Teknologi Informasi
( 850 )Industri Rokok Sasar Generasi Muda melalui Pemasaran Digital
Laporan terbaru Vital Strategies menemukan, industri rokok berusaha melawan kemerosotan tingkat konsumsi rokok secara global dengan berinvestasi dalam berbagai perangkat pemasaran digital tercanggih, seperti metaverse, siniar, dan karya seni nonfungible token atau NFT. Berbagai media baru tersebut sejauh ini belum teregulasi dan didominasi oleh audiens muda. Laporan Vital Strategies itu merupakan bagian dari inisiatif sistem pemantauan pemasaran rokok di media digital Tobacco Enforcement and Reporting Movement (TERM). Laporan tersebut memaparkan bukti bagaimana perusahaan rokok mengeksploitasi berbagai platform digital. Bukti yang dilaporkan ini berdasarkan tinjauan dari media social dan situs digital lain di India, Indonesia, dan Meksiko.
”Konsumsi rokok secara global terus merosot dan industri rokok berusaha mati-matian untuk menjaring konsumen generasi berikutnya demi mempertahankan keuntungan mereka seiring dengan menurunnya jumlah perokok,” sebut Nandita Murukutla, Vice President Global Policy and Research Vital Strategies, dalam keterangan tertulis, Senin (27/11). Dalam laporannya, Vital Strategies memaparkan bagaimana industri rokok menempuh segala cara untuk mendapatkan konsumen baru. Mereka memanfaatkan anggaran pemasaran yang sangat besar untuk memasang iklan di seluruh penjuru internet, yang regulasinya masih sangat lemah. ”Termasuk yang sangat meresahkan adalah menyasar ruang-ruang yang justru adalah sarana media yang ramai digunakan oleh anak muda,” kata Murukutla. Contohnya, seorang pemengaruh Indonesia dengan 42.000 lebih pengikut memajang produk rokok elektronik. Taktik pemasaran ini dinilai efektif karena dapat diakses di mana saja, interaktif, dan sering kali disesuaikan dengan selera personal, terutama anak-anak muda. Saat ini, terdapat 5,2 miliar pengguna internet di seluruh dunia. (Yoga)Potensi Bisnis Pusat Data Indonesia US$ 47 Miliar
Potensi Bisnis Pusat Data Indonesia US$ 47 Miliar
Standardisasi Produk Impor Perlu Diperkuat
Pemerintah perlu memperkuat pengawasan pemberlakuan
ketentuan standardisasi produk impor yang akan dijual di dalam negeri, menyusul
penetapan harga minimum 100 USD barang impor yang boleh diperdagangkan di
platform e-dagang. Dalam jangka panjang, pemerintah juga perlu memiliki peta jalan
pengembangan industri dalam negeri agar
produk lokal bisa bersaing dengan produk impor. Menurut Dewan Pembina Asosiasi
E-Commerce Indonesia (idEA) Daniel Tumiwa, Jumat (24/11) di Jakarta, kebijakan
harga minimum 100 USD barang impor yang boleh diperdagangkan di platform
e-dagang sebenarnya bertujuan melindungi konsumen. Lantaran tujuannya positif,
pemerintah semestinya menguatkan pemberlakuan ketentuan standardisasi produk,
seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan ketentuan yang dikeluarkan Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, lanjut dia, pemerintah sebaiknya
mulai menyusun peta jalan memajukan industri dalam negeri untuk mengembangkan
produk-produk impor yang laku keras diperjualbelikan di platform e-dagang.
Pengembangan itu mulai dari proses manufaktur, desain produk,
hingga pelibatan UMKM atau dengan industri kecil menengah (IKM). ”Para
pengelola platform e-dagang, seperti lokapasar, biasanya memiliki data produk apa
saja yang paling banyak laku dibeli konsumen. Pemerintah semestinya bisa menggandeng
mereka untuk menyusun peta jalan tersebut,” ujar Daniel. Hal senada disampaikan
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose
Rizal Damuri. Menurut dia, pemerintah sebaiknya sibuk meningkatkan kapasitas
industri dalam negeri, seperti memfasilitasi produk-produk yang diproduksi
industri besar ataupun UMKM/IKM bisa mendapatkan sertifikasi nasional dan
internasional. Ia meyakini bahwa belum banyak perusahaan dalam negeri mengantongi
sertifikasi produk bertaraf internasional. (Yoga)
Incar Pasar RI, Tiktok Ingin Investasi di Tokopedia
Tiktok, aplikasi media sosial yang tengah berekspansi ke
bisnis e-dagang, tengah menjajaki investasi ke Tokopedia melalui GoTo Group. Langkah
korporasi milik raksasa teknologi asal China, ByteDance Ltd, ini antara lain untuk
mengembangkan bisnis e-dagang di pasar Indonesia yang diperkirakan menguasai 40
% pasar e-dagang Asia Pasifik dalam beberapa tahun mendatang. Menteri Koperasi
dan UKM, Teten Masduki, seusai konferensi pers Cerita Nusantara, Kamis (23/11)
di Jakarta, menyatakan, Tiktok Shop, yang tutup pada 4 Oktober 2023, berpotensi
akan kembali buka di Indonesia, baik buka sendiri maupun kerja sama investasi.
Sejauh ini, menurut Teten, Tiktok sudah menjajaki investasi di tiga perusahaan.
Ketiganya meliputi Tokopedia, Bukalapak, dan CT Corp. Untuk detailnya, dia
mengaku belum tahu.
Bloomberg pada Rabu (22/11) mengabarkan Tiktok sedang dalam
pembicaraan untuk berinvestasi ke salah satu unit GoTo Group di Indonesia.
Salah satu poin pembicaraan adalah bahwa Tiktok ingin mencoba memulai kembali
toko daringnya di Indonesia. Sumber Bloomberg mengatakan, perusahaan Itu sedang
mengerjakan potensi berinvestasi pada unit e-dagang GoTo, yaitu Tokopedia, yang
dapat di- selesaikan dalam beberapa minggu mendatang. Daripada melakukan
investasi langsung, kesepakatan kedua perusahaan dapat berbentuk usaha patungan.
Diskusi juga membahas langkah bersama Membangun platform e-dagang baru. Rencana
ini diduga dirancang untuk mengatasi hambatan peraturan dan memungkinkan Tiktok
menghidupkan kembali layanan belanja daring di Indonesia, pasar e-dagang
terbesar di Asia Tenggara. (Yoga)
Dukung Penyandang Disabiliatas Berwirausaha, Telkomsel Berkolaborasi dengan Productive
Dukung Penyandang Disabiliatas Berwirausaha, Telkomsel Berkolaborasi dengan Productive
AI di E-COMMERCE : Blibli Hemat Biaya Hingga 11%
Perusahaan e-commerce PT Global Digital Niaga Tbk. mampu menghemat biaya hingga 11% setelah memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence dalam sistem bisnisnya. PT Global Digital Niaga Tbk. (Blibli) melalui anak usahanya PT Global Distribusi Pusaka telah memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengoptimalkan pengiriman barang dari gudang kepada konsumen. VP of Return Management Blibli Azizah Purwitasari mengatakan bahwa kecerdasan buatan sudah digunakan untuk memberikan rekomendasi jenis kemasan pengiriman yang paling tepat kepada konsumen secara terkini. “Lalu, kita beri tahu kemasannya. Misalnya, harus menggunakan bubble wrap, string wrap, dan kita kasih rekomendasi juga kira-kira boks yang dipakai,” ujarnya di Gudang Blibli Bekasi, Kamis (17/11). Sejauh ini, Azizah mengeklaim kehadiran AI juga mengefisienkan waktu pengemasan hingga 27%—30%. Hal yang utama adalah banyaknya jenis barang yang membutuhkan jenis pengemasan yang berbeda-beda, sehingga seringkali pengemas menjadi bingung untuk menentukan boks atau teknik pengemasan tertentu. Akan tetapi, Azizah menyatakan AI tetap bisa melakukan kesalahan. Menurutnya, kesalahan itu seringkali disebabkan oleh sistem data yang tidak sesuai dengan kondisi barang. Azizah memberi contoh ada barang yang sebenarnya berukuran 12 cm, tetapi tertulis 10 cm. Berdasarkan data dari Blibli, persentase rekomendasi AI yang diikuti oleh karyawan adalah 86%. Oleh karena itu, Blibli akan terus berusaha hingga persentase tersebut mencapai angka 100%.
Pemberantasan Penipuan Online Terus Diintensifkan
Operator Telekomunikasi Seluler Vs Raksasa Bisnis Digital
Keluhan akan penurunan pendapatan operator telekomunikasi
mengemuka. Wakil Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh
Indonesia Merza Fachys menyatakan, rata-rata peningkatan pendapatan industri
operator telekomunikasi seluler per tahun selama periode 2013-2022 adalah 5,69
%, jauh lebih kecil dibandingkan dengan tren peningkatan biaya hak penggunaan
frekuensi yang mencapai 12,1 % sehingga membebani keuangan operator. Sementara
pertumbuhan lalu lintas konsumsi data seluler sebesar 80,7 % pada periode
2013-2022 tidak berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan
operator. Ini karena harga lalu lintas data per gigabit telah mengalami
penurunan signifikan sebesar minus 32 %. Akibatnya, rerata belanja layanan
seluler saat ini masih sangat rendah, yaitu di kisaran Rp 38.000 per orang per
bulan.
”Operator telekomunikasi seluler jika tidak mau mati harus
mendigitalkan bisnis, jangan hanya berjualan
layanan infrastruktur telekomunikasi. Kalau semua operator seluler
beralih berbisnis digital, bisnis infrastruktur ditinggalkan, maka ini yang
bahaya,” ujar Merza di Jakarta, Senin (13/11). Menurut Staf Khusus Menteri
Komunikasi dan Informatika Sarwoto Atmosutarno, industri telekomunikasi seluler
berevolusi menghadapi pemain bisnis digital atau over-the-top (OTT). OTT yang
dia maksud adalah OTT raksasa dari luar negeri yang memiliki produk mirip
dengan layanan telekomunikasi seluler. Dan, inilah yang turut mendisrupsi
bisnis operator telekomunikasi seluler. Pendapatan layanan voice (telepon)
terus turun hingga kurang dari 50 % total bisnis. Adapun pendapatan operator
telekomunikasi seluler dari berjualan data seluler tidak sebanding dengan
kenaikan konsumsi data seluler. (Yoga)
Pilihan Editor
-
John Riady: Jangan Khawatir Bubble Start-up
06 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021 -
Perusahaan Rokok Besar Menikmati Insentif Cukai
04 Sep 2021







