga Rp 94. GOTO kemarin ditutup di Rp 84.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









