Batu Bara
( 291 )Batu Bara Mulai Tersingkir dari Panggung Utama Energi
Pemerintah Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam merencanakan pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, sebagai bagian dari transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT). Presiden Prabowo telah menargetkan Indonesia untuk mencapai net zero emission sebelum 2050, dengan salah satu langkah utama adalah mengganti PLTU dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang lebih ramah lingkungan. Namun, seperti yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, transisi energi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak membebani keuangan negara, karena harga EBT saat ini masih tinggi. Pemerintah juga tengah mencari skema pembiayaan yang tepat untuk pensiun dini PLTU, termasuk untuk PLTU Cirengbon-1 dan Pelabuhan Ratu yang meskipun sudah ada komitmen untuk dihentikan operasionalnya, namun terus tertunda karena masalah pembiayaan.
Di sisi lain, Fabby Tuwo, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menekankan pentingnya reformasi regulasi, transformasi industri kelistrikan, dan dukungan pembiayaan dari pemerintah dan pihak luar untuk mengakselerasi transisi ini. Fabby juga menyarankan pembentukan task force dekarbonisasi kelistrikan yang dipimpin oleh seorang ahli, yang langsung melapor kepada Presiden. Namun, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), berpendapat bahwa pernyataan Prabowo di KTT G20 Brasil terkait pensiun dini PLTU masih sebatas gimmick, karena hingga kini belum ada tindakan konkret, seperti daftar PLTU yang akan dipensiunkan, dan masih ada PLTU baru seperti PLTU Cirebon-2 yang baru saja beroperasi.
Sementara itu, Komisi Transisi Batu Bara yang dipimpin oleh Indonesia dan Prancis menyarankan agar sektor perbankan dan investor swasta mengambil peran aktif dalam mendanai proyek pensiun dini PLTU di negara-negara berkembang, dan merekomendasikan agar kriteria keberlanjutan pembiayaan dilonggarkan untuk mendukung penutupan PLTU batu bara.
Secara keseluruhan, untuk mencapai transisi energi yang sukses, pemerintah harus menghadapi tantangan besar dalam hal pembiayaan, ketersediaan EBT yang cukup, dan penciptaan kebijakan yang mendukung agar pensiun dini PLTU bisa berjalan sesuai rencana, tanpa mengganggu kestabilan ekonomi negara.
Pertumbuhan Ekonomi masih mengandalkan Tambang
Pertambangan mineral dan batubara masih memegang peran penting bagi Indonesia, mengingat melimpahnya sumber daya yang dimiliki, untuk menjawab kebutuhan energi dalam menopang target-target pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, hilirisasi, penggunaan energi hijau, dan pengembangan teknologi bersih pada minerba mesti terus dilakukan. Hal itu mengemuka dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) ”Navigating & Prospect for Energy Resilience in Indonesia by 2035” yang digelar Kompas dengan Indonesian Mining Association (IMA), di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (22/11).
Sebagai pembicara diskusi adalah Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Energi Purnomo Yusgiantoro, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pajak IMA Ezra Sibarani, serta dosen Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti sekaligus Direktur Eksekutif Refor Miner Institute, Komaidi Notonegoro. Menurut Purnomo, cadangan komoditas mineral dan batubara Indonesia masih cukup melimpah serta memiliki peran strategis dalam pembangunan. Di antaranya jenis nikel, tem- baga, bauksit, timah, emas, dan besi. Begitu juga pada batubara, yang selama ini mendukung ketahanan energi, yakni kelistrikan, melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Hilirisasi atau peningkatan nilai tambah, ujar Purnomo, sejatinya sudah diatur dalam UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba.
Namun, hal itu jangan hanya berhenti pada pengolahan dan pemurnian. ”Sekarang kita perlu mengembangkan adanya peningkatan nilai tambah pada produk akhir,” ujarnya. Di samping itu, eksplorasi pertambangan minerba mesti terus dilakukan. Pada batubara, misalnya. Purnomo menyebutkan, berdasar data Badan Geologi, pada 2022, cadangan batubara Indonesia 35,05 miliar ton dan sumber daya sebesar 99,19 miliar ton. Volume cadangan tersebut membuat batubara Indonesia dapat dimanfaatkan untuk 50 tahun ke depan. Peningkatan penggunaan batubara bakal menghasilkan emisi yang lebih besar. Karena itu, clean coal technology mesti terus dikembangkan. Dukungan-dukungan insentif juga perlu diberikan kepada investor dalam mendukung eksplorasi pertambangan mineral dan batubara. (Yoga)
Agresif, Petrindo Agresif Mencaplok Tambang Batu Bara
Uang PLN Berisiko Mengalir ke Batu Bara
Diversifikasi Batubara oleh ADRO
Skema MIP Tingkatkan Kinerja PTBA
Tren Penurunan Bisnis Batu Bara di Tengah Perubahan Pasar
La Nina Tantang Cuan Batu Bara: Dampak Cuaca pada Sektor Energi
Perkembangan industri batu bara di Indonesia pada September 2024, yang dihadapkan pada kenaikan harga batu bara acuan (HBA) dan tantangan operasional akibat cuaca hujan yang dipicu oleh fenomena La Nina. Kementerian ESDM menetapkan HBA pada September 2024 sebesar US$125,15 per ton, sedangkan harga batu bara Newcastle di pasar global mencapai US$139,75 per ton. Kenaikan harga ini membawa dampak positif bagi emiten-emiten batu bara, seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS).
Corporate Secretary Bukit Asam, Niko Chandra, menyatakan bahwa perusahaan optimistis dapat menjaga kinerja positif hingga akhir tahun, meskipun menghadapi curah hujan tinggi. PTBA telah menyiapkan strategi untuk mengatasi fenomena La Nina dengan perencanaan penambangan yang cermat dan stok batu bara yang cukup.
Corporate Secretary Golden Energy Mines, Sudin, menuturkan bahwa kenaikan HBA berdampak positif bagi kinerja GEMS, dengan harapan harga batu bara tetap stabil hingga akhir tahun. GEMS menargetkan produksi 50 juta ton batu bara pada 2024, naik dari 40 juta ton pada 2023.
Selain itu, PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) juga telah menyiapkan strategi untuk menghadapi cuaca basah, dengan fokus menjaga margin yang sehat dan kontinuitas pasokan. Target volume penjualan ADRO pada 2024 adalah 65-67 juta ton.
Sara K. Loebis, Corporate Secretary PT United Tractors Tbk. (UNTR), menyatakan bahwa perusahaan memaksimalkan produksi selama musim kering untuk mengantisipasi musim hujan. Namun, musim hujan juga memberikan keuntungan dengan meningkatnya debit air sungai yang memudahkan pengangkutan batu bara.
Direktur PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), Dileep Srivastava, yakin bahwa fenomena La Nina tidak akan mengganggu target produksi batu bara BUMI sebesar 78-82 juta ton pada 2024.
Antrasit: Solusi Utama dalam Peralihan ke Energi Ramah Lingkungan
Peran penting batu bara, terutama antrasit, dalam industri baja dan transisi energi rendah karbon. Batu bara sering dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan, tetapi antrasit, sebagai jenis batu bara peringkat tertinggi, memiliki emisi karbon lebih rendah dibandingkan jenis lainnya seperti bituminus. Antrasit, yang hanya mencakup sekitar 1% dari cadangan batu bara dunia, sangat penting dalam proses produksi baja rendah karbon, khususnya melalui teknologi Electric Arc Furnace (EAF).
Menurut kajian Schobert dan Schobert (2015), antrasit lebih efisien dan menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan bituminus, menjadikannya pilihan utama dalam industri peleburan baja, terutama di Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah yang diprediksi akan meningkatkan kapasitas produksi baja dengan teknologi EAF. Salah satu langkah besar dalam sektor ini adalah akuisisi Atlantic Carbon Group, Inc. oleh PT Delta Dunia Makmur Tbk. melalui anak perusahaannya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA). ACG merupakan produsen antrasit UHG terbesar kedua di Amerika Serikat, yang akan memperkuat peran antrasit dalam industri baja global, khususnya untuk kebutuhan baja rendah karbon.
Program Hilirisasi Batu Bara Beroperasi pada 2030
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









