Perdagangan
( 594 )Kinerja Ekspor Nonmigas RI Terus Menurun
Kinerja ekspor nonmigas Indonesia terus turun sejak akhir
2022. Penurunan kinerja itu lebih dipengaruhi turunnya nilai ekspor ketimbang
volume.Halitu tidak terlepas dari tren penurunan harga komoditas ekspor unggulan
RI, terutama batubara dan CPO. Kendati demikian, Indonesia tetap perlu terus
menjaga kinerja ekspor di tengah perlambatan pertumbuhan perdagangan yang
diperkirakan terjadi hingga akhir tahun ini. Organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia
Pasifik (APEC) menyebutkan, inflasi, konflik geopolitik, perubahan iklim, dan
restriksi dagang masih menjadi penghambat pertumbuhan perdagangan kawasan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji
Ismartini, Rabu (15/11) mengatakan, sejumlah lembaga dan organisasi
internasional memprediksi tren penurunan ekspor barang dan jasa bakal terjadi
di negara-negara berkembang. Hal ini sudah tergambar di Indonesia. Salah satu
indikasinya adalah tren penurunan ekspor barang nonmigas Indonesia yang terjadi
sejak akhir 2022. Pada Januari-Oktober 2023, total ekspor nonmigas Indonesia
senilai 201,25 miliar USD, turun 12,74 % dibandingkan periode sama 2022.
Komoditas penyumbang penurunan ekspor tersebut adalah bahan bakar mineral,
terutama batubara, serta lemak dan minyak hewani/nabati, terutama minyak sawit.
”Penurunan kinerja itu lebih dipengaruhi turunnya nilai ekspor ketimbang
volume. Nilai ekspor turun disebabkan penurunan harga batubara dan CPO,”
ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. (Yoga)
Prospek Bisnis Batu Akik
MEMACU MESIN MANUFAKTUR
Mesin perekonomian Indonesia terbukti masih solid selama lebih dari 3 tahun, salah satunya tecermin dari kinerja positif neraca perdagangan selama 42 bulan secara beruntun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Oktober 2023 mencetak surplus US$3,48 miliar. Surplus itu diperoleh dari nilai ekspor Oktober 2023 sebesar US$22,15 miliar, sedangkan nilai impor hanya US$18,67 miliar. Dengan pencapaian itu, kinerja dagang selama Januari-Oktober 2023 membukukan akumulasi surplus US$31,22 miliar, kendati lebih rendah US$14,22 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2022 sebesar US$45,44 miliar. Kendati demikian, surplus kinerja perdagangan Indonesia juga diiringi fakta bahwa terjadi penurunan impor bahan baku penolong. Padahal suplai bahan baku menjadi indikator geliat industri manufaktur. Jika berkepanjangan, amat mungkin produktivitas sektor manufaktur, yang selama ini menjadi pilar penting penyokong ekonomi nasional, akan tersendat. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan impor bahan baku/penolong dalam tren menurun selama 5 bulan terakhir. Sejatinya, tren penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2022. Selama Januari-Oktober 2023, nilai impor bahan baku/penolong juga merosot sebesar US$19,32 miliar atau 12,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ada tiga besar golongan barang yang merosot nilai impornya selama periode 10 bulan pertama 2023, yaitu bahan bakar mineral, besi dan baja serta plastik dan bahan dari plastik. Saat dimintai tanggapan, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan memprediksi total impor Indonesia sepanjang 2023 memang turun sebesar 7,7%. Untuk tahun depan, dia menyatakan Kemendag bakal memastikan ketersediaan input bagi industri manufaktur domestik, sejalan dengan kebijakan penghiliran. Kasan juga mengatakan Kemendag fokus pada ekspor barang dan jasa bernilai tambah tinggi guna meningkatkan produktivitas perekonomian. Sebaliknya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menyampaikan catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 sebesar US$3,48 miliar bisa menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Sementara itu, Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar menyatakan penurunan nilai impor bahan baku/penolong menunjukkan ada kontraksi di industri manufaktur. “Jadi banyak yang menahan produksi, melihat situasi, hitung-hitung market daya belinya gimana dengan produksi yang naik,” kata Bobby. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Chandra Wahjudi juga sepakat dengan Bobby. Menurutnya, penurunan impor bahan baku/penolong dipicu antara lain penurunan permintaan. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz juga menegaskan Indonesia memasuki tren penurunan surplus neraca perdagangan.
Kinerja ASSA Terpapar E-Commerce
Kisah Solidaritas Mama Pasar Papua
Di tengah terik siang hiruk-pikuk aktivitas Pasar Youtefa,
Kota Jayapura, Papua, Sabtu (4/11) sedikit surut. Namun, puluhan hingga ratusan
pedagang tidak beranjak dari lapak-lapaknya. Sejumlah perempuan peda- gang,
orang asli Papua, atau biasa dipanggil ”mama-mama Papua”, berdampingan dengan pedagang
pendatang. Biasanya para mama Papua cukup mudah ditemui dengan lapak sederhana
beralas karung goni di emperan atau sisi luar pasar. Komoditas yang dijual
ialah sejumlah jenis sayuran, buah-buahan lokal, serta pinang dan sirih.
Kebanyakan petak kios di blok dalam pasar lebih banyak dihuni pedagang
pendatang. Barang yang dijual di dalam pasar lebih banyak kebutuhan sekunder
dan tersier.
”Di dalam sepi, lebih baik di sini. Ya, karena kalau orang mau
cari sayur pasti cari ke sekitar sini,” kata Agustina Demetow (59) atau biasa
disapa Mama Tina, sembari memamah pinang. Mama Tina merupakan pedagang dari Kampung
Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura. Untuk menuju Pasar Youtefa dari kampungnya,
Mama Tina naik bus Damri selama 8 jam. Ketimbang bolak-balik dari kampung ke
Pasar Youtefa, ia memilih menyewa dan menginap indekos di sekitar pasar yang
juga digunakan anak-anaknya menginap saat bersekolah di Kota Jayapura. Biasanya
Mama Tina berjualan 2-3 hari, sebelum pulang ke rumah untuk mengambil kembali
sayuran dan barang dagangan lainnya.”Kalau pinang ini, mereka (pedagang
non-Papua) kurang tahu membedakan mana yang baik (layak dikonsumsi). Makanya,
beli sama kami sekaligus kami pilihkan. Nanti kalau salah pilih justru pinangnya
bikin muntah atau mabuk,” tuturnya.
Relasi antarpedagang di pasar itu terjaga baik. Mereka saling
membutuhkan, satu sama lain. Mama Tina dan pedagang lainnya menunjukkan
solidaritas sosial antarsesama, termasuk dengan pedagang non-Papua. Mereka
mengesampingkan stigma yang kadang membuat jurang pemisah di antara keduanya. Pedagang
lainnya, Wenina Mandikmbo (42) atau Mama Wen memiliki komoditas jualan yang
serupa dengan Mama Tina. Mama Wen berasal dari Wamena, Papua Pegunungan, Ia biasanya
bolak-balik dengan waktu tempuh 2-3 jam menuju Pasar Youtefa membawa sayuran
dalam jumlah banyak. Tidak hanya untuk berjualan sendiri, Mama Wen juga
mendistribusikan dagangannya kepada pedagang lainnya. ”Meskipun harus dijual dengan
harga turun (lebih murah), itu lebih baik daripada ditahan dan bisa saja
tidak laku dan sayurnya rusak,” katanya. Bagi Mama Wen, menjaga solidaritas
dengan pedagang lainnya menjadi penting. Apalagi, bertahun-tahun berjualan di
pasar belum mampu memperbaiki perekonomian keluarga atau mendatangkan
kesejahteraan bagi mereka. (Yoga)
Digitalisasi Jadi Kunci Bisnis PRDA
ERAA Petik Hasil Penambahan Gerai
Perdagangan Indonesia-Lituania Naik
Harga Peranti Elektronik Impor Terdampak Rupiah
Harga barang impor berupa
barang elektronik dan telekomunikasi, seperti laptop, naik sebagai imbas melemahnya
nilaitukar rupiah terhadap dollar AS dalam enam bulan terakhir. Jumat (27/10)
mata uang rupiah ditutup melemah 19 poin ke posisi Rp 15.938. Persaingan pedagang
ritel di toko luring kian ketat dengan pedagang daring dan adanya lonjakan
impor produk murah asal China. Toko penjualan laptop Gamer.id di Pusat Grosir
Cililitan, Jaktim, misalnya, telah menyesuaikan harga sejak Oktober. Rizky,
salah satu pramuniaga di toko itu, mengatakan, kenaikan harga itu lebih meluas
daripada kenaikan harga sebagai dampak pandemi Covid-19, karena depresiasi
rupiah juga membuat harga barang-barang aksesori laptop meningkat.
”Harga laptop bisa naik
ratusan ribu rupiah. Itu lumayan juga. Kebanyakan pembeli juga cari laptop di
bawahRp 10 juta,” ujar Rizky, yang ditemui pada Sabtu (28/10). Selain itu,
angka penjualan di toko laptop baru berbagai merek rendah karena sepinya
pengunjung pusat perbelanjaan. Pedagang laptop dan aksesori lainnya di mal yang
sama, Hendro, juga mengakui kesulitan menggerakkan penjualan karena makin
mahalnya barang elektronik baru dan bekas serta rendahnya kunjungan pembeli.
”Dua bulan lalu sudah menaikkan harga beberapa barang. Sebenarnya tergantung
supplier, kamiikut doang,” ujar pria yang sudah enam tahun membuka toko itu. Layar
laptop, misalnya, naik Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000 per buah. Laptop
bekas dari pasar gelap, seperti dari Batam, Kepri, yang ia jual lagi, juga ikut
naik 10-15 %. Padahal, laptop bekas itu kalau dijual kembali jatuh harganya. (Yoga)
Melemahnya Rupiah
Melemahnya rupiah
akhir-akhir ini sudah berdampak pada transaksi perdagangan, terutama
barang-barang impor dan sangat berdampak terhadap berbagai lini usaha. “Awal
bulan, komputer dan perantinya mengalami kenaikan harga. Harga laptop naik ratusan
ribu rupiah. Kenaikan harga juga di aksesori, seperti mouse dan lainnya. Kenaikan
bisa Rp 50.000-Rp 100.000 per item. Saat depresiasi rupiah, kenaikan harga
bercabang ke aksesori. Ini membuat berkurang penjualan. Jualnya susah, orang
malas datang (ke toko offline), jadinya lari ke online,” kata Rizky (28),
Penjual Toko Laptop Gamer.id.
Timoti Tirta (32), Pelaku
Usaha Ascenta Tour, Jakarta, mengatakan, “Menjelang akhir tahun, memang
biasanya rupiah melemah. Jadi, kebiasaan pelanggan kalau mau ke luar negeri
pada akhir tahun, dia sudah menukarkan uangnya sebelum Desember. Cuma ketika ada
pembayaran yang belum lunas, seperti maskapai atau hotel, kami memang pasti
akan kurangi keuntungan. Jadi, ketika membuat paket perjalanan di awal,
biasanya ada spare untuk perubahan kurs. Pengeluaran perjalanan ke negara Asia enggak
terlalu terasa ketika dollar AS melemah dibandingkan ke negara Barat”.
Unit usaha wisata agak
terpengaruh depresiasi rupiah karena harga kebutuhan sehari-hari makin mahal
sehingga cadangan rekreasi berkurang. Akibatnya, beberapa program yang sudah terencana
menjadi tertunda. Kebanyakan (klien) memilih memakai uang mereka untuk keperluan
sehari-hari dulu dan menunda perjalanan rekreasi mereka, ujar Budi
Kusumaningsih (50), Pelaku Usaha Wisata, Yogyakarta. (Yoga)
Pilihan Editor
-
KKP Genjot Revitalisasi Tambak Udang Tradisional
23 Feb 2022 -
Minyak Goreng, Wajah Kemanusiaan Kita
24 Feb 2022









