Ekonomi
( 40600 )Jangan Terlena ”Pay Later”
Layanan ”pay later” semakin diminati masyarakat. Konsep”buy
now pay later” (beli sekarang bayar nanti) memungkinkan konsumen membeli barang
walau ia belum bisa membayarnya secara penuh. Dengan syarat yang relative
mudah, pengajuan ”pay later” dapat dilakukan oleh siapa pun, termasuk pembeli
yang belum memiliki penghasilan, seperti mahasiswa. Karina (21), mahasiswi
perguruan tinggi swasta di Jakarta, mengaku mulai menggunakan pay later sejak
2018, saat masih duduk di bangku SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri.
Layanan pay later yang Karina pilih berasal dari aplikasi ojek daring sehingga
kegunaannya berkisar untuk transportasi dan pemesanan makanan daring. Sejak
menggunakan pay later, Karina jadi boros lantaran merasa tidak perlu membayar
langsung transaksi yang dilakukannya. ”Itu (pay later) beneran jadi addict
banget,” katanya pada Rabu (4/10) di Jakarta. Kecanduan itu berlangsung hingga
pertengahan 2023. Karina bahkan pernah dihubungi debt collector (penagih utang)
untuk mengingatkan tagihannya yang akan jatuh tempo. ”Aku pernah ditelepon sama
20 nomor seminggu sebelum jatuh tempo. Karina akhirnya sadar bahwa kebiasaan
buruknya itu tidak bisa terus berlanjut. Dia kemudian mengatur limit kredit di
aplikasi. Ia juga memutuskan untuk tidak mendaftarkan kembali akun pay
later-nya ketika ada kebijakan baru untuk verifikasi ulang.
Tak hanya digunakan untuk konsumsi pribadi, layanan pay
later juga dimanfaatkan sebagian orang untuk kepentingan lain. Rosa (21),
mahasiswi perguruan tinggi negeri di Depok, Jabar, menggunakan pay later untuk
membantu sang teman yang sedang butuh uang untuk membayar uang kuliah tunggal
(UKT). Pertama-tama, sang teman menjual barang fiktif menggunakan akun
lokapasar pribadinya, yang dibeli Rosa metode pembayaran pay later.”Waktu itu
(dia) jual photo card seharga Rp 3,7 juta. Karena dicicil 12 kali, jadi ada
bunga. Total tagihan pay later-nya lebih dari 5 juta,” kata Rosa. Meski tagihan
dibayar sang teman, Rosa harus terus mengingatkannya agar membayar tagihan tepat
waktu. Pernah temannya menghilang tanpa kabar, bahkan pernah meminta Rosa
menalangi utangnya saat jatuh tempo. Rosa menyesal lantaran terus merasa tertekan
setiap bulan akibat tagihan tersebut. Perencana keuangan dari OneShildt, Budi
Raharjo, mengatakan, layanan pay later bisa membantu mahasiswa yang memiliki
kebutuhan di luar dari dana yang mereka punya. Namun, mahasiswa harus bisa
mengatur keuangannya dengan baik. ”Mahasiswa harus memiliki kemampuan cara
mengatur keuangan mereka. Soal budgeting, itu paling basic. Mereka harus tahu
bagaimana cara mengatur prioritas,” tutur Budi. (Yoga)
Gen Z di Pasar Modal Indonesia
Dipicu masifnya edukasi dan transformasi digital, Gen Z jadi
kekuatan potensial dan mendominasi demografi investor individu di bursa saham
kita, beberapa tahun terakhir. Sebanyak 57,04 % dari total 11,54 juta investor
di pasar modal adalah Generasi (Gen) Z, dengan aset Rp 50,51 triliun per
Agustus 2023 (Kompas, 6/10). Porsi penguasaan aset Gen Z masih sangat kecil
dibandingkan investor berusia 60 tahun ke atas yang, meskipun jumlahnya hanya
2,88 %, menguasai Rp 896,44 triliun aset di pasar modal. Namun, tren dominasi
Gen Z ini menggembirakan karena kehadiran mereka menunjukkan ada kesadaran
tentang pentingnya berinvestasi sejak dini. Jika terus berlanjut, ini juga akan
menjadi penopang penting pertumbuhan dan stabilitas pasar modal dan
perekonomian nasional ke depan.
Gen Z adalah generasi terbesar di Indonesia, menurut Sensus
Penduduk 2020, yakni 74,93 juta atau 27,94 % dari total penduduk. Generasi
kelahiran 1996-2012 ini telah atau segera memasuki usia produktif, dengan
potensi pendapatan yang juga terus meningkat beberapa tahun ke depan. Jumlah
dan potensi mereka yang besar membuat Gen Z jadi salah satu sasaran utama
program perluasan basis investor domestik dan pendalaman pasar finansial di dalam
negeri. Karakteristik Gen Z yang sangat digitally savvy dan unik juga membuat
kebutuhan investasi mereka berbeda dari generasi sebelumnya dan ini yang harus
bisa dibaca pihak otoritas. Dari sisi demand, penguatan basis investor domestik
dan pendalaman pasar selama ini dilakukan dengan meningkatkan jumlah investor
baru, terutama investor ritel. Dari sisi supply, dengan menambah jumlah
perusahaan atau emiten yang melakukan penawaran saham perdana (IPO) di pasar
modal. (Yoga)
Pemerintah Perketat Impor, ”Jastip” Dibatasi Kurang dari 500 Dollar AS
Komoditas impor yang dibahas dalam rapat tersebut, antara lain, mainan anak-anak, elektronik, alas kaki, kosmetik, barang tekstil, obat-obatan tradisional dan suplemen kesehatan, pakaian jadi dan aksesorinya, serta tas. Begitu pula pakaian bekas yang diimpor secara ilegal. ”Juga pembatasan jasa titipan barang impor. Kemenkeu sudah membuat regulasi mengenai barang impor yang boleh dibawa masuk ke Indonesia senilai 500 USD ke bawah. Sisanya, barang tetap akan dikenai bea masuk,” ujar Airlangga. Untuk memastikan kebijakan ini berjalan, akan dibentuk satgas yang terdiri dari Kepolisian Negara RI, Bea dan Cukai, Kemendag, Kemenperin, Kementerian Koperasi dan UKM, Kemenkominfo, serta Badan Karantina. Selain itu, secara digital, satgas ini juga akan diperkuat Badan Perlindungan Konsumen dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Dengan demikian, semua barang impor tetap harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), izin edar BPOM, serta sertifikasi halal. (Yoga)
Dua Perusahaan Teknologi dan Konstruksi Masuk Bursa
Brick Mengakuisisi Saham Perusahaan Remitansi
Perdagangan Dunia Tumbuh 0,8 Persen
Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO memperkirakan volume
perdagangan barang dunia pada 2023 hanya tumbuh 0,8 %. Untuk meredam dampak rembetan
perlambatan perdagangan dunia itu, Kemendag menggulirkan sejumlah strategi. Pada
5 Oktober 2023, WTO merevisi turun pertumbuhan volume perdagangan barang dunia
menjadi 0,8 % dari proyeksi April 2023 yang sebesar 1,7 %. Perlambatan perdagangan dunia itu merupakan
imbas dari rentetan berbagai persoalan.
Persoalan itu mulai dari inflasi tinggi dan kebijakan
moneter yang ketat di AS dan Uni Eropa serta sejumlah negara lain, hingga masih
berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina. Faktor lainnya adalah terhambatnya
pemulihan ekonomi China pascapandemi Covid-19 akibat tekanan pada pasar
properti di negara tersebut. Kendati begitu, WTO melihat prospek perdagangan dunia
pada 2024 relatif lebih positif. Volume perdagangan dunia tahun depan diperkirakan
tumbuh 3,3 persen. Namun, prospek positif itu dapat terancam rantai pasok dunia
yang mulai terfragmentasi akibat ketegangan geopolitik, termasuk konflik
Rusia-Ukraina. (Yoga)
Dana Pensiun Wajib Disosialisasikan
Sosialisasi dana pensiun menjadi kewajiban perusahaan dan
pengelola dana pensiun agar karyawan sebagai penerima manfaat dapat mengetahui
besaran manfaat yang akan diterima, portofolio investasi, serta tingkat risiko.
Saat ini, 12 dana pensiun berada dalam status pengawasan khusus OJK. Pengamat
industri keuangan nonbank, Suheri, Jumat (6/10) mengatakan, transparansi
pengelolaan dana pensiun merupakan hak bagi penerima manfaat atau karyawan. Hal
ini dilakukan untuk meningkatkan edukasi dan pemahaman bagi penerima manfaat
mengenai pengelolaan dana pensiun.
”Setiap orang berhak tahu (pengelolaan oleh dana pensiun)
melalui sosialisasi, baik dari pengelola dana pensiun maupun perusahaan
mengenai apa yang menjadi hak karyawan pada saat bekerja dan pensiun. Sosialisasi
dana pensiun ini seharusnya juga dilakukan saat karyawan menjadi penerima manfaat
sehingga mereka tahu rumus perhitungannya, pengelolaannya, dan portofolio
investasinya sehingga nanti saat pensiun dapat diketahui besar manfaatnya,”
ujar Suheri saat dihubungi dari Jakarta. Berdasarkan data OJK per 31 Agustus
2023, terdapat 198 dana pensiun yang terdiri dari 138 Dana Pensiun Pemberi
Kerja (DPPK) Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP), 36 DPPK Program Pensiun
Iuran Pasti (PPIP), dan 24 Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Secara
keseluruhan, total aset neto dana pensiun tersebut sebesar Rp 358,7 triliun. (Yoga)
Penurunan Cadangan Devisa Bisa Berlanjut
EXXON Akuisisi Pioneer Senilai US$ 60 Miliar
TANTANGAN BURSA USAI PECAH REKOR
Tercapainya rekor jumlah emiten baru sepanjang tahun ini sebanyak 68 perusahaan dengan masuknya PT Kokoh Exa Nusantara Tbk. (KOCI) dan PT Sumber Sinergi Makmur Tbk. (IOTF) menyisakan sejumlah tantangan yang harus dituntaskan oleh otoritas bursa dari kualitas emiten hingga perlindungan investor. Dari capaian di atas, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) boleh bangga atas upaya menggaet emiten baru yang melampaui rekor pada 1990 dengan 66 perusahaan, di tengah lesunya kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang belum mampu melampaui level 7.000. Sayangnya, nilai realisasi penggalangan dana melalui penawaran saham perdana kepada publik (initial public offering/IPO) ternyata masih lebih rendah, atau hanya Rp49,6 triliun dibandingkan dengan realisasi pada 2021 sebesar Rp62,61 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan meskipun total dana saat ini masih lebih rendah dari 2 tahun lalu, rata-rata penggalangan dana meraup modal lebih dari Rp500 miliar. “Sebetulnya apa yang kami peroleh pada saat ini sudah menunjukkan peningkatan proceed,” katanya, Jumat (6/10). Nyoman mengatakan capaian 2023 lebih rendah karena pada 2021, IPO PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) meraih dana Rp21,9 triliun dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) sebesar Rp18,8 triliun. Kedua emiten ini menyumbang hampir 50% terhadap total penggalangan dana. Pada tahun ini, penggalangan dana tebal berasal dari emiten seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) yang mengumpulkan dana Rp9,05 triliun, PT Merdeka Battery Material Tbk. (MBMA) dengan dana Rp9,2 triliun, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) dengan dana Rp9,9 triliun. Jumlah penggalangan dana tahun ini akan bertambah seiring dengan masuknya saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang resmi tercatat di BEI pada Senin (9/10) dengan target penggalangan dana Rp3,13 triliun. BREN merupakan satu dari antrean 26 emiten anyar yang akan masuk Bursa tahun ini.
Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan bursa perlu memperhatikan perlindungan investor ritel dibandingkan dengan kuantitas emiten IPO. Menurut data Bloomberg, dari 68 emiten baru yang masuk bursa pada 2023, sebanyak 28 emiten di antaranya mengalami koreksi harga saham pada rentang yang cukup dalam sejak IPO yaitu berkisar -6,82% hingga -79%. Adapun, harga terendah mencapai Rp21 per saham. Otoritas bursa juga menyediakan platform informasi tentang emiten baru bagi investor yakni IDX New Listing Information, sehingga keputusan investasi bisa dibuat berdasarkan data dan analisis. Sementara itu, semarak IPO tahun ini berimbas pada aktivitas bisnis sekuritas. Samuel Sekuritas misalnya mengalihkan perhatian sepanjang tahun ini. Perusahaan fokus membawa perusahaan melakukan IPO saham, dibandingkan dengan langkah untuk menerbitkan surat utang. Lionel Priyadi, Macro Strategist Samuel Sekuritas, menyampaikan bahwa sejalan dengan semaraknya IPO, pihaknya belum akan menjadi penjamin emisi obligasi korporasi hingga pengujung tahun ini. “Jadi project kami hampir semuanya terkait saham,” ujarnya. Dihubungi terpisah, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan mahalnya suku bunga menjadi pendorong bagi calon emiten mencapai Bursa.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









