Lingkungan Hidup
( 5781 )Ruang Besar Pertumbuhan Industri Coklat
BANDUNG- Managing Director Barry Callebaut Indonesia, Ciptadi Sukono, mengungkapkan bahwa mayoritas produk makanan dan minuman ringan di Indonesia menggunakan cokelat sebagai bahan bakunya. Setelah cokelat, bahan baku berikutnya yang mendominasi adalah keju di urutan kedua dan vanila di urutan ketiga. Meski mendominasi pasar, ucap dia, berdasarkan data Euromonitor yang dirilis pada Juli 2021, konsumsi cokelat masyarakat Indonesia ternyata tergolong rendah, yaitu hanya 0,3 kilogram per orang per tahun. Angka itu menempatkan Indonesia pada posisi keempat di dunia setelah Australia (5,1 kilogram), Singapura (1,1 kilogram), dan Malaysia (0,5 kilogram). "Masih terdapat ruang pertumbuhan aplikasi dan konsumsi cokelat di Indonesia. Volume produksi cokelat juga meningkat 3-4%," ucap Ciptadi, di dalam acara kunjungan di pabrik kako dan cokelat milik Barry Callebaut di Kabupaten Bandung dan kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Yetede)
PENGENDALIAN INFLASI, Narasi Piring Kosong
Piring kosong kembali mengemuka belakangan ini. Tak hanya jadi simbol memerangi kelaparan dan mengurangi sisa atau sampah makanan, piring kosong juga menjadi simbol meredam dampak kenaikan tingkat inflasi. Istilah itu pertama kali populer dalam KTT Ketahanan Pangan Dunia di Roma, Italia, Juni 2008. Sejumlah organisasi masyarakat mendatangi forum itu dengan membawa piring kosong, simbol hak atas pangan. Piring kosong itu juga simbol harapan, jangan sampai KTT menghasilkan kebijakan kosong bagi kaum marjinal. Pada 2020, Presiden China Xi Jinping menggunakan istilah piring kosong untuk mengatasi sampah makanan yang makin menggunung di China. Banyak media setempat dan internasional menyebut kebijakan itu sebagai ”kampanye piring kosong” atau ”operasi piring kosong” Xi Jinping.
”Setiap butir makanan di piring merupakan hasil kerja keras. Kita harus tetap menjaga rasa krisis tentang ketahanan pangan,” ujar Xi Jinping dalam pidato soal misi pengurangan sampah makanan di China (The Guardian, 12 Agustus 2020). Pada 6 Juli 2022, FAO membangun kembali narasi tentang kisah piring-piring kosong, ”A Tale of Empty Plates”. Narasi itu membungkus gerakan memerangi kelaparan dan bahaya rawan pangan akibat imbas pandemi Covid-19, konflik geopolitik, serta kenaikan harga pangan dan energi. Dalam narasi itu, FAO menyebutkan, pada 2021, sebanyak 828 juta orang di dunia menghadapi bahaya kelaparan. Jumlah itu tiga kali lipat dari populasi di Indonesia. Di Indonesia, 1,9 juta orang atau 0,7 % total populasi masuk dalam kategori keluarga rawan pangan. Setiap hari masih banyak orang yang tidak mendapat makanan cukup. Di sisi lain, masih banyak orang menganggap sepiring makanan itu kebanyakan sehingga menyisakan dan membuangnya. (Yoga)
KINERJA EMITEN LOGAM BERKILAU
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang terus memanas, pergerakan harga emas sebagai safe haven terus berfluktuasi. Momentum tersebut diproyeksikan dapat mendorong kinerja emiten logam tetap terjaga hingga akhir tahun ini. PT Aneka Tambang Tbk., misalnya, menorehkan pertumbuhan nilai penjualan bersih sebesar Rp18,77 triliun pada semester I/2022, naik 8,6% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp17,28 triliun. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Elisabeth RT Siahaan optimistis kinerja perusahaan tetap terjaga hingga akhir tahun. Hal ini tercermin dari kinerja keuangan Antam pada paruh pertama tahun ini tumbuh Rp3,74 triliun atau 50% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,49 triliun. Kendati terjadi kenaikan biaya energi dan bahan baku, imbuhnya, laba kotor perusahaan mencapai Rp4,03 triliun atau tumbuh 27% year-on-year (YoY) dibandingkan dengan semester I/2021 sebesar Rp3,17 triliun. “Pada tahun ini, penjualan produksi emas Antam mencapai Rp12,28 triliun, menyusul volume penjualan logam emas sebesar 13,47 ton atau lebih tinggi ketimbang semester I/2021 sebesar 13,34 ton,” tuturnya Jumat, (16/9).
DIPLOMASI PERDAGANGAN RI Gagas Aliansi Produsen Bahan Baku Wahana Listrik
Indonesia mengupayakan kerja sama dengan negara-negara pemilik cadangan litium di Amerika Selatan. Indonesia berharap bisa membentuk jaringan penyedia bahan baku pokok kendaraan listrik. Staf Khusus Menlu RI untuk Diplomasi Kawasan I Gede Ngurah Swajaya mengatakan, kendaraan listrik selaras dengan agenda Indonesia. Di masa presindensi G20, Indonesia mendorong transisi energi. “Wujud agenda ini adalah produksi kendaraan listrik,” kata Swajaya, Jumat (16/9) di Jakarta. Indonesia memiliki cadangan nikel, timah, tembaga, dan bauksit yang dibutuhkan dalam produksi kendaraan listrik. Sementara lima negara Amerika Selatan punya 59,9 % cadangan litium global. ”Dalam industri kendaraan listrik, litium bahan vital,” katanya. Penjajakan kerja sama diantaranya lewat Indonesia-Latin America and the Caribbean Business Forum 2022 (INA-LAC 2022). Digelar sejak 2019, INA-LAC menjadi andalan diplomasi ekonomi Indonesia di Amerika Latin. Setelah digelar secara virtual pada 2020-2021, INA-LAC 2022 akan digelar secara hibrida pada 17-18 Oktober 2022 di Tangerang, Banten.
Di Amerika Selatan, cadangan litium utama ada di enam negara. Bolivia dan Argentina mempunyai 45 % cadangan terbukti litium global. Sementara Chile dan Meksiko punya 11 % dan 1,9 %. Adapun Brasil dan Peru punya masing-masing 1 %. Sementara AS dan Kanada punya masing-masing 10,3 % dan 3,3 %. Dengan demikian, hampir seluruh cadangan terbukti litium global ada di Benua Amerika. Anggota Kontak Masyarakat Sipil Indonesia-Afghanistan, Hamid Awaluddin, menyebut, litium salah satu alasan sejumlah pengusaha Indonesia berusaha berinvestasi di Afghanistan. Berdasarkan kajian Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), cadangan litium Afghanistan ditaksir lebih besar dibandingkan dengan gabungan cadangan Bolivia dan Argentina. (Yoga)
Gandum sebagai Bahan Baku, Apakah Bisa Tergantikan?
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang atau Franky merogoh mangkuk berisi tumpukan untaian mi kering yang terbuat dari tepung sorgum di hadapannya, pertengahan minggu lalu. Ketika dipegang, mi dengan rona merah pucat itu sontak hancur dan melebur menjadi serpihan kecil menyerupai serbuk tepung. Franky mengibas sisa serbuk tepung yang menempel di jarinya. ”Saya pernah coba kasih ini ke burung peliharaan, dia tidak mau, langsung di-lepeh, dibuang lagi,” katanya sambil terkekeh. Mi kering yang dipegang Franky itu merupakan salah satu contoh produk pangan olahan sorgum yang sedang dipelajari di pusat laboratorium PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari Flour Mills di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mi tersebut 100 persen terbuat dari tepung sorgum merah. Bahan baku biji sorgum mentah dikirimkan oleh Kementan baru-baru ini ketika wacana pengembangan sorgum sebagai alternatif bahan baku industri untuk menggantikan gandum kembali digaungkan pemerintah di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi dan ancaman krisis pangan.
Lantaran tidak memiliki campuran kandungan gluten dari tepung terigu yang berasal dari gandum, tingkat kepadatan dan kekenyalan mi sorgum jauh berbeda dengan mi yang beredar di pasaran pada umumnya. ”Baru dipegang saja hancur, apalagi kalau dimasukkan ke air panas untuk dimasak. Malah jadi bubur sorgum itu, bukan mi sorgum,” ujar Franky. Selain mi, produk olahan lain dari sorgum yang sedang diriset oleh Bogasari adalah makanan ringan berupa kue kering dan roti. Berbeda dengan mi sorgum, tingkat kepadatan, kerenyahan, tekstur, dan rasa kue kering dari sorgum tidak jauh berbeda dengan biskuit umumnya. Orang awam bisa saja ”tertipu” dan mengira biskuit itu terbuat dari tepung terigu, bukan sorgum. Herni Sutanto, Vice President Quality and Product Development PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari Flour Mills, mengatakan, untuk menghasilkan produk makanan ringan khas Indonesia yang umumnya diproduksi di level kecil dan menengah, tepung sorgum masih bisa digunakan 100 % untuk menggantikan tepung terigu. Namun, penggunaan 100 % tepung sorgum sulit diterapkan untuk produk makanan yang diproduksi dalam skala besar seperti mi instan atau produk tertentu seperti roti yang membutuhkan kandungan gluten agar bisa mengembang. (Yoga)
Bapanas Terus Mitigasi Potensi Krisis Pangan
JAKARTA, ID – Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) terus melakukan mitigasi potensi terjadinya krisis pangan di Tanah Air. Dari hasil mitigasi sementara, Indonesia saat ini masih jauh dari krisis pangan karena ketersediaannya melimpah. Hingga akhir Desember 2022, pasokan 12 komoditas pangan strategis yang mencakup beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging ruminansia, daging dan telur ayam ras, gula konsumsi, serta minyak goreng masih akan surplus. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan, krisis pangan memiliki tingkatan tertentu. Suatu negara dikategorikan mengalami krisis pangan apabila masyarakat sudah tidak bisa menjangkau makanan, tidak ada makanan yang tersedia, bahkan sampai kekurangan gizi dan mengalami gizi buruk. Di tengah potensi krisis pangan global, Indonesia saat ini dinilai masih memiliki ketersediaan pangan yang cukup. Kondisi tersebut didasarkan kepada perhitungan Neraca Pangan Nasional (NPN) serta tingginya potensi pangan lokal yang beragam dan masih berpeluang besar untuk terus dikembangkan sebagai substitusi bagi pangan impor. “Kita bersyukur, saat ini Indonesia tidak mengalami hal tersebut (krisis). Ketersediaan pangan, berdasarkan perhitungan NPN, menunjukkan bahwa pangan nasional dalam kondisi tersedia dan aman," ujar Arief.
Kemitraan jadi Kunci Keberhasilan Pengembangan Panas Bumi
JAKARTA, ID – Indonesia diyakini akan menjadi salah satu negara terdepan dalam pengembangan potensi panas bumi di dunia. Bahkan bukan tidak mungkin Indonesia nantinya bisa menjadi Global Geothermal Power House. Salah satu langkah terbaik mengembangkan panas bumi hingga ke industri turunannya adalah dengan kemitraan. Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto mengungkapkan keyakinan tersebut cukup beralasan, apalagi dengan jumlah potensi panas bumi yang diketahui hingga kini. Tersisa saat ini adalah inisiatif untuk kembangkan panas bumi. Menurut Yuniarto, panas bumi sekarang ini dan ke depannya tidak hanya dipandang sebagai salah satu alternatif pembangkit listrik, tapi lebih dari pada itu ada industri hilir panas bumi kini sudah menjadi keniscayaan yang mau tidak mau juga dikembangkan yakni green hydrogen. Salah satu cara untuk bisa memonetisasi potensi panas bumi secara efisien berikut serta industri turunannya adalah dengan penerapan teknologi. (Yetede)
Pemerintah Pusat-Daerah Sinergikan Data
Pemerintah pusat dan daerah memperkuat sinergi dalam penguasaan data komoditas pangan penyumbang inflasi. Dengan demikian, pemantauan komoditas strategis bisa lebih mudah dan akurat dilakukan guna memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam rapat koordinasi pusat dan daerah pengendalian inflasi 2022 secara hibrida, di Surabaya, Jatim, Rabu (14/9) menyatakan, pengendalian inflasi hingga akhir tahun ini ditempuh dengan memperkuat identifikasi sumber tekanan inflasi di daerah melalui pemanfaatan data makro dan mikro secara detail. Kerja sama antar daerah diperlukan guna mengurangi disparitas pasokan dan harga bahan pangan antar wilayah. BPS mencatat, inflasi Agustus 2022 sebesar 4,69 % secara tahunan, lebih rendah dari inflasi Juli 2022 yang tercatat 4,94 %. Penurunan inflasi secara keseluruhan sejalan dengan penurunan inflasi harga pangan bergejolak (volatile food), dari 11,47 % pada Juli 2022 menjadi 8,93 % pada Agustus 2022. Kendati turun, harga pangan tetap berada di atas kesepakatan Tim Pengendalian Inflasi Pusat, yakni 3-5 %. (Yoga)
Solusi Teknologi untuk Pangan
Kendati masih jauh dari risiko krisis pangan, Indonesia dinilai perlu bekerja keras mengendalikan tren terus naiknya importasi komoditas pangan. Selain kebijakan hulu-hilir yang terintegrasi, insentif usaha, khususnya bagi petani, peternak, dan pelaku di hulu, perlu jadi perhatian guna memperkuat produksi dalam negeri. Pemikiran itu mengemuka dalam Diskusi Ekonomi Berdikari tentang pangan yang digelar harian Kompas di Jakarta, Selasa (13/9). Ketahanan pangan menjadi prioritas pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan. Dalam jangka pendek, pemerintah mengupayakan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan guna mengendalikan inflasi.
Dalam Diskusi Ekonomi Berdikari itu, sejumlah narasumber berpendapat bahwa untuk membangun kemandirian, insentif usaha harus diperkuat. Salah satu terobosan tambahan yang bisa dilakukan adalah penggunaan teknologi untuk menyelesaikan berbagai masalah. Pemberian subsidi ataupun bantuan sarana produksi pertanian harus dipastikan sampai kepada yang berhak. Teknologi memungkinkan semua insentif untuk petani bisa sampai kepada individu yang berhak. Dari berbagai masalah yang muncul selama ini,teknologi sudah tersedia, tetapi selalu saja terhambat masalah lain. Selain itu, berbagai informasi terkait pertanian, seperti informasi cuaca, informasi harga, informasi hama dan penyakit, bisa disebarkan secara lebih cepat dengan menggunakan teknologi. (Yoga)
Lonjakan Harga Minyak Momentum Alihkan Subsidi ke Energi Terbarukan
JAKARTA, ID – Lonjakan harga minyak mentah dunia merupakan momentum untuk mengalihkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke energi terbarukan. Tanpa dukungan subsidi dan insentif, progres pengembangan energi terbarukan akan tetap lambat seperti sekarang. Selain itu, untuk memberikan kepastian hukum kepada para investor, pemerintah dan DPR harus segera mengegolkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Dalam RUU yang mulai dibahas di parlamen itu, pemerintah harus membuat rincian insentif bagi para investor di sektor EBT, termasuk investor kendaraan listrik. Dengan begitu, harga produk EBT, termasuk kendaraan listrik, bisa terjangkau masyarakat menengah ke bawah, sehingga ketergantungan terhadap energi fosil berkurang signifikan. Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daily dengan pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, Direktur Eksekutif Center Energy Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman, Direktur Eksekutif Refor Miner Institute Komaidi Notonegoro, Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) Prijandaru Effendi, dan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Rabu (14/9). (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









