;

"Montase” Perdagangan

Ekonomi Yoga 06 Jan 2024 Kompas
"Montase” Perdagangan

Sektor perdagangan tengah merepresentasikan satu wajah dua muka. Di dalam negeri, harga barang dan jasa serba naik. Di luar negeri, kemitraan dagang antar negara semakin mengotak dan restriksi dagang kian marak. Kondisi itu bak montase atau gambar dengan makna baru yang terbentuk dari potongan beberapa gambar yang ditempel dalam satu wadah. ”Montase” perdagangan itu menjadi ”menu” penutup pada 2023 sekaligus ”menu” utama pada 2024. Kenaikan harga pangan terutama terjadi akibat kenaikan biaya produksi, perubahan iklim, dan dampak kenaikan harga bahan baku impor. Beras medium, misalnya, harga rata-rata nasional tertingginya terjadi pada Oktober 2023, yakni Rp 13.210 per kg. Harga tersebut naik 16,24 % secara tahunan, disebabkan penurunan produksi akibat La Nina dan El Nino serta kenaikan biaya produksi padi. Biaya produksi padi meningkat akibat kenaikan harga pupuk, benih, BBM, sewa tanah, dan tenaga kerja.

Gula pasir juga senasib. Produksi gula nasional turun akibat dampak El Nino. Hal itu menyebabkan harga gula naik sejak Juli 2023. Harga rata-rata nasional gula konsumsi hingga pekan ketiga Desember 2023 Rp 17.260 per kg, naik 17,26 % secara tahunan. Harga gula dunia naik dibarengi depresiasi nilai tukar rupiah. Hal itu membuat perusahaan swasta dan milik negara diminta mengimpor 1 juta ton gula untuk cadangan gula pemerintah. Pemerintah perlu menyiapkan cadangan pangan yang harganya mudah bergejolak seturut pola musiman itu. Peran dan kehadiran Bapanas yang diperkuat Perum Bulog dan ID Food yang mendapat mandat menyiapkan 11 komoditas cadangan pangan pemerintah perlu diperkuat, dibarengi peningkatan produksi pangan yang dapat dibudidayakan di dalam negeri untuk mengurangi impor.

Kinerja ekspor Indonesia mulai turun seiring penurunan harga komoditas ekspor unggulan, seperti minyak sawit, batubara, besi dan baja, serta nikel. Untungnya penurunan kinerja ekspor terjadi pada nilai ekspor, bukan volume. Berdasar data BPS, nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-November 2023 mencapai 221,96 miliar USD atau turun 12,47 % secara tahunan. Tapi volume ekspor nonmigas naik 6,92 % menjadi 612,42 juta ton. Positifnya, kinerja ekspor Indonesia ke depan semakin ditopang hilirisasi yang mencakup industri besi dan baja, gasifikasi batubara, bauksit, tembaga, pupuk, gula dan bioetanol, serta integrase nikel, baterai kendaraan listrik dan kendaraan listrik. Program hilirisasi itu turut menopang pertumbuhan investasi. Kementerian Investasi mencatat, nilai realisasi investasi untuk hilirisasi pada Januari-September 2023 sebesar Rp 266 triliun. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :