Lingkungan Hidup
( 5781 )MENANTI UAP PANAS GEOTERMAL
Kesuksesan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) melantai di Bursa Efek Indonesia menjadi angin segar bagi pengembangan EBT di Tanah Air yang menghadapi tantangan pendanaan. Pencapaian PGEO setidaknya tercatat dari kemampuan perseroan meraup dana segar Rp9,05 triliun dari pelepasan saham perdana atau initial public offering (IPO). Kendati harga saham turun pada perdagangan hari pertama listing, Jumat (24/2), PGEO optimistis saham akan membaik untuk jangka panjang karena fluktuasi di pasar saham bersifat temporer. Wakil Menteri BUMN I Pahala N. Mansury menyarankan agar publik melihat kinerja saham PGEO dari sisi fundamental, bukan secara jangka pendek. “Fundamental perusahaan ini kuat dengan EBITDA margin yang kuat. Balance sheet-nya pun sangat baik. Kami optimistis,” katanya dalam konferensi pers di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat. Dengan kemampuan meraup target penggalangan dana dari IPO, PGEO diharapkan bisa mempercepat peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi atau PLTP di dalam negeri. Maklum saja, hingga kini kapasitas terpasang geotermal di Indonesia masih tergolong minim.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yuniarto mengatakan dana yang diperoleh dari IPO siap untuk mendukung rencana perseroan mengembangkan kapasitas terpasang sebesar 600 MW hingga 2027. “Perseroan menargetkan untuk meningkatkan basis kapasitas terpasangnya yang dioperasikan sendiri, dari 672 MW saat ini menjadi 1.272 MW pada 2027,” katanya saat seremoni pencatatan saham perdana PGEO, Jumat (24/2). Kementerian BUMN juga berharap penambahan pasokan listrik dari PGEO dapat mendorong ketersediaan energi yang semakin efisien dan meluas. Selain itu, bersama mitra, PGEO dapat menerapkan perkembangan teknologi sehingga dapat menyediakan energi listrik dengan biaya yang lebih terjangkau. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pun menyebut peluang pengembangan panas bumi di Tanah Air masih terbuka lebar. Apalagi, pemerintah bakal terus mendorong pemanfaatan panas bumi untuk mendukung penyediaan energi bersih di Indonesia.
BBM BERSUBSIDI : Harga Pertalite Bertahan
Tahun ini harga BBM bersubsidi kemungkinan masih akan bertahan di harga sekarang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun belum berencana menurunkan harga jual Pertalite dan Solar subsidi. Pemerintah beralasan harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan pekan ini. Keputusan untuk menahan harga BBM bersubsidi itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Jumat (24/2). Harga minyak naik dua persen lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis (23/2/2023) waktu setempat, di tengah ekspektasi pemotongan tajam untuk pasokan Rusia bulan depan, tetapi dolar yang lebih kuat dan lonjakan persediaan Amerika Serikat yang lebih tajam dari perkiraan menambah kekhawatiran permintaan. Mengutip Antara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik 1,44 dolar AS atau 2,0 persen, menjadi menetap pada 75,39 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April menguat US$1,61 atau 2,0 persen, menjadi ditutup pada 82,21 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, dibandingkan dengan sekitar 98 dolar AS per barel menjelang invasi Rusia ke Ukraina setahun lalu. Arifin menegaskan Kementerian ESDM terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia. Pemerintah, ujarnya, menaruh perhatian pada upaya penyediaan harga energi yang terjangkau bagi masyarakat. Pertengahan tahun lalu, pemerintah mengerek harga jual Pertalite menjadi Rp10.000 per liter dari posisi sebelumnya di angka Rp7.650 per liter. Sementara itu, Solar subsidi dipatok ke angka Rp6.800 per liter dari level sebelumnya Rp5.150 per liter.
PASAR SAHAM, Pertamina Geothermal Targetkan 600 Megawatt
Pada Jumat (24/2) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk secara resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia atau BEI dengan kode saham PGEO. Pelepasan saham perdana anak usaha milik PT Pertamina (Persero) ini ditujukan untuk mengembangkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi perseroan sebesar 600 megawatt hingga 2027. Pertamina Geothermal Energy menawarkan 10,35 miliar sahamnya ke publik yang mewakili 25 % modal yang ditempatkan. Adapun harga penawaran adalah Rp 875 per lembar. Sejak penawaran umum saham pada periode 20-22 Februari 2023, perseroan berhasil meraih dana Rp 9,056 triliun.
”Pelepasan saham perdana ini untuk mengembangkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi perseroan sebesar 600 megawatt (MW) hingga 2027 nanti,” ujar Dirut Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yuniarto lewat siaran pers. Dengan demikian, ujar Yuniarto, diharapkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi yang dikelola Pertamina Geo thermal Energy bisa menjadi 1.272 MW pada 2027. Saat ini kapasitas terpasang tenaga panas bumi yang dikelola sendiri sebesar 672 MW. Dalam peresmian pencatatan perdana saham Pertamina Geothermal Energy di BEI, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi panas bumi ini untuk bisa mendukung ketersediaan energi bersih di Indonesia agar dapat bersaing di pasar internasional. Untuk itu, Pertamina Geothermal Energy tidak hanya melirik panas bumi, tapi juga memanfaatkan sumber energi terbarukan lainnya. (Yoga)
Waspadai Penurunan Produksi Kedelai
Akibat kekeringan ekstrem di Argentina, produksi kacang kedelai dunia diperkirakan menurun dan turut menggerus produksi minyak nabati berbasis biji-bijian di pasar global yang dapat digantikan oleh kelapa sawit. Oleh sebab itu, Indonesia perlu mengantisipasi kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe. Selain itu, juga dampaknya pada harga minyak goreng di dalam negeri. Laporan Departemen Pertanian AS (USDA) berjudul ”Oilseeds: World Markets and Trade”, Februari 2023, menyebutkan, proyeksi produksi kacang kedelai dunia pada tahun pasar 2022/2023 mencapai 383,01 juta ton, lebih rendah dibandingkan laporan edisi Januari 2023 sebesar 388 juta ton. Laporan ini menggaris bawahi penurunan panen kacang kedelai di Argentina akibat kekeringan dan tingginya suhu udara di wilayah sentra produksi. Argentina merupakan produsen kedelai dunia terbesar setelah Brasil dan AS. Proyeksi produksi kedelai Argentina pada 2022/2023 turun dari 45,5 juta ton jadi 41 juta ton. Petani juga menahan kedelai serta hanya menjualnya untuk membayar tagihan dan ongkos produksi. Selain Argentina, Ukraina juga menyebabkan penurunan produksi kedelai. Laporan USDA ”Oil Crops Outlook: February 2023” memperkirakan, penurunan produksi kedelai di Ukraina pada 2022/2023 berkisar 400.000 ton.
Penurunan produksi dunia itu berimbas pada proyeksi rata-rata harga kedelai dunia. Berdasarkan data Trading Economics yang diakses Jumat (24/2) harga kedelai bergerak di kisaran 1.536,5 USD per gantang, lebih tinggi 2,26 % daripada bulan lalu. Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kemendag juga mencatat kenaikan harga kedelai impor di Indonesia dari Rp 15.100 per kg pada awal Januari menjadi Rp 15.500 per kg pada Jumat (24/2). Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menggarisbawahi ketergantungan Indonesia pada impor. ”Saat ini, swasta yang mengimpor (kedelai),” ujarnya saat dihubungi, Jumat. Arief telah menugaskan Perum Bulog mengimpor kedelai sebagai bagian dari cadangan pangan pemerintah sejak tiga bulan lalu. Negara yang diprospek menjadi sumber impor ada lah AS dan Afrika Selatan. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal mengatakan, kedelai impor itu akan tiba perdana pada awal Maret 2023. ”Jumlahnya masih sedikit karena ini bertujuan untuk membuka akses perdagangan dengan mitra (eksportir kedelai),” katanya. Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti berpendapat, penurunan produksi kacang kedelai di negara produsen dapat berimbas pada kenaikan harga di pasar internasional karena permintaannya tetap, atau bahkan naik. Hal ini menandakan pentingnya swasembada kedelai. (Yoga)
Optimalisasi Gas Bumi dan Transformasi Hijau
Gas bumi memiliki peran penting dalam transisi energi, terutama untuk mengurangi penggunaan sumber energi fosil, seperti batubara dan minyak bumi, karena gas bumi relatif lebih bersih dibandingkan dengan batubara dan minyak bumi sebab emisi gas rumah kaca dari pembakarannya lebih rendah. Karena itu, gas bumi dapat dianggap sebagai ”bahan bakar jembatan” atau transisi sementara dari sumber energy fosil menuju sumber energy yang lebih bersih. Selain sebagai sumber energi, seperti bahan bakar atau sumber energi pembangkit listrik, gas bumi di Indonesia juga banyak digunakan dalam industri, seperti produksi kaca, pupuk, dan petrokimia. Dalam rantai produksi pupuk, gas bumi memiliki peran vital lantaran berfungsi sebagai bahan baku amonia, salah satu bahan utama pembuatan pupuk.
Di sektor industri petrokimia, menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, pasar di Indonesia terbilang sangat besar meski 70 % bahan bakunya diperoleh dari impor. Apabila gas bumi dikembangkan untuk industri petrokimia, lanjutnya, hal itu akan menciptakan nilai tambah ekonomi yang cukup besar, mengingat hampir semua hal yang berkaitan dengan kehidupan membutuhkan produk dari industri petrokimia, mulai dari obat-obatan hingga perlengkapan rumah tangga. ”Kita punya bahannya dan ada pasarnya. Tinggal kebijakannya. Parasetamol, misalnya, yang 100 % impor, sedangkan kita punya benzena, yang menjadi salah satu komponennya. Kalau dikonversi ke domestik, impor bisa dikurangi. Yang lebih berharga, ada nilai tambah ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan investasi,” ucap Komaidi dalam sebuah diskusi, akhir Januari lalu. Produksi gas bumi di Indonesia, per 21 Februari 2023 tercatat 6.769 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau di atas target APBN 2023 sebesar 5.742 MMSCFD. Pada 2022, porsi gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri cukup dominan, yaitu 3.686 miliar british thermal unit per hari (BBTUD) setara 68 %. Adapun volume gas yang diekspor mencapai 1.759 BBTUD atau 32 %. (Yoga)
Pengusaha Keluhkan Harga Kedelai Melejit
Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku tahu dan tempe melonjak hingga Rp 13.000 per kg di Batam, Kepulauan Riau. Ketua Koperasi Pengusaha Tahu dan Tempe Bumi Bertuah Nusantara Susilo, Jumat (24/2) mengatakan, sebelum Covid-19, harga kedelai Rp 6.600 per kg. Saat pandemi, harganya naik menjadi Rp 9.800 per kg. ”Setelah pandemi mereda, seharusnya harga kedelai turun. Ini harganya naik menjadi Rp 13.000 per kg. Sebelumnya pernah mencapai Rp 14.400 per kg,” kata Susilo. (Yoga)
Terseret Penurunan Harga Komoditas
JAKARTA-Kinerja saham emiten sektor energi terkena dampak tren penurunan harga komoditas global. Senior Investment Information PT Mirea Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menuturkan pelemahan kinerja sektor ini diprediksi terjadi sementara dan kembali merangkak naik seiring dengan sentimen positif kenaikan harga komoditas serta peningkatan angka permintaan. "Hal yang terpenting adalah fundamental kinerja masing-masing emiten. Jika tetap konsisten mencetak pendapatan dan ekspansif, (sahamnya) tetap layak dikoleksi," ujarnya kepada Tempo, kemarin. Sejumlah saham dengan fundamental kuat tersebut memiliki kapatalisasi pasar cukup besar di pasar saham. Nafan menambahkan, pergerakan harga komoditas emiten yang bersangkutan juga patut dicermati investor. Sebab, akan berpengaruh pada kinerja emiten di keseluruhan tahun ini. (Yetede)
Hilirisasi Perlu Ekosistem Industri
Kebijakan hilirisasi mineral, seperti nikel, bauksit, dan tembaga, perlu dilihat sebagai bagian dari kesatuan ekosistem dalam menumbuhkan industri bernilai tambah di dalam negeri, termasuk industri kendaraan listrik. Seiring itu, insentif pun disiapkan guna menaikkan permintaan sepeda motor dan mobil listrik. Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto, dalam Energy & Mining Outlook 2023, yang digelar CNBC Indonesia secara hibrida, Kamis (23/2) mengatakan, kebijakan hilirisasi perlu dilihat sebagai satu ekosistem. Bukan lagi dilihat komoditas per komoditas. Dengan demikian, kata Seto, peningkatan nilai tambah dari mineral, lewat larangan ekspor, perlu diintegrasikan dengan kesiapan industri pemakainya. Pada kendaraan listrik, misalnya, atau transisi energi terbarukan. Apabila hendak membangun pabrik baterai, baik cell maupun pack, misalnya, harus dipastikan pengguna akhirnya, yakni mobil atau sepeda motor listrik.
”Untuk menarik mereka (industri otomotif) masuk ke Indonesia, permintaan dalam negeri juga harus ditumbuhkan. Artinya, transisi dari mesin combustion ke kendaraan listrik harus dipercepat. Untuk sepeda motor listrik kami kasih insentif Rp 7 juta. Sementara mobil listrik sedang kami godok, PPN diturunkan dari 11 % ke 1 %,” kata Seto. Kepala Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Julian Ambassadur Shiddiq menuturkan, rencana bersama perlu dirancang guna memastikan rantai pasok mulai dari tambang hingga industri di hilir, termasuk hingga pengguna, bisa berjalan. ”Perlu ada kesinambungan dan koordinasi antar lembaga negara dalam menerapkan kebijakan agar tercipta ekosistem industri yang lengkap, dari hulu ke hilir,” katanya. Menurut Julian, saat ini pihaknya tengah melakukan simulasi bagaimana proses hilirisasi pada bauksit menjadi aluminium berjalan. (Yoga)
Kopi Kuningan Diincar Kedai dan Eksportir
Kopi Kabupaten Kuningan, Jabar, di incar pemilik kedai dan eksportir. Dalam acara ”Coffee Cupping Test” di Rumah Kopi Linggasana, Kuningan, Kamis (23/2) cita rasa kopi Kuningan diuji. Titi Nuryati, pendiri Kelompok Tani Sekarmanik Sejahtera di Cibeureum, mengatakan, pekan lalu, ia menjual kopi robusta bubuk sekitar 10 kg ke Turki seharga Rp 150.000 per kg. Padahal, biasanya maksimal Rp 120.000 per kg. (Yoga)
ANTISIPASI KRISIS ENERGI : IMPOR ANCAM KETAHANAN ENERGI NASIONAL
Besarnya impor minyak mentah, bahan bakar minyak atau BBM, dan liquefied petroleum gas mengancam ketahanan energi nasional yang terus ditingkatkan agar mampu menghadapi krisis. Dewan Energi Nasional menyebut ketahanan energi nasional saat ini sudah cukup baik, tetapi belum masuk ke dalam kategori sangat tahan. Alasannya, hingga kini Indonesia masih mengandalkan impor untuk sejumlah komoditas energi. Djoko Siswanto, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, mengatakan bahwa secara umum ketahanan energi nasional sudah cukup baik, karena Indonesia diberkahi dengan pasokan sumber daya, seperti batu bara dan gas bumi yang melimpah. Hanya saja, impor minyak mentah, BBM, dan liquefied petroleum gas (LPG) yang dilakukan pemerintah menurunkan skor ketahanan energi nasional. Untuk mengakali hal tersebut, Djoko menjelaskan bahwa Dewan Energi Nasional terus mendorong cadangan energi mencapai 30 hari konsumsi normal, baik untuk BBM, LPG, maupun kelistrikan. Saat ini, kata dia, cadangan batu bara PT PLN (Persero) sudah mencukupi untuk 20 hari operasi. Selain itu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga telah mengeluarkan aturan mengenai cadangan minimal BBM harus cukup untuk 24–30 hari.
Dalam Pasal 7 Permen ESDM No. 12/2022 disebutkan bahwa cadangan operasional minimum BBM diatur selama 7 hari ketahanan stok pada terminal BBM, dan stasiun pengisian bahan bakar pada satu wilayah distribusi niaganya. Untuk tenaga listrik, beleid yang diundangkan pada 18 Oktober 2022 itu menyebut cadangan operasional minimum daya mampu tenaga listrik sebesar kapasitas satu unit pembangkit listrik terbesar yang tersambung ke sistem setempat. Djoko membeberkan, sejumlah kebijakan telah dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi impor minyak mentah, BBM, dan LPG. Untuk LPG, pemerintah terus mendorong pembangunan jaringan gas, penghiliran batu bara menjadi dimetil eter, serta konversi kompor listrik. “Sayangnya konversi kompor listrik kemarin ditunda, dan kami mengalihkan sasaran dari semula ke pengguna LPG tabung 3 kilogram, menjadi ke masyarakat menengah ke atas,” jelasnya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









