Perusahaan
( 1089 )Merekrut Karyawan dengan Cara Baru
George Smith adalah salah satu yang berhasil menguak catatan tertulis di Mesopotamia. Anak berumur 14 tahun kelahiran 1840 menghabiskan waktu makan siang juga malam di British Museum. Dari minatnya pada timur tengah, dia kemudian bisa membaca dan menerjemahkan tablet berhuruf paku yang dikenal dengan Epic of Gilgamesh. Ia merupakan contoh orang yang tanpa pendidikan memadai berhasil berbuat sesuatu. Fenomena ini menjadi aktual ketika perusahaan frustrasi dengan kapasitas karyawannya sementara pengangguran merajalela di berbagai tempat. Kini perusahaan memilih untuk mengumumkan keterampilan yang dibutuhkan dibandingkan pengalaman dan pendidikan yang dibutuhkan.
SkillsFirst Workforce Initiative muncul sebagai uji coba menangkap fenomena itu. Inisiatif itu dipimpin lembaga nirlaba Burning Glass Institute yang berpusat di Philadelphia, AS, dengan dukungan 500.000 USD dari Walmart. Mereka meluncurkan laman karier yang menguraikan keterampilan yang dibutuhkan untuk beberapa pekerjaan yang paling diminati di pasar. Situs SkillsFirst merinci keterampilan yang dibutuhkan untuk sembilan jabatan, yaitu tenaga penjualan eceran; supervisor lini pertama pekerja penjualan eceran; manajer penjualan; perwakilan layanan pelanggan; manajer layanan pelanggan; analis keuangan; manajer produk; dan pengembang perangkat lunak.
Menurut Burning Glass, peran-peran ini mencakup lebih dari 11 juta pekerja. Menurut laman Forbes, selain Walmart, sejumlah per- usahaan juga bergabung de- ngan lembaga nirlaba dalam inisiatif baru ini. Mereka adalah 10 perusahaan terbesar di AS, termasuk Accenture, Bank of America, Blackstone, Home Depot, Johnson & Johnson, Microsoft, Nordstrom, PepsiCo, Walmart, dan Verizon. Dalam lamannya, SkillsFirst mengatakan, upaya itu dilakukan karena semakin banyak pengusaha yang menggunakan pendekatan berbeda. Alih-alih berfokus pada hal-hal yang bersifat sementara, seperti gelar sarjana, banyak perusahaan yang lebih mengutamakan keterampilan dan menghargai pengalaman kerja. (Yoga)
Panasonic, Mengumukan Rencana PHK Terhadap 10.000 Karyawan Global
BTN Dorong Pemberdayaan Perempuan di Lingkungan Kerja
BTN Dorong Pemberdayaan Perempuan di Lingkungan Kerja
Industri Media Kian Terpuruk
Prospek Cerah tapi Penuh Tantangan untuk Telkom Group
Kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pada kuartal I 2025 menunjukkan pertumbuhan yang moderat, bahkan mengalami penurunan pendapatan sebesar 2,1% year-on-year akibat melemahnya segmen layanan data. Meskipun IndiHome mencatat pertumbuhan pelanggan, kontribusinya belum mampu mengimbangi penurunan tersebut. EBITDA juga turun 6,1% yoy, namun perbaikan terjadi secara kuartalan.
Steven Gunawan, analis dari KB Valbury Sekuritas, menyatakan bahwa pencapaian TLKM masih berada di bawah ekspektasi pasar, dengan laba bersih yang juga menurun, meski margin laba bersih membaik berkat penurunan beban bunga.
Ranjan Sharma, analis J.P. Morgan, menilai awal tahun yang lemah bisa menjadi katalis negatif bagi TLKM sepanjang 2025. Namun, ia tetap optimistis terhadap potensi perbaikan melalui efisiensi biaya dan restrukturisasi IndiHome, terutama dengan dukungan infrastruktur jaringan TLKM yang kuat.
Di sisi lain, Hans Kwee, Co-Founder Pasar Dana, menyoroti bahwa layanan fixed broadband (FBB) seperti IndiHome bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan TLKM, seiring meningkatnya permintaan di sektor tersebut.
Namun, TLKM juga menghadapi tantangan non-operasional, seperti kasus hukum yang melibatkan anak dan cucu usaha, termasuk investasi kontroversial melalui MDI Ventures di TaniHub. Direktur Utama TLKM, Ririek Adriansyah, mengakui adanya masalah substansi dan menegaskan komitmen perusahaan untuk memperbaiki tata kelola ke depan.
Rumor terkait divestasi saham Telkomsel di GOTO juga menambah ketidakpastian. Namun, Oky Prakarsa, VP Investor Relation TLKM, membantah adanya rencana perubahan kepemilikan dalam waktu dekat.
Meskipun kinerja keuangan TLKM pada awal 2025 melemah dan dibayangi berbagai isu hukum serta persaingan di sektor mobile dan fixed broadband, para analis seperti Steven, Ranjan, dan Hans masih melihat potensi positif, terutama dari lini IndiHome. Perlu adanya efisiensi dan restrukturisasi agar TLKM tetap kompetitif di tengah dinamika industri dan tekanan eksternal.
UMKM didorong Naik Kelas oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra
Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) terus berkomitmen mendorong pelaku UMKM naik kelas. Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-45, YDBA telah membina 13.633 UMKM yang menyerap 75.541 tenaga kerja. Salah satunya, para pelaku usaha dibimbing untuk mengubah dari sentra industri tradisional menjadi sentra industri modern. YDBA merupakan salah satu pelaksana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) PT Astra International Tbk yang memberikan pelatihan, pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan kepada UMKM. YDBA menggelar seremoni kolaborasi dengan Kemperin serta Kementerian UMKM di YDBA Gallery, Sunter, Jakut, Jumat (9/5). Dalam acara tersebut, yayasanjuga memberikan penghargaan bagi UMKM binaan Astra.
Ketua Pembina YDBA yang juga Direktur PT Astra International, Gita Tiffany Boer menegaskan, YDBA terus fokus untuk menjalin kolaborasi dalam pemberdayaan UMKM. Untuk itu YDBA menerapkan filosofi untuk memberi bantuan berupa kail, bukan ikan, sehingga bisa mendorong UMKM naik kelas, mandiri, dan memiliki bisnis berkelanjutan. Selama ini, YDBA telah memfasilitasi 1.425 UMKM untuk naik kelas dan 384 UMKM untuk mandiri dari berbagai sektor, antara lain manufaktur, bengkel, kerajinan, dan kuliner. ”Perjalanan 45 tahun adalah perjalanan kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak,” ujar Gita. Menurut Gita, YDBA memiliki misi, visi, dan tujuan yang sejalan dengan pemerintah, yaitu membangun kemandirian UMKM. Berkolaborasi dengan Kementerian UMKM, YDBA juga menyelenggarakan program training of trainers (ToT) bagi para pendamping di lembaga inkubator bisnis. (Yoga)
Antam Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana menambah lini usaha baru di bidang industri barang perhiasan, custom product, dan barang lainnya dari logam mulia, untuk mengoptimalkan peluang dari segmen emas. Dari bisnis baru ini, perseroan menargetkan tambahan omzet penjualan hingga Rp 1 triliun dalam lima tahun ke depan. Menejemen Antam mengungkapkan bahwa penambahan kegiatan usaha komoditas logam mulia ini, akan dapat meningkatkan segmen emas dan pemurnian perseroan. "Selain itu pengembangan kegiatan usaha komoditas tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian kinerja perusahaan dalam jangka panjang," ujar manajemen Antam. Dalam penjelasannya, manajemen Antam menyebut bahwa sejalan dengan rancana jangka panjang perusahaan (RPJJ) tahun 2025-2029, komoditas emas memiliki peluang optimasi penjualan emas dengan verifikasi produk, pasar, dan ekspansi jaringan ritel distribusi.
Terkait hal itu, salah satu tema strategis dalam jangka panjang adalah penguatan fungsi emas, termasuk penetrasi ke lini pasar baru melalui kolaborasi, akuisisi, maupun kegiatan lainnya. "Untuk mendukung pencapaian target penjualan komoditas emas, perseroan melalui unit bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia (UBPPLM) memiliki strategi yang berfokus pada kualitas dan penyediaan produk, pengembangan produk dan keunggulan daya saing, serta pemasaran. Perseroan telah merencanakan berbagai program kerja, diantaranya pengembangan produk berupa produk perhiasan dan costum product termasuk product termasuk produk industri untuk keperluan teknik dan atau laboratorium yang terbuat dari logam mulia," papar manajemen Antam. (Yetede)
Pemegang Polis Jiwasraya Nasibnya Masih Belum Jelas
Mempercepat Realisasi Investasi Padat Karya
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022








