Ekonomi
( 40512 )Kekurangan Sumber Air, Petani Gagal Panen
Kekeringan lahan pertanian akibat kemarau panjang di Sultra terus
meluas. Sebanyak 1.177 hektar lahan mengalami gagal panen, lalu bertambah
ratusan hektar dalam dua pekan. Ribuan hektar sawah lainnya masih terancam. Jumono
(46), Ketua Kelompok Tani Ujung Bulu, Bombana, Sultra, mengungkapkan, kekeringan
membuat belasan hektar sawah gagal panen. Hal itu menyebabkan petani kesulitan
memenuhi kebutuhan hidup keluarga. ”Dari 42 hektar lahan sawah di kelompok
kami, 10 hektar itu betul-betul gagal panen. Selebihnya, kami panen dengan
kondisi kurang air. Jadi, hasilnya jauh di bawah rata-rata,” kata Jumono, saat
dihubungi, Kamis (5/10).
Ia menceritakan, biasanya satu hektar lahan sawah menghasilkan
5-6 ton gabah, tahun ini, mereka hanya menghasilkan 2 ton gabah, yang dijual
setengahnya dan sebagian disimpan untuk keluarga. Padahal, modal menggarap satu
hektar lahan berkisar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta. Meski harga gabah basah naik
berkisar Rp 6.000 per kg, hasil panen masih jauh dari harapan. Gagal panen yang
terjadi, kata Jumono, karena sulitnya mendapatkan sumber air. Kondisi
persawahan yang mengandalkan curah hujan sangat terdampak dengan kekeringan panjang.
Bantuan pompa dari pemerintah tidak berfungsi karena tidak ada sumber air. (Yoga)
Dari ”Wild Card” Inflasi hingga Penyelewengan Beras Bulog
Lembaga Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) menyebutkan
El Nino menjadi wild card atau faktor penentu inflasi di kawasan ASEAN+3. Meski
di Indonesia kenaikan harga beras yang berandil paling besar terhadap inflasi
tidak hanya akibat dampak El Nino, tetapi juga didorong ulah oknum yang menyelewengkan
beras Perum Bulog. AMRO, Rabu (4/10) merevisi naik proyeksi inflasi di kawasan ASEAN+3
serta pada 2023 dan 2024. ASEAN+3 merupakan negara-negara anggota ASEAN, serta
Jepang, China, dan Korea Selatan. Tingkat inflasi kawasan itu diperkirakan 6,5
% pada 2023 dan 3,8 % pada 2024, dinaikkan dari proyeksi inflasi pada Juli
2023, yakni 6,3 % pada 2023 dan 3,4 % pada 2024. Khusus Indonesia, AMRO justru
menurunkan perkiraan inflasi pada 2023 menjadi 3,8 % dari proyeksi Juli 2023
yang 3,9 %.
Proyeksi inflasi Indonesia pada 2024 tetap sama
dengan proyeksi tiga bulan lalu, yakni 2,8 %. Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor
mengatakan, kenaikan harga pangan dan energi global dalam beberapa bulan terakhir
telah memicu kekhawatiran terjadinya lonjakan harga komoditas. Lonjakan harga
komoditas itu dapat berimbas pada kenaikan inflasi. September 2023 harga
rata-rata beras nasional di tingkat eceran Rp 13.799 per kg, naik 5,61 % secara
bulanan dan 18,44 secara tahunan. Hal itu menjadikan beras sebagai komoditas
penyumbang utama inflasi September 2023 yang sebesar 0,19 % secara bulanan dan
2,28 % secara tahunan. Andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan itu
masing-masing 0,18 % dan 0,55 %.
Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan harga beras di
pasar masih tinggi meskipun operasi pasar beras telah digulirkan. Faktor
tersebut adalah penyelewengan beras Perum Bulog, yakni mengemas ulang beras
Bulog kemudian dijual dengan harga lebih tinggi. Dirut Perum Bulog Budi Waseso menyatakan,
ada oknum-oknum yang mengganti kemasan beras Bulog dengan kemasan beras premium.
Setelah itu, beras yang seharusnya dijual dengan harga terjangkau itu dijual
kembali dengan harga lebih tinggi setara harga beras premium. (Yoga)
PENANGKAPAN IKAN TERUKUR, Implementasi Dilakukan Bertahap
Penangkapan ikan terukur berbasis kuota dilaksanakan bertahap
tahun ini, sebelum diterapkan sepenuhnya mulai tahun 2024. Beberapa tahapan dan
kriteria penetapan kuota dinilai masih menimbulkan kebingungan. Kebijakan
penangkapan ikan terukur berbasis kuota diatur dalam PP No 11 Tahun 2023 tentang
Penangkapan Ikan Terukur, serta Permen Kelautan dan Perikanan No 28 Tahun 2023 tentang
Peraturan Pelaksanaan PP No 11/2023. Kuota penangkapan ikan terbagi atas kuota
industri, kuota nelayan lokal, dan kuota kegiatan bukan untuk tujuan komersial.
Kuota industri di- berikan untuk perseorangan dan badan usaha yang berbadan
hukum. Kuota industri juga membuka peluang kuota penangkapan ikan bagi penanaman
modal asing. Penetapan kuota penangkapan ikan dihitung berdasarkan ketersediaan
sumber daya (stok) ikan dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB), serta
mempertimbangkan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan.
Selain itu, distribusi kuota industri dan kuota nelayan
lokal pada setiap pelabuhan pangkalan mempertimbangkan kapasitas pelabuhan
pangkalan dan rencana pengembangan pelabuhan pangkalan. Dalam Surat Edaran
Menteri Kelautan dan Perikanan No B.1569/MEN-KP/X/2023 tentang Tahapan
Pelaksanaan Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) pada Tahun 2023, yang
dirilis 2 Oktober 2023, terdapat tujuh tahapan persiapan menjelang penerapan
PIT secara penuh pada musim penangkapan ikan tahun 2024. Tahapan persiapan itu diantaranya permohonan
dan layanan sertifikat kuota penangkapan ikan, serta perizinan berusaha
subsektor penangkapan dan pengangkutan ikan untuk tahun 2024 dilaksanakan mulai
21 November sampai 29 Desember 2023. Seluruh kapal penangkapan dan pengangkutan
ikan berbobot di atas 5 gros ton (GT) diwajibkan menggunakan aplikasi e-PIT
paling lambat 1 Januari 2024. Hingga saat ini, terdata 177 pelabuhan pangkalan
perikanan yang memenuhi syarat penarikan PNBP pascaproduksi. (Yoga)
Perdagangan Via Online Diperketat
Bonus Akhir Tahun dari Dividen Interim
Saham Batubara Mulai Hangat Lagi
Terseret Turun Harga Logam Industri
Jurus Bank Jaga Likuiditas
PROBLEM PELIK PINJOL
LISTRIK BERSIH : TARIF HIBRIDA RAYU INVESTOR SWASTA
Aksi meningkatkan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional makin serius dilakukan untuk mendukung transisi energi. Perumusan tarif khusus untuk listrik dari konversi pembangkit listrik tenaga diesel menjadi berbasis energi bersih pun disiapkan untuk menarik minat investor. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku sedang mengkaji opsi tarif listrik gabungan atau hibrida untuk program konversi pembangkit listrik tenaga diesel atau PLTD menjadi berbasis energi baru terbarukan (EBT). Direktur Jenderal EBT dan Konversi Energi Kementerian ESDM Yudo Dwinanda Priaadi mengatakan, penggodokan opsi tersebut dilakukan untuk memastikan program konversi PLTD dapat dilakukan, sehingga bisa memastikan keberlanjutan pasokan listrik bersih. Tarif hibrida tersebut pun dinilai bisa menarik investor untuk ikut berperan dalam program konversi PLTD yang hingga kini banyak digunakan di wilayah terpencil. Menurutnya, Kementerian ESDM akan terus mendorong PT PLN (Persero) untuk segera menyelesaikan lelang konversi PLTD di tengah upaya pemerintah menekan emisi karbon. Terlebih, saat ini harga minyak mentah dunia masih berada di level yang relatif tinggi. Untuk diketahui, PLN memang sedang melakukan lelang proyek dedieselisasi PLTD. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan bahwa lelang program dedieselisasi tahap 1 itu bakal menyasar 94 lokasi yang terbagi ke dalam dua klaster, yakni wilayah barat dan timur Indonesia. Rencananya, PLTD yang masuk ke dalam program itu akan digantikan oleh panel surya dengan potensi 200 megawatt (MW).
Di sisi lain, terdapat potensi investasi tambahan pada battery energy storage systems (BESS) sebesar 350 MWh pada tahap awal tersebut. Selanjutnya, potensi pengembangan tambahan untuk tahap dua dan tiga mencapai 800 MWp panel surya. Adapun, hak pengelolaan diberikan selama 20 tahun sejak commercial operation date atau COD. Secara keseluruhan, setidaknya ada sekitar 5.200 unit PLTD berkapasitas 2,37 gigawatt (GW) di 2.130 lokasi yang akan dialihkan melalui program dedieselisasi tersebut dengan menggunakan tiga skema, yakni pertama, konversi PLTD menjadi pembangkit listrik tenaga EBT berkapasitas 500 MW. Kedua, konversi PLTD ke gas (gasifikasi) dengan kapasitas 598 MW. Ketiga, perluasan jaringan ke sistem terisolasi untuk meniadakan pembangkit listrik tenaga diesel dengan kapasitas 1.070 MW. Iwa Garniwa, Pakar Energi Universitas Indonesia, meminta pemerintah untuk memberikan insentif maupun subsidi terhadap tarif listrik dari pembangkit listrik EBT untuk memastikan konversi PLTD yang dilakukan saat ini bisa berjalan dengan baik. Sementara itu, Fabby Tumiwa, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), mengatakan bahwa pengelompokan wilayah dalam proses lelang konversi PLTD menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pengembang pembangkit listrik swasta. Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta (APLSI) Arthur Simatupang sempat mengatakan bahwa independent power producer (IPP) terus mengkaji peluang untuk ikut berpartisipasi dalam program konversi PLTD. “Para pengembang swasta tentunya akan melakukan kajian terlebih dahulu, feasibility study, analisa dampak lingkungan, ekspektasi return dari proyek konversi dan lainnya,” katanya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









