Menjawab Tantangan Pasar Apartemen
Sejumlah lembaga survei properti memprediksi permintaan pasar terhadap apartemen milik atau strata masih butuh waktu untuk pulih. Kondisi ini berbanding terbalik dengan minat rumah tapak yang terus merangkak naik. Apartemen sewa (serviced apartment) juga mengalami penurunan tingkat hunian. Berdasarkan data BI, permintaan apartemen sewa selama triwulan I-2022 masih tertahan. Sejalan dengan hal itu, ada perlambatan pertumbuhan pasokan apartemen sewa secara triwulan. Sinyal penurunan penjualan apartemen berlangsung sejak 2015. Colliers Indonesia mencatat, penjualan melemah hingga pandemi Covid-19. Tingkat okupansi apartemen sewa juga turun, dari 61 % pada triwulan IV-2021 menjadi 58 % pada triwulan I-2022. Pasokan apartemen ikut tergerus. Jika sebelumnya pasokan apartemen tumbuh di kisaran 8.000-17.000 unit per tahun, selama pandemi pasokan merosot di kisaran 2.000-4.000 unit per tahun. Pada 2022, proyek yang selesai dikerjakan hanya sekitar 4.400 unit atau naik sedikit dibandingkan dengan tahun lalu yang sekitar 4.300 unit. Salah satu pemicu lesunya pasar apartemen adalah menurunnya minat investor. Pembeli apartemen selama ini didominasi investor. Sementara investor saat ini memiliki banyak pertimbangan, terutama dari sisi bunga bank dan harapan margin keuntungan. Investasi apartemen saat ini dinilai belum memberikan imbal hasil yang menarik.
Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (Arebi) mencatat, tekanan pasar apartemen berlangsung baik untuk pasar primer dan sekunder. Adapun pasar apartemen yang ada saat ini lebih memilih bangunan siap huni. Hal itu, antara lain, turut dipicu banyaknya kasus pembangunan apartemen yang wanprestasi ataupun gagal terbangun sehingga merugikan konsumen. Padahal, peluncuran proyek baru apartemen umumnya berbarengan dengan tahap pra-penjualan alias penjualan sebelum proyek mulai dibangun. Di tengah tekanan pasar, pemerintah menggulirkan sejumlah insentif fiskal, seperti PPN Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP) yang diperpanjang hingga September 2022, pelonggaran rasio pinjaman terhadap nilai (LTV/FTV) rumah yang dibeli, serta suku bunga acuan yang rendah. Namun, tantangan muncul terkait potensi kenaikan suku bunga kredit perbankan, pemberlakuan kenaikan PPN jadi 11 %, dan kenaikan inflasi yang semakin menekan konsumen. (Yoga)
Tags :
#PropertiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023