Perdagangan
( 595 )Eskalasi Geopolitik Memantik Biaya Logistik
Penjualan e-Commerce Melejit Ketika Hiburan
Konflik Makin Panas, Minyak Mendidih
Ogah Bisnis Terkubur Pajak Hiburan, Gugat Aturan Menjadi Pilihan
Surplus Menyusut, Defisit Transaksi Berjalan Melebar
Surplus Neraca Perdagangan Bakal Merosot
Penjualan Eceran Diperkirakan Tetap Kuat
"Montase” Perdagangan
Sektor perdagangan tengah merepresentasikan satu wajah dua
muka. Di dalam negeri, harga barang dan jasa serba naik. Di luar negeri,
kemitraan dagang antar negara semakin mengotak dan restriksi dagang kian marak.
Kondisi itu bak montase atau gambar dengan makna baru yang terbentuk dari
potongan beberapa gambar yang ditempel dalam satu wadah. ”Montase” perdagangan
itu menjadi ”menu” penutup pada 2023 sekaligus ”menu” utama pada 2024. Kenaikan
harga pangan terutama terjadi akibat kenaikan biaya produksi, perubahan iklim,
dan dampak kenaikan harga bahan baku impor. Beras medium, misalnya, harga
rata-rata nasional tertingginya terjadi pada Oktober 2023, yakni Rp 13.210 per kg.
Harga tersebut naik 16,24 % secara tahunan, disebabkan penurunan produksi
akibat La Nina dan El Nino serta kenaikan biaya produksi padi. Biaya produksi
padi meningkat akibat kenaikan harga pupuk, benih, BBM, sewa tanah, dan tenaga kerja.
Gula pasir juga senasib. Produksi gula nasional turun akibat dampak
El Nino. Hal itu menyebabkan harga gula naik sejak Juli 2023. Harga rata-rata nasional
gula konsumsi hingga pekan ketiga Desember 2023 Rp 17.260 per kg, naik 17,26 %
secara tahunan. Harga gula dunia naik dibarengi depresiasi nilai tukar rupiah.
Hal itu membuat perusahaan swasta dan milik negara diminta mengimpor 1 juta ton
gula untuk cadangan gula pemerintah. Pemerintah perlu menyiapkan cadangan
pangan yang harganya mudah bergejolak seturut pola musiman itu. Peran dan
kehadiran Bapanas yang diperkuat Perum Bulog dan ID Food yang mendapat mandat
menyiapkan 11 komoditas cadangan pangan pemerintah perlu diperkuat, dibarengi peningkatan
produksi pangan yang dapat dibudidayakan di dalam negeri untuk mengurangi
impor.
Kinerja ekspor Indonesia mulai turun seiring penurunan harga
komoditas ekspor unggulan, seperti minyak sawit, batubara, besi dan baja, serta
nikel. Untungnya penurunan kinerja ekspor terjadi pada nilai ekspor, bukan
volume. Berdasar data BPS, nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-November
2023 mencapai 221,96 miliar USD atau turun 12,47 % secara tahunan. Tapi volume
ekspor nonmigas naik 6,92 % menjadi 612,42 juta ton. Positifnya, kinerja ekspor
Indonesia ke depan semakin ditopang hilirisasi yang mencakup industri besi dan
baja, gasifikasi batubara, bauksit, tembaga, pupuk, gula dan bioetanol, serta integrase
nikel, baterai kendaraan listrik dan kendaraan listrik. Program hilirisasi itu
turut menopang pertumbuhan investasi. Kementerian Investasi mencatat, nilai
realisasi investasi untuk hilirisasi pada Januari-September 2023 sebesar Rp 266
triliun. (Yoga)
Ekspor Nonmigas Ditarget Rebound Tahun Ini
AMRT Tambah 800 Gerai Tahun Ini
Emiten ritel, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) bakal terus melanjutkan ekspansi bisnisnya di tahun ini. Pihaknya menargetkan penambahan 800 gerai baru di tahun 2024. "Kami menutup tahun hingga akhir 2023 dengan 19.100 gerai dan penambahan satu pusat distribusi di Madiun. Sementara rencana penambahan gerai di tahun 2024 sebanyak 800 gerai," ujar GM Corporate Communications AMRT, Rani Wijaya kepada KONTAN, Selasa (2/1). Rani mengungkapkan, penambahan 800 gerai tersebut akan menyasar wilayah di luar kota-kota besar di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa. Di sisi lain, AMRT optimistis tren pertumbuhan bisnis selama tahun 2023 akan berlanjut hingga tahun 2024. Rani menyatakan, kondisi ekonomi dalam negeri sudah semakin membaik paska pandemi Covid-19. Hal ini juga yang membuat daya beli masyarakat terus meningkat. Meskipun 2024 merupakan tahun politik, proyeksi bisnis ritel akan semakin membaik karena melanjuti kinerja yang sudah baik di 2023. Sekadar informasi, tahun 2024 diprediksi menjadi tahun pemulihan bagi sektor ritel.
Pasalnya, pada tahun ini mobilitas masyarakat sudah tak lagi dibatasi serta adanya momentum politik, seperti Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daaerah (Pilkada) serentak. Ajang pesta demokrasi diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan sektor ritel.
Hingga kuartal III-2023, AMRT membukukan laba bersih sebesar Rp 2,19 triliun, tumbuh 25,1% dibandingkan periode sama tahun 2022 yang tercatat sebesar Rp 1,751 triliun.
Pengelola gerai ritel Alfamart ini menyiapkan sejumlah strategi untuk memaksimalkan laju bisnisnya di tahun 2024. Salah satunya melalui
digital initiatives, yakni pengoptimalan
omnichannel
Alfamart melalui aplikasi Alfagift yang semakin membuka jalan dan potensi lain untuk pengembangan bisnis Alfamart, khususnya manajemen hubungan pelanggan (
Customer Relation Management
/CRM) dan teknologi.
Pengembangan
omnichannel
seperti Alfagift ini sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun lalu. Namun, manajemen AMRT terus berupaya menyempurnakannya. Ini dilakukan setelah melihat tingginya minat belanja masyarakat secara daring atau online.
Terkait anggaran dana belanja modal atau
capital expenditure
(capex) tahun ini, Manajemen AMRT juga belum bersedia memberikan rinciannya.Namun, Rani menjelaskan sebagian besar capex dialokasikan untuk keperluan ekspansi usaha.
Sebagai gambaran, pada tahun 2023 lalu, AMRT mengalokasikan dana capex sebesar Rp 4 triliun–Rp 4,4 triliun.Dana yang dinilai cukup untuk agenda ekspansi AMRT.
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022









