Lingkungan Hidup
( 5781 )Kepiting Sultra Berpotensi Diekspor
2024, Bulog Datangkan Beras Impor 2,5 Juta Ton
Pemprov DKI Jakarta Memulai Gerakan Pangan Murah
RAYUAN PEMERINTAH GAET INDUSTRI HILIR
INDUSTRI HULU MIGAS : GETOL MEMBURU POTENSI DI ANDAMAN
Kawasan Andaman memiliki pesona tersendiri bagi perusahaan minyak dan gas bumi asal Uni Emirat Arab, Mubadala Energy. Baru saja menemukan potensi gas dengan jumlah besar Sumur Layaran-I, perusahaan langsung mengincar pengembangan di Layaran-2 dengan harapan mendapat hasil serupa. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membeberkan bahwa Mubadala Energy langsung menyusun rencana kegiatan eksplorasi lanjutan di prospek lain yang ada di South Andaman. Hal tersebut dilakukan perusahaan sembari menunggu hasil evaluasi post-drill Sumur Layaran-1 yang terletak di lepas pantai Aceh atau sekitar 100 kilometer lepas pantai Sumatra bagian utara. “langsung menyiapkan rencana tahun depan untuk melakukan pengeboran Sumur Layaran-2 dan prospek lainnya, seperti Parang-Parang dan Ramba,” kata Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf saat dihubungi, Rabu (20/12). Untuk sementara waktu, kata Nanang, menara bor atau rig yang digunakan untuk pengeboran Layaran-1 saat ini dipindah ke Andaman II agar bisa digunakan oleh harbor Energy yang sedang mengerjakan Sumur Halwa dan Gayo. Di Sumur Layaran-1, Mubadala Energy berhasil menemukan kolom gas yang luas dengan ketebalan lebih dari 230 meter di oligocene sandstone reservoir. Akuisisi data lengkap, termasuk wireline, coring, sampling, dan production test (DST) telah dilakukan. CEO Mubadala Energy Mansoor Mohammed Al Hamed mengatakan bahwa temuan potensi gas di Sumur Layaran-1 bakal membawa peluang komersial yang signifikan bagi perusahaan di tengah momentum transisi energi saat ini. “Hal ini bukan hanya merupakan perkembangan signifikan bagi Mubadala Energy, tetapi juga tonggak sejarah besar bagi ketahanan energi Indonesia,” katanya.
Selain itu, penemuan baru yang terkonfirmasi itu juga merupakan keberhasilan kedua berturut-turut Mubadala Energi di Lapangan Andaman, setelah hasil menggembirakan di Timpan-1 yang ada di Andaman II. Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku masih menantikan studi pascapengeboran (post-drilling) Sumur Layaran-1 Blok South Andaman yang dilaporkan berhasil mengidentifikasi potensi gas mencapai 6 TCF. Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Noor Arifin Muhammad menilai positif temuan potensi gas di Blok South Andaman yang dikerjakan oleh Mubadala Energy. Sementara itu, Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto berpendapat bahwa pemerintah mesti mempermudah dan memfasilitasi upaya eksplorasi lanjutan agar Mubadala Energy bisa membuktikan cadangan gas dari Blok South Andaman. Pri beralasan, potensi gas yang belakangan diumumkan oleh perusahaan masih harus melewati rangkaian kajian dan pengeboran sumur lanjutan untuk membuktikannya dan menghitung keekonomiannya. STJ Budi Santoso, Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia, mengatakan bahwa temuan potensi gas di Sumur Layaran-1 membawa harapan baru untuk eksplorasi dan pengembangan gas di Tanah Air. “Sumur Timpan-1 dan Sumur Layaran-1 telah menjadi play-opener untuk play oligocene sandstone di daerah tersebut, terutama setelah Arun mengalami decline cukup besar, dan menjadi projek regasifikasi,” katanya. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan bahwa Mubadala Energy ingin mencoba melanjutkan eksplorasi Blok Andaman III yang dinilai tidak memuaskan oleh Repsol. “Mubadala Energy mau mencoba, karena memiliki konsep sendiri , kan sudah ditajak oleh Repsol, dan hasilnya tidak bagus, tapi menurut mereka konsepnya berbeda,” katanya beberapa waktu lalu. Repsol Andaman B.V sendiri mengembalikan kontrak pengelolaan Blok Andaman III kepada negara setelah tidak memperpanjang tambahan waktu eksplorasi yang berakhir pada Juni 2023 lalu. Selepas mundur dari Blok Andaman III, Repsol mengaku bakal berfokus untuk pengembangan lebih lanjut portofolio lain mereka di Blok Sakakemang, Banyuasin, Sumatra Selatan.
Celah Masalah Pembatasan Elpiji
Alarm Bencana Pangan di NTT
Tingkat konsumsi beras masyarakat NTT tahun 2022 mencapai
117,189 kg per kapita per tahun, melampaui rata-rata nasional. Tingginya
kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi produksi beras di NTT. Upaya swasembada
melalui program lumbung pangan pun belum mampu mengurangi ketergantungan. Data
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di NTT menyebutkan, produksi beras di
daerah itu 430.948,5 ton pada tahun 2022, sedang kebutuhannya 642.367,53 ton.
Dari tahun ke tahun, selalu dibutuhkan pasokan dari luar untuk menambal
kekurangan tersebut. Ketika daerah pemasok mengalami gagal panen atau pengirimannya
terlambat akibat cuaca buruk, masyarakat NTT kelabakan. Seperti awal tahun
2023, NTT mengalami krisis beras akibat kurangnya pasokan dari luar. Krisis
beras menjadi salah satu peristiwa menonjol di NTT sepanjang tahun ini. Akibat
kelangkaan itu, harga beras kualitas medium yang biasa Rp 13.000 per kg melonjak
hingga Rp 18.000 per kg. Warga panik. Banyak rumah tangga, terutama kalangan
menengah ke bawah, mengurangi jatah makan beras dari semula tiga kali sehari menjadi
dua hingga satu kali.
Kenaikan harga beras terjadi ketika daya beli masyarakat NTT
belum pulih. Pandemi Covid-19, badai Seroja, dan serangan virus demam babi Afrika
memukul ekonomi masyarakat NTT. Krisis beras yang datang dengan mudah
menumbangkan ketahanan mereka. Lewat Perum Bulog, operasi pasar digelar di
sejumlah tempat. Dengan harga jual Rp 9.000 per kg atau separuh harga tertinggi
di masyarakat, langkah ini sangat membantu. Namun, jatah pembeliannya tergolong
sedikit, yakni 5 kg per keluarga. Di Kota Kupang, antrean memperebutkan jatah
beras murah berlangsung di sejumlah titik. Di bawah terik matahari, mereka
menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan kupon pembelian. Bahkan, ada yang
sampai pingsan sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Krisis teratasi setelah
kiriman beras bantuan dari pemerintah pusat tiba dan beras yang dipasok
pedagang mulai masuk. ”Sebagian besar beras yang berada di pasar NTT berasal
dari Jatim dan Sulsel,” ucap Melky Bano (56), pedagang beras di Kota Kupang, Senin
(11/12).
Padahal praktik pertanian lahan kering terbukti membuat
masyarakat mandiri secara pangan. Pada Agustus 2023, Kompas menemukan
keberhasilan praktik itu ketika datang ke komunitas masyarakat adat suku Boti
di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka nyaris tidak kekurangan makanan. Sepanjang
tahun, mereka mengonsumsi padi dari ladang tadah hujan, jagung, umbi-umbian,
kacang-kacangan, dan berbagai jenis pangan lokal. Berbagai tanaman pangan itu ditanam
secara tumpang sari di dalam lahan tadah hujan. Raja Boti, Usif Nama Benu, menyebutkan,
makanan mereka tersedia hingga musim panen berikutnya. Ketika banyak daerah di
NTT mengalami rawan pangan, masyarakat suku Boti masih berkecukupan. Sepanjang sejarah
komunitas itu ada, belum pernah terjadi kelaparan. Usif juga secara tegas
menolak bantuan beras pemerintah seperti dalam program beras miskin atau
raskin, agar bantuan itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan, ujarnya
dalam bahasa daerah Dawan. (Yoga)
IKHTIAR MERANGSANG SELERA PANGAN LOKAL NTT
Martha Seran (50) menuang adonan tepung putak secara merata ke
atas tembikar yang sedang dipanggang di atas tungku dengan bahan bakar kayu. Adonan
itu seukuran telapak tangan. Dalam tiga menit, kue putak sudah bisa disantap. Membuat
kue putak hampir sama seperti membuat kue dadar gulung. Di bagian tengah, putak
bisa ditaburi gula pasir atau kacang hijau, tergantung selera pembeli. Harganya,
4 potong Rp 5.000. Di sudut Pasar Motamasin, Betun, Kabupaten Malaka, NTT, pada
Sabtu (9/12) itu, sepuluh perempuan paruh baya mengolah kue putak. Mereka
dikerubuti pembeli yang sebagian makan di tempat. Rupanya kue putak disukai banyak
kalangan, termasuk milenial, generasi Z, hingga anak SDr. ”Apalagi makan masih
panas-panas. Enak sekali,” ujar Stefan Bere (16), siswa salah satu SMA di
Betun. Tepung putak diambil dari batang pohon gewang, sejenis pohon sagu yang
banyak tumbuh di Kepulauan Maluku dan Papua. Di NTT, putak merupakan salah satu
makanan lokal yang perlahan mulai ditinggalkan. Sangat jarang putak ditemukan di
meja makan. Di banyak tempat, putak dijadikan makanan untuk ternak babi atau
sapi.
Pengolahan kue putak di sudut Pasar Motamasin yang digelar
sehari dalam seminggu itu mengingatkan kembali akan keberagaman pangan lokal di
daerah itu. ”Putak ini yang ada lebih dulu, baru datang beras,” ucap Martha.
Serbuan beras secara besar-besaran ke NTT terjadi di era Orde Baru. Kehadiran
program penanaman padi dengan berbagai varietas menggusur pangan lokal yang
sudah ada sebelumnya. Padi dihadirkan tanpa mem-pertimbangkan kondisi alam dan
iklim setempat. Padi mem-butuhkan banyak air, sedang NTT minim ketersediaan
sumber air. Sekitar 141 km selatan Betun, tepatnya DesaTaiftob, Kecamatan Mollo
Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, generasi muda diperkenalkan pada
keberagaman pangan lokal setempat. Gerakan konsumsi pangan lokal itu terpusat
di komunitas Lakoat Kujawas yang dipimpin Decky Senda (36), anak muda dari desa
itu. Saat didatangi pada Agustus 2023, sedang berlangsung pemberian makanan
tambahan bagi anak-anak. Menunya bubur dengan bahan meliputi sorgum, labu, ubi
jalar, dan ayam kampung. Semua bahan diambil dari lingkungan sekitar.
Jauh di seberang Pulau Timor, di Desa Pajinian, Pulau Adonara,
Kabupaten Flores Timur, Maria Loreta mengembangkan tanaman sorgum selama lebih
kurang 10 tahun terakhir. Ia mengoleksi banyak benih lokal tak sebatas sorgum.
Dalam usahanya menghidupkan kembali pangan lokal, perempuan asal suku Dayak itu
bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk gereja Katolik setempat. Di kebun
milik Loreta, pada Agustus 2023, sedang digelar pelatihan bagi anak muda untuk
berwirausaha. Mereka diarahkan membuka usaha kuliner berbasis pangan lokal yang
ada di daerah asal peserta, yakni Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Salah
satu sesi yang dijalani adalah setiap perwakilan dari desa-desa mengolah pangan
lokal, kemudian mempresentasikan kepada peserta lain. Total ada 38 anak muda
yang berasal dari enam desa. Mereka lalu bersantap bersama. Menurut Loreta,
ajakan terhadap generasi muda agar mengonsumsi pangan lokal dilakukan dengan
menyodorkan formula yang dapat merangsang selera mereka. ”Seperti ubi rebus,
tidak semua anak tertarik, tetapi kalau dibikin keripik atau diolah ke bentuk
lain serta tambahan rasa, mungkin banyak yang suka,” ujarnya. (Yoga)
Ketersediaan Bapok Cukup untuk Natal dan Tahun Baru
Nasib Batu Bara di Tengah Transisi Energi
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









