Batu Bara
( 291 )Harapan Baru Emiten Batu Bara
Hasil kinerja emiten batu bara yang kurang memuaskan pada kuartal I-2024, menurunkan minat investor terhadap sahamnya. Meski demikian, ekspektasi membaiknya harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan peningkatan volume produksi, membawa harapan baru terhadap kinerja emiten emas hitam tersebut di kuartal dua ini. Hal itu pula yang tampaknya telah dilihat sebagai pelaku pasar, yang terbukti dari harga saham sejumlah emiten batu bara mulai beranjak naik.
Hasil kinerja emiten produsen batu bara pada kuartal I-2024 relatif beragam, meskipun ASP lebih baik dari asumsi kami. Kami melihat potensi pemulihan volume penjualan di kuartal II-2024," kata Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta dalam riset terbarunya, Senin (20/5.2025). Dalam catatan reggie dan Ryan, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) mempu mencatatkan kinerja di atas konsensus masing-masing 37% dan 27% terhadap estimasi sepanjang 2024. (Yetede)
Hilirisasi Batubara Masih Mandek
Hilirisasi batubara, seperti gasifikasi menjadi dimetil eter atau DME, masih mandek karena dianggap belum ekonomis. Apalagi, harga batubara yang biasa dijual mentah sebagai sumber energi relatif tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kepastian hukum serta peta jalan transisi energi dinilai memiliki peran penting dalam pengembangannya. Harapan sempat muncul saat Presiden Jokowi meresmikan peletakan batubara pertama proyek DME, yang digarap PT Bukit Asam Tbk dengan Pertamina, di Sumsel pada 24 Januari 2022. Perusahaan asal AS, Air Products, ambil bagian dalam proyek itu. Namun, pada awal 2023 Air Products memilih mundur dan hingga kini belum ada penggantinya.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bhaktiar, Kamis (9/5) mengatakan, komoditas batubara Indonesia selama ini dijual begitu saja, atau secara mentah. Beberapa tahun terakhir permintaan pun meningkat yang membuat harganya relatif tinggi. Dengan kondisi itu, ibaratnya: dijual mentah saja laku, kenapa harus repot-repot diproses. Selain perihal harga, kepastian pasar yang akan menyerap produk DME di dalam negeri juga belum jelas meskipun produk itu disebut-sebut bakal menggantikan elpiji. ”Yang paling urgen ialah soal biaya. Gasifikasi batubara membutuhkan teknologi dan pembiayaan tinggi sehingga hingga kini hilirisasi batubara belum optimal. Ini beda dengan mineral,” kata Bisman. Hal tersebut juga didorong belum terbentuknya ekosistem DME, yang relatif masih bersifat rintisan.
Menurut Bisman, harapan DME ataupun produk hilirisasi batubara lainnya untuk berkembang ada, tetapi tingkat spekulasi dan pertimbangannya masih amat tinggi, sehingga sejumlah pihak masih wait and see dalam pengembangan hilirisasi batubara itu. Kepastian hukum pun mesti diperjelas. ”Sebab, ini investasi besar. (Bagi pengusaha) tidak untung atau menunggu dulu oke, tetapi minimal aman investasi atau modalnya. (Terkait insentif) memang ada royalti 0 %, tetapi toh sampai saat ini kenyataannya belum menarik. Lalu, bagaimana produknya ini disinergikan dengan kebijakan transisi energi. Harus ada peta jalan yang jelas,” tuturnya. Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Arsal Ismail, di sela-sela RUPST PTBA untuk Tahun Buku 2023 di Jakarta, Rabu (8/5), menuturkan, rencana gasifikasi batubara masih berproses. Kajian masih dilakukan karena dalam hilirisasi batubara, nilai keekonomian harus benar-benar jadi pertimbangan. (Yoga)
Berharap Harga Bisa Menanjak Lagi
Kinerja emiten produsen batubara kurang mentereng pada periode kuartal pertama tahun ini. Meski tetap mampu meraup keuntungan, tapi pendapatan dan laba bersih mayoritas emiten batubara kompak merosot.
Beberapa emiten batubara
big caps
seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sama-sama harus menelan penurunan kinerja.
Secara operasional, sebenarnya produksi dan penjualan emiten masih naik. Tapi, harga jual rata-rata atau ASP batubara yang menciut lebih menekan kinerja emiten.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan mengatakan, nvestor sudah cenderung
priced in
terhadap katalis penurunan harga batubara yang menekan kinerja. Namun, Rizkia masih optimistis harga batubara tahun ini masih bisa berada dalam rentang US$ 101–US$ 150 per ton, dengan asumsi dasar di harga US$ 126 per ton.
Equity Research Analyst
Panin Sekuritas, Felix Darmawan juga menilai, ada sejumlah sentimen yang bisa mengangkat prospek emiten batubara, terutama dalam jangka pendek. Di samping eskalasi geopolitik, ada gelombang panas di Asia yang berpotensi mendorong penggunaan alat pendingin. Dus, situasi mendorong konsumsi listrik.
Research Analyst
Phintraco Sekuritas, Arsita Budi Rizqi menyarankan, agar pelaku pasar menerapkan
time frame
jangka pendek hingga menengah sebagai strategi mengoleksi saham batubara. Arsita menjagokan saham PTBA, ADRO dan ADMR.
Harga Batubara Masih Bisa Terangkat Permintaan China
Harga batubara sedang dalam tren bullish. Bahkan harga batubara diperkirakan masih naik hingga akhir tahun. Berdasarkan data Bloomberg , harga batubara sempat berada berada di level US$ 148,25 per ton pada Kamis (2/5), atau tertinggi sejak Juni 2023. Dalam sepekan terakhir, harganya naik 5,74% dan dalam sebulan telah menguat 9,77% ke level US$ 145,40 per ton pada Jumat (3/5). Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, kenaikan harga batubara belakangan ini karena peningkatan permintaan dari negara konsumen.
Ia menilai, peluang penguatan harga batubara masih akan berlanjut. Sutopo memproyeksikan, pada semester I ini harganya berpeluang menuju ke US$ 152 per ton. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong juga menyebutkan, kenaikan harga batubara didorong dari permintaan China yang mendominasi. Sebab, Negeri Panda itu sedang menambahkan kapasitas pembangkit listrik batubara.
"Hal tersebut didukung oleh data-data manufaktur yang lebih baik," ujarnya, akhir pekan lalu.
Ia memproyeksikan, harga batubara di semester I-2024 berada dalam rentang US$ 135–US$ 140 per ton. Sementara pada akhir tahun 2024 akan sedikit lebih tinggi, di kisaran US$ 140–US$ 150 per ton, seiring dimulainya siklus pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral dunia.
Harga Batubara Bikin Hitam Kinerja
Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diproyeksi masih tertekan untuk tahun 2024. Tekanan pada harga batubara menjadi pemberat utama. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, kinerja ITMG diperkirakan akan turun dibandingkan pencapaian di tahun 2023. Proyeksi itu sejalan dengan ekspektasi penurunan rata-rata harga jual alias average selling price (ASP) batubara. Tahun lalu ASP batubara ITMG sebesar US$ 113,1 per ton. "Terjadi lagi jika penguatan harga batubara saat ini lebih sentimen sesaat," ujarnya, Selasa (30/4). Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan berpandangan, harga batubara di pasar global sudah mencapai level keseimbangannya sehingga cenderung mendatar seiring peningkatan penggunaan PLTU di China dan India.
Selain itu, tingkat cadangan energi Tiongkok dan India relatif di posisi aman. Di tahun 2023, produksi batubara China mencapai 4,6 miliar metrik ton, tumbuh 2,9% yoy. Alhasil, kedua negara konsumen batubara terbesar itu berpotensi untuk mengurangi volume impor di tahun 2024. "Sehingga ASP ITMG saya perkirakan dalam rentang US$ 110–US$ 120 per ton," kata Felix. Menurut Felix, katalis pendukung dari ITMG tahun ini adalah dari kenaikan produksi. Perseroan ini menargetkan produksi di kisaran 19,5 juta ton - 20,2 juta ton, didukung beroperasinya tambang Graha Panca Karsa dan Tepian Indah Sukses yang ditargetkan masing-masing memproduksi hingga 1 juta ton dan 0,4 juta ton batubara.
Untuk mendukung target itu, ITMG menganggarkan belanja modal atau
capital expenditure
(capex) sekitar US$ 96,5 juta, naik dari realisasi 2023 sebesar US$ 45,1 juta di 2023.
Untuk volume penjualan, perseroan ini menargetkan 24,9 juta ton 25,6 juta ton di tahun 2024. Adapun penjualan dengan skema harga sebanyak 39% telah ditetapkan, 6% mengikuti indeks harga batubara, dan 55% selebihnya belum terjual.
Head of Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan menaikkan estimasi laba bersih ITMG di 2024 sebesar 31%, seiring dengan penyesuaian asumsi volume penjualan. Erindra juga mempertahankan asumsi rata-rata harga jual ITMG di 2024 sebesar US$ 87 per ton.
Sementara Felix memperkirakan pendapatan ITMG sebesar US$ 2,10 miliar. Sementara laba bersih diprediksi mencapai US$ 363 miliar.
HARGA BATU BARA ACUAN : MOMENTUM KEMBALI MENGUAT
Harga batu bara kembali mendapatkan momentum untuk kembali bangkit setelah sempat terperosok cukup dalam pada Maret 2024. Meningkatnya permintaan komoditas itu di pasar global dalam 2 bulan terakhir menjadi pemicu utama. Pemerintah menetapkan harga batu bara acuan dalam kesetaraan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 12,26%, total sulfur 0,66%, dan ash 7,94 untuk periode April 2024 ditetapkan US$121,13 per ton. Angka itu melonjak cukup tajam dibandingkan dengan harga pada bulan sebelumnya yang senilai US$109,77 per ton. Meski begitu, harga batu bara acuan pada April tahun ini masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2023 yang mencapai US$265,26 per ton. Asosiasi Pertambangan Indonesia (API) menilai peningkatan harga batu bara acuan pada bulan ini disebabkan oleh peningkatan permintaan komoditas tersebut di pasar global beberapa waktu belakangan. Alasannya, harga batu bara acuan saat ini menggunakan formulasi yang memerhatikan kondisi dalam 2 bulan terakhir. “Kenaikan harga batu bara acuan pada April merupakan representasi harga dalam periode 2 bulan terakhir yang dipicu antara lain oleh demand sedikit meningkat,” kata Direktur Eksekutif API Hendra Sinadia saat dihubungi Bisnis, Selasa (23/4). Kelebihan pasokan batu bara di pasar global menjadi salah satu penyebab industri batu bara di pasar global terus dirundung kelesuan. Terlebih, saat ini juga muncul sentimen baru dari rencana produksi batu bara yang terbilang tinggi hingga beberapa waktu mendatang.
Untuk diketahui, selain menetapkan harga batu bara acuan dengan kesetaraan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 12,26%, total sulfur 0,66%, pemerintah juga mematok harga ‘emas hitam’ dengan tiga kategori berbeda. Pertama, harga batu bara acuan I dengan kesetaraan nilai kalor 5.300 kcal/kg GAR, total moisture 21,32% total sulfur 0,75%, dan ash 6,04% senilai US$86,93 per ton. Kedua, harga batu bara acuan II dengan kesetaraan nilai kalor 4.100 kcal/kg GAR, total moisture 35,73%, total sulfur 0,23% dan ash 3,90% ditetapkan US$57,17 per ton. Ketiga, harga batu bara acuan III untuk kesetaraan nilai kalor 3.400 kcal/kg GAR, total moisture 44,30%, total sulfur 0,24% dan ash 3,88% seharga US$36,32 per ton. Niko Chandra, Corporate Secretary PTBA, mengatakan bahwa perusahaan bakal mengoptimalkan potensi dalam negeri, sekaligus mencari peluang ekspor ke sejumlah negara dengan prospek pertumbuhan yang tinggi sebagai langkah pengembangan pasar. Dari sisi permintaan, kata dia, tren permintaan batu bara masih mengalami penurunan. RMKE pun memperkirakan penurunan tersebut akan terjadi pada 1—2 bulan ke depan, lalu setelahnya akan ada kenaikan yang cukup signifikan, bergantung kepada perang dan kondisi geopolitik terkini. Vincent melanjutkan, saat ini RMKE cukup terbantu dengan pelemahan nilai tukar rupiah, terutama untuk penjualan ekspor. Apalagi, 75% penjualan perusahaan saat ini ditujukan untuk pasar ekspor.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeklaim eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak memberikan efek signifikan terhadap pergerakan harga batu bara acuan. Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengatakan bahwa dampak dari ketegangan di Timur Tengah hingga kini lebih banyak dirasakan oleh komoditas minyak. Di sisi lain, China disebut-sebut sudah tidak begitu berminat terhadap batu bara asal Rusia, karena persoalan bea impor dan persoalan logistik. Konsumen batu bara terbesar di Asia itu pun mulai mencari sumber baru dengan harapan mendapatkan harga lebih murah. Dalam sebuah catatan Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China juga menyoroti kenaikan tarif kereta api Rusia di tengah keterbatasan kapasitas. Hal itu memperburuk persoalan yang muncul dari tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan barang dari Rusia. Penjualan Rusia ke China sempat meningkat tajam tahun lalu hingga mencapai 100 juta ton, menjadikan negara tersebut sebagai pemasok nomor dua bagi mitra strategisnya di saat impor China melonjak.
HARGA KOMODITAS : Pengusaha Awasi Kelebihan Pasokan Batu Bara
Penurunan harga batu bara acuan atau HBA mula membuat pelaku usaha pertambangan ‘emas hitam’ waswas terhadap keberlanjutan bisnisnya, sehingga berharap segera terjadi keseimbangan baru antara pasokan dan permintaan di pasar global. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan tren harga batu bara yang kembali anjlok sudah terjadi sejak tahun lalu akibat kelebihan pasokan di pasar global. Hendra menjelaskan output produksi domestik negara-negara pengimpor batu bara, seperti India dan China yang berada dalam rekor tertinggi menjadi salah satu penyebab oversupply. Pasalnya, meski permintaan ekspor batu bara meningkat, tetapi pasokan yang tersedia masih lebih banyak dari permintaan.
Kondisi kelebihan pasokan tersebut, kata Hendra, bakal membuat pengelolaan arus kas perusahaan pertambangan batu bara menjadi lebih menantang. Terlebih, saat ini pengusaha diharuskan menempatkan devisa hasil ekspor sebesar 30% di bank nasional selama 3 bulan. Sekadar catatan, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 61.K/MB.01/MEM.B/2024, HBA untuk ‘emas hitam’ kalori tinggi dalam kesetaraan 6.322 kcal/kg GAR pada Maret 2024 turun menjadi US$109,77 per ton, dari sebelumnya US$124,95 per ton pada Februari 2024. Selanjutnya, HBA dengan kalori 5.300 kcal/kg GAR ditetapkan senilai US$88,77 per ton, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di level US$87,65 per ton.
Terakhir, HBA dengan kesetaraan nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR seharga US$37,60 per ton, lebih tinggi dari bulan sebelumnya US$37,54 per ton.
ESDM Belum Tetapkan Target Produksi Batubara 2024
Produksi Batubara Rekor Sepanjang Masa
Laporan Badan Energi Internasional (IEA) berjudul
“Coal 2022” terbaru memperkirakan konsumsi batubara akan tetap pada tingkat
yang sama di tahun-tahun berikutnya jika tidak ada upaya yang lebih kuat untuk
mempercepat transisi ke energi bersih. Menurut data dari kpler, lembaga
yang melacak perdagangan batubara lintas laut, meskipun permintaan tinggi,
perdagangan batu bara lintas laut global pada tahun 2022 berada di level 5-8%
di bawah tingkat pra-pandemi atau di 2019. “Kondisi itu terjadi karena
penurunan di pasar yang sudah mapan diimbangi oleh permintaan yang terus kuat
di negara berkembang Asia. Hal ini berarti batu bara akan terus menjadi sumber
tunggal terbesar emisi karbon dioksida sistem energi global sejauh ini,”
katanya dalam keterangan resmi, Senin (19/12). Seperti yang disoroti oleh
laporan IEA Renewables 2022 yang baru, permintaan batubara diperkirakan akan
turun karena negara-negara memperluas kapasitas pembangkitan energi terbarukan.
Tantangan Rendah Emisi Batubara
Industri Batubara menghadapi tantangan cukup
berat, yakni adanya tuntutan global terhadap penggunaan energi bersih, termasuk
dari pendanaan asing. Karenanya, Indonesia harus mampu mengoptimalkan potensi
batubara yang jumlahnya masih berlimpah, dengan penerapan teknologi serta
kaidah kegiatan pertambangan yang baik (good mining practices) sehingga
pemanfaatan batubara bisa bersanding dengan energi terbarukan lainnya.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan
Reggie Parengkuan dalam risetnya mengatakan, dana asing umumnya tidak
berinvestasi pada perusahaan batubara karena pertimbangan ESG. “Jika lebih
detail lagi, sebagian besar dana asing khususnya yang terafiliasi dengan
Eropa/AS, dibatasi membeli nama-nama yang berhubungan dengan batubara. Dan
beberapa dana asing lebih fleksibel dengan kemajuan perusahaan menuju
diversivikasi ESG,” ujar Ryan. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









