;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5781 )

Kinerja Jatuh Akibat Terkena Dua Pukulan

02 Sep 2023

Penurunan volume penjualan dan harga rata-rata logam timah menekan kinerja PT Timah Tbk (TINS). Kinerja jatuh secara top line maupun bottom line. Dalam laporan keuangan yang terbit di Bursa Efek Indonesia (BEI), TINS mengantongi pendapatan Rp 4,57 triliun pada semester I-2023. Merosot 38,82% dibandingkan raihan Rp 7,47 triliun pada semester I-2022. Laba bersih TINS merosot lebih tajam dengan hanya mencapai Rp 16,26 miliar pada semester I-2023. Padahal, di periode serupa 2022, laba TINS sempat tembus Rp 1,08 triliun. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS, Fina Eliani membeberkan terjadi penurunan sebagian harga logam pada akhir semester I-2023. Hal ini terjadi di tengah permintaan global yang lemah dan peningkatan persediaan logam timah di gudang perusahaan tersebut. Hingga kuartal II-2023, TINS memproduksi bijih timah sebanyak 7.755 ton Sn. Perinciannya, dari produksi darat 2.653 ton Sn, lalu dari laut 5.102 ton Sn. Produksi bijih timah mengalami penurunan 22% dibandingkan periode yang sama tahun 2022 dengan volume 9.901 ton Sn. Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan melihat langkah TINS masih cukup berat di sisa tahun ini. Felix belum melihat ada katalis positif yang signifikan terhadap outlook pasar dan harga timah global. Apalagi di semester I-2023 ini, produksi TINS merosot 16% secara tahunan. Sedang Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora menilai, prospek kinerja TINS bisa tertopang potensi industri di dalam negeri. Yakni dari industri komponen otomotif dan kendaraan listrik, meski untuk jangka waktu lebih panjang 

Pertamax Green Jadi Bahan Bakar Emiten Etanol

02 Sep 2023

PT Pertamina berencana memasarkan bahan bakar minyak (BBM) berlabel Pertamax Green 92 serta Pertamax Green 95 pada tahun 2024. Nantinya Pertamax Green 92 menggunakan campuran 7% etanol, sedangkan Pertamax Green 95 lebih banyak lagi, sekitar 8% etanol. Melihat rencana tersebut, emiten yang berbisnis etanol bergejolak. Melansir RTI, Kamis (31/8), harga PT Indo Acidatama Tbk (SRSN) naik 9,43% dalam sehari. Harga saham PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) juga tercatat 21,94% dalam sehari. Pengamat pasar modal dan Founder WH Project, William Hartanto mengatakan, kenaikan harga saham tersebut bisa saja disebabkan oleh sentimen rencana penerapan Pertamax Green 92 dan 95. Meskipun begitu, William belum bisa melihat seperti apa prospek emiten etanol ke depannya di tengah sentimen rencana pemberlakuan Pertamax Green 92 dan 95 mulai tahun depan. Dikarenakan kedua produk BBM tersebut relatif baru. Yang jelas dinamika isu energi dan energi terbarukan saat ini, menurutnya bisa memberikan dampak bagi kinerja emiten etanol. Jika lebih mengarah ke energi baru terbarukan maka bisa memberi peluang bagi emiten-emiten ini.

Mendongkrak Ketahanan Pangan Asean

02 Sep 2023

JAKARTA,ID-Meski mayoritas negara-negara Asean adalah negara agraris dengan lahan pertanian yang luas, namun indeks ketahanan  pangan kebanyakan negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini justru di bawah rata-rata indeks dunia maupun Asia Pasifik. Ketersediaan pasokan (availabality) dan kualitas nutrisi (qualitity and safety), menjadi dua di antara masalah paling utama yang memicu indeks ketahanan pangan kebanyakan negara Asean masih dalam kondisi cekak. Oleh karena itu, kerja sama dalam upaya penguatan ketahanan pangan akan menjadi salah satu topik pembahasan prioritas dalam konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke43 yang akan dilangsungkan di Jakarta, 5-7 September 2023. Dalam Keketuaan Asean Indonesia tahun ini yang mengusungkan tema Asean Matters Epicentrum of Growth, kerja sama penting lainnya yang juga didorong adalah bidang ketahanan energi, kesehatan, dan stabilitas keuangan. "Poin-poin (problem utama ketahanan pangan Asean) itu yang kita masukkan, ya yang mengenai availability, kemudian quality. Itu memang di Indonesia sedang pararel dilakukan (diatas)," kata Kepala Badan Pangan nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi kepada Investor Daily, Jumat (01/09/2023). (Yetede)

Harga Komoditas Seret Turun Laba Emiten MIND ID hingga 46%

02 Sep 2023

JAKARTA,ID-Laba bersih emiten-emiten yang tergabung dalam MIND ID anjlok 46,58% pada semester I-2023 menjadi Rp 4,08 triliun dibanding periode sama tahun lalu Rp8,76 triliun akibat turunnya  harga komoditas baru. Penurunan laba terutama dialami oleh PT Timah Tbk (TINS) yang mencapai 98,49% dan PT Asam Tbk (PTBA) sebanyak 54,92%. Sementara PT Aneka tambang Tbk (ANTM) mempu mencatatkan kenaikan laba bersih 23,84% pada semester I-2023 dibanding periode sama 2022. mengatakan, laba periode berjalan yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan pada paruh pertama 2023 turun 98,49% menjadi Rp16,29 miliar dibanding periode sama tahun lalu Rp1,08 triliun. Anjloknya laba bersih tersebut sejalan dengan penurunan pendapatan perseroan sebanyak 39,9% dari Rp7,47 triliun menjadi Rp4,57 triliun. Penurunan pendapatan itu dipengaruhi  merosotnya harga komoditas logam timah dunia. "Penurunan sebagian harga logam pada akhir semester I-2023 ditengah permintaan global yang lemah dan peningkatan persediaan logam timah di gudang LME mengakibatkan harga logam timah bergerak fluktuatif cenderung menurun," kata Fina dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (1/9/2023). (Yetede)

Menjaga Stok Beras sampai Tahun Depan

02 Sep 2023

JAKARTA – Pemerintah diminta mempersiapkan stok beras hingga Maret 2024 karena masa tanam padi yang biasanya dilakukan pada Oktober akan mundur lantaran fenomena El Nino berlangsung lebih lama. Akibat kondisi tersebut, guru besar pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Dwi Andreas Santosa, memperkirakan panen raya pun bakal mundur ke kisaran April dan Mei 2024. "Jadi, kalau stok, biasanya diamankan sampai Februari karena Maret mulai panen. Sekarang harus sampai Maret karena puncak panen bisa April atau Mei," ujar Andreas kepada Tempo, kemarin.

Prediksi Andreas tersebut didasarkan pada laporan terbaru mengenai musim kering El Nino dari Climate Prediction Center Amerika Serikat. Agustus lalu, lembaga tersebut memperkirakan terjadi El Nino kategori kuat yang berlangsung pada November mendatang hingga Januari 2024. Dampak dari El Nino kategori kuat ini akan memundurkan musim hujan yang biasanya dimulai pada September. Kalaupun ada hujan, intensitasnya diperkirakan masih rendah. "Bukan berarti kering sampai Januari. Hujan mungkin akan turun juga di Oktober, tapi intensitasnya masih rendah sehingga petani belum bisa mulai menanam," kata Andreas. (Yetede)

Berpeluang jadi Lumbung Pangan Dunia

02 Sep 2023

JAKARTA,ID-Asean berpeluang besar menjadi lumbung pangan dunia karena  potensi produksi yang dimilikinya. Meskipun Asean sering menemui masalah terkait ketahanan pangan, namun negara-negara di kawasan Asia Tenggara itu memiliki potensi produksi yang lebih baik dari negara-negara di kawasan lain. "Negara-negara di Asean memiliki potensi sebagai lumbung pangan dunia karena potensi yang dimilikinya," tutur pengamat ekonomi Universitas Indonesia  Fitrah Faisal Hastiadi kepada Investor Daily, baru-baru ini. Ia menjelaskan salah satu kekuatan yang dimiliki Asean adalah dari sisi ketahanan pangan yang bisa dimaksimalkan untuk tujuan  jangka pendek maupun menengah. Apalagi pada saat situasi seperti ini ketika negara-negara di Amerika dan Eropa mengalami inflasi pangan yang sangat siginifikan. Ia mencontohkan di inggris inflasi yang tinggi membuat banyak anak-anak sekolah dikabarkan terpaksa tidak sarapan karena harga makanan yang sangat tinggi. "Kita lihat tren, setelah Covid-19, banyak suplai atau produksi bahan makanan yang pertumbuhannya tidak secepat laju permintaan. Gap ini yang akan memunculkan naiknya harga-harga komoditas pangan. Pada sisi lain, Asean bisa dibilang sebagai lumbung pangan. Negara-negara Asean memang sering punya masalah  dengan ketahanan pangan tapi potensi produksinya jauh lebih baik dan lebih besar dibanding negara-negara di kawasan Amerika dan Eropa tadi," papar Fitrah. (Yetede)

Waspadai Inflasi Pangan akibat El Nino

01 Sep 2023

Kekeringan akibat El Nino diperkirakan dapat membuat Indonesia kehilangan produksi  beras hingga 1,2 juta ton. Fenomena iklim itu berpotensi menekan produksi pangan dunia dan membuat pemerintah sejumlah negara produsen mengutamakan kebutuhan domestik mereka. Pemerintah diingatkan untuk mewaspadai inflasi pangan. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2023 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/8) Presiden Jokowi mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mewaspadai potensi lonjakan inflasi pangan akibat El Nino. Fenomena yang melanda dunia ini akan memaksa negara-negara pemasok pangan menghentikan ekspor karena memilih untuk mengamankan pasokan bagi kebutuhan dalam negeri terlebih dulu.

”El Nino mengakibatkan kekeringan ekstrem dan diprediksi berlangsung hingga awal 2024.Kalau semua negara mengerem ekspor, apa yang bisa menyelamatkan negara kita, ya, diri kita sendiri. Minta bantuan atau beli beras atau gandum ke negara yang sudah stop ekspor, ya, tidak bisa,” ujar Presiden. Gejala kenaikan harga pangan tecermin pada komoditas beras. BPS mencatat, beras menyumbang inflasi 0,38 % secara tahunan pada Juli 2023. Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR, Rabu (30/8) menyebutkan, El Nino akan menggerus produksi beras nasional. ”Analisis kami, kita akan kehilangan 380.000 ton beras karena El Nino sedang. Kalau El Nino sangat kuat, kita kehilangan 1,2 juta ton beras. Itu (analisis kehilangan beras) yang membuat kita harus menyediakan penanaman baru 500.000 hektar (ha),” kata Syahrul. (Yoga)


Kuota Elpiji Bersubsidi Terus Membengkak

01 Sep 2023

Pemerintah mengusulkan kuota elpiji bersubsidi 3 kg sebanyak 8,03 juta ton dalam RAPBN 2024. Tambahan kuota akan disertai rencana transformasi distribusi yang tepat sasaran. Sejumlah fraksi di Komisi VII DPR mengusulkan kuota ditambah lebih banyak menjadi 8,5 juta ton. Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (31/8) mengatakan, usulan itu disertai kebijakan pendistribusian elpiji tepat sasaran pada 2024. ”(Dengan) melanjutkan upaya transformasi subsidi elpiji 3 kg menjadi berbasis orang dan terintegrasi dengan data penerima manfaat yang akurat,” ujarnya. Dalam upaya transformasi subsidi itu, pendataan pengguna elpiji 3 kg telah dilakukan pada 2023 berbasis teknologi.

Transformasi elpiji bersubsidi itu, ujar Arifin, mempertimbangkan kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat. Merespons usulan tersebut, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar, Mukhtarudin, mengatakan, kuota elpiji 3 kg pada 2023 yang diperkirakan terlampaui menjadi sinyal meningkatnya perekonomian nasional. Oleh karena itu, volume 8,03 juta ton dalam Nota Keuangan RAPBN 2024 dinilai terlalu kecil. Sementara itu, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PKB, Ratna Juwita Sari, menuturkan, elpiji 3 kg selama ini menjadi tulang punggung sektor UMKM di Indonesia. ”Mulai dari UMKM makanan, ataupun lainnya. Bahkan, peternakan juga menggunakan elpiji 3 kg. Maka, kami mengusulkan (volume) 8,5 juta metrik ton,” katanya. (Yoga)


Simpang Siur Rencana Penghapusan Pertalite

01 Sep 2023

JAKARTA – Usulan penghapusan Pertalite yang akan diimplementasikan tahun depan kembali mencuat kendati sejumlah pejabat di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) beberapa kali menyangkal rencana tersebut. Gagasan itu muncul dari PT Pertamina (Persero) sebagai kelanjutan Program Langit Biru yang telah dimulai beberapa tahun lalu.

Pertamina tengah melakukan pengkajian untuk meningkatkan kadar oktan BBM bersubsidi menjadi RON 92. Caranya adalah mencampur Pertalite dengan etanol sebanyak 7 persen sehingga menjadi Pertamax Green 92. "Program tersebut merupakan hasil pengkajian internal Pertamina. Belum ada keputusan apa pun dari pemerintah," ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam keterangannya, kemarin, 31 Agustus 2023.

Nicke mengatakan akan mengusulkan rencana tersebut kepada pemerintah untuk dibahas lebih lanjut. Jika nantinya usulan tersebut dapat dibahas dan menjadi program pemerintah, kata dia, harga Pertamax Green 92 akan ditentukan pemerintah. "Tidak mungkin jenis BBM khusus penugasan (JBKP) harganya diserahkan ke pasar karena ada mekanisme subsidi dan kompensasi di dalamnya." (Yetede)

Pertamina Usulkan Pengganti Pertalite

31 Aug 2023

PT Pertamina (Persero) ingin mengganti produk BBM jenis pertalite dengan pertamax green 92 dengan cara mencampur pertalite dengan etanol pada 2024. Lantaran pasokan etanol dalam negeri belum memadai, ethanol fuel grade diharapkan bisa dipenuhi impor. Dirut Pertamina Nicke Widyawati, dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (30/8) mengatakan, pihaknya ingin melanjutkan program Langit Biru ke tahap II. Pada 2024, Pertamina berencana menaikkan RON 90 (pertalite) ke RON 92 (pertamax).

”Karena aturan KLHK menyatakan octane number (RON) yang dibolehkan di Indonesia minimum 91. Ini sangat pas. Dari aspek lingkungan bisa menurunkan emisi karbon, lalu mandatory bioenergi bisa kami penuhi,” kata Nicke. Ia pun meminta dukungan Komisi VII DPR dan pemerintah untuk meluncurkan pertamax green 92. Produk BBM itu akan dihasilkan dari campuran pertalite dengan etanol sehingga nilai oktan meningkat menjadi 92. Nicke menekankan, hal tersebut merupakan hasil kajian internal Pertamina dan belum ada keputusan apa pun dari pemerintah. Kalaupun menjadi program pemerintah, harganya akan regulated (disubsidi/kompensasi) dan tak mungkin diserahkan ke mekanisme pasar. (Yoga)