Perdagangan
( 594 )Nilai Penjualan Antibiotik Menembus Rp 10 Triliun
Nilai penjualan antibiotik lebih dari Rp 10 triliun dalam
satu tahun dengan tren yang terus meningkat. Angka ini mengindikasikan luasnya
konsumsi antibiotik di Tanah Air, baik lewat resep dokter maupun yang dijual
bebas di apotek, lokapasar, dan aplikasi telemedisin. Setelah menunggu sepekan,
IQVIA akhirnya mengirimkan data penjualan antibiotik di Indonesia, Rabu (13/3).
Perusahaan multinasional yang membidangi riset informasi dan teknologi
kesehatan ini akhirnya menyetujui permintaan Kompas mencuplik data penjualan
antibiotik.
Di Indonesia, IQVIA menjadi satu-satunya lembaga yang mendata
penjualan antibiotic dan menjadi rujukan industri farmasi dalam menganalisis pasar
kesehatan. Lembaga riset asal AS itu mengirimkan table penjualan antibiotik di
rentang waktu 2018-2022. Tahun 2018, penjualan antibiotik sebesar Rp 8,9
triliun. Sempat turun saat wabah Covid-19 (Rp 7,9 triliun tahun 2020). Satu
tahun kemudian, penjualan antibiotik meningkat menjadi Rp 9,4 triliun. Pasar antibiotik
kembali bergairah dengan nilai transaksi mencapai Rp 10,4 triliun pada 2022. Senior
Principal IQVIA Erwin Widjaja menjelaskan, penjualan antibiotik tahun 2022 itu setara
12,12 % dari total penjualan semua obat resep.
”Dari golongan obat resep, penjualan antibiotik terbesar,
jauh melampaui obat diabetes yang berada di peringkat kedua (Rp 5,7 triliun)
dan obat digestitif (Rp 5 triliun),” ujarnya. Sebagai obat keras atau obat yang
hanya bisa didapat lewat resep, antibiotik diberi tanda khusus. Di labelnya ada
lingkaran warna merah dengan tulisan K berkelir hitam. Semua obat keras
memiliki tanda ini. Faktanya antibiotik beredar secara bebas di pasaran. Di
Pasar Pramuka, Jakarta, yang terkenal sebagai pasar gelap produk farmasi, obat
ini masih mudah didapat, sebagaimana yang ditemukan Kompas, Oktober 2023.
Begitu pun di sejumlah apotek, antibiotik juga bisa dibeli tanpa resep. Kompas
membuktikan ini dengan membeli antibiotik di empat apotek di Jatim dan Jateng,
termasuk perusahaan pelat merah Kimia Farma. (Yoga)
IPO Sektor Perdagangan Karbon
Sektor perdagangan karbon mengalami kemajuan yang pesat pada beberapa tahun terakhir. Diawali dengan terbitnya Peraturan Presiden No. 98/2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional, dan selanjutnya diikuti dengan beberapa aturan di tingkat peraturan menteri dan puncaknya terbitnya POJK No. 14/2023 tentang Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon. Dengan terbitnya serangkaian peraturan tersebut maka memastikan optimisme investor bahwa upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sekaligus merupakan potensi ekonomi yang besar bagi Indonesia, mengingat Indonesia memiliki salah satu sumber terbesar di sektor hulu pada industri ini. Demikian juga telah adanya aturan yang solid mengenai mekanisme perdagangan sertifikat penurunan gas rumah kaca (SPE-GRK) yang sering disebut sebagai perdagangan karbon. Dalam perspektif pasar modal, terbitnya mekanisme registrasi melalui sistem registrasi nasional (SRN) dan mekanisme otorisasi perdagangan unit karbon dalam mekanisme perdagangan sertifikat penurunan gas rumah kaca (SPE-GRK) telah menguatkan aspek fundamental dari perdagangan karbon sebagai sebuah industri, baik pada aspek hulu maupun aspek hilir. Penguatan pada aspek fundamental ini juga turut dipengaruhi oleh hasil pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2024. Dukungan pemerintah pada industri ini, misalnya, pada saat reshuffle terakhir di 2024 Presiden Joko Widodo juga menyebut untuk memberi prioritas pada sektor perdagangan karbon. Demikian juga dengan hasil pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden 2024 yang tampaknya berpihak pada industri perdagangan karbon dan penghilirannya. Dengan potensi tingginya perdagangan unit karbon pada sertifikat penurunan gas rumah kaca menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu leading sector pada Industri ini. Demikian pula dengan besarnya pasar yang akan menjadi pembeli dari unit SPE GRK yang dimiliki oleh perusahaan yang mengelola sektor perdagangan karbon di Indonesia. Banyaknya negara yang terlibat dan meratifikasi COP menunjukkan potensi ‘demand’ sehingga pada analisis permintaan dan penawaran maka industri ini akan mengalami tren positif terutama menjelang 2029.
Akhir 2024 hingga awal 2026 merupakan momentum yang tepat bagi calon emiten yang bergerak di bidang perdagangan karbon masuk bursa. Pertimbangannya adalah stabilitas politik dan regulasi baru setelah Oktober 2024 untuk melihat apakah ada faktor yang dapat menjadi sentimen negatif pada valuasi harga saham emiten. Pada 2025 hingga 2026 dipandang menjadi tahun yang krusial karena diperkirakan pada COP Tahun 2024 dan COP Tahun 2025 akan terdapat isu global mengenai perdagangan karbon disamping kondisi transisi energi setiap sektor pada masing-masing negara peserta COP akan terlihat hasil dan kebutuhannya terhadap offset penurunan gas rumah kaca sehingga arus transaksi perdagangan saham dan perdagangan karbon akan meningkat karena telah terbentuk pasar yang sempurna. Kinerja bursa saham pada indeks harga saham hijau cenderung membaik, hal ini terlihat dari ‘green’ emiten terakhir yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia pada Oktober 2023. BREN adalah emiten yang berfokus pada kinerja clean energi dan penurunan emisi gas rumah kaca yang mengalami oversubscription pada IPO. Kontrak jangka panjang perdagangan unit karbon merupakan faktor yang signifikan karena akan menunjukkan sisa volume unit karbon yang dimiliki oleh emiten itu dalam jangka panjang sehingga dapat diperkirakan aset dan arus kas emiten itu. Pada industri sektor perdagangan karbon yang disebut sebagai aset utama adalah volume unit karbon yang dapat diperdagangkan oleh emiten yang akan melakukan penawaran umum perdana beserta pembeli unit karbon yang telah terikat kontrak jangka panjang maupun jangka pendek pembeli jangka pendek dengan transaksi spot.
Belanja Masyarakat Saat Ramadhan Meningkat
Penjualan Kurma Meningkat
Pelemahan Ekspor Berlanjut, Surplus Dagang Menipis
Tren pelemahan ekspor masih berlanjut memasuki
Februari 2024. Pada bulan lalu ekspor turun 9,45 % secara tahunan (year on
year/yoy) menjadi USD 19,3 miliar dari USD 21,3 miliar dan 5,79 % secara
bulanan (month to month/mtm) dari USD 20,49 miliar. Akumulasi surplus neraca
perdagangan pun menipis, turun menjadi hanya USD 2,9 miliar dari tahun lalu di USD
36,9 miliar.
Per Februari 2024, akumulasi ekspor turun 8,8 %
menjadi USD 39,8 miliar, dibanding periode sama tahun lalu USD 43,65 miliar. Plt
Kepala BPS Amalia Adminggar Widyasanti mengatakan, penurunan ekspor secara
bulanan disebabkan kemerosotan pengapalan produk manufaktur. Februari 2024,
ekspor manufaktur turun 9,22 % secara bulanan menjadi USD 13,64 miliar dari USD
15 miliar. (Yetede)
Momen Cuan Pedagang Kurma
Senyum Elawati (52) mengembang saat seorang pembeli memasuki
area dagangannya di Pasar Jatinegara, Jaktim, Jumat (8/3) siang. Dengan bersemangat,
ia menjelaskan belasan jenis kurma yang berjejeran di lapaknya. Buah manis
berwarna coklat dengan daging yang cukup tebal itu pun berhasil masuk kantong
pembeli. Pedagang yang berjualan sejak awal 2000-an itu menyebut ada kenaikan
penjualan menjelang Ramadhan. Namun, tokonya belum seramai Ramadhan tahun lalu.
”Sekarang dalam sehari omzet Rp 10 juta. Pada hari biasa tak sampai setengahnya,”
ucapnya. Saat ini, Elawati hanya mengandalkan penjualan di toko. Ia belum
mencoba jualan di lokapasar.
Agar bertahan, perempuan asal Cirebon ini menjalin relasi dengan
pelanggan. ”Kemarin ada yang beli kurma ajwa premium puluhan boks. Katanya,
untuk dibagikan kepada kerabat. Dia pelanggan tetap saat Ramadhan,” ujarnya. Pada
momen Ramadhan tahun lalu, Elawati mendapat omzet lebih dari Rp 500 juta
sebulan. Ia berharap bisa dapat omzet yang setidaknya setara dengan tahun lalu.
Tak jauh dari lapak Elawati, pedagang kurma lainnya, Jacob (27), duduk lesu menanti
pelanggan. Ia menjual aneka kurma dari harga Rp 60.000 per kg hingga Rp 300.000
per kg. Kurma yang dia jual antara lain jenis sukari, ajwa, tunisia, dan palm
fruit. ”Kadang ramai, kadang enggak. Namun, kalau dibandingkan hari biasa, ya,
lebih banyak pembeli,” katanya.
Adnan (42), pedagang kurma di Pasar Tanah Abang, Jakpus,
menyebutkan, kebanyakan kurma yang dipasok ke Tanah Abang berasal dari Uni
Emirat Arab, Turki, AS, dan Afrika. Kurma termurah dijual Rp 25.000 per kg,
sementara beberapa jenis dijual dengan harga Rp 350.000 per kg. Jelang Ramadhan
ini, omzet yang diperoleh Adnan meningkat 40 %. Yusuf (48), pedagang lain, juga
mengaku sudah mulai banyak mendapat permintaan kurma. Pembeli yang dating ke
tokonya melonjak hingga dua kali lipat dengan rata-rta omzet Rp 30 juta per
hari. (Yoga)
Tanah Abang Mulai Diserbu Pembeli
Hendro (40) tak berhenti melayani pembeli yang ingin diambilkan
baju di kiosnya. Dengan tongkat, ia mengambil baju di salah satu maneken. Sejak
pagi, kata Hendro, sudah ada puluhan pengunjung yang menghampiri kiosnya di Pasar
Tanah Abang Blok A, Jakpus. Sebagian datang untuk membeli. Tak sedikit pula
yang hanya dating untuk melihat-lihat koleksi baju dan basa-basi. ”Sudah
seminggu yang lalu Pasar Tanah Abang mulai ramai karena sebentar lagi bulan Ramadhan.
Lebih ramai lagi kalau hari Minggu,” ujar Hendro, Selasa (5/3). Kehadiran
pengunjung musiman ini membuat isi dompet Hendro sedikit menebal dari biasanya.
Ia mengaku omzet per hari naik 70 % dari hari biasa.
Beberapa hari ini, ia menjual 10 kodi atau 200 baju per hari.
Namun, jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan momen menjelang Ramadhan tahun
lalu yang bisa mencapai 18 kodi per hari. Hendro juga melayani pembeli luar
pulau. Baju yang dijual Hendro dibanderol dengan harga Rp 200.000 hingga Rp
250.000 per helai. Ia menyebut mayoritas dagangannya dibeli untuk dijual
kembali. Meski omzetnya belum naik signifikan, dibandingkan dengan hari-hari
biasanya, jumlah itu sudah lebih dari cukup. ”Harus bersabar dulu, barangkali
setelah ini lebih banyak pengunjung yang mampir,” ucap Hendro. (Yoga)
Indonesia Memainkan Peran Penting dalam Perdagangan Regional
Indonesia Kembali Perjuangkan Sistem Penyelesaian Sengketa
MUSIM PANEN EMITEN KONSUMER
Kinerja emiten konsumer pada kuartal I/2024 diproyeksi bakal tetap cemerlang seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Para analis menyatakan bahwa momentum Ramadan dan Lebaran menjadi ladang rezeki bagi emiten konsumer. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Aziz Setyo Wibowo mengatakan bahwa konsumsi rumah tangga bakal meningkat pada Maret hingga April, bertepatan dengan momentum Ramadan dan Lebaran. Indeks keyakinan konsumen–yang merekam optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi—turut menunjukkan tren kenaikan. Bank Indonesia (BI) mencatat indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Januari mencapai 125, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 123,8. Kenaikan ini mencerminkan optimisme konsumen yang didorong dengan peningkatan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi pada saat ini maupun ekspektasi terhadap ekonomi ke depan.
Di sisi lain, Abdul Aziz mengingatkan emiten konsumer untuk mengantisipasi penurunan penjualan karena melemahnya daya beli masyarakat yang dipicu inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi harga barang bergejolak pada Januari 2024 mencapai 7,2% year-on-year (YoY), lebih tinggi dari inflasi volatile food bulan sebelumnya sebesar 6,73% YoY. Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Cindy Alicia Ramadhania menuturkan emiten konsumer bakal menuai berkah pada musim tersebut karena konsumsi masyarakat lebih tinggi dari hari-hari biasa. Seiring dengan prospek tersebut, NH Korindo menyematkan rekomendasi beli untuk saham MYOR dengan target harga Rp3.200. Adapun, saham ICBP meraih rekomendasi beli dengan target Rp13.600, dan saham MAPI menyandang status overweight dengan target Rp3.200 Sementara itu, sejumlah emiten konsumer tengah bersiap untuk menyambut berkah kenaikan pemintaan masyarakat. Dian Astrina, Head of Corporate Communications and External Relations Garudafood, menuturkan bahwa persiapan menyambut bulan puasa telah dilakukan perseroan sejak awal tahun ini dengan meningkatkan kapasitas produksi 10% dari periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) turut meraih peluang pada momentum Ramadan dan Lebaran dengan menjaga denyut pertumbuhan bisnis melalui belanja modal atau capital expenditure (capex) di kisaran 2,4-2,5% dari total pendapatan 2023. Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap menjelaskan sepanjang tahun lalu, Unilever mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp38,6 triliun. Dengan demikian, belanja modal tahun ini akan berkisar Rp926,67 miliar-Rp965,28 miliar. Momentum Ramadan disambut antusias oleh peritel Sogo Indonesia yang mengincar pertumbuhan penjualan 10% YoY pada Ramadan dan Idulfitri pada 2024. Direktur Sogo Indonesia Handaka Santosa mengatakan perusahaan mengharapkan kenaikan penjualan dua kali lipat dari penjualan normal bulanan. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Abyan Habib Yuntoharjo melihat inflasi menjadi tantangan yang perlu diperhatikan oleh emiten konsumer.
Pilihan Editor
-
Membuat QRIS Semakin Perkasa
09 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
Salurkan Kredit, Bank Digital Mulai Unjuk Gigi
29 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022









