;
Tags

Perusahaan

( 1089 )

Motor Pertumbuhan Vale

KT1 17 May 2025 Investor Daily (H)

Tiga proyek raksasa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan bakal beroperasi lebih cepat dari jadwal dan menjadi motor bagi pertumbuhan kinerja perseroan  ke depan. Laba Vale bahkan ditaksir bisa menguat sampai tiga digit pada tahun ini. Ketiga proyek tambang sekaligus smelter tersebut memiliki total nilai fantastis berkisar US$ 9-10 miliar atau ekuivalen Rp 164 triliun (kurs Rp 16.450 per US$) yang hingga saat ini masih terus disebut Vale. Pertama adalah proyek tambang forenikel di Bahodopi yang dikerjakan perseroan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan (joint venture/JV) antara Vale dan Tisco serta Xinhai. 

Kedia, proyel Hihg Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomala melalui PT Kolaka Nickel Indonesia  (KNI), JV antara Vale menggandeng Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford. Terakhir, proyek mixed hydroxide precipitate (MHP) di Sorowako yang dikerjakan perseroan melalui PT HPAL Nickel Indonesia (HNI), JV antara Vale, Huayou, dan pihak ketiga yang disebut-sebut akan disiapkan oleh Huayou dengan syarat memiliki standar ESG global. Salah satu dari tiga proyek tersebut tepatnya proyek tambang di Blok Bahodopi diperkirakan berpotensi lebih cepat, sehingga berpotensi menjadi katalis kinerja laba perusahaan pada tahun. Belum lagi, proyek KNI an HNI yang disebut  juga akan mendukung profitabilitas vale. Ini terlihat pada kuartal 1-2025, keuntungan derivatif INCO terdorong oleh proyek KNI dan HNI sebesar US$ 16,7 juta. (Yetede)

Perjuangan BSI Jadi Bank Syariah Raksasa

KT1 17 May 2025 Investor Daily (H)
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPST) Tahunan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memutuskan  untuk mengocok ulang pengurus perseroan. Selain itu juga menetapkan pembagian dividen 15% kepada pemegang saham dan 65% sebagai saldo laba ditahan untuk memperkuat permodalan menuju bank syariah raksasa.  Pemegang saham menyepakati dividen tunai yang dibagikan sebesar Rp 1,05 triliun atas 15% dari laba bersih BSI tahun buku 2024 yang senilai Rp7,01 triliun. Dari total dividen tersebut maka besaran dividen per lembar saham dari bank dengan kode saham BRIS ini sekitar Rp 22,78. Jumlah dividen tersebut naik sebesar 22,86% dibandingkan dividen tahun buku 2023 senilai Rp 18,54 per lembar saham. Ini mengindikasikan kinerja yang cukup solid pada tahun buku 2024. Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan, pembagian dividen  tersebut sebagai bentuk komitmen dan apresiasi perseroan terhadap  para pemegang saham yang telah senantiasa mendukung pertumbuhan dan perkembangan BSI, di tengah berbagai dinamika kondisi ekonomi dan bisnis. Sepanjang tahun 2024 BSI membukukan laba bersih sebesar Rp7,01 triliun dan total aset Rp409 triliun dengan kualitas terjaga. (Yetede)

Kolaborasi Jaga Iklim Investasi tetap Kondusif Bagi Investor

KT1 16 May 2025 Investor Daily
Pemerintah berjanji melakukan langkah proaktif untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif dan menarik bagi investor. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Totodua Pasaribu menjelaskan, pemerintah berkomitmen untuk memastikan kelancaran investasi PT Chandra Asri Alkali (CAA) sebagai salah satu pilar penting dalam upaya hilirisasi industri nasional. "Negara harus memberikan jaminan, baik ke dalam maupun ke luar terhadap investasi yang ada di negara kita, agar investasi kondusif dan berkelanjut," ujar dia. Totodua menegaskan bahwa apa yang saat ini terjadi di Banten harus  menjadi perhatian semua pihak dan perlu diantisipasi dengan baik. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Investasi, beserta jajarannya pemerintah dan aparat terkait akan melakukan langkah cepat dan konkret untuk menjamin kelancaran implementasi proyek investasi. "Kami menyesali terhadap kejadian yang di Cilegon dan itu nanti diserahkan kepada aparat hukum. Dalam hal ini, Polda Provinsi Banten yang akan turun melakukan proses pemeriksaan dan hasilnya seperti apa itu ranah penegak hukum. Namun nanti ke depannya kami ingin memberikan konteks efek jera terhadap aksi yang tidak benar untuk menjaga iklim investasi di negara kita," kata dia. (Yetede)

Google Cloud Akan Memperluas Kapasitas Pusat Data di Indonesia

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

Google, melalui divisi cloud-nya, yaitu Google Cloud bakal memperluas kapasitas pusat data artificial intelegence (AI), yang terletak di Jakarta Cloud Region. Perluasan kapasitas tersebut untuk mendukung lonjakan kebutuhan cloud san AI. langkah ini juga diproyeksikan berkontribuasi sebesar Rpo 1,400 triliun terhadap perekonomian Indonesia dalam lima tahun ke depan. "Jakarta Cloud Region dari Google Cloud mendukung banyak layanan penting bagi organisasi di Indonesia, mulai dari riset dan pengembangan vaksin Bio Farma, pengalaman belajar dan mengajar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga perbankan digital e-commerce, layanan pengiriman makanan, kerja jarak jauh, dan lainnya," kata Country Director, Google Cloud Indonesia Fanly Tanto. Menurut Fanly, pada 2020, Google Cloud menjadi hyperscaler global pertama yang meluncurkan cloud region di Indonesia. Terkait dengan dampak inovasi dan produktivitas yang lebih luas, selama lima tahun terakhir, Jakarta Cloud Region telah memberikan kontribusi nilai ekonomi dan mendukung rata-rata  hampir 92.00 lapangan kerja per tahun. (Yetede)

Danantara Akan Benahi Sengkarut Timah

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

Mining Industry Indonesia (MIND ID), holding BUMN Industri Pertambangan, bakal membawa sengkarut masalah  tata kelola komoditas timah PT Timah Tbk (TINS) ke Danantara. Hal itu dilakukan agar lembaga superholding BUMN ini ikut terjun pada tataran taktis dan strategis, untuk membenahi tata kelola sekaligus menyehatkan kembali PT Timah. Saat ini, PT Timah menghadapi sejumlah masalah besar yang dikelompokkan dalam empat klaster utama. Pertama, menyangkut  permasalahan operasional seperti penambangan illegal (illegal mining) dan perdagangan illegal (illegal trading/commerce). Kedua, persolaan tata kelola  hulu seperti rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang menjadi domain Kementerian ESDM dan analis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan wewenang dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Klaster ketiga, PT Timah juga menghadapi persoalan pada aspek kerja tata kelola niaga seperti persetujuan ekspor dan penjualan fisik melalui bursa yang output-nya mencakup ekspor timah batangan (ingot) dan kebutuhan domestik. Dimana, Kementerian Perdagangan memegang  wewenang pada tata kelolal niaga ini. Klaster terakhir dalam hal tata kelola timah, emiten berkode saham TINS tersebut menghadapi tantangan dari sisi tata kelola industri seperti hilirisasi yang merupakan domain Kementerian Perindustrian. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoedin menyatakan, dalam upaya menyempurnakan tata kelola timah yang lebih baik perlu koordinasi antar kementerian dan lembaga untuk mencapai tujuan  hilirisasi komoditas timah di Indonesia.(Yetede)

 

Penurunan Bunga Tekan Ekspansi

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (mulfiinance) tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini sebagai dampak atas tantangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Ternyata sebanyak 14 emiten perusahaaan pembiayaan pada  kuartal 1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan keuangannya, pendapatan susut dan beban melonjak, salah satunya karena alokasi pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp 122,38 miliar. (Yetede)

Tak Berdampaknya PHK Massal Panasonic bagi Indonesia

KT3 14 May 2025 Kompas

Kemenperin menyatakan, restrukturisasi karyawan Panasonic Holdings tak akan merembet bagi karyawan yang ada di Indonesia. Indonesia tetap menjadi salah satu basis produksi penting bagi Panasonic di kawasan Asia Tenggara. ”PHK yang akan dilakukan Panasonic Holdings tidak berdampak pada operasional di Indonesia. Pabrik Panasonic di Indonesia justru masih menjadi basis ekspor ke lebih dari 80 negara,” ujar Jubir Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, dalam siaran pers, Senin (12/5) di Jakarta. Sebelumnya, sesuai pemberitaan Reuters, Panasonic Holdings pada Jumat (9/5) mengumumkan akan memangkas 10.000 orang karyawan. Rencana ini bagian dari perombakan perusahaan dan dilakukan pada sisa tahun 2025. Panasonic Holdings berharap bisa membukukan biaya restrukturisasi sebesar 896,06 juta USD.

Panasonic Holdings mempekerjakan 228.000 orang karyawan di seluruh dunia. Dari 10.000 karyawan yang akan dikurangi, pabrikan elektronik itu menyatakan bahwa setengahnya direncanakan dari Jepang dan setengahnya lainnya di luar negeri. Hampir separo dari biaya restrukturisasi yang akan dibukukan pada bisnis produk elektronik gaya hidup dan sisanya pada bisnis lainnya. Menurut Febri, Kemenperin mengakui bahwa utilisasi industri elektronik saatini sedang berada pada level yang rendah, yakni 50,64 % pada triwulan I-2025. Realita itu menjadi pengingat bagi seluruh pelaku industri dan para karyawan untuk terus beradaptasi dan melakukan transformasi agar tetap kompetitif. Persaingan global di sektor elektronik semakin ketat. (Yoga)


Pemerintah dan Pelaku Perlu Duduk Bersama Secara Intensif

KT1 14 May 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah perlu menjalin komunikasi secara intens dengan para pelaku industri media massa guna mencari solusi bersama dalam mengatasi gelombang PHK yang menerpa industri tersebut di belakangan ini. Langkah ini diyakini bisa menjadi jalan untuk mengidentifikasikan masalah yang dihadapi industri media massa, untuk kemudian dicarikan solusinya. Ketua Divisi Ketenagakerjaan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Caesar Akbar menilai, pemerintah  harus melihat lagi sebenarnya apa lagi sih. Harus ada komunikasi dengan pelaku industri media sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh industri media," ujar Caesar. Dewan pers mencatat, pemutusan hubungan kerja di industri ,media massa Tanah Air melonjak signifikan sejak 2023 hingga 2024. Dorongan ke pasar saham bertambah kuat, menyusul potensi The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) pada Juli 2025. Apalagi tekanan inflasi AS ditaksir berkurang, setelah kesepakatan negara itu dengan China. Seiring dengan itu, dana asing diprediksi kembali masuk pasar negara berkembang (emerging market), seperti Indonesia. Ini akan melambungkan IHSG ke level 7.000. (Yetede)

Laba 14 Emiten Multifinance Menurun

KT1 14 May 2025 Investor Daily
Sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan (multifinance) pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih  Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp 1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adora Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Mengintip laporan keuangannya, ADMF mencatatkan pendapatan dari pembiayaan konsumen senilai Rp1,47 triliun, susut 5,77% secara yoy. Jika dirinci lebih lanjut, pendapatan pembiayaan dari sepeda motor pada kuartal 1-2025 sebesar Rp722,59 miliar, menurun dari tahun sebelumnya Rp 777,92 miliar. Selain itu, pendapatan pembiayaan dari mobil juga menurun dari Maret 2024 yang senilai Rp443,61 miliar menjadi Rp 366,87 miliar. Namun, pendapatan pembiayaan durable goods dan lainnya meningkat dari 339,84 miliar menjadi Rp377,23 miliar pada kuartal 1-2025. Penurunan pendapatan ini disebabkan karena pembiayaan ADMF yang juga menyusut, lantaran industri otomotif yang juga masih lesu di kuartal 1 tahun ini akibat daya beli yang melemah. (Yetede)

Laba 14 Emiten Multifinance Menurun

KT1 14 May 2025 Investor Daily
Sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan (multifinance) pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih  Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp 1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adora Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Mengintip laporan keuangannya, ADMF mencatatkan pendapatan dari pembiayaan konsumen senilai Rp1,47 triliun, susut 5,77% secara yoy. Jika dirinci lebih lanjut, pendapatan pembiayaan dari sepeda motor pada kuartal 1-2025 sebesar Rp722,59 miliar, menurun dari tahun sebelumnya Rp 777,92 miliar. Selain itu, pendapatan pembiayaan dari mobil juga menurun dari Maret 2024 yang senilai Rp443,61 miliar menjadi Rp 366,87 miliar. Namun, pendapatan pembiayaan durable goods dan lainnya meningkat dari 339,84 miliar menjadi Rp377,23 miliar pada kuartal 1-2025. Penurunan pendapatan ini disebabkan karena pembiayaan ADMF yang juga menyusut, lantaran industri otomotif yang juga masih lesu di kuartal 1 tahun ini akibat daya beli yang melemah. (Yetede)