Perdagangan
( 594 )Berlanjut, Neraca Dagang Surplus 40 Bulan Berturut-turut
JAKARTA,ID-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agusus 2023 mengalami surplus sebesar US$ 3,12 miliar. Dengan demikian neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus 40 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus neraca perdagangan Agustus tersebut melonjak 1,83% dibandingkan Juli 2023 yang hanya sebesar US$ 1,31 miliar. Namun, turun 2,65% dibandingkan Agustus 2022. Surplus neraca perdagangan pada Agustus 2023 yang hanya sebesar US$ 4,47 miliar, dan komoditas penyumbang surplus utamanya adalah lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Lebih lanjut, surplus neraca perdagangan nonmigas Agustus 2023 ini lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni sebesar US$ 3,22 miliar. "Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas Agustus 2023 tercatat defisit US$ 1,34 miliar. Dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak," kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam acara jumpa pers BPS di Jakarta, Jumat (15/09/2023). (Yetede)
MEMBUKA GERBANG DAGANG ASEAN
Berstatus sebagai eksportir terbesar keempat di dunia rupanya tak membuat negara-negara di kawasan Asia Tenggara lekas berpuas diri. Buktinya, yurisdiksi yang tergabung dalam The Association of Southeast Asian Nations (Asean) terus berupaya membuka gerbang dagang lebih lebar.Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 Asean pun dimanfaatkan betul untuk memperluas kemitraan dagang, baik secara bilateral maupun multilateral. Sejumlah negara mitra Asean pun berkomitmen untuk memperluas atau mengimplementasikan penuh kemitraan niaga lintas batas. Mulai dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Asean dengan lima negara Pasifi k, Asean Plus Three (APT), hingga kemitraan bilateral yang dijalin oleh kawasan ini.Indonesia yang memegang Keketuaan Asean 2023 pun tak tinggal diam. Strategi yang ditempuh antara lain mendorong seluruh anggota untuk meratifi kasi RCEP dengan lima negara Pasifi k yakni Australia, Cina, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru.Kemudian menegosiasikan kesepakatan secara bilateral di antaranya dengan Amerika Serikat (AS), China, Jepang, Korea Selatan, dan Kanada. Bahkan, Indonesia juga memfasilitasi negosiasi Asean dengan AS soal UU Infl ation Reduction Act (IRA).Tujuannya adalah terus menggenjot nilai perdagangan dari Asean ke pelosok bumi. Apalagi, nilai ekspor Asean ke seluruh negara mitra terus mencatatkan peningkatan.
Presiden Joko Widodo, dalam KTT ke-26 Asean Plus Three, Rabu (6/9), mengatakan seluruh pihak perlu terus meningkatkan kerja sama dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi kawasan.
Presiden menambahkan, Asean juga secara bulat menyepakati untuk terus menjalankan fungsinya sebagai lokomotif perdamaian dan stabilitas kawasan, yang dalam kaitan itu Indo-Pasifik harus menjadi platform bagi kolaborasi.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, meminta agar penyelesaian perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dengan Asean dipercepat.
Perdana Menteri China Li Qiang, mengungkapkan komitmen Negeri Panda untuk mendukung peningkatan kemitraan yang saling menguntungkan dan produktif di Asean.Terlebih, hingga saat ini China merupakan negara mitra dagang terbesar Asean dengan nilai lebih dari US$970 miliar pada 2022 dan ditargetkan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.
Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol menyampaikan bahwa trilateral atau kerja sama tiga negara antara Korea Selatan, AS, dan Jepang akan terus mendukung arsitektur regional Asean. Sementara itu, Wakil Presiden AS Kamala Harris, menekankan akan terus memperkuat hubungan bilateral dengan Indonesia. Dia berharap kedua negara terus memperkuat kerja sama untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Diplomasi Negatif Beras India
Keputusan India melarang ekspor beras sejak Juli 2023 telah membuat kepanikan baru di pasar beras global. Apalagi, diplomasi negatif itu dilakukan pada masa kekeringan ekstrem El-Nino yang melanda sebagian besar negara produsen beras Asia. Harga beras global merangkak naik menjadi US$547 per ton pada Juli 2023, lalu naik lagi menjadi US$635 per ton pada Agustus 2023 untuk beras kualitas Thai 5% broken. Harga beras medium (Thai 25% broken) di pasar global US$524 per ton pada Juli 2023, lalu naik lagi menjadi US$600 per ton pada Agustus 2023.Apakah diplomasi negatif India akan menghasilkan ‘kiamat beras’ di pasar global, seperti sering menjadi tajuk berita media nasional dan media sosial? Tidak separah itu. Artikel ini menganalisis pasar beras global setelah pelarangan ekspor beras oleh India dan konsekuensinya bagi ekonomi perberasan Indonesia.
Laporan Prakiraan Pasokan dan Permintaan Produk Pertanian yang dirilis oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada Agustus 2023 sedikit melegakan dibandingkan dengan Laporan serupa versi Juli 2023. Secara umum pada 2023/2024 ini terjadi peningkatan pasokan, penurunan konsumsi, penurunan ekspor, dan peningkatan stok dibandingkan dengan bulan lalu. Pasokan beras naik 0,4 juta ton menjadi 694,7 juta ton, terutama karena stok awal yang lebih besar di India.
Meskipun demikian, diplomasi negatif larangan ekspor beras India telah membuat banyak negara net-consumers beras, terutama di Asia, mulai kalang kabut dalam 2 bulan terakhir. Saat ini, 40 negara menggantungkan impor beras dari India. Bahkan, beberapa negara di Afrika dan Asia Selatan sekitar 80% impor berasnya bergantung kepada India.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode kerangka sampel area (KSA) menunjukan bahwa neraca beras mulai defisit lagi sejak Juli, Agustus, bahkan diperkirakan berlanjut hingga September dan Oktober 2023, bahkan mencapai total 720.000 ton. Strategi manajemen stok beras dan kemampuan pengelolaan psikologi pasar akan mampu menahan lonjakan harga beras di dalam negeri.
Pembangunan Ekonomi Jadi Perhatian Utama ASEAN
ASEAN kembali menegaskan cara kerja sama di kawasan ini. Metodenya adalah kerja sama ekonomi dan pembangunan untuk kemakmuran bersama. Kelancaran perdagangan di antara sesama anggota dan mitra ASEAN diperlukan. Presiden RI Jokowi mengatakan, ASEAN tidak mau dijadikan alat kepentingan pihak lain. ”Jadikanlah kapal ASEAN ini sebagai ladang untuk menumbuhkan kerja sama. Untuk menciptakan kemakmuran, menciptakan stabilitas, menciptakan perdamaian yang tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi dunia,” ujarnya kala membuka KTT Ke-43 ASEAN, Selasa (5/9) di Jakarta.
ASEAN akan selalu terbuka bekerja sama dengan pihak mana pun. Kerja sama inklusif itu terus didorong ASEAN, baik di kawasan maupun luar kawasan. Bagi Indonesia, kerja sama, meliputi sector ekonomi, pembangunan, dan perdagangan. PM Malaysia Anwar Ibrahim juga memperingatkan bahaya adu domba oleh kekuatan dari luar kawasan. Sentralitas ASEAN harus terus dijunjung. Anwar turut mendorong perdagangan di antara sesame ASEAN ditingkatkan. Kini, porsinya hanya 22,3 % dari keseluruhan volume perdagangan ASEAN. Dengan kata lain, perdagangan ASEAN lebih banyak dilakukan dengan negara di luar kawasan. ”Pengaturan strategis lebih besar perlu dilakukan untuk integrasi pasar dan memfasilitasi pergerakan barang, modal, tenaga terampil, serta pembagian teknologi di antara kita dan mitra. Kemitraan dengan pihak luar yang bertujuan pada hal ini harus diperkuat,” katanya. (Yoga)
ASEAN Perkuat Rantai Pasok Regional
Untuk mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi kawasan di tengah ketidakpastian global, negara-negara Asia Tenggara bersepakat memperkuat rantai pasok regional yang lebih inklusif. Dengan demikian, keterlibatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi kawasan yang selama ini sulit menembus pasar global akan lebih terjamin. Pada 2022, total nilai PDB ASEAN tercatat 3,6 triliun USD. Di antara negara-negara anggota ASEAN, Malaysia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi (8,7 %), disusul Vietnam (8 %), Filipina (7,6 %), Indonesia (5,31 %), dan Kamboja (5,1 %). Meski demikian, perekonomian negara-negara ASEAN lainnya masih sulit bangkit selepas pandemi.
Di tengah pemulihan yang masih berlangsung itu, kondisi ekonomi global semakin tidak pasti. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Minggu (3/9) mengatakan, proyeksi perekonomian global yang tak menentu ke depan ikut mengindikasikan adanya potensi pelemahan dan ketidakpastian pertumbuhan ekonomi di kawasan. Penguatan integrasi ekonomi kawasan pun penting untuk menjamin ketahanan ekonomi ASEAN di tengah ancaman krisis dan perubahan lanskap ekonomi global. ”Kondisi ekonomi pada masa mendatang sangat dinamis dan penuh tantangan. Kita harus meningkatkan kerja sama dan integrasi ekonomi kawasan lewat penguatan arsitektur perdagangan dan rantai pasok regional,” katanya seusai pertemuan ASEAN Economi Community Council (AECC) Ke-23 di Jakarta. (Yoga)
Hambatan Nontarif Perlu Dilonggarkan
Pelaku bisnis di kawasan ASEAN merekomendasikan penghapusan hambatan nontarif dalam perdagangan antarnegara anggota demi menunjang ketahanan pangan di kawasan tersebut. Pemerintah mencoba menyelesaikannya lewat sistem harmonisasi perizinan se-ASEAN. ASEAN-Business Advisory Council Indonesia Policy Manager for Food Security Arif P Rachmat mengemukakan, ada empat aspek rekomendasi kebijakan yang diharapkan pelaku industri dan usaha di Asia Tenggara di bidang pangan dan pertanian, yakni perdagangan eksternal ataupun intra-ASEAN, infrastruktur dan teknologi pertanian, inklusivitas akses pasar, serta pembangunan kapabilitas petani.
”Dalam perdagangan eksternal dan intra-ASEAN, kami merekomendasikan penghapusan hambatan nontarif berdasarkan prinsip-prinsip yang sudah disepakati untuk menyeimbangkan aturan yang diperlukan dan fasilitas perdagangan,” tuturnya dalam forum kebijakan bertajuk ”Safeguarding ASEAN’s Food Security in a Time of Growing Uncertainty” pada ASEAN Business & Investment Summit di Jakarta, Minggu (3/9). Dia juga merekomendasikan percepatan proses bea dan cukai untuk benih, biji, pupuk, dan peralatan pertanian melalui harmonisasi standar, regulasi, dan persetujuan. Agar dapat bernegosiasi secara optimal dengan mitra eksternal, ASEAN diimbau untuk mengelola pengadaan kolektif.
Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga menyampaikan, regulasi perizinan setiap negara berbeda-beda. ”Oleh sebab itu, tantangan (hambatan nontarif) tersebut perlu dilihat secara spesifik. Pertemuan AEM (ASEAN Economic Ministers) secara maksimal mendorong hal itu karena kami ingin menguatkan prinsip-prinsip konektivitas. Salah satunya terwujud lewat ASEAN single window yang mengharmonisasi perizinan,” ucapnya. (Yoga)
Perdagangan dengan Arab Saudi Diintensifkan
Hubungan Indonesia dan Arab Saudi yang terjalin baik diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Kerja sama perdagangan terus diintensifkan dengan para pengusaha Arab Saudi. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyampaikan hal itu pada pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Arab Saudi Majid bin Abdullah al-Qasabi, Kamis (24/8/2023), di Jaipur, India. (Yoga)
Peluang Pemulihan Perdagangan Terbatas
Peluang pemulihan perdagangan dunia hingga akhir tahun ini terbatas. Namun, target pertumbuhan perdagangan dunia sebesar 1,7 % masih dapat dicapai jika pertumbuhan perdagangan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Hal itu mengemuka dalam laporan Barometer Perdagangan Barang yang dirilis Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Kamis (24/8). Barometer atau indeks volume perdagangan barang dunia pada Agustus 2023 sebesar 99,1. Meskipun membaik dari barometer Mei 2023 di 95,6, indeks tersebut masih di bawah ambang batas 100. Hal itu mengindikasikan perdagangan mulai sedikit pulih, tetapi masih terbatas. Mayoritas komponen indeks, seperti permintaan ekspor, pelayaran peti kemas, kargo udara, dan bahan baku, masih berada di bawah 100. Hanya komponen produk otomotif yang trennya tumbuh dengan indeks 110,8. Adapun indeks komponen elektrik justru berada di bawah tren, yakni 91,5.
Secara umum, volume perdagangan barang telah turun 1 % secara tahunan. Jika dibandingkan antara triwulan II-2023 dan triwulan I-2023, volume itu turun 0,3 %. Hal itu memperpanjang penurunan yang dimulai pada triwulan IV-2022. WTO menyebutkan factor penyebabnya adalah permintaan global masih lemah dan terbebani lesunya pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, termasuk Uni Eropa dan China. Konflik di Ukraina juga memengaruhi perlambatan permintaan. ”Pada April 2023, WTO memproyeksikan perdagangan dunia tahun ini bisa tumbuh 1,7 %. Target itu masih dapat dicapai jika pertumbuhan perdagangan meningkat pada paruh kedua tahun ini,” sebut laporan itu. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Jumat (25/8) mengatakan, permintaan global, khususnya dari dua ekonomi besar dunia, yakni China dan AS, masih lemah. Hal itu menyebabkan perdagangan global akan tumbuh lambat hingga akhir tahun ini, bahkan tahun depan. (Yoga)
Praktik Bebas Ongkos Kirim Belum Mereda
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) M Feriadi, Kamis (17/8/2023), mengatakan, fenomena bebas ongkos kirim hasil belanja barang di platform e-dagang belum mereda. Padahal, fenomena itu menyalahi Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) Nomor 1 Tahun 2012 tentang Formula Tarif Layanan Pos Komersial. (Yoga)
Pasar Lesu, Eksportir Coba Beragam Cara
Permintaan dari negara mitra dagang utama Indonesia masih lesu. Eksportir coba mempertahankan usaha dengan beragam cara. Di sisi lain, pasar alternatif baru dan perjanjian dagang belum sepenuhnya dapat menggantikan permintaan yang hilang. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Kamis (10/8) mengatakan, hampir semua industri manufaktur berorientasi ekspor masih terdampak pelemahan permintaan global, khususnya industri yang memproduksi barang konsumsi tahan lama, seperti pakaian, sepatu, dan furnitur.
”Dalam kondisi saat ini, mengalihkan pasar atau mengikat kontrak dengan pembeli baru dari luar negeri tidak mudah, yang bisa dilakukan untuk bertahan adalah meningkatkan efisiensi produksi dengan konsekuensi penurunan produktivitas atau kapasitas terpakai,” ujarnya. Selain itu, tak sedikit perusahaan pengekspor yang mengalihkan produksi untuk menyediakan produk yang bisa dijual di dalam negeri. Adapun yang tidak bisa umumnya terus berkoordinasi dengan pembeli dari luar negeri, terutama yang memiliki kontrak penjualan atau rantai pasok untuk meminimalkan potensi stop produksi. Ada juga yang mulai mendiversifikasi pasar ke negara yang permintaannya lebih baik meski daya belinya lebih rendah. Mereka yang semula ekspor ke AS dan Uni Eropa, memindah pasar ke China, India, dan beberapa negara di Afrika. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Volume Perdagangan Kripto Rp 859,4 Triliun
19 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
KKP Gencar Promosikan Kontrak Penangkapan Ikan
19 Feb 2022









