Batu Bara
( 291 )Emiten Batubara Tetap Menggelora
Kinerja emiten batubara dibayangi sejumlah sentimen di pasar domestik dan global. Selain sentimen harga, kinerja emiten batubara ke depan juga akan bergantung pada permintaan komoditas emas hitam ini. Direktur Pasar Energi dan Keamanan IEA, Keisuke Sadamori menjelaskan, penerapan tenaga surya dan angin yang terus berlanjut, dikombinasikan dengan pemulihan tenaga air di Tiongkok, akan memberikan tekanan yang signifikan pada penggunaan batubara. Namun, di sisi lain, sektor kelistrikan jadi pendorong utama permintaan batubara global. "Konsumsi listrik masih kuat di beberapa negara ekonomi utama," ujarnya, dalam laporan yang dirilis belum lama ini. Pada 2024 dan 2025, pertumbuhan permintaan listrik diperkirakan naik 4%.
Kenaikan permintaan listrik, salah satunya didorong pengembangan pusat data.
Head of Investment
Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe melihat, permintaan batubara berasal dari industri dan penggunaan teknologi, khususnya pengoperasian perangkat lunak
artificial inteligence
(AI). Konsumsi listrik menggunakan bahan bakar yang besar dari batubara. "Peningkatan permintaan batubara dari situ," ujarnya.
Di sepanjang Juli 2024, rata-rata harga batubara di bursa Newcastle naik 6% ke US$ 134 per ton. Secara historis, harga batubara cenderung naik pada September, karena menyambut musim dingin. "Harga batubara di kuartal tiga bisa di kisaran US$ 136-US$ 150 per ton," kata Rizkia Darmawan, Analis Mirae Asset Sekuritas.
Dengan cuaca yang diprediksi lebih cerah, produksi batubara pada kuartal III-2024 bisa naik 6% secara kuartalan menjadi 213 juta ton. "Kami memperkirakan produksi batubara di 2024 mencapai 820 juta ton," ujar Darmawan.
Harga Batubara Turun, ADRO Meredup
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengejar target produksi dan penjualan batubara pada semester II-2024. ADRO menempuh strategi ini usai mengalami penurunan kinerja pada periode paruh pertama. Pendapatan usaha ADRO tergerus 14,40% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 3,47 miliar menjadi US$ 2,97 miliar. Sedangkan laba bersih ADRO menyusut 10,87% secara tahunan dari US$ 873,83 juta menjadi US$ 778,77 juta hingga Juni 2024. Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi "Boy" Thohir mengklaim, kinerja ADRO menunjukkan daya tahan di tengah tantangan kondisi harga batubara termal maupun metalurgi. "Grup Adaro mampu menunjukkan resiliensi kinerja keuangan berkat keunggulan operasional dan efisiensi," katanya dalam keterbukaan informasi, Selasa (27/8). Pasar dalam negeri mendominasi penjualan ADRO dengan porsi 26%. Sedangkan pasar ekspor ke Asia Timur Laut (24%), Asia Tenggara (18%), China (18%), India (11%) dan lainnya (3%). Meski secara volume menanjak, namun terjadi koreksi pada harga jual rata-rata sekitar 19%.
Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia, Febriati Nadira optimistis, prospek pertumbuhan ADRO masih cerah di sisa tahun ini. Terutama didukung kenaikan permintaan di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, serta Asia Selatan. "Sebagian pelanggan kami memiliki kontrak jangka panjang dan kami fokus untuk memenuhi permintaan pelanggan," kata Nadira, ke KONTAN, Rabu (28/8). Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani melihat, laba bersih ADRO melampaui ekspektasi. Sedangkan pendapatan sejalan dengan perkiraan. Hendriko mengamati, margin laba kotor lebih tinggi seiring penurunan biaya royalti, biaya pemrosesan batubara serta hilangnya biaya mining service. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai, prospek emiten batubara masih menarik di tengah fluktuasi harga komoditas. Secara valuasi, Hendra menilai, ADRO masih relatif murah. Dia merekomendasi trading buy ADRO di target harga di Rp 3.990 per saham. Sedangkan Founder WH Project, William Hartanto merekomendasi beli ADRO dengan target harga Rp 3.700–Rp 3.900 per saham.
Mencari Mitra Strategis Bukit Asam Melakukan Penjajakan Ulang
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus melakukan penjajakan untuk menentukan calon mitra strategis yang tepat dalam proyek gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Muara Enim, Sumatera Selatan. Hal ini menyusul mundurnya perusahaan Amerika Serikat (AS), Air Products and Chemical Inc sebagai mitra strategis Bukit Asam dalam proyek hilirisasi batu bara bernilai investasi US$ 2,1 miliar atau setara dengan Rp32 triliun tersebut. Dalam mencari mitra baru di proyek DME, Bukit Asam mengakui cukup selektif. Senior Vice President Project Management Office PTBA Setiadi Wicaksono mengatakan, pihaknya tengah mempertimbangkan banyak aspek untuk menentukan mitra strategis yang akan ditarik dalam proyek berjangka dalam waktu 20 tahun tersebut. "Saat ini kami sedang melakukan penjajakan ke beberapa calon mitra strategis menyusul mundurnya Air Product. Sedang kami assess dari sisi pendanaan dan kelayakan teknologi, serta kepemilikan pasarnya," kata Setiadi. (Yetede)
Emiten Batubara Berupaya Tetap Bercahaya
Prospek emiten batubara belum lepas dari tekanan. Dikutip dari Reuters, China dikabarkan memangkas jumlah izin pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru hampir 80% pada semester I-2024. China merupakan pembangun PLTU terbesar. Langkah ini bisa menekan permintaan batubara dalam jangka panjang. SVP Project Management Office PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Setiadi Wicaksono menyoroti pembatasan batubara di negara maju. Namun situasi ini tak lantas membuat prospek batubara langsung redup. Setiadi meyakini outlook permintaan batubara masih menarik, setidaknya dalam jangka menengah hingga lima tahun ke depan. Kondisi ini akan merangsang perusahaan batubara menyasar pasar ekspor yang lebih beragam. PTBA sudah mencium peluang dari negara berkembang di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Head of Corporate Communication
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira optimistis, prospek batubara masih kokoh. Penopangnya aktivitas pembangunan yang masih ramai di negara Asia.
Produsen batubara terbesar di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), punya strategi serupa. Direktur & Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava mengatakan, BUMI juga melakukan diversifikasi pasar dan mengakselerasi pendapatan dari segmen non-batubara. "Kami percaya adopsi strategi dengan lanskap pasar yang terus berkembang akan meningkatkan ketahanan," ujar Dileep.
Analis RHB Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi mengamati transisi dunia beralih ke energi terbarukan masih perlu waktu.
Analis Stocknow.id, Dinda Resty Angira mengingatkan potensi koreksi harga batubara masih terbuka, seiring ketidakpastian global.
Kenaikan Harga Batubara Dorong Prospek Emiten Cerah
Memasuki semester II-2024, harga komoditas batubara global kembali memanas. Merujuk Tradingeconomics , tren harga batubara kembali menanjak sejak memasuki akhir bulan Juli dan kini menuju level US$ 150 per ton. Pada Rabu (14/8), harga batubara naik tipis 0,10% ke posisi US$ 146,90 per ton. Deputi Head of Research Sinarmas Sekuritas, Inav Haria Chandra mengamati, penguatan harga batubara dalam sebulan terakhir, ditopang permintaan energi substitusi. Tensi geopolitik Rusia dan Ukraina yang kembali memanas menyebabkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan suplai gas alam. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa sepakat, kebutuhan batubara di China berpotensi memicu kenaikan harga batubara.
"Harga batubara berpeluang melanjutkan kenaikan seiring potensi La Nina, yang bisa mengganggu pasokan global," kata Heru, kemarin.
Analis RHB Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi mencermati, penyebab utama penurunan kinerja mayoritas emiten lantaran harga rata-rata batubara lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Wafi memprediksi, kenaikan harga batubara akan memperbaiki kinerja emiten dibanding semester pertama. Apalagi, para emiten sudah bisa menggenjot produksi batubara pada semester dua ini usai mengantongi izin Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas sepakat, sentimen yang mengiringi saat ini cenderung mendorong kenaikan harga batubara. Pertumbuhan permintaan listrik di negara-negara ekonomi utama turut jadi faktor penting konsumsi batubara global akan relatif stabil di 2024.
Pulihnya Harga Batu Bara
Biomassa Sebagai Pengganti Batu Bara di PLTU.
NU dan Muhammadiyah Mengelola Tambang Batu Bara
Sumber Daya Batubara Turun
Sumber daya batubara permukaan Indonesia turun 35 % dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, sumber daya (resources) batubara permukaan Indonesia turun dari 151,4 miliar ton pada 2018 menjadi 97,3 miliar ton pada 2023. Sementara cadangan (reserves) batubara permukaan Indonesia turun dari 39,9 miliar ton pada 2018 menjadi 31,7 miliar ton pada 2023. Sumber daya batubara mencakup total batubara yang mengendap atau berada di perut bumi Indonesia. Sementara cadangan berarti bagian dari sumber daya batubara yang dapat ditambang secara ekonomis.
Penyelidik Bumi Ahli Madya Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Moehamad Awaludin dalam kolokium Hasil Kegiatan PSDMBP, yang digelar di Bandung, Jabar, secara hibrida, Kamis (1/8) mengatakan, memang terjadi penurunan sumber daya dan cadangan batubara. Namun, dari laporan terverifikasi dan terbaru, ada kembali kenaikan sumber daya dan cadangan batubara. Indonesia juga memiliki potensi batubara bawah permukaan dengan sumber daya 1,69 miliar ton. Di samping itu, ada potensi batubara metalurgi dengan sumber daya 2,67 miliar ton dan cadangan 0,45 miliar ton.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid menuturkan, saat ini, batubara masih digunakan sebagai sumber energi yang mudah dan murah. ”Yang tersedia juga jumlahnya masih cukup besar. Rasio cadangan batubara terhadap ketahanan energi memperlihatkan batubara permukaan Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhanenergi nasional hingga 41 tahun ke depan,” katanya. Batubara juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk mendukung berbagai jenis industri, seperti pertanian, kesehatan, serta pertahanan dan keamanan. Batubara juga dapat dikonversi menjadi bahan bakar cair yang menyubstitusi bahan bakar fosil lainnya. (Yoga)
Cadangan Besar
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









