;
Tags

Batu Bara

( 291 )

Batu Bara Mulai Tersingkir dari Panggung Utama Energi

HR1 25 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pemerintah Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam merencanakan pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, sebagai bagian dari transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT). Presiden Prabowo telah menargetkan Indonesia untuk mencapai net zero emission sebelum 2050, dengan salah satu langkah utama adalah mengganti PLTU dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang lebih ramah lingkungan. Namun, seperti yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, transisi energi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak membebani keuangan negara, karena harga EBT saat ini masih tinggi. Pemerintah juga tengah mencari skema pembiayaan yang tepat untuk pensiun dini PLTU, termasuk untuk PLTU Cirengbon-1 dan Pelabuhan Ratu yang meskipun sudah ada komitmen untuk dihentikan operasionalnya, namun terus tertunda karena masalah pembiayaan.

Di sisi lain, Fabby Tuwo, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menekankan pentingnya reformasi regulasi, transformasi industri kelistrikan, dan dukungan pembiayaan dari pemerintah dan pihak luar untuk mengakselerasi transisi ini. Fabby juga menyarankan pembentukan task force dekarbonisasi kelistrikan yang dipimpin oleh seorang ahli, yang langsung melapor kepada Presiden. Namun, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), berpendapat bahwa pernyataan Prabowo di KTT G20 Brasil terkait pensiun dini PLTU masih sebatas gimmick, karena hingga kini belum ada tindakan konkret, seperti daftar PLTU yang akan dipensiunkan, dan masih ada PLTU baru seperti PLTU Cirebon-2 yang baru saja beroperasi.

Sementara itu, Komisi Transisi Batu Bara yang dipimpin oleh Indonesia dan Prancis menyarankan agar sektor perbankan dan investor swasta mengambil peran aktif dalam mendanai proyek pensiun dini PLTU di negara-negara berkembang, dan merekomendasikan agar kriteria keberlanjutan pembiayaan dilonggarkan untuk mendukung penutupan PLTU batu bara.

Secara keseluruhan, untuk mencapai transisi energi yang sukses, pemerintah harus menghadapi tantangan besar dalam hal pembiayaan, ketersediaan EBT yang cukup, dan penciptaan kebijakan yang mendukung agar pensiun dini PLTU bisa berjalan sesuai rencana, tanpa mengganggu kestabilan ekonomi negara.


Pertumbuhan Ekonomi masih mengandalkan Tambang

KT3 25 Nov 2024 Kompas (H)

Pertambangan mineral dan batubara masih memegang peran penting bagi Indonesia, mengingat melimpahnya sumber daya yang dimiliki, untuk menjawab kebutuhan energi dalam menopang target-target pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, hilirisasi, penggunaan energi hijau, dan pengembangan teknologi bersih pada minerba mesti terus dilakukan. Hal itu mengemuka dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) ”Navigating & Prospect for Energy Resilience in Indonesia by 2035” yang digelar Kompas dengan Indonesian Mining Association (IMA), di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (22/11).

Sebagai pembicara diskusi adalah Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Energi Purnomo Yusgiantoro, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pajak IMA Ezra Sibarani, serta dosen Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti sekaligus Direktur Eksekutif Refor Miner Institute, Komaidi Notonegoro. Menurut Purnomo, cadangan komoditas mineral dan batubara Indonesia masih cukup melimpah serta memiliki peran strategis dalam pembangunan. Di antaranya jenis nikel, tem- baga, bauksit, timah, emas, dan besi. Begitu juga pada batubara, yang selama ini mendukung ketahanan energi, yakni kelistrikan, melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Hilirisasi atau peningkatan nilai tambah, ujar Purnomo, sejatinya sudah diatur dalam UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba.

Namun, hal itu jangan hanya berhenti pada pengolahan dan pemurnian. ”Sekarang kita perlu mengembangkan adanya peningkatan nilai tambah pada produk akhir,” ujarnya. Di samping itu, eksplorasi pertambangan minerba mesti terus dilakukan. Pada batubara, misalnya. Purnomo menyebutkan, berdasar data Badan Geologi, pada 2022, cadangan batubara Indonesia 35,05 miliar ton dan sumber daya sebesar 99,19 miliar ton. Volume cadangan tersebut membuat batubara Indonesia dapat dimanfaatkan untuk 50 tahun ke depan. Peningkatan penggunaan batubara bakal menghasilkan emisi yang lebih besar. Karena itu, clean coal technology mesti terus dikembangkan. Dukungan-dukungan insentif juga perlu diberikan kepada investor dalam mendukung eksplorasi pertambangan mineral dan batubara. (Yoga)


Agresif, Petrindo Agresif Mencaplok Tambang Batu Bara

KT1 08 Nov 2024 Investor Daily (H)
Emiten pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) makin agresif melakukan ekspansi anorganik dengan terus menambah portfolio baru. Kali ini, emiten Grup Barito tersebut mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang batu bara di kalimantan Tengah. "Pada tanggal 6 November 2024, perseroan dan PT Kreasi Jasa Persada (KPJ), anak perusahaan yang dimiliki 99,99% oleh perseroan, telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) saham PT Borneo Berkat Kutai (BBK) dan PT Intan Bumi Persada (IBP)," kata Corporate Secretary Petrindo Jaya Kreasi Robertus Maylando Siahaya. Robertus mengatakan, IPB merupakan perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan Batu Bara (IUP) dengan wilayah kerja di kalimantan Tengah. Sedangkan BBK merupakan pemilik 80% saham di dalam IPB. Dia menjelaskan, perseroan bersama KJP menekan PPJB sehubungan dengan penjualan atas 25 juta lembar saham atau 100% saham BBK dan Herry Hermanto. Pada saat bersamaan, Petrindo dan KJP juga menandatangani PPJB Saham Lunas sehubungan dengan penjualan atau 2.400 lembar saham atau 20% saham IBP milik PT Herlindo Prima Jaya. (Yetede)

Uang PLN Berisiko Mengalir ke Batu Bara

KT1 26 Oct 2024 Tempo
AWAL Mei 2024, pertemuan tahunan Bank Pembangunan Asia (ADB) digelar di Tbilisi, Georgia, dengan tema yang prestisius: “Bridge to The Future”. Masatsugu Asakawa, Presiden ADB, dalam sambutannya, menyebutkan tema tersebut selaras dengan lokasi Georgia. Negara di tepi Laut Hitam ini berada di persimpangan Asia dan Eropa, dua benua yang menurut Asakawa memiliki hubungan fisik, finansial, dan ekonomi saat ini dan di masa mendatang. Hubungan itu sampai ke Indonesia, yang menjadi anggota ADB sejak 1966. Sejak saat itu, ADB menjadi salah satu bank pembangunan multinasional yang banyak menyalurkan dana ke Indonesia. Pendanaan turut masuk ke sektor energi, terutama untuk meningkatkan akses terhadap listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya yang dibangun pada era 1980-an hanya salah satu hasil pinjaman ADB.

Dalam pertemuan di Tbilisi, di depan perwakilan negara donor ADB, Asakawa kembali menegaskan komitmen institusinya untuk ikut andil menciptakan masa depan yang berkelanjutan. Dalam lima tahun terakhir, ADB memang resmi menarik diri dari pembiayaan energi fosil, termasuk batu bara. Mereka menggulirkan kebijakan energi teranyar pada 2021 yang menegaskan tidak akan lagi menggulirkan pinjaman ke proyek PLTU batu bara. Namun wujud dari komitmen itu masih menjadi tanda tanya. Hasil studi kami, yang dirilis pada 24 April 2024 atau sepekan sebelum pertemuan tahunan ADB pada Mei 2024, menunjukkan adanya potensi penggunaan ADF untuk proyek-proyek energi kotor di Indonesia. (Yetede)

Diversifikasi Batubara oleh ADRO

HR1 25 Oct 2024 Kontan
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang tetap positif meskipun perusahaan berencana melepas anak usaha di lini bisnis batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AAI). Arinda Izzaty, analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai pelepasan ini akan signifikan mempengaruhi pendapatan dan laba bersih ADRO, dengan proyeksi penurunan masing-masing sebesar 65% dan 64%. Namun, langkah ini dianggap strategis karena memungkinkan ADRO fokus pada diversifikasi ke energi terbarukan (EBT) dan mengurangi risiko dari fluktuasi pasar batubara global.

Sukarno Alatas, Head of Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyebut bahwa meskipun ada penurunan prospek jangka menengah, langkah ini sudah dipertimbangkan dengan baik oleh manajemen ADRO. Fokus pada bisnis EBT sejalan dengan meningkatnya target bauran energi terbarukan di masa depan.

Di sisi lain, Arinda juga mencatat bahwa segmen batubara metalurgi melalui PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) masih akan menjadi kontributor utama pendapatan ADRO dalam jangka pendek, mengingat tingginya permintaan dari industri baja di Asia. Axel Leonardo dari Sinarmas Sekuritas menyoroti potensi pertumbuhan produksi batubara ADMR, yang diproyeksikan mencapai 6 juta ton tahun ini, didukung oleh pengembangan infrastruktur.

Para analis, termasuk Aurelie Amanda dari BNI Sekuritas, merekomendasikan "hold" untuk saham ADRO, dengan target harga di kisaran Rp 3.900 hingga Rp 4.050, mencerminkan optimisme terhadap prospek jangka panjang meskipun ada tantangan jangka pendek. 

Skema MIP Tingkatkan Kinerja PTBA

HR1 09 Oct 2024 Kontan
Kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diprediksi membaik di semester kedua 2024, ditopang oleh potensi kenaikan harga batu bara dan penerapan skema Mitra Instansi Pengelola (MIP). Analis KB Valbury Sekuritas, Benyamin Mikael, mencatat peningkatan laba bersih PTBA pada kuartal kedua sebesar 57% secara kuartalan, meskipun ada penurunan sebesar 26,8% dalam laba bersih secara tahunan pada periode Januari-Juni 2024. Benyamin optimis laba PTBA dapat mencapai Rp 4,3 triliun, didorong oleh peningkatan volume penjualan ekspor dan penurunan biaya tunai.

Arinda Izzaty Hafiya, Junior Equity Analyst dari Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut ada tiga faktor yang mengerek harga batu bara: stimulus ekonomi China, ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, dan peningkatan permintaan menjelang musim dingin. Dia memperkirakan harga batu bara bisa mencapai US$ 160 per ton pada akhir 2024. 

Skema MIP, yang disiapkan pemerintah untuk mengatasi perbedaan harga batu bara di pasar domestik dan ekspor, juga diprediksi menguntungkan PTBA yang memiliki porsi besar dalam penjualan domestik. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, memproyeksikan kenaikan laba PTBA hingga 70% jika skema MIP diterapkan. Hasan dan Arinda merekomendasikan pembelian saham PTBA dengan target harga Rp 3.500 per saham, namun harga ini bisa mencapai Rp 4.300 jika skema MIP berhasil meningkatkan laba perusahaan.

Tren Penurunan Bisnis Batu Bara di Tengah Perubahan Pasar

HR1 09 Oct 2024 Kontan
Sejumlah perusahaan tambang batu bara Indonesia mulai mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara dengan melakukan diversifikasi ke sektor berkelanjutan. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melepas dua aset PLTU sebagai bagian dari target mencapai netralitas karbon pada 2030, ungkap Direktur TOBA, Juli Oktarina. PT Indika Energy Tbk (INDY) juga aktif menjual beberapa anak usahanya terkait energi, seperti PT Mitra Energi Agung dan PT Trisetia Citagraha, untuk memperkuat keuangan dan mengalihkan investasi ke sektor energi terbarukan, kata Head of Corporate Communications Ricky Fernando.

PT United Tractors Tbk (UNTR) juga berencana memperbesar kontribusi bisnis non-batubara pada 2030, sementara PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) bersiap untuk melepas salah satu pilar bisnis batu baranya demi mencapai 50% pendapatan dari sektor non-batu bara. Hendra Wardana dari Stocknow.id menilai langkah ini sebagai respons terhadap kebutuhan pasar global akan keberlanjutan. Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki, mengingatkan bahwa transisi ini memerlukan waktu, terutama karena kontribusi bisnis batu bara masih dominan di perusahaan-perusahaan ini. 

Di pasar saham, William Hartanto dan Yaki merekomendasikan saham emiten seperti INDY, ADRO, TOBA, dan UNTR, yang diperkirakan memiliki potensi harga jangka pendek hingga menengah.

La Nina Tantang Cuan Batu Bara: Dampak Cuaca pada Sektor Energi

HR1 25 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Perkembangan industri batu bara di Indonesia pada September 2024, yang dihadapkan pada kenaikan harga batu bara acuan (HBA) dan tantangan operasional akibat cuaca hujan yang dipicu oleh fenomena La Nina. Kementerian ESDM menetapkan HBA pada September 2024 sebesar US$125,15 per ton, sedangkan harga batu bara Newcastle di pasar global mencapai US$139,75 per ton. Kenaikan harga ini membawa dampak positif bagi emiten-emiten batu bara, seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS).

Corporate Secretary Bukit Asam, Niko Chandra, menyatakan bahwa perusahaan optimistis dapat menjaga kinerja positif hingga akhir tahun, meskipun menghadapi curah hujan tinggi. PTBA telah menyiapkan strategi untuk mengatasi fenomena La Nina dengan perencanaan penambangan yang cermat dan stok batu bara yang cukup.

Corporate Secretary Golden Energy Mines, Sudin, menuturkan bahwa kenaikan HBA berdampak positif bagi kinerja GEMS, dengan harapan harga batu bara tetap stabil hingga akhir tahun. GEMS menargetkan produksi 50 juta ton batu bara pada 2024, naik dari 40 juta ton pada 2023.

Selain itu, PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) juga telah menyiapkan strategi untuk menghadapi cuaca basah, dengan fokus menjaga margin yang sehat dan kontinuitas pasokan. Target volume penjualan ADRO pada 2024 adalah 65-67 juta ton.

Sara K. Loebis, Corporate Secretary PT United Tractors Tbk. (UNTR), menyatakan bahwa perusahaan memaksimalkan produksi selama musim kering untuk mengantisipasi musim hujan. Namun, musim hujan juga memberikan keuntungan dengan meningkatnya debit air sungai yang memudahkan pengangkutan batu bara.

Direktur PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), Dileep Srivastava, yakin bahwa fenomena La Nina tidak akan mengganggu target produksi batu bara BUMI sebesar 78-82 juta ton pada 2024.

Antrasit: Solusi Utama dalam Peralihan ke Energi Ramah Lingkungan

HR1 20 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Peran penting batu bara, terutama antrasit, dalam industri baja dan transisi energi rendah karbon. Batu bara sering dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan, tetapi antrasit, sebagai jenis batu bara peringkat tertinggi, memiliki emisi karbon lebih rendah dibandingkan jenis lainnya seperti bituminus. Antrasit, yang hanya mencakup sekitar 1% dari cadangan batu bara dunia, sangat penting dalam proses produksi baja rendah karbon, khususnya melalui teknologi Electric Arc Furnace (EAF).

Menurut kajian Schobert dan Schobert (2015), antrasit lebih efisien dan menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan bituminus, menjadikannya pilihan utama dalam industri peleburan baja, terutama di Eropa, Amerika Utara, dan Timur Tengah yang diprediksi akan meningkatkan kapasitas produksi baja dengan teknologi EAF. Salah satu langkah besar dalam sektor ini adalah akuisisi Atlantic Carbon Group, Inc. oleh PT Delta Dunia Makmur Tbk. melalui anak perusahaannya PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA). ACG merupakan produsen antrasit UHG terbesar kedua di Amerika Serikat, yang akan memperkuat peran antrasit dalam industri baja global, khususnya untuk kebutuhan baja rendah karbon.


Program Hilirisasi Batu Bara Beroperasi pada 2030

KT1 05 Sep 2024 Investor Daily (H)
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan program hilirisasi batu bara ditargetkan mulai beroperasi pada 2030. Saat ini sejumlah pelaku batu bara tengah melakukan uji kelayakan (feasibility study) terhadap program peningkatan nilai tambah batu bara. Tercatat ada 6 Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang sedang menggarap hilirisasi batu bara. Keenam perusahaan ini sebelumnya berlisensi Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batu Bara (PKP2B). Perpanjangan konsensi diberikan  pemerintah dengan status IUPK dan mewajibkan pengembangan hilirisasi  batu bara. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jendral Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Suswanto mengatakan pemerintah menyediakan tiga insentif pengembangan batu bara. Pemerintah juga mewajibkan perpanjangan PKP2B menjadi IUPK harus menyampaikan rencana pengembangan dan pemanfaatan batu bara. (Yetede)