ANTISIPASI KRISIS ENERGI : IMPOR ANCAM KETAHANAN ENERGI NASIONAL
Besarnya impor minyak mentah, bahan bakar minyak atau BBM, dan liquefied petroleum gas mengancam ketahanan energi nasional yang terus ditingkatkan agar mampu menghadapi krisis. Dewan Energi Nasional menyebut ketahanan energi nasional saat ini sudah cukup baik, tetapi belum masuk ke dalam kategori sangat tahan. Alasannya, hingga kini Indonesia masih mengandalkan impor untuk sejumlah komoditas energi. Djoko Siswanto, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, mengatakan bahwa secara umum ketahanan energi nasional sudah cukup baik, karena Indonesia diberkahi dengan pasokan sumber daya, seperti batu bara dan gas bumi yang melimpah. Hanya saja, impor minyak mentah, BBM, dan liquefied petroleum gas (LPG) yang dilakukan pemerintah menurunkan skor ketahanan energi nasional. Untuk mengakali hal tersebut, Djoko menjelaskan bahwa Dewan Energi Nasional terus mendorong cadangan energi mencapai 30 hari konsumsi normal, baik untuk BBM, LPG, maupun kelistrikan. Saat ini, kata dia, cadangan batu bara PT PLN (Persero) sudah mencukupi untuk 20 hari operasi. Selain itu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga telah mengeluarkan aturan mengenai cadangan minimal BBM harus cukup untuk 24–30 hari.
Dalam Pasal 7 Permen ESDM No. 12/2022 disebutkan bahwa cadangan operasional minimum BBM diatur selama 7 hari ketahanan stok pada terminal BBM, dan stasiun pengisian bahan bakar pada satu wilayah distribusi niaganya. Untuk tenaga listrik, beleid yang diundangkan pada 18 Oktober 2022 itu menyebut cadangan operasional minimum daya mampu tenaga listrik sebesar kapasitas satu unit pembangkit listrik terbesar yang tersambung ke sistem setempat. Djoko membeberkan, sejumlah kebijakan telah dikeluarkan pemerintah untuk mengurangi impor minyak mentah, BBM, dan LPG. Untuk LPG, pemerintah terus mendorong pembangunan jaringan gas, penghiliran batu bara menjadi dimetil eter, serta konversi kompor listrik. “Sayangnya konversi kompor listrik kemarin ditunda, dan kami mengalihkan sasaran dari semula ke pengguna LPG tabung 3 kilogram, menjadi ke masyarakat menengah ke atas,” jelasnya.
Postingan Terkait
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Kemungkinan Pemerintah Membuka Opsi Impor Gas
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023