;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Ekspansi Jadi Senjata Baru AKRA Hadapi Tantangan

05 Mar 2025
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menargetkan laba bersih Rp 2,6 triliun di 2025, didorong oleh ekspansi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) BP-AKR dan penjualan lahan industri di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).

Analis Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menilai strategi ekspansi SPBU AKRA bisa sukses karena permintaan bahan bakar tetap tinggi. Namun, fluktuasi harga minyak masih menjadi risiko bagi margin keuntungan AKRA. Sementara itu, segmen lahan industri memiliki potensi besar, terutama jika AKRA bisa menarik investor asing. Tantangan utama adalah regulasi dan proses penjualan lahan yang membutuhkan waktu.

Bob Setiadi dari CGS International Sekuritas melihat bisnis perdagangan dan distribusi AKRA masih menghadapi tantangan. Ia menurunkan asumsi volume penjualan BBM sebesar 1% dan memperkirakan penjualan lahan JIIPE di 2025-2026 hanya 80 hektare. Meski begitu, Bob tetap memperkirakan pendapatan AKRA tumbuh tipis menjadi Rp 38,75 triliun di 2025, dengan laba bersih mencapai Rp 2,4 triliun.

Sementara itu, Niko Pandowo dari Sucor Sekuritas lebih optimistis, memperkirakan penjualan lahan JIIPE bisa mencapai 100 hektare di 2025. Selain itu, tiga penyewa utama di JIIPE, yaitu Freeport, Xinyi Glass, dan Zhejiang Hailiang, diperkirakan mulai beroperasi di semester II-2025, yang bisa meningkatkan pendapatan AKRA.

Regulasi pemerintah yang berencana mengurangi subsidi bahan bakar pada 2027 bisa menjadi katalis positif bagi AKRA sebagai distributor BBM non-subsidi. Niko mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.530 per saham, Bob memberi rating add dengan target harga Rp 1.460, sementara Indy menyarankan buy on weakness dengan target Rp 1.500.

AKRA masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik, tetapi perlu menghadapi tantangan dari fluktuasi harga minyak, regulasi, dan perlambatan penjualan lahan industri.

Memaksimalkan Minyak Mentah Dalam Negeri

04 Mar 2025

PT Pertamina Persero berjanji akan memaksimalkan pemanfaatan minyak mentah yang diproduksi dari dalam negeri sebagai komitmen swadaya energi Indonesia. Sementara kebutuhan impor yang masih harus dipenuhi akan dilanjutkan dengan evaluasi tata kelola produksi dan perdagangannya. Dirut PT Pertamina Persero, Simon Aloysius Mantiri, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/3) menyampaikan, pihaknya mendapatkan mandat swasembada energi dari Presiden Prabowo. Mereka didorong untuk memaksimalkan penyerapan minyak mentah dalam negeri. ”Ketika kita memberikan prioritas untuk pengolahan dalam negeri, sudah barang tentu untuk ekspor akan kita kurangi ataupun tidak ada karena akan diolah di dalam negeri,” ungkap Simon.

Kendati demikian, ia mengakui, Indonesia saat ini masih harus mengekspor 40 % minyak mentah. Pertamina mampu memproduksinya sekitar 400.000 barel per hari. Adapun kebutuhan minyak menyentuh 1,6 juta barel sehari. Dengan kebutuhan impor yang besar, lanjut Simon, Pertamina akan berupaya memperbaiki tata kelola produksi dan perdagangan mereka. Perbaikan itu terutama dilakukan setelah pengungkapan kasus oleh Kejagung terkait pengadaan minyak mentah dan produk kilang yang menyeret beberapa pejabat Pertamina. Kasus itu terkait dugaan praktik impor minyak mentah melalui broker dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding minyak produksi dalam negeri periode 2018-2023. Total kerugian diperkirakan Rp 193,7 triliun. (Yoga)


Minyak Goreng mengalami Inflasi Tahunan sampai 10,97 Persen

04 Mar 2025

Indonesia mengalami deflasi baik secara bulanan maupun tahunan pada Februari 2025. Kendati begitu, terdapat satu komoditas dengan tingkat inflasi tahunan mencapai 10,97 %, yakni minyak goreng. BPS, Senin (3/3) merilis, tingkat deflasi bulanan dan tahunan Indonesia pada Februari 2025 masing-masing sebesar 0,48 % dan 0,09 %. Komoditas yang berandil besar terhadap deflasi itu antara lain tarif listrik, beras, daging ayam ras, bawang merah, tomat, dan cabai merah. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, tarif listrik merupakan komoditas yang paling dominan berkontribusi terhadap deflasi tersebut.

Pada Februari 2025, tariff listrik mengalami deflasi 21,03 % secara bulanan dan 46,45 % secara tahunan. Komoditas yang harganya diatur pemerintah tersebut berkontribusi terhadap deflasi sebesar 0,67 % secara bulanan dan 2,16 % secara tahunan, lantaran pemerintah memberi diskon tarif listrik sebesar 50 % pada Januari-Februari 2025. ”Dengan begitu,faktor utama deflasi pada Februari 2025 bukan penurunan daya beli masyarakat, melainkan diskon tarif listrik. Deflasi tersebut juga ditopang penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti beras, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, dan  tomat,” katanya.

Meskipun terjadi deflasi pada Februari 2025, masih ada beberapa komoditas yang mengalami inflasi. Salah satunya adalah minyak goreng yang mengalami inflasi tahunan 10,97 % dengan andil 0,13 %. Pemicunya adalah kenaikan harga Minyakita. Kompas mencatat, harga Minyakita merangkak naik sejak Juni 2024. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kemendag, per akhir Februari 2025, harga rerata nasional Minyakita Rp 17.200 per liter, lebih tinggi 6,4 % disbanding Juni 2024, juga lebih tinggi 8,72 % dari harga eceran tertinggi (HET) Minyakita yang ditetapkan Kemendag Rp 15.700 per liter. (Yoga)


Momentum Kuat Pengendalian Harga di Ramadhan

04 Mar 2025
Deflasi beruntun selama Januari-Februari 2025 menjadi momentum kuat pengendalian harga barang selama periode Ramadan dan  Lebaran. Kalaupun pada Maret 2025 terjadi inflasi,  besarannya diprediksi rendah, hanya 0,1% secara bulanan (month to month/mtm). Akan tetapi, deflasi juga menjadi alarm bagi masyarakat lemah. Apalagi, untuk kali pertama dalam 25 tahun terjadi deflasi tahunan yakni pada Februari lalu. Ini menandakan belanja masyarakat melambat. Sejalan dengan itu, masyarakat diprediksi tidak agresif  berbelanja selama Ramadan dan Lebaran. Akibatnya pertumbuhan ekonomi Lebaran diprediksi tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Hal itu patut diwaspadai pemerintah, karena ledakan belanja Lebaran diharapkan menjadi pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi deflasi bulanan disebabkan tarif listrik dan harga pangan. Itu terlihat pada komponen harga diatur pemerintah yang mencetak deflasi 0% dan 18,59%. Secara bulanan, tarif listrik menyumbang deflasi  0,67%, daging ayam ras 0,06%, bawang 0,05%, cabai merah 0,04%, dan cabai rawit 0,02% pada Februari 2025. Adapun komoditas penyumbang deflasi tahunan adalah tarif listrik sebesar 2,16%, lalu beras 0,11%, dan tomat 0,11%, cabai merah 0,11%, dan daging ayam ras 0,02%. (Yetede)

Laba Emiten Batu Bara Turun

04 Mar 2025
Emiten baru batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat distribusi kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 922,64 juta atau setara Rp15,25 triliun pada tahun 2024, turun 25,51% dibanding tahun sebelumnya (year on year/yoy) US$ 1,24 miliar, Penurunan laba juga terjadi pada emiten baru bara milik pengusaha Garibaldi 'Boy Thohir'.  PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi US$ 436,65 juta atau setara Rp7,22 triliun pada 2024.  Manajeman Bayan Resources dalam keterangan resminyua, Senin (3/3/2025) mengungkapkan, penyusutan laba bersih pada 2024 sejalan dengan berkurangnya penjualan perseroan turun 19,13% dari US$ 75,8 per ton di 2023 menjadi US$ 61,3 per ton pada 2024. Hal itu membuat pendapatan perseroan turun 3,77% yoy dari US$ 3,58 miliar menjadi US$ 3,45 miliar atau Rp56,97 triliun pada 2024. Penurunan pendapatan terjadi, meski volume penjualan batu bara perseroan naik 19,07% dari 47,2 juta ton menjadi 56,2 juta ton. Dengan produksi batu bara perseroan naik 14,48% dari 49,7 juta ton menjadi 66,9 juta ton. (Yetede)

Balik Kelangkaan Ikan Salmon

04 Mar 2025
JAGAT  media sosial X ramai mempercakapkan stok ikan salmon mentah pada 21 Februari 2025. Warganet membahas foto di sebuah pusat belanja yang menampilkan tulisan tentang "pemberitahuan kekurangan stok salmon mentah". Saat itu, pemerintah belum menerbitkan izin impor ikan sehingga perusahaan tidak mendapat pasokan salmon segar. Pada Jumat, 28 Februari 2025, Tempo mendatangi pusat belanja AEON di Tanjung Barat, Jakarta. Di gerai sushi dan sashimi, pramuniaga mengatakan stok memang kosong sepanjang bulan lalu. Tapi mulai masuk per bulan ini. Tak hanya gerai sushi, semua restoran yang menyediakan santapan khas Negeri Sakura mengalami kekurangan stok pada bulan lalu. Ketika Tempo mendatangi AEON Tanjung Barat, salah satu restoran sushi malah belum punya persediaan salmon segar hingga hari itu. Di pusat belanja Senayan City tak jauh berbeda. Ketika Tempo mendatanginya pekan lalu, dua restoran sushi kekurangan stok salmon segar nyaris sepanjang bulan lalu.

Sementara itu, satu restoran sisanya kekurangan stok salmon segar sepanjang pekan terakhir Januari. Untuk menyiasati kondisi tersebut, pramusaji menawarkan menu lain atau menu yang sama dengan bahan baku salmon beku. Ketika Tempo berkunjung pada Kamis pekan lalu, penjaga restoran mengatakan suplai salmon segar baru akan datang pada Maret ini. Lambatnya penerbitan persetujuan impor hasil perikanan menjadi pangkal stok salmon segar lenyap dari pasaran. Akibatnya, harga di pasar pun merangkak. Di supermarket di AEON, stok salmon segar baru tiba menjelang akhir Februari. Harga salmon per 100 gram kini dibanderol Rp 43 ribu, naik dari sebelumnya Rp 40 ribu. Kata pramuniaga, ada gangguan saat ikan impor sedang transit. Seorang pegawai restoran sushi juga mengatakan harga penganan di tempatnya naik Rp 5.000 hingga Rp 10 ribu per item.  

Berdasarkan informasi yang didapatkan Tempo, pada 3-24 Januari 2025, baru 50 dari 253 perusahaan yang berstatus Angka Pengenal Importir Umum (API-U) dan Angka Pengenal Importir Produsen (API-P) yang memperoleh persetujuan impor hasil perikanan dari Kementerian Perdagangan.  Biasanya, jika tak ada masalah, Kementerian Perdagangan menerbitkan persetujuan impor dalam lima hari kerja. Ketentuan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 36 Tahun 2023 yang telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Permendag Nomor 8 Tahun 2024.  Akibat seretnya persetujuan impor, pengusaha sektor perikanan mengirim surat kepada Kementerian Perdagangan. Tempo melihat tiga pucuk surat tersebut. Surat-surat itu berasal dari pengusaha pemasok ikan pindang, pengusaha perajin bakso ikan, dan Perkumpulan Pelaku Perikanan Indonesia (PPPI). Surat pertama bertanggal 31 Januari 2025, sedangkan dua surat terakhir terbit tiga hari kemudian. (Yetede)

Kini Aset Petronas Jauh Lebih Besar

04 Mar 2025
PT Pertamina (Persero) tengah menjadi sorotan usai terbongkarnya kasus dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang dengan kerugian hingga Rp 193,7 per tahun selama 2018-2023. Kekecewaan sebagian masyarakat semakin menjadi-jadi setelah Kejagung mengungkap adanya modus pengoplosan Pertalite (RON 90) menjadi Pertamax (RON 92). Akibatnya, tidak sedikit orang yang membandingkan kinerja Pertamina dengan perusahaan minyak dan gas bumi (migas) milik Pemerintah Malaysia, yaitu Petroliam Nasional Berhad (Petronas). Perbandingan dilakukan sejumlah warganet mengingat Negeri Jiran merupakan negara tetangga dekat Indonesia. 

Petronas Carigali Sdn. Bhd didirikan pada 1978 sebagai cabang operasi eksplorasi dan produksi, yang mencakup portofolio sumber daya dan jenis kegiatan yang luas. Dibangun untuk membuka potensi energi Malaysia, Petronas awalnya hanya mempunyai 15 karyawan dan dua saluran telepon.  Sementara itu, Pertamina berawal dari PT Perusahaan Minyak Nasional atau Permina yang didirikan pada 10 Desember 1957. Dengan demikian, dari segi usia Pertamina jauh lebih senior.  Berdasarkan wawancara Tempo bertajuk Mohd. Hassan Marican: Dulu Kami Belajar dari Pertamina pada Senin, 12 Mei 2008, mantan Presiden dan Ketua Pegawai Eksekutif Petronas Dagangan Berhad Tan Sri Mohd. Hassan Marican mengakui bahwa pihaknya pernah berguru dari Pertamina.  “Jika dilihat dari kemampuan secara teknis, kami sangat hormat pada Pertamina. Dulu kami belajar dari Pertamina, terutama tentang productivity sharing contract. Pertamina sebagai perusahaan yang lebih dulu berdiri, telah menggunakan sistem yang menjadi standar dunia, dan kami harus mempelajarinya,” kata Hassan. 

Mengutip Laporan Keuangan Petronas Group, Petronas membukukan pendapatan sebesar 319.957 juta ringgit Malaysia atau sekitar Rp 1.184 triliun per 31 Desember 2024 (asumsi kurs Rp3.701). Total aset yang dimiliki mencapai 766.673 juta ringgit atau di angka Rp 2.837 triliun.  Sepanjang 2024, Petronas mencatatkan realisasi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 114.086 juta ringgit atau setara Rp 422 triliun. Angka tersebut lebih rendah 14,1 juta ringgit atau berkurang 11 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 128.590 juta ringgit.  Sementara itu, Wakil Direktur Utama Pertamina Wiko Migantoro mengatakan bahwa Pertamina mencatatkan pendapatan sebesar US$ 75 miliar atau sekitar Rp 1.210 triliun pada 2024 (kurs Rp16.135). Dari total pendapatan tersebut, lanjut dia, belanja modal atau capital expenditure (capex) yang digelontorkan sebesar US$ 7 miliar.  (Yetede)


Ancaman Deflasi Bayangi Ramadan dan Lebaran

04 Mar 2025
Pada Februari 2025, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,48% secara bulanan, melanjutkan tren deflasi Januari yang mencapai 0,76%. Secara tahunan, deflasi Februari tercatat 0,09%. Namun, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa deflasi ini bukan akibat melemahnya daya beli, melainkan dipengaruhi diskon tarif listrik 50% dari pemerintah hingga Februari.

Meski terjadi deflasi, inflasi inti tetap naik 0,25% secara bulanan dan 2,48% secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, kopi bubuk, dan mobil. Amalia menyebutkan, deflasi selama Ramadan masih belum bisa diprediksi, tetapi biasanya ada inflasi karena peningkatan konsumsi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira berpendapat bahwa deflasi di Februari justru menandakan masyarakat menahan belanja menjelang Ramadan dan Lebaran. Bhima berargumen bahwa jika daya beli masyarakat kuat, uang yang dihemat dari diskon listrik seharusnya dialihkan ke konsumsi lain. Namun, deflasi tetap terjadi, yang bisa mengindikasikan bahwa masyarakat sedang menabung atau mengalami kesulitan finansial.

Bhima juga menyoroti pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya, yang menjadi alarm bagi lemahnya permintaan barang dan jasa. Ia memperkirakan pada Maret 2025 akan terjadi inflasi sebesar 0,1% secara bulanan, dipicu oleh kenaikan harga pangan dan berakhirnya diskon listrik. Namun, jika masyarakat tetap menahan konsumsi, deflasi bisa kembali terjadi, terutama jika pemerintah terus melakukan efisiensi belanja.

Secara keseluruhan, meskipun BPS menilai deflasi tidak berkaitan dengan daya beli, para ekonom melihat adanya tanda-tanda perlambatan konsumsi masyarakat, yang berpotensi berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas industri.

Harga Batubara Jatuh, Tekanan Berat bagi ADMR

04 Mar 2025
Pelemahan harga batubara metalurgi masih menjadi sentimen negatif bagi kinerja PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Saham ADMR telah tertekan 43,57% secara year-to-date (ytd) per 3 Maret 2025 akibat meningkatnya pasokan dari China serta ketegangan dagang antara China dan Amerika Serikat (AS).

Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut kelebihan pasokan batubara China dan pelemahan ekonomi negara tersebut semakin menekan harga. Selain itu, kebijakan tarif AS terhadap produk energi juga berpotensi memperburuk prospek batubara. Untuk menghadapi kondisi ini, Arinda menilai ADMR perlu melakukan diversifikasi pasar dan produk untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah atau jenis komoditas tertentu.

Ryan Winipta, Analis Indo Premier Sekuritas, menegaskan bahwa prospek harga batubara kokas tetap suram, dengan harga saat ini US$ 188 per ton, turun 6% ytd. Stok batubara kokas di pelabuhan China bahkan meningkat dua kali lipat dibanding Februari 2024. Ryan juga menurunkan asumsi harga batubara metalurgi di bawah US$ 200 per ton, memperkirakan laba bersih ADMR tahun ini menjadi US$ 381 juta.

Meski menghadapi tantangan, Kenny Shan, Analis Sinarmas Sekuritas, melihat peluang dari peningkatan produksi ADMR, yang dapat mengimbangi dampak harga jual yang lebih rendah. Pada November 2024, ADMR telah berinvestasi Rp 918 miliar untuk proyek pabrik peleburan aluminium di Kalimantan, yang akan berproduksi 500.000 ton per tahun pada kuartal ketiga 2025.

Dari sisi investasi, Arinda, Ryan, dan Kenny tetap merekomendasikan beli saham ADMR, dengan target harga berkisar Rp 1.440 – Rp 1.500 per saham. Namun, investor tetap perlu memperhatikan faktor risiko seperti penguatan dolar AS, pelemahan ekonomi China, dan ketidakpastian politik dalam negeri.

Naiknya Harga Kebutuhan Pokok

03 Mar 2025

Kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi persoalan yang terus dirasakan masyarakat. Harapan besar pun disampaikan agar pemerintah melakukan operasi pasar sebagai langkah konkret menekan harga kebutuhan pokok. Menurut Lutfi (36) Pedagang Kelontong di Tajur Halang, Bogor, Jabar, “ Minyakita 1 liter susah didapat. Kalau ada stoknya, harga kulakannya tinggi, yakni Rp 17.500 per liter. Mau tidak mau, saya menjualnya kembali Rp 18.000 per liter. Saya hanya menjual Minyakita kemasan 2 liter seharga Rp 36.000. Saya tidak bisa menjual Minyakita sesuai harga di kemasan, yakni Rp 31.400 per 2 liter karena harga kulakannya Rp 35.800 per liter. Saya berharap ada operasi pasar”.

“Memasak makanan sendiri menjadi cara paling murah untuk menekan pengeluaran harian. Namun, belanja bahan masakan di pasar saat ini tidak murah. Kenaikan harga terasa nyata saat membeli kebutuhan sederhana seperti bahan sambal. Jika sebelumnya cukup dengan Rp 5.000, kini saya mengeluarkan hingga Rp 20.000 hanya untuk membeli cabai, bawang, dan tomat. Saya berharap pemerintah menggelar operasi pasar,” ujar Afifah (26) Buruh di Bekasi, Jabar. ”Saya tidak melihat adanya perubahan harga kebutuhan pokok di pasar. Alih-alih stabil atau menurun, harga bahan-bahan yang biasa saya beli untuk keperluan dagang justru naik menjelang bulan puasa. Harga minyak goreng, cabai, bawang putih, dan telur malah naik. Apalagi menjelang puasa. Semoga, dengan operasi pasar dari pemerintah, harga kebutuhan pokok bisa lebih murah dan terjangkau,” harap Samirudin (61) Pedagang Nasi Goreng Keliling di Jakarta. (Yoga)