IKHTIAR MERANGSANG SELERA PANGAN LOKAL NTT
Martha Seran (50) menuang adonan tepung putak secara merata ke
atas tembikar yang sedang dipanggang di atas tungku dengan bahan bakar kayu. Adonan
itu seukuran telapak tangan. Dalam tiga menit, kue putak sudah bisa disantap. Membuat
kue putak hampir sama seperti membuat kue dadar gulung. Di bagian tengah, putak
bisa ditaburi gula pasir atau kacang hijau, tergantung selera pembeli. Harganya,
4 potong Rp 5.000. Di sudut Pasar Motamasin, Betun, Kabupaten Malaka, NTT, pada
Sabtu (9/12) itu, sepuluh perempuan paruh baya mengolah kue putak. Mereka
dikerubuti pembeli yang sebagian makan di tempat. Rupanya kue putak disukai banyak
kalangan, termasuk milenial, generasi Z, hingga anak SDr. ”Apalagi makan masih
panas-panas. Enak sekali,” ujar Stefan Bere (16), siswa salah satu SMA di
Betun. Tepung putak diambil dari batang pohon gewang, sejenis pohon sagu yang
banyak tumbuh di Kepulauan Maluku dan Papua. Di NTT, putak merupakan salah satu
makanan lokal yang perlahan mulai ditinggalkan. Sangat jarang putak ditemukan di
meja makan. Di banyak tempat, putak dijadikan makanan untuk ternak babi atau
sapi.
Pengolahan kue putak di sudut Pasar Motamasin yang digelar
sehari dalam seminggu itu mengingatkan kembali akan keberagaman pangan lokal di
daerah itu. ”Putak ini yang ada lebih dulu, baru datang beras,” ucap Martha.
Serbuan beras secara besar-besaran ke NTT terjadi di era Orde Baru. Kehadiran
program penanaman padi dengan berbagai varietas menggusur pangan lokal yang
sudah ada sebelumnya. Padi dihadirkan tanpa mem-pertimbangkan kondisi alam dan
iklim setempat. Padi mem-butuhkan banyak air, sedang NTT minim ketersediaan
sumber air. Sekitar 141 km selatan Betun, tepatnya DesaTaiftob, Kecamatan Mollo
Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, generasi muda diperkenalkan pada
keberagaman pangan lokal setempat. Gerakan konsumsi pangan lokal itu terpusat
di komunitas Lakoat Kujawas yang dipimpin Decky Senda (36), anak muda dari desa
itu. Saat didatangi pada Agustus 2023, sedang berlangsung pemberian makanan
tambahan bagi anak-anak. Menunya bubur dengan bahan meliputi sorgum, labu, ubi
jalar, dan ayam kampung. Semua bahan diambil dari lingkungan sekitar.
Jauh di seberang Pulau Timor, di Desa Pajinian, Pulau Adonara,
Kabupaten Flores Timur, Maria Loreta mengembangkan tanaman sorgum selama lebih
kurang 10 tahun terakhir. Ia mengoleksi banyak benih lokal tak sebatas sorgum.
Dalam usahanya menghidupkan kembali pangan lokal, perempuan asal suku Dayak itu
bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk gereja Katolik setempat. Di kebun
milik Loreta, pada Agustus 2023, sedang digelar pelatihan bagi anak muda untuk
berwirausaha. Mereka diarahkan membuka usaha kuliner berbasis pangan lokal yang
ada di daerah asal peserta, yakni Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Salah
satu sesi yang dijalani adalah setiap perwakilan dari desa-desa mengolah pangan
lokal, kemudian mempresentasikan kepada peserta lain. Total ada 38 anak muda
yang berasal dari enam desa. Mereka lalu bersantap bersama. Menurut Loreta,
ajakan terhadap generasi muda agar mengonsumsi pangan lokal dilakukan dengan
menyodorkan formula yang dapat merangsang selera mereka. ”Seperti ubi rebus,
tidak semua anak tertarik, tetapi kalau dibikin keripik atau diolah ke bentuk
lain serta tambahan rasa, mungkin banyak yang suka,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023