Kisah Solidaritas Mama Pasar Papua
Di tengah terik siang hiruk-pikuk aktivitas Pasar Youtefa,
Kota Jayapura, Papua, Sabtu (4/11) sedikit surut. Namun, puluhan hingga ratusan
pedagang tidak beranjak dari lapak-lapaknya. Sejumlah perempuan peda- gang,
orang asli Papua, atau biasa dipanggil ”mama-mama Papua”, berdampingan dengan pedagang
pendatang. Biasanya para mama Papua cukup mudah ditemui dengan lapak sederhana
beralas karung goni di emperan atau sisi luar pasar. Komoditas yang dijual
ialah sejumlah jenis sayuran, buah-buahan lokal, serta pinang dan sirih.
Kebanyakan petak kios di blok dalam pasar lebih banyak dihuni pedagang
pendatang. Barang yang dijual di dalam pasar lebih banyak kebutuhan sekunder
dan tersier.
”Di dalam sepi, lebih baik di sini. Ya, karena kalau orang mau
cari sayur pasti cari ke sekitar sini,” kata Agustina Demetow (59) atau biasa
disapa Mama Tina, sembari memamah pinang. Mama Tina merupakan pedagang dari Kampung
Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura. Untuk menuju Pasar Youtefa dari kampungnya,
Mama Tina naik bus Damri selama 8 jam. Ketimbang bolak-balik dari kampung ke
Pasar Youtefa, ia memilih menyewa dan menginap indekos di sekitar pasar yang
juga digunakan anak-anaknya menginap saat bersekolah di Kota Jayapura. Biasanya
Mama Tina berjualan 2-3 hari, sebelum pulang ke rumah untuk mengambil kembali
sayuran dan barang dagangan lainnya.”Kalau pinang ini, mereka (pedagang
non-Papua) kurang tahu membedakan mana yang baik (layak dikonsumsi). Makanya,
beli sama kami sekaligus kami pilihkan. Nanti kalau salah pilih justru pinangnya
bikin muntah atau mabuk,” tuturnya.
Relasi antarpedagang di pasar itu terjaga baik. Mereka saling
membutuhkan, satu sama lain. Mama Tina dan pedagang lainnya menunjukkan
solidaritas sosial antarsesama, termasuk dengan pedagang non-Papua. Mereka
mengesampingkan stigma yang kadang membuat jurang pemisah di antara keduanya. Pedagang
lainnya, Wenina Mandikmbo (42) atau Mama Wen memiliki komoditas jualan yang
serupa dengan Mama Tina. Mama Wen berasal dari Wamena, Papua Pegunungan, Ia biasanya
bolak-balik dengan waktu tempuh 2-3 jam menuju Pasar Youtefa membawa sayuran
dalam jumlah banyak. Tidak hanya untuk berjualan sendiri, Mama Wen juga
mendistribusikan dagangannya kepada pedagang lainnya. ”Meskipun harus dijual dengan
harga turun (lebih murah), itu lebih baik daripada ditahan dan bisa saja
tidak laku dan sayurnya rusak,” katanya. Bagi Mama Wen, menjaga solidaritas
dengan pedagang lainnya menjadi penting. Apalagi, bertahun-tahun berjualan di
pasar belum mampu memperbaiki perekonomian keluarga atau mendatangkan
kesejahteraan bagi mereka. (Yoga)
Postingan Terkait
UMKM Masih Bisa Nikmati PPh Final Nol
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023