Berharap Harga Bisa Menanjak Lagi
Kinerja emiten produsen batubara kurang mentereng pada periode kuartal pertama tahun ini. Meski tetap mampu meraup keuntungan, tapi pendapatan dan laba bersih mayoritas emiten batubara kompak merosot.
Beberapa emiten batubara
big caps
seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sama-sama harus menelan penurunan kinerja.
Secara operasional, sebenarnya produksi dan penjualan emiten masih naik. Tapi, harga jual rata-rata atau ASP batubara yang menciut lebih menekan kinerja emiten.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan mengatakan, nvestor sudah cenderung
priced in
terhadap katalis penurunan harga batubara yang menekan kinerja. Namun, Rizkia masih optimistis harga batubara tahun ini masih bisa berada dalam rentang US$ 101–US$ 150 per ton, dengan asumsi dasar di harga US$ 126 per ton.
Equity Research Analyst
Panin Sekuritas, Felix Darmawan juga menilai, ada sejumlah sentimen yang bisa mengangkat prospek emiten batubara, terutama dalam jangka pendek. Di samping eskalasi geopolitik, ada gelombang panas di Asia yang berpotensi mendorong penggunaan alat pendingin. Dus, situasi mendorong konsumsi listrik.
Research Analyst
Phintraco Sekuritas, Arsita Budi Rizqi menyarankan, agar pelaku pasar menerapkan
time frame
jangka pendek hingga menengah sebagai strategi mengoleksi saham batubara. Arsita menjagokan saham PTBA, ADRO dan ADMR.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023