Properti
( 407 )Pencarian Info secara Daring Terus Tumbuh
Pencarian info properti, khususnya rumah tinggal, melalui kanal daring terus tumbuh. Faktor kemudahan mengakses internet jadi pertimbangan konsumen. Menurut Vice President of Corporate Sales Lamudi Michael Kauw, Rabu (8/6) fenomena itu menjangkiti konsumen lintas generasi. Pertumbuhan tak hanya di kalangan warga usia 25-34 tahun, tetapi juga warga umur 45-54 tahun. (Yoga)
Tampak di Pendataan, Buram di Lapangan
Tak semata mengungkapkan kelemahan tata kelola dan pengamanan aset, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pun mengkritik hasil pendataan aset BLBI yang dikumpulkan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DKJN) Kementerian Keuangan. Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Aset Properti dan Aset BLBI 2020 dan Semester I 2021, skema pengumpulan dan verifikasi aset properti tersebut belum menjamin kelengkapan data. "Pelaksanaan kegiatan inventarisasi berisiko tidak efektif dan hasilnya belum dapat digunakan untuk perbaikan penatausahaan aset properti," demikian isi catatan BPK dalam hasil audit yang dikukuhkan pada Januari 2022. Alih-alih terverifikasi secara lengkap, BPK mendapati beragam masalah aset BLBI, seperti 211 unit aset yang keberadaannya tidak bisa diidentifikasi, 58 unit aset yang terdata oleh kantor wilayah DJKN dan masuk daftar nominatif tapi tidak ada dalam neraca, serta 64 aset yang fisiknya dikelola Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) tapi tidak tercantum dalam kertas kerja inventarisasi. (Yetede)
Emiten Sektor Properti Masih Menentang
Tampaknya, harga saham sektor properti belum bisa pulih tahun ini. Fitch Ratings dalam laporan yang dirilis kemarin menyebut, arus kas operasi pengembang perumahan akan turun ke level moderat tahun ini.
Ini disebabkan kenaikan biaya, perlambatan penjualan, serta kebutuhan dana pengembang untuk ekspansi lahan. Di sisi lain, ada tren kenaikan bunga, yang berpotensi menekan permintaan properti. Ini karena sekitar 50% penjualan properti menggunakan kredit bank. Fitch memperkirakan, margin EBITDA pengembang perumahan berpotensi turun sekitar 100-200 basis poin pada tahun ini. Di sisi lain, Fitch melihat cukup banyak perusahaan properti yang memiliki buffer untuk melindungi margin.
PASAR PROPERTI : Jabodetabek Tetap Menarik
Pasar properti di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diproyeksi tetap bisa bertumbuh, khususnya dari segi harga meskipun pemerintah bakal memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, mengatakan kesimpulan itu berdasarkan Indonesia Property Survey pada April 2022 yang dilakukan Knight Frank Indonesia. Dalam survei itu, 73% responden mengatakan bahwa pindahnya Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur tidak akan berdampak banyak terhadap pertumbuhan pasar properti, khususnya dari segi harga. “Kawasan Jabodetabek , khususnya Jakarta, akan tetap menjadi poros untuk beragam kegiatan bisnis dan investasi properti,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (2/6). Indonesia Property Survey juga mencatat beberapa kota lain yang potensial untuk investasi properti 3—5 tahun ke depan. Penajam Paser Utara, sebagai IKN, termasuk salah satu kota yang potensial untuk investasi properti oleh 16% responden.
INFRASTRUKTUR, Kawasan Industri Teknologi Diminati
Pasar industri di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek secara bertahap bergeser ke teknologi tinggi. Senior Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengemukakan, penyerapan kawasan industri di wilayah Jabodetabek saat ini terutama ditopang oleh industri berteknologi tinggi. Perkembangan sektor industri teknologi terus berlangsung, khususnya pusat data, baik dari perusahaan lokal maupun luar negeri. Di samping itu, pertumbuhan industri berbasis e-dagang mendorong kebutuhan penyimpanan barang, serta penghubung distribusi.
Pada triwulan-I (Januari-Maret) 2022, sektor yang paling banyak menyerap lahan industri di Jabodetabek meliputi sektor logistik atau pergudangan sejumlah 43 %, kimia 23 %, makanan 16 %, pusat data 7 %, dan teknologi 5 %. Industri teknologi tinggi, termasuk pusat data, tergolong sebagai sektor yang paling aktif dalam akuisisi lahan. Selain itu, kawasan industri baru diprediksi menyebar ke wilayah barat, timur, dan selatan Jabodetabek. Pemicunya adalah kawasan industri di Jabodetabek yang mulai menghadapi kekurangan lahan. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sanny Iskandar mengungkapkan, kawasan industri yang berorientasi teknologi tinggi semakin diminati. (Yoga)
Recurring Income Emiten Properti Menguat
Dibukanya kembali aktivitas masyarakat dinilai dapat mendorong kinerja emiten properti. Salah satunya dari segmen pendapatan berulang (recurring income). Pada tiga bulan pertama tahun ini, beberapa emiten properti mencatatkan pertumbuhan positif pada segmen recurring income. Contohnya, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) membukukan pendapatan sewa ruang naik 38,26% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 340,11 miliar dan pendapatan hotel melesat 113,08% yoy menjadi Rp 151,5 miliar.
Menjawab Tantangan Pasar Apartemen
Sejumlah lembaga survei properti memprediksi permintaan pasar terhadap apartemen milik atau strata masih butuh waktu untuk pulih. Kondisi ini berbanding terbalik dengan minat rumah tapak yang terus merangkak naik. Apartemen sewa (serviced apartment) juga mengalami penurunan tingkat hunian. Berdasarkan data BI, permintaan apartemen sewa selama triwulan I-2022 masih tertahan. Sejalan dengan hal itu, ada perlambatan pertumbuhan pasokan apartemen sewa secara triwulan. Sinyal penurunan penjualan apartemen berlangsung sejak 2015. Colliers Indonesia mencatat, penjualan melemah hingga pandemi Covid-19. Tingkat okupansi apartemen sewa juga turun, dari 61 % pada triwulan IV-2021 menjadi 58 % pada triwulan I-2022. Pasokan apartemen ikut tergerus. Jika sebelumnya pasokan apartemen tumbuh di kisaran 8.000-17.000 unit per tahun, selama pandemi pasokan merosot di kisaran 2.000-4.000 unit per tahun. Pada 2022, proyek yang selesai dikerjakan hanya sekitar 4.400 unit atau naik sedikit dibandingkan dengan tahun lalu yang sekitar 4.300 unit. Salah satu pemicu lesunya pasar apartemen adalah menurunnya minat investor. Pembeli apartemen selama ini didominasi investor. Sementara investor saat ini memiliki banyak pertimbangan, terutama dari sisi bunga bank dan harapan margin keuntungan. Investasi apartemen saat ini dinilai belum memberikan imbal hasil yang menarik.
Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (Arebi) mencatat, tekanan pasar apartemen berlangsung baik untuk pasar primer dan sekunder. Adapun pasar apartemen yang ada saat ini lebih memilih bangunan siap huni. Hal itu, antara lain, turut dipicu banyaknya kasus pembangunan apartemen yang wanprestasi ataupun gagal terbangun sehingga merugikan konsumen. Padahal, peluncuran proyek baru apartemen umumnya berbarengan dengan tahap pra-penjualan alias penjualan sebelum proyek mulai dibangun. Di tengah tekanan pasar, pemerintah menggulirkan sejumlah insentif fiskal, seperti PPN Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP) yang diperpanjang hingga September 2022, pelonggaran rasio pinjaman terhadap nilai (LTV/FTV) rumah yang dibeli, serta suku bunga acuan yang rendah. Namun, tantangan muncul terkait potensi kenaikan suku bunga kredit perbankan, pemberlakuan kenaikan PPN jadi 11 %, dan kenaikan inflasi yang semakin menekan konsumen. (Yoga)
Dampak Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed Minim
Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed sebesar 50 basis poin pada Rabu (4/5) diyakini tidak memengaruhi kinerja industri properti di Tanah Air. Jika BI merespon langkah The Fed itu dengan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate, penyesuaian kredit kepemilikan rumah oleh bank juga tidak akan langsung diterapkan. ”BI mungkin akan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate, tetapi akan penuh kehati-hatian. Jika itu jadi dilakukan pun, pemerintah akan berhati-hati ambil kebijakan selanjutnya. Sebab, kondisi Indonesia, termasuk industri properti, sedang menuju pemulihan,” ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida (8/5). Menurut dia, 65 % pangsa pasar properti rumah adalah warga kelompok generasi milenial. Sebanyak 91 % pembelian rumah tapak memakai KPR. Harga rumah tapak yang mereka minati biasanya berkisar antara Rp 500 juta dan Rp 1 miliar. Pembayaran cicilan KPR ini biasanya mengandalkan sepertiga gaji mereka. Apabila suku bunga acuan BI naik, lalu bunga KPR ikut mengalami penyesuaian, hal itu akan memengaruhi nasabah
Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI Gede Widiade menambahkan, pemulihan bisnis dari dampak pandemi Covid-19 belum sepenuhnya terjadi. Di sisi lain, harga produksi properti sudah naik. Ini membuat harga jual ke masyarakatikut meningkat. Sementara kemampuan daya beli masyarakattak sama. Apalagi kemampuan pulih dari efek pandemi pun beragam. Rumah tapak yang paling laku berkisarRp 400juta hing- ga Rp 1 miliar. Tipe rumahnya biasanya memiliki luas bangunan mulai dari 36 meter persegi dan luas tanah mulai 60 meter persegi. Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatakan, pihaknya memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan tiga hingga empat kali lagi sampai akhir tahun karena melihat tren inflasi yang persisten. April lalu BI masih mempertahankan suku bunga acuanBI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50 %. Tingkat suku bunga ini bertahan sejak Februari 2021. (Yoga)
Permintaan Sewa Kawasan Industri Naik
Penyewaan lahan di kawasan industri semakin bertumbuh dalam kurun enam bulan terakhir. Permintaan sewa lahan kawasan industri initerutama berasal dari sektor logistik. Colliers Indonesia merilis, berkembangnya penyewaan lahan kawasan industri mulai terlihat sejak triwulan IV (Oktober-Desember) 2021. Permintaan lahan sewa umumnya untuk ekspansi dan pabrikasi. Industri yang berkaitan dengan logistik dan distribusi barang cenderung cukup aktif melakukan transaksi sewa lahan saat ini. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia Sanny Iskandar (5/5) mengemukakan, tren permintaan sewa di kawasan industri memang terus berkembang, tetapi umumnya berupa sewa pabrik atau gudang. Permintaan sewa pabrik atau pergudangan itu dinilai sejalan dengan pertumbuhan bisnis e-dagang di Tanah Air. Ia menilai, ketidakpastian kondisi perekonomian global dan dampak pandemi Covid-19 membuat perusahaan yang masih ragu berinvestasi untuk membangun pabrik cenderung memilih menyewa terlebih dahulu pabrik ataupun pergudangan di kawasan industri. Beberapa perusahaan yang masih menjajaki pembangunan pabrik juga bisa memilih untuk menyewa lahan pabrik terlebih dulu untuk kurun 2-3 tahun. Luas bangunan pabrik yang disewakan rata-rata di kisaran 2.000-5.000 meter persegi. Bisnis penyewaan itu dinilai menarik di era e-dagang karena sebagian barang yang masuk dari luar negeri untuk diperdagangkan memerlukan pergudangan modern dengan sistem otomatisasi. Selain itu, pabrik yang disewakan juga sudah dilengkapi dengan ruang produksi, kantor, dan pergudangan. Bagi pengelola kawasan industri, lanjut Sanny, penyewaan pabrik dan pergudangan itu mendatangkan pendapatan rutin (recurring income).
Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, tren penyewaan lahan industri menjadi lebih aktif dalam enam bulan terakhir. Di Serang, Banten, misalnya, sewa lahan industri dilakukan temporer selama 2-3 tahun sambil membangun pabrik di lahan milik. Beberapa kawasan industri yang sudah mulai minim lahan juga mulai fokus menggarap penyewaan lahan. Dicontohkan, ada dua kawasan industri yang kini mulai fokus pada penyewaan lahan, yakni Cibinong Center Industrial Estate (CCIE) di Bogor dan Kota Bukit Indah di Purwakarta. Ferry menambahkan, CCIE yang sebelumnya menyewakan lahan tidak lebih dari 6 hektar saat ini sudah melebihi 6 hektar. Sebagian besar sewa lahan itu untuk penyimpanan barang dan distribusi. (Yoga)
Arwana Citramulia Raih Penjualan Rp743,6 Miliar
PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) meraih penjualan sebesar Rp743,6 miliar dibanding periode sama tahun lalu Rp 662,38 miliar. Membaiknya permintaan disektor properti yang mendorong kenaikan penjualan keramik diharapkan meningkatkan laba bersih perseroan, yang ditargetkan mencapai Rp612 miliar tahun 2022 atau tumbuh 30% dibanding tahun lalu Rp470 miliar. Direktur Utama PT Citramulia Tandean Rustandy mengatakan, penjualan neto tersebut dikontribusi dari segmen usaha distribusi keramik Rp704,23 miliar, dan dari segmen usaha industri keramik sebesar Rp 39,37 miliar. "Dari usaha wilayah, penjualan di Pulau Jawa mencapai Rp302,31 miliar atau 40,64% dari total penjualan ARNA. Sementara sisanya Rp441,29 miliar atau Rp59,35%, berasal dari penjualan diluar Pulau Jawa," katanya dalam keterbukaan informasi. (Yetede)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









