;
Tags

Batu Bara

( 291 )

Sejumlah Pihak Khawatir UU Minerba Berisiko Merusak Tata Kelola Tambang

KT1 20 Feb 2025 Tempo
Alih-alih optimistis, sejumlah pihak khawatir melihat perubahan keempat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara atau UU Minerba. Ketentuan anyar dalam aturan yang dibahas Dewan Perwakilan Rakyat bersama pemerintah dalam waktu singkat ini berisiko memperkeruh tata kelola pertambangan. Pada Selasa, 18 Februari 2025, DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Keempat atas UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara atau revisi UU Minerba menjadi UU Minerba dalam rapat paripurna. UU Minerba yang baru salah satunya mengatur pemberian izin usaha pertambangan secara prioritas. Hak ini antara lain diberikan kepada organisasi masyarakat keagamaan, koperasi, hingga usaha kecil dan menengah. 

Selain itu, pemerintah bisa memberikan lahan secara prioritas untuk badan usaha swasta dengan tujuan penghiliran atau industrialisasi. Artinya, mereka bisa menguasai konsesi tambang tanpa harus ikut lelang. Sebelum revisi, badan usaha yang tertarik mengantongi izin pengelolaan wilayah tambang wajib mengikuti lelang. Prioritas hanya diberikan kepada badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah.Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan Bisman Bachtiar melihat pengaturan ini menjadi alasan untuk bagi-bagi konsesi tambang. "Karena intinya siapa pun yang dikehendaki oleh pemerintah bisa mendapat prioritas," katanya kepada Tempo, Rabu, 19 Februari 2025. Ia mencontohkan risiko politik ijon atau sistem transaksional antara pemerintah dan donatur dengan mengobral izin tambang. Lelang merupakan salah satu cara untuk mencegah konflik kepentingan.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) pernah memotret fenomena politik ijon dengan cara obral izin tambang ini. Lembaga swadaya masyarakat tersebut menemukan sebanyak 82,4 persen dari total 8.710 izin usaha pertambangan (IUP) yang ada pada 2018 diterbitkan di 171 lokasi pemilihan kepala daerah. Di Jawa Tengah dan Jawa Barat saja, terdapat 170 izin tambang baru yang terbit sepanjang 2017-2018. Di sisi lain, obral izin bakal memicu kegiatan tambang makin eksploitatif. Bisman khawatir kerusakan lingkungan akan menjadi makin masif.  Risiko terhadap kerusakan lingkungan yang lebih parah sulit terhindarkan. Menurut National Coordinator Publish What You Pay Aryanto Nugroho, kebijakan pemerintah memberikan izin prioritas berpotensi melahirkan makin banyak izin pertambangan. (Yetede)

Indonesia Akan Segera Punya Government Coal Index

KT1 07 Feb 2025 Investor Daily (H )
Pemerintah diprediksi akan menggunakan formula baru dalam penetapan harga Batu Bara Acuan (HBA).  Niatnya harga acuan teranyar itu menjadi basis perhitungan royalti maupun acuan harga ekspor batu bara, Kebijakan ini sebagai upaya meningkatkan pendapatan negara dari sektor pertambangan. Formula HBA ini belum mencerminkan harga batu bara ke depan. Pasalnya penetapan dilakukan satu kali dalam sebulan dan merujuk harga beberapa pekan sebelumnya. Diproyeksikan, HBA teranyar menggunakan pola seperti indeks batu bara pihak swasta yakni penetapan harga setiap jumat untuk proyeksi harga pekan berikutnya. Ketua Indoensia Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menterjemahkan rencana pemerintah dalam menerapakan HBA untuk kegiatan ekspor yakni membentuk Indonesia Government Coal Index. Menurutnya, pembentukan index itu bisa dilakukan pemerintah namun dengan syarat mengubah formula HBA saat ini. "Ini ibaratnya pemerintah menentukan tim sendiri, Indonesian Government Coal Index. Pemerintah membuat panel itu bisa saja. Badan swasta saja bisa masak pemerintah tidak, kalau dalam menentukan parameternya bisa sama dengan HBS tapi dimodifikasi 100% dari pemerintahan," kata Singgih. (Yetede)

Harga Batubara Anjlok, Kinerja Tertekan

HR1 06 Feb 2025 Kontan
Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diperkirakan mengalami penurunan pada 2025 akibat turunnya harga batubara, meskipun produksi meningkat.

Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, memperkirakan ITMG akan meningkatkan produksi hingga 21,8 juta ton berkat kontribusi tambang Graha Panca Karsa (GPK) dan Tepian Indah Sukses (TIS). Namun, harga batubara yang telah terkoreksi 10% sejak awal 2025 menjadi US$ 115,25 per ton membuat prospek bisnis ITMG tetap menantang. Hasan juga merevisi asumsi harga jual rata-rata (ASP) batubara 2025 turun 13,3% menjadi US$ 91 per ton, yang berdampak pada penurunan ekspektasi laba bersih sebesar 21,6% menjadi US$ 355 juta.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai peningkatan produksi tidak akan banyak membantu karena harga batubara yang terus melemah. Ia memperkirakan ASP ITMG bisa berada di kisaran US$ 75-80 per ton, menyebabkan proyeksi pendapatan turun 13% dan laba turun 26% pada 2025.

Meski begitu, ITMG tetap berkomitmen mempertahankan dividen payout ratio di 70% untuk periode 2024-2026, yang menawarkan imbal hasil dividen di atas 12%. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan, memperkirakan pendapatan ITMG pada 2025 mencapai US$ 2,31 miliar dan laba bersih US$ 497 juta, menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia menilai manajemen biaya yang disiplin dapat membantu mempertahankan profitabilitas perusahaan.

Dalam rekomendasi saham, Hasan dan Sukarno menyaranakan hold, dengan target harga masing-masing Rp 25.000 dan Rp 28.000 per saham, sedangkan Rizkia mempertahankan peringkat trading buy dengan target harga Rp 29.150 per saham.

Izin Usaha Batu Bara

HR1 21 Jan 2025 Bisnis Indonesia


Revisi Undang-Undang No. 4/2009 tentang Mineral dan Batu Bara (Minerba) menjadi salah satu topik penting dalam pembahasan Badan Legislasi DPR. Salah satu poin penting dalam revisi ini adalah pemberian izin usaha pertambangan (WIUP) yang lebih luas kepada perguruan tinggi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta organisasi kemasyarakatan. Menurut Ketua Badan Legislasi DPR, Bob Hasan, langkah ini membuka peluang bagi masyarakat Indonesia untuk terlibat langsung dalam sektor pertambangan, tidak hanya yang berada di sekitar lokasi tambang, tetapi juga yang lebih luas.

Dalam draf revisi, Pasal 51A dan 51B mengatur pemberian WIUP mineral logam kepada perguruan tinggi dan UMKM dengan cara prioritas. Perguruan tinggi yang dapat menerima WIUP harus memiliki akreditasi minimal B, sementara pemberian WIUP untuk UMKM akan diprioritaskan berdasarkan faktor-faktor seperti peningkatan tenaga kerja dalam negeri dan pemenuhan rantai pasok. Selain itu, ketentuan tentang pemberian WIUP juga mengatur tentang badan usaha, koperasi, dan bahkan organisasi keagamaan yang dapat terlibat dalam usaha pertambangan.

Namun, pembahasan revisi UU ini menuai kontroversi. Putra Nababan, anggota Badan Legislasi DPR, mengkritik proses pembahasan yang terkesan terburu-buru tanpa melihat naskah akademik dengan cermat. Selain itu, pemberian WIUP kepada organisasi keagamaan, seperti yang dilakukan dengan Nahdlatul Ulama (NU), menimbulkan pro dan kontra. NU, misalnya, berencana mengelola penghiliran batu bara melalui PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara, meski masih mencari investor untuk membiayai kegiatan reklamasi dan memastikan keberlanjutan bisnis tambangnya.

Secara keseluruhan, revisi UU Minerba bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat, perguruan tinggi, dan UMKM dalam industri pertambangan. Namun, implementasi dan dampak kebijakan ini memerlukan kajian yang lebih mendalam dan transparan agar tidak menimbulkan potensi risiko ekonomi dan sosial yang merugikan.


Ekspor Batubara dan CPO Mengancam Surplus Dagang

HR1 16 Jan 2025 Kontan
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 2,24 miliar pada Desember 2024, lebih rendah dibandingkan November 2024 yang mencapai US$ 4,37 miliar. Sepanjang tahun 2024, surplus neraca dagang mencapai US$ 31,04 miliar, turun dari US$ 36,88 miliar pada 2023.

Komoditas ekspor utama menurun, Ekspor batubara, besi dan baja, serta minyak sawit mentah (CPO) menunjukkan tren penurunan. Contohnya, ekspor batubara Desember 2024 tercatat US$ 2,69 miliar, turun 10,36% secara tahunan, meski naik sedikit secara bulanan (2,81%). Defisit perdagangan dengan beberapa negara, Defisit terbesar terjadi dengan China (US$ 11,41 miliar), Australia (US$ 4,76 miliar), dan Thailand (US$ 3,84 miliar).

Permintaan global melemah, Menurut David Sumual, Kepala Ekonom BCA, perlambatan surplus dipicu oleh pelemahan harga komoditas dan permintaan ekspor dari negara seperti China.

Surplus perdagangan terbesar pada 2024 adalah dengan Amerika Serikat (US$ 16,84 miliar), diikuti India (US$ 15,39 miliar), dan Filipina (US$ 8,85 miliar). David Sumual memprediksi surplus 2025 akan turun menjadi US$ 26,2 miliar, sementara Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia lebih optimis, memperkirakan surplus perdagangan mencapai US$ 43 miliar jika tidak ada tekanan besar, seperti kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump.

Penurunan surplus neraca perdagangan pada 2024 menunjukkan dampak pelemahan harga komoditas dan permintaan ekspor global. Meski surplus masih diproyeksikan berlanjut pada 2025, tantangan dari kebijakan perdagangan internasional dan fluktuasi harga komoditas perlu diantisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Perbankan Nasional Biayai Hilirisasi Batu Bara

KT1 15 Jan 2025 Investor Daily (H)
Proyek hilirisasi batu bara akan masif seiring dengan peluang mendapatkat biaya dari perbankan maupun lembaga keuangan nonbank nasional. Pembiayaan itu diberikan atas rekomondasi Satuan  Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi. Satgas ini dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Beleid yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto pada 3 Januari 2025 itu antara lain memberi wewenang untuk mengindentifikasi dan merekomondasikan proyek strategis guna mendapatkan pembiayaan dari perbankan maupun lembaga keuangan nonbank dalam negeri. Pendanaan merupakan salah satu isu terpenting dalam pengembangan hilirisasi batu bara. Pasalnya, proyek berbasis batu bara sulit mendapatkan pembiayaan dari perbankan maupun lembaga keuangan internasional karena diangap sebagai sumber energi kotor yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Plt Direktur EKsekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan pelaku usaha berkomitemn dalam meningkatkan nilai tambah batu bara melalui hilirisasi. Dia membenarkan faktor pendanaan proyek hilirisasi menjadi salah satu kendala dalam proses pengembangannya. (Yetede)

Ormas Keagamaan Bersiap Hadapi Tahun Politik

HR1 13 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Langkah-langkah yang diambil oleh dua organisasi besar, PBNU dan Muhammadiyah, terkait dengan rencana mereka untuk mengelola tambang batu bara. PBNU, melalui PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara, sedang merencanakan penghiliran batu bara dengan melakukan kajian untuk memastikan pengelolaannya tidak merugikan. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menekankan pentingnya keuntungan dalam bisnis batu bara ini, yang masih dalam tahap eksplorasi dan pencarian investor untuk mendanai kegiatan reklamasi. PBNU memperoleh wilayah izin usaha pertambangan di Kalimantan Timur seluas 25.000–26.000 hektar.

Sementara itu, Muhammadiyah lebih berhati-hati dalam menyikapi rencana pengelolaan tambang batu bara bekas PKP2B Adaro Energy, yang luasnya mencapai 7.437 hektare. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, menunggu kepastian dari pemerintah sebelum memberikan tanggapan lebih lanjut. Muhammadiyah juga sudah membentuk dua perusahaan untuk mengelola izin usaha pertambangannya jika disetujui.

Secara keseluruhan, meskipun kedua organisasi besar ini bergerak di bidang yang sama, PBNU lebih cepat dalam memulai langkah-langkah konkret, sedangkan Muhammadiyah lebih menunggu kepastian dari pihak pemerintah. Sementara itu, sektor batu bara di Indonesia terus berkembang, dengan proyeksi permintaan batu bara global yang diperkirakan akan terus meningkat hingga 2027.



Prospek Cerah di Sektor Batubara

HR1 06 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun harga batu bara cenderung turun belakangan ini, prospek bisnis batu bara masih positif, terutama dengan proyeksi kenaikan permintaan pada tahun 2025. Sektor batu bara di Indonesia diprediksi akan tetap tumbuh, didorong oleh tingginya permintaan baik domestik maupun ekspor, khususnya di Asia Tenggara. Beberapa emiten batu bara seperti PT Adaro An-dalan Indonesia (AADI), PT Golden Energy Mines (GEMS), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Bumi Resources (BUMI) menunjukkan optimisme terhadap masa depan industri ini. Julius Aslan, Direktur Utama AADI, menyebutkan bahwa prospek batu bara akan tetap menarik pada 2025, meskipun ada transisi menuju energi terbarukan. Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendukung sektor batu bara juga menjadi faktor yang memperkuat optimisme ini. Namun, meskipun ada prediksi penurunan harga batu bara pada 2025, banyak analis dan emiten yang masih optimis dengan potensi arus kas yang kuat dan dividend yield menarik dalam beberapa tahun mendatang. Analis MNC Sekuritas memprediksi harga batu bara akan berada di kisaran US$140 per ton pada 2025, sedangkan Ciptadana Sekuritas meyakini bahwa harga yang tinggi dapat menghasilkan arus kas yang kuat bagi emiten.


Pencatatan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia resmi dikukuhkan

KT3 06 Dec 2024 Kompas

Pencatatan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia dikukuhkan hari Kamis (5/12). Saham induk perusahaan yang fokus di bidang tambang batubara ini merupakan hasil spin-off atau pemisahan usaha dengan PT Adaro Energy Indonesia Tbk, yang telah berubah nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. Perusahaan yang berkode AADI ini menjadi perusahaan ke-40 dan segelintir dari perusahaan mercusuar atau beraset besar yang melaksanakan initial public offering (IPO) di BEI sepanjang 2024. Total terdapat tiga perusahaan Adaro yang menjadi perusahaan terbuka, yakni AADI, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna dalam sambutannya mengingatkan agar manajemen kepemimpinan di perseroan memiliki visi yang jelas agar dapat menavigasi lanskap perkembangan bisnis yang terus berkembang. Di antaranya dengan cara mengedepankan keberlanjutan secara jangka panjang.

”Perseroan juga perlu memberi kontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkontribusi balik ke peningkatan kinerja perseroan. Kemudian, mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Kami menekankan agar tata kelola yang baik jadi fondasi tumbuhnya kepercayaan bagi investor kita,” tutur Nyoman dalam acara yang berlangsung secara hibrida. Dirut Adaro Andalan Indonesia Julius Aslan menyampaikan, Adaro Andalan menjadi perusahaan induk atau perusahaan holding yang memiliki fokus utama pada bisnis pertambangan batubara termal dan ekosistem penunjangnya. Ia tidak memungkiri bisnis ini sangat dinamis karena banyak dipengaruhi perdagangan komoditas dan tren pertumbuhan ekonomi global. Julius menyebut, harga batubara akan naik sejalan dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya. Contoh, dalam lima tahun terakhir, harga acuan batubara dunia di Global Coal Newcastle Index pernah mencapai rekor di atas 400 USD per ton pada 2022. (Yoga)


ITMG Fokus Pacu Penjualan Batu Bara

HR1 27 Nov 2024 Kontan
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menargetkan volume penjualan batubara sebesar 24,2 juta-24,5 juta ton pada tahun 2024, meningkat 17,22% dibandingkan capaian 20,9 juta ton pada tahun 2023. Hingga sembilan bulan pertama tahun ini, ITMG telah menjual 17,1 juta ton batubara, naik 11,76% dari periode yang sama tahun lalu.

Namun, Yulius Kurniawan Gozali, Direktur Komunikasi Korporat ITMG, menyebutkan bahwa pendapatan perusahaan menurun akibat penurunan harga rata-rata penjualan batubara (Average Selling Price/ASP) sebesar 19,32% secara tahunan (yoy), dari US$ 119 per ton menjadi US$ 96 per ton. Hal ini menyebabkan laba bersih perseroan pada kuartal III-2024 turun 32,72% yoy menjadi US$ 273 juta. Meskipun demikian, margin laba bersih pada kuartal III-2024 meningkat menjadi 24% dibandingkan 19% pada periode yang sama tahun lalu.

ITMG menargetkan laba bersih tahun 2024 sebesar US$ 354 juta, meski realisasinya masih bergantung pada berbagai faktor seperti volume penjualan, harga komoditas, dan efisiensi biaya. Untuk mencapai target, ITMG fokus pada optimalisasi produksi dan pengendalian biaya, terutama di tengah tren harga batubara yang fluktuatif.

ITMG saat ini memiliki cadangan batubara sebesar 1,3 miliar ton dan berencana memanfaatkan sumber daya ini secara maksimal sambil menjalankan efisiensi operasional. Penurunan harga batubara di pasar ekspor pada tahun 2023 menyebabkan laba bersih ITMG turun signifikan sebesar 58,30%, dari US$ 1,2 miliar pada 2022 menjadi US$ 500,33 juta pada 2023.

Menurut Yulius, dinamika pasar dan harga batubara yang tidak dapat diprediksi menuntut perusahaan untuk terus menerapkan manajemen kas yang hati-hati serta strategi efisiensi untuk menjaga keberlanjutan operasional.