;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Distribusi Solar Bersubsidi Dievaluasi

21 Jun 2022

Pemerintah berupaya menyederhanakan prosedur penyaluran BBM jenis solar bersubsidi untuk nelayan. Upaya ini untuk merespons persoalan seretnya solar bersubsidi bagi nelayan di sejumlah wilayah. Masalah dinilai krusial bagi perikanan tangkap. Dirjen Perikanan Tangkap KKP Muhammad Zaini mengemukakan, pihaknya sedang mengevaluasi persoalan distribusi solar bersubsidi untuk nelayan. Kuota solar bersubsidi yang dialokasikan untuk sektor perikanan berkisar 2,6 juta kiloliter. Dari jumlah itu, 2,1 juta kiloliter diperuntukkan bagi nelayan kapal berukuran maksimal 30 gros ton (GT).

KKP telah mendorong penyederhanaan aturan penyaluran BBM, antara lain, melalui pemanfaatan kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka) sebagai syarat utama mendapatkan BBM bersubsidi. Persoalannya, kartu Kusuka masih sulit dijangkau nelayan kecil. Zaini mengakui, hingga saat ini jumlah nelayan yang memiliki kartu Kusuka baru 980.000 dari target pemanfaatan kartu Kusuka untuk 2 juta nelayan. Sementara itu, persoalan harga solar industri mahal dikeluhkan nelayan kapal-kapal besar. Saat ini, harga solar industri sudah menembus Rp 17.300 per liter. Biaya solar mencapai 80 persen dari total biaya operasional. Menurut Ketua I Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Dwi Agus, harga solar industri terus melesat sejak awal Juni 2022 yang Rp 15.300 per liter. Sementara biaya operasional hanya bisa ditutup jika harga solar maksimum Rp 12.000 per liter. (Yoga)

Mobilisasi Sapi Sehat dan Impor guna Penuhi Kebutuhan

21 Jun 2022

Pemerintah mendatangkan sapi-sapi sehat dari luar Jawa serta mempercepat impor daging sapi beku tanpa tulang dari Brasil. Hal itu ditempuh untuk memenuhi kebutuhan sapi sehat menjelang hari raya Idul Adha serta menjaga stabilitas harga daging. Kepala Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi mengatakan, NFA bekerja sama dengan perusahaan milik negara mendatangkan sapi-sapi sehat dari luar Jawa. Pada 19 Juni 2022, sebanyak 450 ekor sapi milik PT Berdikari (Persero) didatangkan dari Sidrap, Sulsel, ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. ”Sapi-sapi tersebut untuk menambah stok (untuk memenuhi) kebutuhan pada Idul Adha, khususnya wilayah Jabodetabek dan Bandung Raya,” ujar Arief, Senin (20/6).

Dirut PT Berdikari Harry Warganegara menambahkan, sapi-sapi yang didatangkan itu berasal dari peternakan sapi di Sidrap yang dikelola oleh PT Buls, anak usaha PT Berdikari. Saat ini, Berdikari memiliki 1.494 sapi di kandang Jatitujuh, Cikampek, Subang, dan Sidrap. Selain memobilisasi sapi-sapi sehat, Berdikari juga diminta untuk menjaga ketersediaan stok daging melalui impor daging sapi beku dari Brasil. Kuota impor daging sapi beku dari pemerintah yang diterima pada Maret 2022 mencapai 20.000 ton. Daging sapi beku asal Brasil ini masuk secara bertahap pada Juni hingga September 2022 guna memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional. Pada Juni 2022, daging sapi beku yang akan masuk 4.250 ton. Total pesanan impor daging beku tanpa tulang mencapai 9.092 ton. (Yoga)


"Raksasa Laut" Tersandera Solar

20 Jun 2022

Kapal Motor Anugerah berukuran 97 gros ton yang ditambatkan di pesisir Karangsong, Indramayu, Kamis (9/6) telah tiga bulan tak melaut. Penyebabnya, harga solar industri dari Rp 9.500 per liter sempat menyentuh Rp 16.500 per liter. ”Belum berangkat. Takut enggak nutup,” ucap Caswinto (50), nakhoda KM Anugerah, Jumat (17/6). Dengan area penangkapan hingga Papua, kapal itu ”membakar” 100.000 liter solar selama operasi 5-6 bulan. Jika solar Rp 16.500 per liter,  dibutuhkan Rp 1,65 miliar, sedangkan dengan harga Rp 9.500 per liter, dibutuhkan ongkos Rp 950 juta. Jumlah itu belum termasuk ongkos perbekalan Rp 400 juta hingga tarif sandar kapal. ”Sementara kami harus bagi hasil dengan pemilik kapal dan ABK (anak buah kapal). Belum lagi kalau kapal asing yang alatnya canggih masuk wilayah kita,” kata Elang, sapaan Caswito.

Sebelum harga solar melambung, KM Anugerah bisa menangkap 160-200 ton ikan. Harga jualnya Rp 3 miliar-Rp 4 miliar. Setelah dipotong modal melaut dan bagi hasil, 16 ABK masing-masing dapat Rp 30 juta. Sepintas, uang itu besar. ”Namun, coba Rp 30 juta itu dibagi enam bulan. Setiap nelayan dapat Rp 5 juta. Kadang juga zonk (kosong) karena banyak yang bon,” ujar Elang. Sebelum berangkat, nelayan kerap meminjam uang hingga Rp 25 juta untuk kebutuhan keluarganya selama melaut. ”Ada sekitar 50 kapal arah Papua dan 60-an kapal arah Jawa yang belum melaut,” ujar Robani, tokoh nelayan di Karangsong.

Banyaknya kapal sandar di Karangsong berdampak pada tangkapan ikan. Berdasarkan data Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra, tangkapan ikan pada Mei sebanyak 1.765.245 ton. Tangkapan periode serupa empat tahun sebelumnya selalu lebih dari 2 juta ton, bahkan 3 juta ton. Itu sebabnya, ratusan nelayan Indramayu dalam Front Nelayan Bersatu (FNB) berunjuk rasa di Kantor DPRD Indramayu, Kamis (9/6). Pemerintah didesak menurunkan harga solar industry menjadi sekitar Rp 9.000 per liter untuk kapal di atas 30 GT. FNB juga mendorong pemerintah merevisi kontrak penangkapan ikan yang diuji coba tahun ini di wilayah pengelolaan  perikanan (WPP). Jangan biarkan ”raksasa laut” Indramayu menganggur lagi. (Yoga)


Antisipasi Krisis Pangan Global

18 Jun 2022

Bank Dunia menyatakan, invasi Rusia ke Ukraina mengganggu pasar energi global dan bahkan merusak ekonomi global. Energy shock akibat persoalan geopolitik tersebut dianggap lebih parah dibandingkan dengan krisis energi pada 1970-an, karena dampak buruk pada komoditas pangan lebih besar sekarang. Iklim perdagangan dunia terganggu karena banyak negara mendahulukan kepentingan nasional daripada kepentingan global. Indonesia sempat tergoda untuk melarang ekspor CPO dan produk turunannya pada April 2022 karena harga eceran minyak goreng melonjak tinggi. India melarang ekspor gandum dan gula karena mendahulukan kebutuhan domestiknya. Malaysia sempat melarang ekspor ayam ke Singapura karena memprioritaskan pemenuhan permintaan dalam negerinya.

Perang Rusia-Ukraina juga menyebabkan harga pupuk global melonjak karena kedua negara itu merupakan produsen besar gas sebagai bahan baku produksi pupuk. Harga urea di pasar global meningkat mendekati 1.000 dollar AS per ton. Harga pupuk urea nonsubsidi di Indonesia melampaui Rp 11.000 per kilogram, sedang harga pupuk urea bersubsidi hanya Rp 2.250 per kg. Petani di Indonesia dan negara-negara lain harus menanggung lonjakan biaya produksi pangan dan pertanian. Inflasi di tingkat produsen, diukur dari indeks harga produsen (IHP), jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi di tingkat konsumen (IHK).

Arah kebijakan pangan Indonesia berupaya mengantisipasi krisis pangan dengan strategi intensifikasi peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi perluasan lahan pangan, terutama di luar Jawa. Akan tetapi, respons penawaran (supply response) lebih lambat daripada tingkah laku permintaan (demand behavior). Harga pangan strategis melonjak tinggi, seperti minyak goreng, gula, cabai, bawang, dan daging sapi. Lonjakan konsumsi pada Ramadhan dan Idul Fitri dan ekspektasi pasar juga meningkatkan harga pangan. Untungnya harga beras stabil Rp 11.800 per kilogram sehingga dampak sosial-ekonomi-politik lebih buruk dapat dihindari. Arah kebijakan intensifikasi mulai membawa hasil walau perlu terus dipantau. (Yoga)


Lonjakan Permintaan Batu Bara: APBI Minta Dukungan Alat Angkut

18 Jun 2022

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia meminta dukungan ketersediaan alat tambang dan armada laut guna memacu produksi batu bara, seiring dengan peningkatan permintaan di tengah disrupsi pasokan energi. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menuturkan sejumlah negara sudah terlihat mengajukan permintaan untuk pembelian batu bara dalam negeri menyusul musim dingin sepanjang triwulan ketiga tahun ini. Bahkan, sejumlah transaksi batu bara sudah mulai dilakukan dari Jerman, Polandia, Italia, Spanyol hingga Belanda.“Sudah terjadi pengiriman ke beberapa negara yang membutuhkan, itu kita dengar langsung misalnya dari Spanyol ada juga ke Polandia mereka sudah bilang,” katanya melalui sambungan telepon, Jumat (17/6). Dengan kenaikan permintaan, dia menilai positif rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ingin mengerek target produksi pada rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) pada tahun ini. Namun, Hendra meminta pemerintah untuk mendukung terkait dengan ketersediaan alat tambang dan armada laut seperti tongkang untuk dapat meningkatkan torehan produksi di dalam negeri. Di sisi lain, dia menambahkan peningkatan permintaan batu bara juga datang dari India dan Pakistan terkait dengan isu pasokan bahan baku kelistrikan kedua negara itu. Hendra menuturkan, Kementerian Pertambangan Batu Bara India bakal ke Jakarta akhir bulan ini berkaitan dengan pasokan batu bara tersebut. Selain itu, dia menambahkan APBI telah lebih dahulu menerima kunjungan Konsulat Jenderal dari Karachi ihwal pasokan batu bara ke Pakistan.

Indonesia Surplus Beras 20 Juta Ton pada 2024

18 Jun 2022

Pemerintah berharap kehadiran sejumlah bendungan yang masih dalam proyek pembangunan dapat meningkatkan indeks  pertanaman padi sehingga produksi  beras nasional dapat mencapai 40 juta ton pada 2045 dengan surplus 10 juta ton. Saat ini, rata-rata nasional indeks pertanaman padi mencapai 147% dan pada 2045 ditargetkan naik menjadi 200% seiring bertambahnya bendungan baru di Tanah Air. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadmuljono mengatakan, kehadiran bendungan di seluruh Tanah Air telah meningkatkan indeks pertanaman padi dengan rata-rata nasional, menurut  Badan Pusat Statistik (BPS), berada di angka 147%. Nilai indeks itu diharapkan dapat terus naik  apabila jumlah proyek pembangunan bendungan telah selesai. "(Kehadiran bendungan) meningkatkan indeks pertanaman  yang sekarang ini rata-rata  nasional menurut BPS, Pak Jokowi, 147%,dengan 231 bendungan. Jadi dengan tambahan 61 bendungan  bisa kita (indeks) menjadi 200%," ujar  Basuki. (Yetede)

Sapi-sapi Kami Tak Lagi Kuat Berdiri

18 Jun 2022

Sapi perah berwarna hitam putih berumur lima tahun dengan berat daging sekitar 2,4 kuintal milik Endar Sunandar (31) di Kelurahan Cipari, Kuningan, Jabar, Rabu (15/6) mati setelah terpapar PMK sepekan terakhir. Mulutnya berbusa dan luka. Sapi betina itu enggan makan sehingga lemas. Endar telah berupaya mengobati sapinya, mulai dari menyuntikkan obat-obatan dari koperasi dan pusat kesehatan hewan hingga membuat jamu dari olahan bawang putih, telur, dan gula untuk meningkatkan nafsu makan sapi. Berbagai cara itu tak mampu menghalau PMK. ”Sampai sekarang dua induk sapi dan satu pedet saya mati. Kerugian sudah lebih dari Rp 50 juta,” kata bapak dua anak ini. Dari total 65 sapi di kandang milik keluarganya, 16 ekor terpapar PMK. Beberapa sapi terpaksa dijual Rp 8 juta-Rp 10 juta per ekor atau anjlok dari harga ideal Rp 18 juta per ekor.

 ”Dua tahun ke depan, nasib sapi perah di Cigugur suram. Produksi susunya berkurang dan pedet yang harusnya menggantikan induknya mati,” ujar John Nais, Korlap Unit Respons Cepat PMK Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Nugraha Jaya, yang beranggotakan 1.000 peternak. Menurut John, lokasi kandang yang berdekatan di Cigugur mempercepat penularan penyakit yang menyebar lewat udara itu. Tempat karantina pun tiada tersedia.

Peternak di Lembang, Bandung Barat, juga ikut limbung akibat PMK. Pada Jumat (10/6) malam, Dadang Sopari (54) resah karena keempat sapinya terjangkit PMK. Produksi susu sapinya anjlok sampai 90 %. Ia terpaksa menjual sapi perahnya untuk dipotong meskipun harganya jauh lebih murah, yakni Rp 70.000 per kg untuk daging sapi. Transaksi dilakukan di RPH Cikartani Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU). Sapi-sapi berbobot 300 kilogram yang kini  ada di RPH dan terkena PMK kondisinya sudah sulit berdiri.

Jumat lalu, Yaya Mulyana (39), mantri dari RPH memeriksa hingga 13 sapi perah yang akan dipotong. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Tidak hanya peternak, para pedagang daging sapi pun mengalami dilema. PMK membuat penjualan mereka anjlok hampir dua kali lipat, sementara mereka harus menampung daging dari peternak sapi perah yang terus bertambah. Padahal, kondisi sapi kurus, kulit membalut tulang di beberapa bagian. Penjualan daging sapi pun turun drastis, karena masyarakat khawatir makan daging sapi karena wabah PMK. (Yoga)


Mendag Zulhas: Peralihan Migor Curah ke Kemasan Sederhana Buruh Waktu

17 Jun 2022

Pemerintah berencana untuk mengganti minyak goreng (migor) curah menjadi migor kemasan sederhana di pasar karena dianggap lebih higienis. Namun peralihan dari migor curah ke migor kemasan sederhana membutuhkan waktu yang tidak sebentar. "Saya tidak mengatakan dihapus, tapi lebih baik saja (kemasannya). Jangan bilang dihapus, tidak ada. Coba usaha lebih bagus." kata Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan, saat berkunjung  di Pasar Cibubur, Jakarta,Kamis (16/6). Zulhas mengaku dirinya bakal memperbaiki tata kelola distributor migor dan menginginkan masyarakat bisa mendapatkan migor dengan harga yang terjangkau. Zulhas mengungkapkan, bahwa  masalah utama mahalnya berbagai macam kebutuhan pokok akibat adanya ketergantungan pada impor. "Kita lihat kita benahi,kita akan menyelesaikan bareng kementerian  terkait, ini tidak mudah apalagi pangan yang impor," kata Zulhas. (Yetede)

Audit Perusahaan Perkebunan Sawit

17 Jun 2022

Audit sebagai buntut kemelut minyak goreng ini menimbulkan dua pertanyaan sekaligus. Pertama, apakah selama ini tidak ada pengawasan terhadap rantai pasok perkebunan sawit, dari budidaya hingga pemasaran produk olahannya? Kedua, apa hasil yang diharapkan dari audit ini? Apakah sekadar stabilisasi pasokan dan harga minyak goreng? Atau dalam rangka merealisasikan perkebunan sawit berkelanjutan dan kaitannya dengan pengembangan bahan bakar nabati (biodiesel), pemenuhan hak atas bahan pangan bagi masyarakat, pelestarian hutan, dan penanggulangan kemiskinan.

Dalam rangka memberikan kepastian hukum, harus jelas posisi audit dan apa yang akan diaudit oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi. Bukankah jika melihat permasalahan konflik agrarian yang bersumber dari masalah perizinan, hak atas tanah, dan kemitraan usaha perkebunan, khususnya dalam masalah fasilitasi pembangunan kebun masyarakat, permasalahan harga TBS sawit produksi petani, dana sawit untuk biodiesel yang digugat oleh serikat petani dan koperasi pekebun, maka demi keadilan, regulasi dan regulatornya juga perlu diaudit.

Dalam rangka keberlanjutan, audit perkebunan sawit tidak bisa lagi bersifat ad hoc, tetapi terkait dengan perencanaan, penganggaran, pembinaan, dan pengawasan. Untuk itu, diperlukan pembaruan hukum penilaian usaha perkebunan. Putusan MK dalam pengujian UU Cipta Kerja juga mensyaratkan partisipasi rakyat harus lebih bermakna, yaitu menghargai hak rakyat untuk didengar pendapatnya, hak untuk dipertimbangkan pendapatnya, dan hak untuk mendapatkan penjelasan atau jawaban atas pendapat yang diberikan. Meski putusan MK itu terkait pembuatan peraturan perundang-undangan, hal itu bisa dipergunakan sebagai rujukan dalam pembentukan, pelaksanaan, dan kebijakan pemerintah. (Yoga)


Komoditas Udang, Mengelola Daya Saing

17 Jun 2022

Komoditas udang yang merupakan salah satu produk andalan perikanan budidaya di Tanah Air tengah menghadapi problem soal daya saing. Harga udang ekspor terus merosot, sementara biaya produksinya membengkak seiring  merebaknya serangan penyakit. Tekanan di pasar internasional ditandai dengan melemahnya harga udang sejak awal Mei 2022. Komoditas udang Indonesia, yang sebagian besar diekspor, terkena imbasnya. Salah satu pemicu tekanan harga adalah membanjirnya produksi udang dari negara-negara produsen lain, seperti Ekuador dan India. Sesuai hukum pasar, jika produksi berlimpah, sedangkan permintaan stagnan, harga pun tertekan. Hambatan pasar yang terjadi juga tidak lepas dari belum pulihnya perekonomian global dan efek perang Ukraina-Rusia yang berkepanjangan. Saat ini, negara utama tujuan ekspor udang Indonesia antara lain adalah AS yang menyerap 70% total ekspor udang, Jepang (16 %), dan China 3-4 %.

Per 10 Juni 2022, harga rata-rata udang ukuran 40 ekor per kg (size 40) tercatat Rp 62.000 per kg atau turun 25 % dibandingkan awal Mei 2022 yang Rp 83.000 per kg. Sementara biaya produksi udang ukuran 40 mencapai Rp 56.000 per kg. Di tingkat dunia, Indonesia menempati peringkat ke-5 eksportir udang terbesar pada 2019, setelah India, Ekuador, Vietnam, dan China. Namun, kontribusi udang Indonesia di pasar internasional baru 7,1 %, karena itu, peluang pasar masih terbuka luas. KKP menargetkan nilai ekspor udang naik 250 % selama kurun 2019-2024, yakni 4,2 miliar USD. Guna mencapai ambisi itu, produksi udang ditargetkan meningkat hingga 2 juta ton. Volume ekspor udang diharapkan naik 15,8 % per tahun, sedangkan nilai ekspornya diharapkan tumbuh 20 % per tahun. Tetapi, perkembangan ekspor udang belum menggembirakan. Sepanjang tahun 2021, volume ekspor udang tercatat 250.700 ton atau hanya tumbuh 4,9 % dibandingkan 2020, adapun nilai ekspor tercatat 2,23 miliar USD atau hanya tumbuh 8,5 % secara tahunan. (Yoga)