Lingkungan Hidup
( 5781 )Kurangi Resiko Banjir. PURP Normalisasi Sungai di Jateng
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai Pamali Juana tengah membangun prasarana pengendali banjir di sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) di Provinsi Jawa Tengah (Jatenga), diantaranya, dia are Sungai Tuntang di Kabupaten Demak dan Sungai Serang Wulain Drainase (SWD 1 dan 2) di Kabupaten Kudus. Program penataan dan dan normalisasi sungai tersebut akan memberi manfaat untuk mengurai resiko bencana banjir disebagian wilayah kota/kabupaten yang menjadi salah satu pusat kegiatan perekonomian Provinsi Jateng bagian Utara.
Dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Jateng, Sabtu (16/10), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meninjau progres pekerjaan pengendali banjir di sungai Tuntang di Kabupaten Demak dan sungai SWD 1dan2 Kabupaten Kudus guna memastikan infrastruktur yang dibangun sesuai rencana tepat mutu dan tepat waktu. "Tapi itu saja belum cukup, karena harus diimbangi dengan pendekatan non-teknikal atau non-struktural, seperti penataan ruang, pengelolaan lingkungan, dan perilaku masyarakat." kata Menteri Basuki dalam keterangan resminya, Minggu (17/10).
Pekerjaan infrastruktur pengendali banjir diantaranya meliputi galian alur, pengerukan penampang sungai,pelebaran alur sungai, pekerja parapet (dinding sungai), pembangunan site pile serta pembangunan pos hidrologi. Kegiatan konstruksi dilaksanakan selama 375 hari kalender sejak mulai kontrak pekerja 17 November 2020 oleh kontraktor PT Marinda-PT Visitama (KSO). Tercatat hingga 15 Oktober 2021, progres fisiknya sudah mencapai 97,26%. Normalisasi sungai dilakukan untuk peningkatan kondisi sungai dan pengendalian daya rusaknya antara lain melalui perkuatan tebing sungai, galian, dan penggantian pintu air. (yetede)
Mendulang Untung Dari Geliat Batu Bara
Momentum menggeliatnya harga batu bara di pasar internasional mengembuskan angin segar di ranah energi dan sumber daya mineral, khususnya pertambangan batu bara. Pada Oktober ini, harga si Emas Hitam menguat setelah sebelumnya sempat lunglai akibat pandemi. Bursa ICE Neswcastel mencatat harga batu bara di pasar global mencapai mencapai US$247,50 per metrik ton untuk kontrak Desember 2021. Pada saat yang sama, harga batu bara acuan di pasar domestik, menyentuh US$161,63 per metrik ton atau yang tertinggi sejak ditetapkan pada 2009.
Selama ini kegiatan ekplorasi batu bara di Indonesia begitu rendah. Perusahaan batu bara cenderung lebih fokus pada kegiatan produksi dibandingkan dengan kegiatan eksplorasi. Berdasarakan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESD), investasi eksplorasi tambang sejak 2016 cenderung stagnan. Tercatat pada 2016 investasi eksplorasi baru mencapai sebesar UUS$65 juta, pada 2017 sebesar sebesar US$115 juta, dan pada 2018 sebesar US$145 juta. Sementara itu, pada 2019 sebesar US$274 juta, dan pada tahun lalu kurang lebih tercapai US$300 juta.
Pemerintah telah memberikan banyak intensif untuk menarik minat pemilik tambang untuk berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi. Termasuk membuat peta jalan yang berisikan kebijakan untuk mendukung sektor tambang sebagai salah satu pilar perekonomian nasional. Upaya tersebut ternyata belum cukup kuat untuk mengungkit minat investor. Di sisi lain, melalui kegiatan eksplorasi maka potensi hasil tambang disetiap wilayah penghasil akan lebih maksimal diperoleh dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar tambang dan rakyat Indonesia. (yetede)
Krisis Energi di China dan India Bisa Pacu Ekspor RI
Krisis energi yang terjadi belakangan, membawa berkah bagi Indonesia. Hal tersebut mendorong kinerja ekspor. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan akan kembali mencatat surplus. Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mencetak surplus US$ 3,68 miliar. Walaupun angka ini lebih kecil dari surplus Agustus sebesar US$ 4,74 miliar. Indonesia juga ketiban berkah dari krisis energi di China dan India. Saat ini, China sedang mengalami kekurangan batubara untuk produksi listrik, sehingga mengganggu kinerja manufaktur. India juga sedang mengalami hal sama. Krisis energi di China dan India tersebut bisa mendorong kedua negara itu mengimpor batubara dari Indonesia lebih banyak lagi.
Kinerja manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia lain juga menggembirakan, salah satunya Thailand. Ini pun memperlebar peluang ekspor yang lebih tinggi. Sementara kinerja impor September, diperkirakan sebesar US$ 15,60 miliar atau turun 6,45% mtm. Hanya, secara tahunan impor masih tercatat naik 34,68% yoy. Peningkatan impor secara tahunan, didorong oleh ekspansinya kinerja manufaktur Indonesia karena ada pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 yang meningkatkan permintaan.
Isu Pangan dan Energi Perlambat Pertumbuhan
IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Lonjakan harga pangan dan krisis energi turut menjadi pertimbangan. Dana Moneter Internasional atau IMF mengoreksi pertumbuhan ekonomi global pada 2021 menjadi 5,9 persen. Sebelumnya, pada Juli 2021, IMF memproyeksikan ekonomi global tumbuh 6 persen.IMF juga mengoreksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, China, dan Indonesia pada tahun ini. Ekonomi AS yang semula diperkirakan tumbuh 7 persen dikoreksi menjadi 6 persen, China 8,1 persen menjadi 8 persen, dan Indonesia dikoreksi dari 3,9 persen menjadi 3,2 persen.Koreksi ini dimuat dalam World Economic Outlook Edisi Oktober 2021 bertajuk ”Recovery During a Pandemic: Health Concerns, Supply Disruptions, and Price Pressures” yang dirilis pada 13 Oktober 2021.Penyebaran virus korona baru varian Delta yang menyebabkan pembatasan aktivitas ekonomi dan tersendatnya rantai pasok global di banyak negara menjadi penyebab utama melambatnya ekonomi. IMF menyebutkan, kesenjangan vaksin Covid-19 global makin besar.
Indonesia Perbaiki Tata Niaga Nikel
Upaya pemerintah mendorong hilirisasi industri nikel dinilai belum berjalan secara optimal. Tata niaga di sektor ini dianggap masih kacau-balau dan perlu dibenahi. Demikian pandangan yang mengemuka di forum diskusi bertajuk Waspada Kerugian Negara dalam Investasi Pertambangan, kemarin. Pada semester I-2021, harga nikel kadar 1,8% dalam Shanghai Metal Market (SMM) dipatok sebesar US$ 79,61 per ton. Sedangkan HPM nikel tidak mencapai setengahnya atau hanya US$ 38,19 per ton.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, praktik selisih hitung kadar nikel yang terjadi antara surveyor di sisi hulu dan hilir sudah merugikan pelaku usaha sektor hulu dan berdampak pada penerimaan negara. Misalnya, terjadi perbedaan selisih kadar dengan besaran 0,37% saja. Jika dikalikan dengan HPM dan produksi untuk tahun 2020 yang sekitar 14 juta ton, maka ada potensi kerugian dari penerimaan negara dari pembayaran royalti. "Berkurang penerimaan royalti ini setara Rp 400 miliar per tahun kalau mengacu ke kasus tahun 2020," terang Mohammad.
Pertambangan Batu Bara, Momentum Besar Pacu Eksplorasi
Harga batu bara di pasar internasional yang terus mengukir rekor tertinggi pada tahun ini menjadi momentum bagi perusahaan tambang untuk merealisasikan rencana eksplorasi guna menambah cadangan komoditas tersebut. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai kondisi ini menjadi waktu tepat bagi pengusaha mendongkrak produksi. Seiring dengan hal itu, kegiatan eksplorasi pun perlu dilakukan sebagai penyeimbang. “Harusnya dengan kondisi harga seperti saat ini pelaku usaha bisa merealisasikan rencana eksplorasi mereka,” katanya kepada Bisnis, Senin (11/10). Adapun, bursa ICE Newcastle mencatat harga batu bara di pasar global mencapai US$238,6 per metrik ton pada akhir pekan lalu. Sementara itu, harga batu bara acuan (HBA) di pasar domestik, telah menyentuh US$161,63 per metrik ton pada Oktober 2021 atau yang tertinggi sejak ditetapkan pada 2009.
Lonjakan Harga Batubaru & CPO Kerek Harta Taipan
Sederet taipan Indonesia pemilik bisnis batubara dan kelapa sawit tengah menikmati berkah lonjakan harga komoditas tersebut. Harga batubara, misalnya, sempat menembus US$ 238,30 per ton atau melonjak 202% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Sementara harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga sudah menembus US$ 1.100 per ton atau melesat 56% sejak awal tahun ini.
Harga Minyak Indonesia Kembali Naik Jadi US$ 72,2 Per Barel
Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada September kemarin kembali menanjak menjadi US$ 72,2 per barel, naik dari posisi Agustus lalu yang sebesar US$ 67,8 per barel. Kenaikan harga dipicu oleh turunnya pasokan minyak global. Sejalan, harga rata-rata ICP Sumatran Light Crude (SLC) juga naik menjadi US$ 72,25 per barel dari bulan sebelumnya US$ 67,99 per barel. Tim Harga Minyak Indonesia menuturkan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi harga minyak mentah utama di pasar internasional, antara lain turunnya pasokan minyak.
"Peningkatan drastis harga gas alam global menjelang musim dingin akibat kurangnya pasokan, membuat minyak mentah menjadi energi subtitusi dan diperkirakan dapat meningkatkan permintaan minyak mentah sebesar 550 ribu bph," kata Tim Harga Minyak Indonesia dalam keterangan resminya, Rabu (6/10). Terkait anjloknya pasokan, jelas Tim Harga Minyak Indonesia, terdapat beberapa penyebab. Pertama, berhentinya aktivitas produksi minyak mentah dikawasan Teluk Meksiko, Amerika Serikat akibat badai Ida dan Badai Tropis Nicholas dengan potensi kehilangan pasokan minyak mentah mencapai 30 juta barel.
"Faktor lainnya adalah nilai tukar Dollar terhadap beberapa mata uang terutama Euro cenderung melemah," tutur Tim Harga Minyak Indonesia. Sedangkan untuk kawasan Asia Pasifik, lanjut Tim Harga Minyak Indonesia, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh terus bertumbuhnya permintaan bensin di Tiongkok, dimana pada September 2021, diperkirakan mencapai tingkat sebelum pandemi Covid-19 telah meningkatkan permintaan di negara tersebut," Tambah Tim Harga Minyak Indonesia. (yetede)
Bisnis Jasa Pengangkut Batubara Mulai Menggeliat
Harga barubara yang terus meningkat membuat bisnis jasa pengangkut batubara kian menggeliat. Salah satunya adalah PT Batulicin Nusantara Maritim (BNM). "Sebagai dampak positif dari meningkatnya perdagangan batubara dan prediksi kedepannya komoditi akan terus meningkat, maka PT BMN tidak ingin ketinggalan dari moment tersebut. Dengan menambah armada, kami berharap kedepannya pasokan batu bara dapat lebih kuat." kata Direktur PT BNM Yuliana di Jakarta, kemarin.
Menurut dia tren meningkatnya permintaan komoditi batu bara ini membuat PT BNM sebagai perusahaan yang menyediakan jasa kapal pengangkut batubara diproyeksikan akan memiliki dampak positif akibat meningkatnya permintaan jasa batubara yang diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun ini. BNM berencana membeli tiga set kapal yang terdiri tugboat terbaru beserta barge atau lebih dikenal dengan sebutan tongkang.
Yuliana mengatakan bahwa pembelian tiga set kapal tersebut akan menopang aktivitas oprasional dan meningkatkan mutu pelayanan BMN, Pembelian set kapal tersebut akan dilakukan secara by order ke Karya Terbaik Utama Shipyard, salah satu perusahaan pembuatan kapal dan pelayanan lainnya di daerah Batam, kepulauan Riau. "Alasan utama dari rencana pembelian tiga set kapal tersebut tentunya akan menambah armada demi memenuhi kebutuhan pelanggan." ujar Yulianan pada Selasa (28/10). (yetede)
Pajak Karbon menyasar PLTU Energi Batubara
Bersiaplah, pemerintah segera menerapkan pajak karbon mulai 1 Januari 2022. Pungutan pajak anyar ini dikenakan bagi usaha pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang bertenaga batubara. Tarifnya sebesar Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Agenda tersebut tertuang dalam Rancangan Undang-Undang tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). Calon beleid ini merupakan perubahan nama dari usulan sebelumnya yakni RUU tentang Perubahan Kelima atas UU Nomor 6/1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









