;
Tags

Batu Bara

( 291 )

Angan-angan Semu Tinggalkan Batu Bara

KT1 25 Jul 2024 Tempo
SEJAK di kampungnya berdiri kawasan industri pengolahan bijih nikel, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kehidupan Awaluddin, 37 tahun, berubah 180 derajat. Dulu, warga Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, itu bisa mencari ikan di perairan Laut Banda yang tak jauh dari pantai. Sekarang, terumbu karang mati, hutan bakau lenyap, dan air laut menjadi panas. “Tidak ada lagi ikan,” kata Awaluddin, Sabtu, 20 Juli 2024.

Pemicu perubahan itu, kata Awaluddin, adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara milik PT IMIP yang membuang limbah air bahang ke perairan. Air limbah PLTU itu membuat air laut di sepanjang pesisir Fatufia hingga berjarak satu mil dari bibir pantai menjadi panas. “Sejak 2017, keramba-keramba tempat pembiakan ikan dan lobster sudah musnah,” tuturnya.

Kerusakan yang ditimbulkan PLTU milik PT IMIP itu bukan hanya di laut, tapi juga di darat dan udara. Tailing dan tanah tambang yang terbawa air hujan masuk ke sungai dan merembes ke dalam air tanah. Akibatnya, masyarakat tidak bisa lagi mengkonsumsi air sungai maupun air tanah yang tercemar. PLTU juga menyebarkan debu yang keluar dari cerobong asap. Debu beterbangan dan menyelimuti rumah penduduk.

PT IMIP memiliki dan mengoperasikan dua pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan daya 5.319 megawatt dan 1.520 megawatt. PLTU tersebut menggunakan mekanisme captive power atau pembangkit listrik yang dioperasikan mandiri dan mendapat izin dari pemerintah. Saban tahun, PLTU tersebut mengkonsumsi 9 juta ton batu bara untuk menggerakkan smelter. Jumlah itu setara dengan muatan 2.000 kapal tongkang. (Yetede)

Harga Batu Bara Menyala, Sahamnya Kian Membara

KT1 23 Jul 2024 Investor Daily (H)

Saham-saham emiten batu bara menunjukkan kinerja impresif dalam satu bulan terakhir, dengan kenaikan  hingga +17%. Harga batu bara global yang berpeluang menanjang di paruh kedua 2024, bakal menjadi tambahan mesin baru bagi kinerja saham emiten produsen emas hitam tersebut. Kalangan analis bahkan menaikkan rating sektor tambang ini menjadi overweight, dengan target harga saham emiten yang cukup menggiurkan. Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan  dan Christian Sitorus meyakini, produsen batu bara akan menaikkan harga jualnya sejalan dengan besarnya biaya penambangan. Dalam catatan BRI Danareksa, biaya penambangan telah naik +14-15% atau US$ 11-20 per ton dalam lima tahun terakhir, terutama didorong oleh peningkatan tarif royalti. (Yetede)

Mengungkit Investasi Eksplorasi Si ‘Emas Hitam’

HR1 17 Jul 2024 Bisnis Indonesia

Momentum meroketnya harga batu bara di pasar internasional mengembuskan angin segar di ranah energi dan sumber daya mineral, khususnya pertambangan batu bara. Tren penguatan harga si ‘Emas Hitam’ ini sudah barang tentu mendapatkan perhatian besar khususnya pengusaha tambang, setelah sebelumnya harga komoditas energi ini sempat lunglai diterpa isu geopolitik global. Situasi ini memberikan ruang kepada pengusaha tambang untuk mendongkrak produksi sekaligus segera merealisasikan rencana eksplorasi untuk menambah cadangan batu bara mereka. Selama ini, kegiatan eksplorasi batu bara di Indonesia begitu rendah. Perusahaan batu bara cenderung lebih fokus pada kegiatan produksi dibandingkan dengan kegiatan eksplorasi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), investasi eksplorasi tambang sejak 2016 cenderung landai. 

Selain itu, kenaikan nilai investasi eksplorasi di Indonesia baru 1% dari jumlah yang dikucurkan oleh perusahaan tambang di negara penghasil batu bara lainnya. Memang, tidak dapat diabaikan fakta bahwa cadangan sumber daya minerba di Indonesia sangat besar dan telah mendapatkan pengakuan dunia. Sayangnya, potensi minerba yang luar biasa tersebut tidak diimbangi dengan aliran investasi dengan jumlah yang cukup besar untuk kegiatan eksplorasi. Tanpa adanya data seperti data lubang bor yang dihasilkan dari proses eksplorasi maka para ahli geologi tidak akan dapat menganalisis cadangan minerba yang diperlukan dalam proses eksploitasi. Tidak berhenti di situ, kegiatan eksplorasi juga berisiko sangat tinggi serta dibayangi dengan kegagalan. Tingkat keberhasilan untuk menemukan potensi cadangan minerba di bawah 10%. Di sisi lain, melalui kegiatan eksplorasi maka potensi hasil tambang di setiap wilayah penghasil bakal lebih maksimal diperoleh dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar tambang dan lebih besar untuk rakyat Indonesia.

BAHAN BAKU BATERAI : Sasaran Baru Penghiliran Batu Bara PTBA

HR1 16 Jul 2024 Bisnis Indonesia

PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) tidak mau ketinggalan dalam upaya pengembangan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri dengan memulai pilot project konversi batu bara menjadi artificial graphite dan anode sheet untuk bahan baku baterai lithiumion. Direktur Portofolio & Pengembangan Usaha PTBA Dilo Seno Widagdo mengatakan, pihaknya menggandeng Badan Riset dan Inovasi (BRIN) dalam upaya mengonversi batu bara menjadi artifi cial graphite dan anode sheet. Aksi tersebut juga nantinya bakal menjadi yang pertama di dunia. Artificial graphite sendiri merupakan bahan utama untuk pembuatan anoda. Adapun, anode sheet adalah elektroda tempat terjadinya reaksi oksidasi, salah satu komponen penting untuk baterai lithiumion atau Li-ion. Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan, pengembangan batu bara menjadi artifi cial graphite dan anode sheet merupakan komitmen perusahaan dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk mendorong penghiliran batu bara, serta menjaga ketahanan energi nasional. Menurutnya, pengembangan batu bara menjadi artifi cial graphite dan anode sheet juga bakal mendukung kemajuan industri kendaraan listrik di dalam negeri. Apalagi, kebutuhan kedua komoditas itu akan makin meningkat seiring dengan pertumbuhan industri kendaraan listrik. Sementara itu, Direktur Pemanfaatan Riset & Inovasi pada Industri BRIN Mulyadi Sinung Harjono berharap pilot project itu dapat membawa manfaat dalam upaya memperkuat posisi Indonesia dalam industri bahan baku strategis.

PANAS CUAN SAHAM BATU BARA

HR1 25 Jun 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kontras dengan merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG), IDX Energy justru melaju dengan menjadi indeks sektoral paling cuan sepanjang tahun berjalan 2024. Tak heran, meski dibayangi risiko volatilitas harga batu bara, saham emiten-emiten energi yang getol mendiversifi kasi portofolio asetnya dinilai menarik untuk dilirik investor.IDX Energy telah menguat 7,91% secara year-to-date(YtD) hingga Senin (24/6) atau outperform terhadap IHSG yang tergelincir turun 5,27% pada periode yang sama ke posisi 6.889,16. Motor pertumbuhan IDX Energy berasal dari lonjakan harga saham sejumlah emiten batu bara a.l. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang melejit 198,75% dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) yang naik 14,29% secara YtD.Kinerja ciamik itu terjadi saat harga batu bara ICE Newcastle bertengger di level US$132,05 per ton atau menguat 8,5% secara tahunan. Merujuk DataIndonesia.id, level tersebut telah menjauh dari posisi harga batu bara yang menyentuh US$404,15 per ton pada akhir 2022. Sejak 2012, batu bara berjangka saat ini telah naik 18,64% dari posisi US$111,30 per ton.Menjelang paruh kedua 2024, mitigasi pun disiapkan emiten ketika normalisasi harga batu bara terus bergulir. Salah satunya, PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) yang tetap berfokus pada pengendalian biaya dan mengejar target produksi sebanyak 50 juta ton pada 2024."Strategi kami dengan melakukan pembelanjaan sesuai dengan prinsip cost consciousness dan menjaga kas perseroan dengan hati-hati," kata Corporate Secretary Golden Energy Mines Sudin, Senin (24/6).

Terpisah, Direktur Utama PT Baramulti Suksessarana Tbk. (BSSR) Widada mengungkapkan perseroan bakal memaksimalkan produksi pada tahun ini. Targetnya, BSSR membidik volume produksi hingga 18 juta ton atau lebih rendah dari realisasi 21,57 juta ton pada 2023.Menurut Widada, target produksi itu sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang disetujui Kementerian ESDM. Namun, BSSR tengah mempertimbangkan untuk merevisi naik target tersebut. Widada menambahkan harga batu bara yang cenderung stabil diharapkan berlanjut pada kuartal III/2024 sebelum berpotensi merangkak naik pada 3 bulan terakhir tahun ini.Untuk mendukung pencapaian target produksi tersebut, BSSR menganggarkan belanja modal sebesar US$81 juta pada 2024 yang bersumber dari kas internal. Direktur BSSR Wong Liong Tje menyebut 67% capital expenditureakan digunakan untuk keperluan land clearing, 26% untuk infrastruktur, dan sisanya untuk pembaruan alat-alat kerja. Menyoal prospek emiten batu bara, Deputi Head of Research Sinarmas Sekuritas Inav Haria Chandra memaparkan saham emiten komoditas energi itu masih cukup menarik minat investor pada semester I/2024 karena capaian laba bersih pada triwulan pertama tidak seburuk ekspektasi pasar. Sela-in itu, fenomena upgrade harga saham batu bara juga terpantik oleh kucuran dividen yang cukup tinggi.

Meski demikian, Inav mengatakan investor yang masih berminat untuk emiten di sektor ini dapat melirik korporasi yang giat mediversifikasi bisnis ke luar batu bara, seperti PT Harum Energy Tbk. (HRUM) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).Dihubungi terpisah, analis Mirae Asset Sekuritas Rizkia Darmawan menjelaskan saat ini harga komoditas energi tersebut memang tidak sebaik dari tahun lalu. Akan tetapi, hal itu cukup sesuai dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan harga batu bara tidak setinggi tahun lalu karena situasi yang berbeda. Darma memperkirakan harga batu bara bergerak di kisaran US$101—US$150 per ton. Selain harga, volume produksi, permintaan impor India dan China, serta kinerja keuangan masing-masing emiten pada kuartal selanjutnya menjadi sentimen yang akan memengaruhi manuver sahamnya di lantai bursa.

Emiten Batubara Masih Merana

HR1 24 Jun 2024 Kontan

Prospek kinerja emiten sektor batubara diperkirakan masih akan lesu seiring harga batubara yang masih relatif datar. Emiten batubara dengan kemampuan efisiensi lebih baik akan jadi pilihan menarik lantaran dinilai paling bisa menahan potensi koreksi kinerja. Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan mengatakan, lesunya kinerja emiten sektor batubara di kuartal pertama tahun ini karena harga jual rata-rata cenderung bergerak turun. Di sepanjang tahun 2024, harga patokan batubara Newcastle relatif stabil rata-rata di level US$ 128 per ton. Harga batubara memang sempat ke level US$ 150 per ton, tetapi saat ini sudah melandai lagi ke US$ 130 per ton. Peningkatan sementara tersebut kemungkinan besar didorong oleh kekhawatiran terhadap kondisi cuaca buruk, khususnya gelombang panas yang melanda Asia Tenggara. Di sisi lain, walau permintaan China tidak sekencang tahun lalu, namun bukan berarti China mengurangi ekspornya terhadap batubara Indonesia. Permintaan dari India juga cukup baik.

Serta, Vietnam juga perlu menjadi sorotan karena adanya kenaikan permintaan. Namun demikian, Rizkia menilai bahwa harga batubara kemungkinan tidak akan melompat lagi, kecuali adanya eskalasi perang yang bisa meningkatkan harga komoditas energi. Oleh karena itu, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga batubara global akan cenderung datar di kisaran US$ 126 per ton untuk tahun 2024. Dari sisi produksi, Rizkia melihat, volume produksi emiten batubara mungkin akan meningkat pada kuartal kedua dan kuartal ketiga. Selama tiga tahun terakhir, produksi batubara Indonesia mencapai puncaknya pada periode kedua dan kedua kuartal ketiga karena kondisi cuaca kering yang menguntungkan bagi para penambang. Tahun ini diperkirakan pola tersebut masih akan berlanjut. Dus, ia menilai wajar pergerakan saham ADRO tetap positif dibanding saham emiten batubara lainnya seperti PTBA, ITMG, HRUM. Sebab, ASP batubara ADRO tetap solid secara tahunan walaupun cukup mendatar secara kuartalan di kuartal I-2024.

Di samping itu, ADRO merupakan yang paling baik dalam efisiensi biaya daripada emiten-emiten besar lainnya. Dari sisi penetapan biaya, beban pokok pendapatan pada kuartal pertama turun 17% secara kuartalan menjadi US$ 815 juta. Terutama didukung oleh tarif royalti yang lebih rendah seiring dengan rendahnya harga jual rata-rata dan harga batubara acuan (HBA). Selain itu, biaya tunai turun 33% secara kuartalan menjadi US$ 51,6 per ton. Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan memaparkan, kinerja ADRO telah melewati konsensus karena biaya tunai berada di bawah ekspektasi seiring rasio pengupasan tanah yang lebih rendah. Dalam riset 20 Mei 2024 Reggie memperkirakan, pencapaian pendapatan emiten batubara akan terus beragam pada kuartal mendatang. Berkaca pada hasil kuartal pertama 2024, ADRO akan terus mengungguli perusahaan batubara lainnya.

Penurunan Nilai Ekspor Batubara dan CPO Diganjal Komoditas Lain

KT3 20 Jun 2024 Kompas

Neraca perdagangan Indonesia masih surplus di tengah perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama dan gejolak nilai tukar rupiah. Penurunan permintaan serta harga komoditas batubara dan minyak sawit juga mampu disubstitusi dengan sejumlah komoditas lain. BPS, Rabu (19/6) merilis, neraca perdagangan migas dan nonmigas Indonesia pada Mei 2024 surplus 2,93 miliar USD. Capaian itu membuat Indonesia mencatatkan surplus dagang selama 49 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Hal itu tidak lepas dari kinerja ekspor migas dan nonmigas yang tumbuh 13,82 % secara bulanan dan 2,86 % secara tahunan menjadi 22,33 miliar USD. Adapun impornya senilai 19,4 miliar USD atau naik 14,82 % secara bulanan dan turun 8,83 % secara tahunan.

Peningkatan nilai ekspor pada Mei 2024 tersebut terutama didorong peningkatan ekspor nonmigas. Secara umum, kinerja ekspor itu masih didominasi tiga komoditas utama, yakni bahan bakar mineral, termasuk batubara; lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk CPO dan produk turunan; serta besi dan baja. Namun, pertumbuhan nilai ekspor tertinggi justru terjadi pada komoditas selain tiga komoditas ekspor utama itu. Sejumlah komoditas itu adalah alas kaki yang tumbuh 33,82 % secara bulanan; kendaraan dan bagiannya 26,8 %; nikel dan produk turunan 26,77 %; mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya; serta bijih logam,terak, dan abu 25,5 %.


Meneropong Prospek Industri Batu Bara

HR1 13 Jun 2024 Bisnis Indonesia

Para pelaku bisnis di sektor pertambangan mulai bernapas lega. Pasalnya, permintaan komoditas batu bara dari domestik dan regional mulai meningkat beberapa waktu belakangan ini. Sayangnya, tingginya permintaan batu bara tersebut masih sangat berfluktuasi akibat banyaknya tantangan yang menyelimuti industri batu bara nasional. Kewajiban menempatkan minimal 30% devisa hasil ekspor (DHE) di bank nasional setidaknya untuk 3 bulan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 36/2023 serta rencana pemberlakuan skema pungut salur dana kompensasi batu bara dinilai menambah beban pelaku usaha. Apalagi kebijakan tersebut diberlakukan di tengah meningkatnya beban operasional usaha dari kenaikan kewajiban pembayaran royalti pertambangan yang berlaku pada 2022.

Fluktuasi harga ‘emas hitam’ yang saat ini mulai landai, membuat bisnis ini menjadi lebih menantang. Kondisi pasokan berlebih di pasar global, membuat harga batu bara akhir-akhir ini terkoreksi cukup dalam dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Indonesia Mining Association (IMA) memproyeksikan rerata harga batu bara hingga akhir 2024 fluktuatif di rentang US$110—US$120 per ton. Adapun, rerata harga batubara acuan (HBA) sepanjang Januari—Mei 2024 berada di kisaran US$118 per ton atau lebih rendah sekitar 40% dari rerata HBA tahun sebelumnya di level US$210 per ton. Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi batu bara nasional mencapai 775 juta ton sepanjang 2023, melampaui target produksi pada 2023 yang dipatok sebesar 695 juta ton dan menjadi rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Kementerian ESDM mencatat realisasi wajib pasok dalam negeri (domestic market obligation/DMO) batu bara pada 2023 mencapai 213 juta ton atau 121% dari target 177 juta ton. Di sisi lain, pemerintah menargetkan produksi batu bara pada 2024 berada di kisaran 710 juta ton, dengan alokasi wajib pasok domestik di sekitar 181,28 juta ton. Adapun, pemerintah melalui Kementerian ESDM menyetujui rencana produksi batu bara Indonesia mencapai 2,74 miliar dari 587 perusahaan dalam 3 tahun mendatang. Hanya di Eropa dan Amerika Utara saja yang telah mengurangi penggunaan batu bara pada pembangkit listrik. Kendati, pada masa pandemi Covid-19, beberapa negara di Eropa kembali menyalakan pembangkit listrik dengan sumber energi fosil akibat pembatasan mobilitas masyarakat. Peluang ini tentu saja perlu dimanfaatkan negara-negara produsen batu bara, termasuk Indonesia untuk mempertebal pundi-pundi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 

Mengapa Produksi Batu Bara Rendah

KT1 11 Jun 2024 Tempo
MENJELANG semester kedua 2024, produksi batu bara nasional belum mencapai separuh target. Minerba One Data Indonesia, yang dikelola Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menunjukkan total produksi baru sebesar 329,49 juta ton atau 35 persen dari target sebesar 922,14 juta ton. Pelaksana tugas Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Mahyarani, menyebutkan realisasi itu sesuai dengan ekspektasi. Asosiasi memproyeksikan produksi baru 35 persen pada akhir Mei 2024. Pasalnya, sejumlah perusahaan baru mendapatkan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pada kuartal pertama tahun ini. 

Jika dibanding periode yang sama tahun lalu, realisasi hingga 10 Juni 2024 lebih tinggi 9 juta ton atau 3 persen. Melihat data tersebut, Gita memperkirakan tingkat produksi batu bara pada akhir tahun ini pun tak terpaut jauh dengan realisasi pada 2023 yang mencapai 775 juta ton. Itulah sebabnya, APBI menilai target tahun ini tak akan terealisasi sepenuhnya. "Estimasi kami mungkin hanya sekitar 800 juta ton," tuturnya kepada Tempo, kemarin. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli pun memperkirakan target RKAB tidak terpenuhi setelah melihat realisasi produksi hingga kemarin. "Perkiraan kami di level 775 juta ton saja pada 2024," katanya. 

Minimnya realisasi tersebut, selain karena keterlambatan persetujuan RKAB, dipengaruhi oleh harga batu bara. Kebutuhan batu bara dari negara utama pengimpor batu bara, yaitu Cina, mengalami peningkatan. Namun negara tersebut memilih mengimpor batu bara Australia yang lebih bagus kualitasnya dibanding Indonesia karena harga yang relatif murah. (Yetede)

PERTAMBANGAN BATU BARA : BARIER PRIVILESE ORMAS KEAGAMAAN

HR1 06 Jun 2024 Bisnis Indonesia

Organisasi kemasyarakatan atau ormas keagamaan tidak akan dengan mudah bisa memanfaatkan privilese untuk mendapatkan izin usaha pertambangan khusus di lahan bekas perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara. Pemerintah memastikan bakal ada syarat ketat yang menyertai hak istimewa tersebut. Presiden Joko Widodo memastikan ada syarat yang harus dipenuhi oleh badan usaha milik ormas keagamaan yang ingin mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) batu bara, meski Peraturan Pemerintah No. 25/2024 mengamanatkan untuk memberikan prioritas. Selain itu, IUP batu bara juga tidak akan diberikan kepada ormas keagamaan langsung, melainkan melalui badan usaha yang memiliki badan hukum yang kepemilikannya dikuasai secara mayoritas oleh organisasi tersebut. “Yang diberikan [IUP] itu adalah badan-badan usaha yang ada di ormas [keagamaan]. Persyaratannya juga ketat, baik itu [ketika] diberikan kepada koperasi maupun PT [perseroan terbatas] milik ormas keagamaan,” katanya, di Ibu Kota Negara Nusantara, Rabu (5/6). 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pun menegaskan bahwa penerbitan IUP untuk ormas keagamaan mesti melalui kementerian yang dipimpinnya. Artinya, akan ada proses penilaian dan pertimbangan sebelum izin tersebut dikeluarkan. Bahkan, nantinya juga akan ada proses evaluasi sama seperti badan usaha lain yang saat ini memiliki IUP dan melaksanakan kegiatan pertambangan batu bara di dalam negeri. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi pun membeberkan ada sederet persyaratan yang harus dipenuhi oleh ormas keagamaan sebelum mendapat jatah IUP dari pemerintah. Persyaratan itu, kata Agus, mencakup kemampuan teknis, finansial, hingga kapabilitas manajemen yang perlu disiapkan oleh ormas keagamaan. Agus menjelaskan bahwa proses permohonan mendapatkan IUP dan perizinan terkait lainnya untuk ormas keagamaan bakal dilakukan dengan sistem satu pintu di Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal. 

Akan tetapi, Kementerian ESDM tetap akan melakukan evaluasi teknis pemberian wilayah IUP khusus kepada ormas keagamaan. Adapun, kaidah pertambangan yang baik melingkupi kaidah teknik pertambangan yang baik dan tata kelola pengusahaan pertambangan. Jika memerinci lebih lanjut, kaidah teknik pertambangan yang baik itu mencakup teknis pertambangan, konservasi mineral dan batu bara, keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan, serta keselamatan operasi pertambangan. Tata kelola pengusahaan pertambangan yang disebut dalam beleid itu pun meliputi aspek pemasaran; keuangan; pengelolaan data; pemanfaatan barang, jasa, dan teknologi; pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan; serta pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat. Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta seluruh pihak untuk turut andil dalam mengawasi penggunaan IUP yang diberikan kepada ormas keagamaan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi konfl ik kepentingan yang terjadi dalam proses tersebut. Menurut Luhut, pemberian prioritas kepada ormas keagamaan untuk mendapatkan IUP di lahan bekas PKP2B rawan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Meski begitu, Luhut memastikan niat baik dari Presiden Joko Widodo saat meneken aturan yang menimbulkan polemik beberapa waktu belakangan tersebut. 

Pemerintah, kata dia, ingin membantu ormas keagamaan dalam menjalankan tugasnya menjaga dan membina umat. Di sisi lain, pemerintah juga dinilai perlu lebih cermat menghitung arah konservasi cadangan batu bara seiring dengan adanya kebijakan untuk memprioritaskan penawaran wilayah IUP khusus eks PKP2B kepada badan usaha yang dimiliki oleh ormas keagamaan. Ketua Indonesian Mining & Energi Forum Singgih Widagdo menilai bahwa kebijakan tersebut berpotensi membuat pengendalian produksi batu bara nasional menjadi lebih menantang. Belum lagi, penetapan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dalam 3 tahun mendatang berada di level 922 juta ton pada 2024, 917 juta ton pada 2025, dan 902 juta ton pada 2026.