Waspadai Penurunan Produksi Kedelai
Akibat kekeringan ekstrem di Argentina, produksi kacang kedelai dunia diperkirakan menurun dan turut menggerus produksi minyak nabati berbasis biji-bijian di pasar global yang dapat digantikan oleh kelapa sawit. Oleh sebab itu, Indonesia perlu mengantisipasi kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe. Selain itu, juga dampaknya pada harga minyak goreng di dalam negeri. Laporan Departemen Pertanian AS (USDA) berjudul ”Oilseeds: World Markets and Trade”, Februari 2023, menyebutkan, proyeksi produksi kacang kedelai dunia pada tahun pasar 2022/2023 mencapai 383,01 juta ton, lebih rendah dibandingkan laporan edisi Januari 2023 sebesar 388 juta ton. Laporan ini menggaris bawahi penurunan panen kacang kedelai di Argentina akibat kekeringan dan tingginya suhu udara di wilayah sentra produksi. Argentina merupakan produsen kedelai dunia terbesar setelah Brasil dan AS. Proyeksi produksi kedelai Argentina pada 2022/2023 turun dari 45,5 juta ton jadi 41 juta ton. Petani juga menahan kedelai serta hanya menjualnya untuk membayar tagihan dan ongkos produksi. Selain Argentina, Ukraina juga menyebabkan penurunan produksi kedelai. Laporan USDA ”Oil Crops Outlook: February 2023” memperkirakan, penurunan produksi kedelai di Ukraina pada 2022/2023 berkisar 400.000 ton.
Penurunan produksi dunia itu berimbas pada proyeksi rata-rata harga kedelai dunia. Berdasarkan data Trading Economics yang diakses Jumat (24/2) harga kedelai bergerak di kisaran 1.536,5 USD per gantang, lebih tinggi 2,26 % daripada bulan lalu. Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kemendag juga mencatat kenaikan harga kedelai impor di Indonesia dari Rp 15.100 per kg pada awal Januari menjadi Rp 15.500 per kg pada Jumat (24/2). Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menggarisbawahi ketergantungan Indonesia pada impor. ”Saat ini, swasta yang mengimpor (kedelai),” ujarnya saat dihubungi, Jumat. Arief telah menugaskan Perum Bulog mengimpor kedelai sebagai bagian dari cadangan pangan pemerintah sejak tiga bulan lalu. Negara yang diprospek menjadi sumber impor ada lah AS dan Afrika Selatan. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal mengatakan, kedelai impor itu akan tiba perdana pada awal Maret 2023. ”Jumlahnya masih sedikit karena ini bertujuan untuk membuka akses perdagangan dengan mitra (eksportir kedelai),” katanya. Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti berpendapat, penurunan produksi kacang kedelai di negara produsen dapat berimbas pada kenaikan harga di pasar internasional karena permintaannya tetap, atau bahkan naik. Hal ini menandakan pentingnya swasembada kedelai. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023