;

Kisah Solidaritas Mama Pasar Papua

Ekonomi Yoga 06 Nov 2023 Kompas
Kisah Solidaritas Mama Pasar Papua

Di tengah terik siang hiruk-pikuk aktivitas Pasar Youtefa, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (4/11) sedikit surut. Namun, puluhan hingga ratusan pedagang tidak beranjak dari lapak-lapaknya. Sejumlah perempuan peda- gang, orang asli Papua, atau biasa dipanggil ”mama-mama Papua”, berdampingan dengan pedagang pendatang. Biasanya para mama Papua cukup mudah ditemui dengan lapak sederhana beralas karung goni di emperan atau sisi luar pasar. Komoditas yang dijual ialah sejumlah jenis sayuran, buah-buahan lokal, serta pinang dan sirih. Kebanyakan petak kios di blok dalam pasar lebih banyak dihuni pedagang pendatang. Barang yang dijual di dalam pasar lebih banyak kebutuhan sekunder dan tersier.

”Di dalam sepi, lebih baik di sini. Ya, karena kalau orang mau cari sayur pasti cari ke sekitar sini,” kata Agustina Demetow (59) atau biasa disapa Mama Tina, sembari memamah pinang. Mama Tina merupakan pedagang dari Kampung Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura. Untuk menuju Pasar Youtefa dari kampungnya, Mama Tina naik bus Damri selama 8 jam. Ketimbang bolak-balik dari kampung ke Pasar Youtefa, ia memilih menyewa dan menginap indekos di sekitar pasar yang juga digunakan anak-anaknya menginap saat bersekolah di Kota Jayapura. Biasanya Mama Tina berjualan 2-3 hari, sebelum pulang ke rumah untuk mengambil kembali sayuran dan barang dagangan lainnya.”Kalau pinang ini, mereka (pedagang non-Papua) kurang tahu membedakan mana yang baik (layak dikonsumsi). Makanya, beli sama kami sekaligus kami pilihkan. Nanti kalau salah pilih justru pinangnya bikin muntah atau mabuk,” tuturnya.

Relasi antarpedagang di pasar itu terjaga baik. Mereka saling membutuhkan, satu sama lain. Mama Tina dan pedagang lainnya menunjukkan solidaritas sosial antarsesama, termasuk dengan pedagang non-Papua. Mereka mengesampingkan stigma yang kadang membuat jurang pemisah di antara keduanya. Pedagang lainnya, Wenina Mandikmbo (42) atau Mama Wen memiliki komoditas jualan yang serupa dengan Mama Tina. Mama Wen berasal dari Wamena, Papua Pegunungan, Ia biasanya bolak-balik dengan waktu tempuh 2-3 jam menuju Pasar Youtefa membawa sayuran dalam jumlah banyak. Tidak hanya untuk berjualan sendiri, Mama Wen juga mendistribusikan dagangannya kepada pedagang lainnya. ”Meskipun harus dijual dengan harga turun (lebih murah), itu lebih baik  daripada ditahan dan bisa saja tidak laku dan sayurnya rusak,” katanya. Bagi Mama Wen, menjaga solidaritas dengan pedagang lainnya menjadi penting. Apalagi, bertahun-tahun berjualan di pasar belum mampu memperbaiki perekonomian keluarga atau mendatangkan kesejahteraan bagi mereka. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :