Perusahaan
( 1080 )KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Lonjakan
Harga Global, Perebutan Pasokan, dan Implikasinya bagi Indonesia
Pada
akhir 2025, pasar komoditas global dikejutkan oleh satu fenomena yang jarang
terjadi. Perak melesat seperti roket. Logam yang selama ini sering dipandang
“adik” dari emas itu tiba-tiba menjadi primadona baru. Harganya menembus rekor
tertinggi sepanjang sejarah, menyentuh 79 dolar AS per troy ons pada akhir
Desember—melonjak tajam dari 56 dolar di awal bulan yakni 29 dolar di awal
tahun yang sama. Dalam rupiah, per gramnya mencapai lebih dari Rp44 ribu, naik
sekitar 44 persen hanya dalam hitungan minggu. Angka-angka ini bukan sekadar
statistik. Ia mencerminkan sebuah pergeseran besar. Perak tak lagi sekadar
logam mulia, tetapi telah berubah menjadi komoditas strategis dunia.
Dari
Safe Haven ke Jantung Industri Modern
Secara
historis, perak memang punya dua wajah. Di satu sisi, ia berperan sebagai aset
lindung nilai, alternatif emas ketika inflasi mengancam atau mata uang melemah.
Namun di sisi lain, perak justru sangat “industri”.
Ia
menjadi bahan penting dalam panel surya, kendaraan listrik, perangkat
elektronik presisi, hingga pusat data. Dalam setiap sel surya fotovoltaik, ada
lapisan tipis perak yang menghantarkan listrik. Dalam kendaraan listrik, perak
membantu sistem kelistrikan bekerja efisien. Di era transisi energi bersih dan
ledakan digitalisasi, kebutuhan ini meningkat eksponensial.
Ketika
dunia berlomba membangun pembangkit surya dan mobil listrik, permintaan perak
otomatis melonjak. Artinya, harga perak kini tidak lagi hanya dipengaruhi
sentimen investor, tetapi juga oleh denyut nadi industri global.
Mengapa
Harganya Meledak?
Beberapa
faktor bertemu dalam waktu bersamaan, menciptakan badai sempurna.
Ekspektasi
pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat mendorong investor
berburu aset keras. Dalam sejarah pasar keuangan, ketika bunga turun, logam
mulia cenderung naik daun karena dianggap pelindung nilai terhadap inflasi dan
pelemahan dolar.
Di
saat yang sama, kebijakan China menambah ketegangan. Negara tersebut menaikkan
status perak menjadi material strategis dan membatasi ekspor sejak awal tahun
2026. Langkah ini membuat pasar khawatir pasokan global mengetat, memicu aksi
“berebut fisik” di antara pembeli besar dari Asia.
Belum
lagi ketimpangan struktural antara pasokan dan permintaan. Produksi tambang
tidak bertambah secepat lonjakan kebutuhan industri. Sementara itu, ketegangan
geopolitik membuat investor semakin mencari aset aman.
Hasilnya,
harga melesat cepat, bahkan sejumlah analis memprediksi perak masih berpotensi
naik lebih tinggi pada 2026.
Indonesia
di Tengah Gelombang Perak
Bagi
Indonesia, kabar ini membawa ironi sekaligus peluang. Di atas kertas, Indonesia
bukan pemain kecil. Cadangan bijih peraknya besar dan tersebar di Papua, Nusa
Tenggara, hingga Sumatera. Produksi perak banyak muncul sebagai produk
sampingan tambang emas dan tembaga, seperti yang dikelola PT Freeport
Indonesia di Grasberg dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Batu
Hijau.
Namun
kinerja ekspor perak selama ini relatif modest. Menurut catatan Kementerian
Perdagangan, ekspor perak Indonesia di kode HS 47114 (Articles of goldsmith
silversmith wares and parts) pada Januari-Desember 2024 hanya mencapai US$10,35
juta.
Meskipun begitu, ekspor perak terpantau mengalami kebangkitan pada Januari-Juni
2025. Nilai ekspor di kategori yang sama melonjak menjadi US$2,467 juta, atau
naik 3.958% yoy. Pendorong utama kebangkitan ini adalah permintaan dari
Thailand, yang menyerap hampir US$2 juta, naik 804,7% dibandingkan periode yang
sama tahun sebelumnya. [1]
Lonjakan harga global bisa menjadi momentum. Jika dikelola tepat, perak dapat
menjadi komoditas strategis baru, melengkapi dominasi nikel dan tembaga dalam
peta hilirisasi mineral nasional.
Efek
Domino ke Manufaktur dan Pajak
Namun,
kenaikan harga tidak selalu berarti kabar baik bagi semua pihak.
Bagi
industri manufaktur, biaya bahan baku meningkat. Produsen panel surya,
elektronik, atau kerajinan perak harus menyesuaikan harga. Di sisi lain, nilai
transaksi membesar, margin nominal meningkat, dan perputaran uang di rantai
pasok ikut melebar.
Di
sinilah aspek fiskal mulai memainkan peran. Secara teoritis, ketika harga jual
naik, dasar pengenaan pajak juga naik. PPN dan pajak penghasilan dari pelaku
usaha berpotensi meningkat. Negara bisa memperoleh tambahan penerimaan.
Namun
demikian, tetap terdapat celah risiko. Fasilitas pembebasan PPN untuk bahan
baku kerajinan perak, misalnya, berpotensi disalahgunakan melalui manipulasi
klasifikasi barang. Selain itu, transaksi fisik perak mudah bergeser ke sektor
informal yang sulit ditelusuri.
Artinya,
lonjakan harga menghadirkan dua sisi mata uang, peluang penerimaan, sekaligus
ancaman penghindaran pajak.
Logam
yang Kini Sarat Politik dan Ekonomi
Perak
hari ini tak lagi sekadar perhiasan atau logam pelengkap. Ia telah menjelma
simbol dari era baru—era energi terbarukan, digitalisasi masif, dan persaingan
geopolitik sumber daya.
Kenaikan
harganya mencerminkan cerita yang lebih besar tentang bagaimana dunia berubah.
Tentang bagaimana logam yang dulu dipandang biasa kini menjadi rebutan negara
dan korporasi. Tentang bagaimana satu komoditas kecil bisa menggerakkan pasar
global, memengaruhi industri, bahkan berdampak pada penerimaan fiskal sebuah
negara.
Bagi
Indonesia, pertanyaannya sederhana namun strategis: apakah kita hanya akan
menjadi penonton kenaikan harga, atau justru memanfaatkan momentum untuk
memperkuat hilirisasi, memperluas ekspor bernilai tambah, dan mengamankan
potensi pajaknya?
Karena
di tengah kilau perak yang memantulkan cahaya pasar dunia, tersembunyi satu
kenyataan: logam ini kini bukan lagi sekadar komoditas. Ia telah menjadi bagian
dari peta kekuatan ekonomi masa depan.
Memahami Esensi Pajak bagi Karyawan Lebih dari Sekadar Potongan Gaji
Bagi sebagian besar karyawan, pajak
sering kali hanya dianggap sebagai angka pengurang yang muncul secara otomatis
di slip gaji bulanan. Padahal, memahami mekanisme Pajak Penghasilan (PPh) Pasal
21 adalah bagian krusial dari literasi finansial yang harus dimiliki oleh
setiap pekerja. Dengan memahami bagaimana penghasilan dipotong, seorang
karyawan tidak hanya sekadar menerima gaji bersih, tetapi juga mampu memastikan
bahwa hak dan kewajiban perpajakannya telah dikelola dengan tepat oleh
perusahaan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah sistem perpajakan yang
kini semakin transparan dan terintegrasi secara digital.
Langkah awal yang perlu diperhatikan
adalah memastikan keakuratan data terkait Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Status diri, seperti apakah stasus Anda masih lajang, sudah menikah, atau
memiliki tanggungan anak, sangat menentukan besaran batas penghasilan yang
tidak dikenakan pajak. Seringkali, perbedaan status ini luput dari pengawasan,
padahal dampaknya cukup signifikan terhadap jumlah gaji bersih yang diterima
setiap bulan. Oleh karena itu, komunikasi yang baik dengan bagian personalia
atau HRD mengenai pembaruan status keluarga menjadi kunci utama agar potongan
pajak di slip gaji tetap akurat dan tidak berlebih.
Selain rutin mengecek potongan bulanan,
seorang karyawan juga harus memahami pentingnya dokumen Formulir 1721-A1 yang
diberikan perusahaan setiap awal tahun. Dokumen ini bukan sekadar lembaran formalitas,
melainkan bukti sah bahwa pajak Anda telah disetorkan ke kas negara. Formulir
ini merupakan instrumen utama yang dibutuhkan saat melaporkan SPT Tahunan.
Tanpa dokumentasi yang rapi, karyawan sering kali merasa kesulitan saat
menghadapi masa pelaporan pajak, terutama jika dalam setahun tersebut mereka
sempat berpindah instansi atau memiliki penghasilan tambahan di luar pekerjaan
utama.
Pada akhirnya, kepatuhan pajak bagi
karyawan bukan hanya tentang memenuhi kewajiban kepada negara, tetapi juga
tentang membangun kredibilitas finansial pribadi. Dengan melaporkan SPT Tahunan
secara jujur dan mencantumkan aset serta kewajiban secara transparan, seorang
karyawan sebenarnya sedang melindungi dirinya secara administratif. Rekam jejak
perpajakan yang bersih akan sangat memudahkan di masa depan, terutama saat
berurusan dengan layanan perbankan atau investasi besar lainnya. Menjadi
karyawan yang melek pajak berarti memiliki kendali penuh atas kesehatan
finansial dan ketenangan bekerja dalam jangka panjang.
Mendaur Ulang Sampah Plastik sisa Gerai Kopi
Deru mesin pencacah terdengar nyaring di bengkel kerja Daur Baur Micro Factory, awal Juni 2025. Dikha mengambil gelas-gelas plastik bekas dan memasukkan satu persatu ke dalam mesin pencacah. Di ruangan sebelah, Laisa sedang menyiapkan cetakan di atas meja tatakan. Dengan sekop, cacahan plastik berwarna putih dari kontainer kecil dituangkan ke atas pelat dan diratakan dengan tangan. Setelah cacahan plastik merata di atas pelat, potongan kertas koran bekas lalu ditambahkan di atasnya. Proses itu diulang hingga beberapa lapis lalu cetakan cacahan plastik dan kertas koran dipindah ke mesin hot press selama 30 menit sampai satu jam, tergantung ketebalan yang diinginkan. Hasil cetakan nantinya diolah kembali dan dibentuk menjadi beragam produk daur ulang. Bengkel kerja Daur Baur Micro Factory berada satu area dengan kafe Kopi Nakoyang di Baranangsiang, Bogor Timur, Jabar. Daur ulang gelas plastik merupakan inisiatif Kopi Nako, di bawah naungan PT Jendela Kuliner Bersama dan manajemen Kanma Group.
Pengunjung dapat melihat langsung proses daur ulang dari bahan botol dan gelas plastik bekas, juga aktivitas rumah sangrai biji kopi di sini. Produk furnitur yang diproduksi Daur Baur Micro Factory berupa meja, kursi, meja bar dan coffee tray, yang digunakan di gerai Kopi Nako seluruh Indonesia. Ada juga beragam suvenir dan barang hasil kolaborasi dengan jenama lain, seperti jam tangan, kacamata, aksesori dan ruang ATM bank. Kertas bekas koran Kompas dan pelat bekas cetakan koran Kompas juga digunakan dalam proses daur ulang. Beberapa suvenir ada yang ditambahkan dengan ampas kopi. Sebagian besar material gelas plastik bekas ini dikumpulkan langsung dari gerai-gerai Kopi Nako, yang dikumpulkan saat truk ekspedisi mengantar biji kopi dan bahan lain ke seluruh gerai Kopi Nako. Inovasi daur ulang sampah plastik pada sektor bisnis kuliner yang berjalan konsisten dalam jangka panjang akan berkontribusi pada berkurangnya volume sampah plastik ke TPA) dan mengurangi pencemaran lingkungan. (Yoga)
PT Medco Energi Internasional Akusisi Blok Corridor Milik Repsol
Benahi Masalah Fundamental
60 Tahun, Kompas Merekam Sejarah
Media cetak memainkan peran penting dalam membentuk narasiawal sejarah. Sejak lahirnya 60 tahun lalu, Kompas ikut serta membentuk narasiawal sejarah Indonesia. Saat kelahirannya, 28 Juni 1965, pada halaman utama, Kompas sudah merekam peristiwa utama di dunia dan Tanah Air. Delapan wajah halaman pertama Kompas menampilkan perjalanan tonggak penting sejarah yang direkam, termasuk perjalanan Kompas dari sisi jurnalistik dan aspek visual. Kompas terbit menjelang dibukanya Konfrensi Asia Afrika II di Aljazair. Simboliknya, kita menentang penindasan yang bernama Nekolim bersama kekuatan-kekuatan progresif sedunia dengan poros Afrika Asia. Kesetia kawanan Afrika Asia perlu dipupuk dengan meluaskan saling pengertian melalui karangan tentang Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
Dari sisi jurnalistik, Tajuk Rencana menggariskan, Kompas sebagai sebuah harian terikat oleh sifat jurnalistik yang wajib dipenuhi jika tugasnya hendak berhasil baik. Sesuai dengan kecerdasan rakyat yang terus meningkat, bentuk jurnalistik yang dijanjikan Kompas adalah dialog, yang menggugah pikiran dan menyegarkan perasaan dengan gaya yang mudah dipahami dan enak dibaca. Kompas merekam dokumen penting dalam sejarah Orde Baru, yaitu Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) di halaman 1 pada edisi 14 Maret 1966. Berita utama dihalaman 1 mengutip dua butir isi Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, Sukarno kepada Menteri Panglima Angkatan Darat, Letjen Suharto dengan tambahan harapan kepada rakyat.
Pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto memulai pembangunan berkesinambungan dengan program Rencana Pembangunan Lima Tahun. Berbagai proyek besar dikerjakan, salah satunya, proyek telekomunikasi yang dikenal sebagai proyek Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa. Indonesia tercatat sebagai negara keempat yang memiliki satelit sendiri setelah Rusia, Kanada, dan AS. Gaya investigasi Kompas khas, menitik beratkan pada pengungkapan persoalan, bukan pada personal yang terlibat di persoalan itu. Dalam jurnalisme data, Tim Kompas bekerja mencari fakta baru dengan mengolah dan menganalisis data pendukung. Targetnya, mendapat perspektif baru setelah menemukan fakta di balik data. (Yoga)
Pemerintah Terus Mendorong Pengutan Sektor Industri Padat Karya
Penetrasi Asuransi Swasta Masih Meluas
Duo Investor Raksasa Dibalik RS Hermina
Upaya Banding Google Kandas, Terbukti Monopoli
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023








