;
Tags

Batu Bara

( 291 )

Ekspor Batubara pada 2023 Catatkan Rekor

KT3 17 Jan 2024 Kompas
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Lana Saria pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/1/2024), mengatakan, realisasi produksi batubara Indonesia pada 2023 mencapai 775,2 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah. Realisasi ini melebihi target 2023 sebesar 694,5 juta ton. Peningkatan volume ekspor diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2035. (Yoga)

KOMODITAS ENERGI FOSIL : GELIAT KENCANG BATU BARA NASIONAL

HR1 17 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Industri batu bara nasional masih akan bergeliat hingga lebih dari satu dekade ke depan. Pemerintah memproyeksi produksi ‘emas hitam’ di dalam negeri bakal terus ada di kisaran 700 juta ton hingga 2035. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut batu bara masih akan menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri, meski tren transisi energi terus mengemuka. Lana Saria, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM, mengatakan bahwa produksi batu bara nasional bakal ada dalam keseimbangan baru hingga 2035, sebelum mengalami penurunan produksi menjadi 250 juta ton per tahun pada 2060 yang ditetapkan sebagai tenggat waktu netral karbon Indonesia. “Kira-kira rata-rata bisa mencapai 700 juta ton per tahun, dan baru akan mengalami penurunan tingkat produksi secara bertahap setelah net zero emission pada 2060,” katanya, Selasa (16/1). Lana juga menyampaikan bahwa permintaan batu bara dari pasar domestik dan internasional tetap menguat di tengah kampanye transisi energi saat ini. Bahkan, produksi batu bara Indonesia sepanjang 2023 mencapai 775 juta ton, atau 112% dari target yang ditetapkan saat itu di level 695 juta ton. Dari jumlah tersebut, 518 juta ton di antaranya dilempar ke pasar ekspor, sedangkan 213 juta ton lainnya diserap oleh pasar domestik. Sementara itu, produksi batu bara nasional 2 tahun sebelumnya, yakni pada 2021 dan 2022 masing-masing berada di angka 614 juta ton dan 687 juta ton. Saat itu, porsi pasar ekspor mengambil bagian sekitar 435 juta ton, dan 465 juta ton secara berurutan. Di sisi lain, Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara tahun ini di kisaran 710 juta ton, dengan alokasi wajib pasok domestik atau domestic market obligation (DMO) sebesar 181,28 juta ton. 

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, rata-rata harga jual batu bara selama periode 2021 sampai dengan akhir Desember 2023 memang tetap kuat, kendati belakangan mulai terjadi penurunan minor. Menteri ESDM Arifin Tasrif membeberkan bahwa penambahan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menjadi bagian dari megaproyek 35 gigawatt (GW) menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kebutuhan batu bara di dalam negeri tetap tinggi. Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan bahwa kondisi pasar batu bara yang masih oversupply hingga 2025 tidak menurunkan permintaan komoditas tersebut. Hal itu terlihat dari angka perdagangan batu bara termal yang terus meningkat di pasar global, meski pertumbuhannya tidak setinggi jumlah penambahan pasokan. Pembangunan smelter di dalam negeri, kata dia, juga membuat permintaan batu bara domestik terus meningkat. Hal tersebut ditambah dengan pensiun dini PLTU yang tidak kunjung terlaksana hingga kini. 

Singgih Widagdo, Ketua Umum Indonesia Mining & Energy Forum, memprediksi produksi batu bara pada tahun ini akan melampaui level 710 juta ton. Potensi ekspor batu bara ke sejumlah negara yang selama ini menjadi pasar utama Indonesia juga masih akan menguat, karena lambatnya progres transisi energi. Muhammad Wafid, Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, mengatakan bahwa pihaknya telah menyusun peta jalan pengusahaan batu bara di era transisi energi agar tidak bertabrakan dengan arah kebijakan net zero emission. Upaya tersebut dilakukan agar kekayaan sumber daya alam Indonesia tetap dapat dioptimalkan dan memberikan nilai tambah. Kementerian ESDM mencatat, Indonesia masih memiliki sumber daya dan cadangan batu bara yang melimpah, yakni masing-masing sebanyak 98,5 miliar ton dan 33,8 miliar ton. Saat ini, Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Kementerian ESDM juga sedang menggali dan memetakan data potensi batu bara yang lengkap di Indonesia, sebagai salah satu langkah untuk menjaga keberlangsungan industri ‘emas hitam’ nasional. Lembaga tersebut juga sedang menggali potensi lain dari batu bara melalui inventarisasi jumlah batu bara metalurgi yang ada di Indonesia, untuk kemudian dioptimalkan nilai tambahnya di dalam negeri.

Emiten Batubara Kejar Produksi Lebih Tinggi

HR1 17 Jan 2024 Kontan
Di tengah tren penurunan harga komoditas batubara, emiten tambang batubara mencetak pertumbuhan kinerja operasional. Para emiten juga membidik kenaikan volume produksi dan penjualan tahun ini. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya, membukukan volume produksi sebanyak 41,9 juta ton. Angka ini tumbuh 13% dibanding tahun 2022 sebesar 37,1 juta ton. Pencapaian produksi ini juga melampaui target produksi yang dipasang PTBA, yakni sebesar 41 juta ton. Salah satu pendorong kinerjanya produksi batubara PTBA adalah kontribusi dari kontraktor jasa pertambangan dan cucu usaha PTBA yakni PT Satria Bahana Sarana (SBS) sebesar 37,7 juta ton. Sedangkan sebesar 4,2 juta ton merupakan hasil produksi swakelola PTBA. Volume penjualan batubara PTBA juga naik 16,9% menjadi 37 juta ton pada tahun 2023. Sekretaris Perusahaan PTBA, Niko Chandra mengatakan, penjualan ekspor PTBA sepanjang tahun lalu mencapai 15,6 juta ton atau naik 25% dibanding tahun 2022. Sementara itu, penjualan domestik mencapai 21,4 juta ton atau tumbuh 12% secara tahunan. Pasar ekspor PTBA pada 2023 juga semakin beragam. Tercatat ada beberapa pasar baru yang berhasil dioptimalkan, di antaranya Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, hingga Bangladesh. Selain PTBA, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mengantongi pertumbuhan kinerja operasional. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava memperkirakan, volume produksi BUMI tahun 2023 berada di kisaran 78 juta metrik ton, atau naik 11,4% dari produksi tahun 2022. Menurut Dileep, salah satu faktor yang mendorong kenaikan produksi BUMI tahun lalu adalah cuaca yang lebih kering. Sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) baru melaporkan penjualan per November 2023. Melalui PT Tuah Turangga Agung, UNTR telah menjual 10,45 juta ton batubara dalam sebelas bulan pertama 2023. Capaian ini naik 14,24% secara tahunan. Nah tahun 2024 ini, emiten batubara masih berharap bisa mengejar produksi lebih tinggi.BUMI membidik volume produksi dapat melampaui 80 juta ton batubara hingga akhir 2024. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga berencana meningkatkan kapasitas produksi di tahun depan. Apalagi, tambang baru milik ITMG, yakni Graha Panca Karsa akan mulai beroperasi tahun ini. Kepala Riset Trimegah Sekuritas, Willinoy Sitorus mengatakan, kendati cenderung turun, harga komoditas batubara tahun ini masih cukup prospektif, dengan adanya sejumlah katalis. Sektor batubara dalam negeri mendapat katalis dari berlakunya Mitra Instansi Pengelola (MIP). Menurut Trimegah, penerapan MIP akan memberikan keuntungan terbesar bagi PTBA sebagai emiten dengan pangsa pasar domestik yang besar. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan memperkirakan, harga rata-rata batubara Newcastle akan berada di level US$ 120 per ton. Erindra masih mempertahankan peringkat netral pada sektor batubara seiring dengan valuasi di sektor ini yang murah.

Harga Jual Menjadi Sandungan PTBA

HR1 02 Jan 2024 Kontan

Performa PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terbebani harga batubara yang jeblok di tahun 2023. Harga batubara yang lebih rendah ke depan masih menjadi penghalang bagi PTBA di tahun-tahun mendatang. Pada periode Januari September 2023, kinerja pendapatan dan laba bersih PTBA kompak merosot. Emiten pelat merah ini melaporkan pendapatan sebesar Rp 27,7 triliun atau turun sekitar 10,84% secara tahunan atau year on year (yoy). Laba bersih PTBA juga melorot sekitar 62% yoy menjadi Rp 3,8 triliun. CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo mengamati, penurunan kinerja PTBA dari sisi pos pendapatan hingga laba bersih memang sudah terjadi sejak kuartal IV-2022. Ini seiring dengan penurunan harga batubara sekitar 64% dari rekor tertinggi tahun lalu di kisaran US$ 400 per ton menjadi US$ 136,95 per ton per 29 Desember 2023. Penurunan harga batubara terjadi di tengah berakhirnya krisis geopolitik antara Rusia dan Ukraina, serta suplai yang kembali meningkat, jelas Praska, Senin (1/1). PTBA dinilai masih menarik lantaran dividen yield jumbo di sepanjang 2023. Hal itu menyusul performa apik PTBA selama tahun 2022 karena diuntungkan oleh tingginya harga batubara kala itu. Praska memperkirakan, proyeksi harga rata-rata batubara sepanjang 2024 kemungkinan masih relatif melandai di kisaran US$ 100 per ton - US$ 160 per ton. Faktor yang mempengaruhi pergerakan batubara akan cenderung dipengaruhi oleh sentimen ekonomi negara importir batubara terbesar, salah satunya Tiongkok. Praska berharap, katalis penopang bagi PTBA datang dari potensi permintaan permintaan batubara domestik untuk kebutuhan pembangkit tenaga listrik. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan mengatakan, pertumbuhan organik batubara PTBA akan terus berlanjut. Fase ekspansi batubara PTBA akan didukung oleh pertumbuhan kapasitas kereta api menjadi 52 juta ton pada 2024 dan menjadi 72 juta ton pada 2026. Analis MNC Sekuritas, Alif Ihsanario dalam riset 4 Desember 2023 menyebutkan, pendirian Badan Layanan Umum (BLU) ataupun Mitra Instansi Pengelola (MIP) diharapkan dapat mendongkrak kinerja PTBA dikala harga batubara yang lesu. Pendirian BLU untuk mengurus pungutan iuran di industri batubara yang diperkirakan terealisasi pada Januari 2024.

OUTLOOK 2024 : KOREKSI LABA SEKTOR BATU BARA

HR1 27 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Kinerja saham emiten batu bara pada 2024 dihantui penurunan laba karena harga komoditas yang cenderung ke bawah mengingat ketidakpastian pemulihan ekonomi China dan perlambatan pertumbuhan global. International Energy Agency (IEA) memprediksi konsumsi batu bara global tahun ini mencapai rekor 8,54 miliar ton. Namun, kemudian turun pada 2024 dan stabil hingga 2026. Diiringi dengan pertumbuhan pasokan yang stabil dari produsen utama seperti Australia dan Indonesia, harga batu bara pun diprediksi melandai. Dalam risetnya, analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan memperkirakan prospek permintaan batu bara termal yang lemah akan berlanjut pada tahun depan. Sementara itu, untuk batu bara kalori rendah dan menengah Indonesia (ICI4 dan ICI3) diramal akan rata-rata US$72 per ton dan US$55 per ton tahun depan, dibandingkan dengan US$84 per ton dan US$63 per ton pada 2023. Alhasil, BRI Danareksa Sekuritas merev Erindra pun mempertahankan peringkat ‘neutral’ pada sektor batu bara Indonesia berdasarkan valuasi yang tidak tinggi (1,7—6,7 FY24 EV/ EBITDA), yield dividen yang menarik (9,1—28,4%), dan kepemilikan yang rendah oleh dana domestik, meskipun pendapatan diprediksi masih turun pada 2024—2025. isi perkiraan pendapatan sejumlah perusahaan tambang batu bara pada 2024-2025 dengan dengan mempertimbangkan perkiraan harga batu bara dan ekspektasi operasional terbaru.

Sementara itu, emiten batu bara lainnya dari Grup Astra, PT United Tractors Tbk. (UNTR) mencatatkan kenaikan penjualan batu bara hingga November 2023. Pada saat yang sama, lini bisnis pertambangan emas UNTR justru mengalami penurunan. Berdasarkan dokumen resmi yang diterima Bisnis, unit usaha UNTR di bidang kontraktor pertambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatatkan peningkatan volume produksi batu bara sebesar 15,58% secara year-on-year (YoY) menjadi 121,6 juta ton per November 2023. Berdasarkan konsensus analis di Bloomberg, 21 dari 27 analis menyematkan rating ‘buy’ untuk UNTR, sedangkan 5 lainnya ‘hold’ dan sisanya merekomendasikan ‘sell’. Faktor lainnya adalah aksi korporasi M&A terbaru UNTR di bidang tambang nikel, yang memanfaatkan gelombang pasokan untuk kendaraan listrik (EV) yang berkembang pesat di Indonesia. Menurut J.P. Morgan, aksi itu dapat memberikan momentum penilaian ulang berlipat ganda dalam jangka menengah hingga panjang.

Nasib Batu Bara di Tengah Transisi Energi

KT1 20 Dec 2023 Tempo
JAKARTA — Sejumlah produk tambang masih bisa bersinar di tengah tren transisi energi. Permintaan terhadap batu bara, timah, dan emas, khususnya, diramal tetap tinggi pada 2024 hingga beberapa tahun kemudian. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia Hendra Sinadia mencatat grafik produksi batu bara dalam 10 tahun terakhir tak pernah landai. Bahkan jumlah permintaan terus bertambah. Tren ini masih akan berlanjut, paling tidak dalam lima tahun ke depan, meski upaya peralihan ke energi yang lebih bersih tengah digalakkan beragam negara. Butuh waktu untuk bisa merasakan dampak transisi tersebut. 

Tantangannya justru terletak pada pembiayaan. Hendra mengatakan tren transisi energi membuat lembaga keuangan menahan diri membiayai ekspansi perusahaan batu bara. "Dalam 10 tahun terakhir, pendanaan ke sektor batu bara menurun," kata Hendra kepada Tempo, Selasa, 19 Desember 2023. Pengusaha akhirnya semakin sulit mencari dana. Sedangkan ongkos produksi terus naik. Artinya, cuan makin tipis.

Hendra mengatakan biaya produksi ini, salah satunya, digunakan untuk bahan bakar minyak yang berkontribusi 25-35 persen terhadap total biaya operasi. Ongkos untuk menambang di lapangan yang tua pun semakin besar lantaran butuh alat tambahan. Belum lagi biaya lain seperti upah pekerja hingga dampak depresiasi nilai tukar rupiah. Yang juga menambah beban, menurut Hendra, adalah biaya dari regulasi seperti royalti, yang naik dua kali lipat, hingga setoran dana hasil ekspor. (Yetede)

Batubara dan Sawit ”Gendong” Ekspor 2024

KT3 18 Dec 2023 Kompas

Batubara dan minyak sawit diperkirakan menopang ekspor Indonesia pada 2024. Meski demikian, total ekspor pada tahun depan diproyeksikan melambat sebagai dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama Indonesia. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede di Jakarta, Minggu (17/12) menyatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan memengaruhi ekspor Indonesia. Perlambatan di China dan AS sebagai mitra dagang utama Indonesia merupakan variabel utamanya. Mengutip data BPS, China menjadi tujuan 25,49 % dari total ekspor Indonesia pada Januari-November 2023.

Adapun ekspor ke AS, Jepang, dan Uni Eropa sebesar 9,54 %, 7,79 %, dan 6,84 %. Dengan demikian, melemahnya perekonomian negara-negara itu akan menurunkan permintaan mereka terhadap barang-barang dari Indonesia. Artinya, ekspor akan tertekan. Dalam situasi itu, Josua melanjutkan, ekspor Indonesia akan tertopang oleh komoditas batubara dan minyak sawit. Alasannya, harga kedua komoditas ini diperkirakan masih akan terjaga pada 2024. Adapun kinerja ekspor produk manufaktur akan melambat lantaran barang ini sifatnya bukan kebutuhan primer. ”Ini pentingnya juga mendorong investasi ke sektor manufaktur agar tercipta peningkatan kualitas dan daya saing sehingga ekspor sektor ini tetap bertumbuh,” ujar Josua. (Yoga)

2024, Bisnis Batu Bara Masih Moncer

KT1 09 Dec 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Meski berada pada tahun politik, bisnis batu bara pada 2024 diprediksi masih moncer, baik dari sisi harga maupun jumlah produksi, sama seperti yang terjadi pada 2023. Harga diperkirakan akan bertengger di level US$ 100-US$ 150 150 per ton dengan produksi di atas 700 juta ton. Sejumlah pengusaha batu bara meyakini komoditas ini akan tetap menjadi primadona dalam 10 hingga 15 tahun depan. Pasalnya, hingga kini Indonesia masih belum bisa menggantikan batu bara dengan energi baru terbarukan (EBT) yang lebih murah. "Prediksinya  untuk 2024 kurang lebih bisnis batu bara akan sama dengan 2023. Memang orang bilang ada pilpres, pemilu pergantian presiden, tetapi pemilunya kan Februari dan presidennya baru akan diganti pada Oktober," ungkap Gilbert Markus Nisahpihh selaku direktur  Samindo Resources, produsen batu bara saat ditemui ditemui di kantor B-Universe, di Jakarta, (5/12/2023). (Yetede)

Mengawal Pasokan Batu Bara Domestik

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api tak ubahnya seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, seluruh negeri dituntut senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam. Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kekayaan cadangan energi, khususnya batu bara yang luar biasa. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 3,2% cadangan batu bara dunia dimiliki oleh Indonesia. Tingginya cadangan batu bara tersebut tentu saja sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan energi domestik maupun luar negeri. Berdasarkan tren, produksi ‘emas hitam’ Indonesia terus meningkat. Masih berdasarkan sumber data yang sama, produksi batu bara pada 2022 mencapai 687 juta ton. Upaya menjaga stabilitas produksi batu bara menjadi penting seperti halnya menjaga koordinasi antara sektor pertambangan dan perindustrian. Pertambangan merupakan proses hulu, yaitu pengambilan sumber daya alam berupa mineral dan batu bara (Minerba) di dalam perut bumi. Proses tersebut kemudian dilanjutkan industri sebagai proses penghiliran yang diwujudkan dalam bentuk pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Peningkatkan kebutuhan batu bara di dalam negeri ini seakan menjadi angin segar bagi sektor energi, termasuk subsektor industri pertambangan batu bara. Di tengah fluktuasi harga batu bara, manajemen perusahaan tambang mesti bersiasat untuk memperkuat daya saing perusahaan agar mampu untuk terus bertahan. Pascapandemi Covid-19, sektor hulu tambang batu bara terus mengawal sekaligus mengandalkan pasar di dalam negeri. Menyeimbangkan serapan batu antara pasokan ke mancanegara dan nasional menjadi resep mujarab sektor pertambangan nasional untuk terus bertahan di tengah situasi yang sedemikian menantang.

Aliran Kredit ke Batubara Masih Tetap Membara

HR1 07 Dec 2023 Kontan

Perbankan di Tanah Air tampaknya masih sulit mengurangi porsi pembiayaan batubara. Maklum, kebutuhan batubara sebagai sumber energi masih tinggi. Proses peralihan dari energi fosil yang mengandung banyak polutan ke sumber energi bersih yang kini digalakkan pemerintah masih butuh waktu panjang. Bank-bank asing saat ini memang sudah menutup diri terhadap pembiayaan baru di sektor batubara. Kondisi ini membuat pemenuhan pendanaan sektor batubara di Indonesia hanya mengandalkan bank-bank lokal. Tak heran, porsi kredit ke sektor batubara oleh bank lokal masih meningkat. Kenaikan portofolio kredit batubara di antaranya ditorehkan bank pelat merah, seperti Bank Mandiri dan BNI. Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan, pembiayaan ke sektor barubara memang akan dikurangi. Namun, sebagai bank BUMN, Bank Mandiri saat ini harus tetap mendukung program pemerintah dalam mendukung ketersedian energi nasional. Jadi, Bank Mandiri masih harus mengalirkan kredit ke proyek-proyek energi dan rantai pasoknya, termasuk batubara. "Di dalam praktiknya, kami memastikan proyek yang dibiayai sesuai dengan timeline dan roadmap transisi energi menuju net zero emission," kata Sandra, sapaan akrab Alexandra. Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen melakukan fungsi intermediasi untuk mendukung kedaulatan ekonomi nasional. Namun, mitigasi risiko untuk penyaluran kredit ke industri berisiko tinggi seperti batubara diperketat. Per September, porsi pembiayaan batubara BCA di bawah 1% dari total kreditnya. Hera bilang, porsinya tak naik signifikan.