Perbankan
( 2327 )CIMB Niaga Bukukan Kinerja Positif pada Kuartal I/2024
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan perolehan laba sebelum pajak konsolidasi unaudited sebesar Rp2,2 triliun pada kuartal I/2024.Pencapaian kinerja laba sebelum pajak konsolidasian tersebut mencatat kenaikan tahunan sebesar 7,8% year-on-year (YoY) dengan menghasilkan earnings per share Rp66,96. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, pertumbuhan kredit atau pembiayaan yang sehat dan indikator kualitas aset yang membaik menjadi dasar yang kuat bagi perseroan untuk terus memberikan nilai lebih.Di samping itu, kata Lani, kinerja itu juga didukung oleh manajemen biaya yang efektif dengan rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) di bawah 45%. Adapun sejumlah faktor pendorong kinerja perseroan di antaranya kinerja penyaluran kredit atau pembiayaan tercatat naik 6,0% YoY menjadi Rp211,6 triliun, terutama berasal dari pertum buhan pada usaha kecil menengah(UKM) yang naik 9,4% YoY dan perbankan konsumer yang tumbuh 6,9% YoY.
Kenaikan tertinggi di kredit atau pembiayaan ritel terutama dikontribusi dari pertumbuhan kredit pemilikan mobil (KPM) yang meningkat sebesar 15,8% YoY.
CIMB Niaga, paparnya, menjaga posisi per mo dalan dan likuiditas yang solid dengan capital adequacy ratio (CAR) dan loan to deposit ratio (LDR) masing-masing sebesar 24,5% dan 84,2%.Total aset konsolidasian adalah sebesar Rp333,0 triliun per 31 Maret 2024, yang makin memperkuat posisi CIMB Niaga sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia. Total dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp248,0 triliun (+3,3% YoY), menunjukkan rasio current account and savings account(CASA) yang baik sebesar 64,6%.
Di perbankan syariah, Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga (CIMB Niaga Syariah) berhasil mempertahankan posisinya sebagai UUS terbesar di Indonesia, dengan total pembiayaan Rp56,2 triliun (+15,4% YoY) dan DPK sebesar Rp50,6 triliun (+2,6% YoY) per 31 Maret 2024.
CIMB Niaga terpilih sebagai salah satu dari tujuh bank yang mewakili komitmen industri perbankan nasional dalam mencapai net zero emission (NZE) Indonesia, yang ditargetkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
INDUSTRI PERBANKAN : MASIH ADA RUANG AKSELERASI KREDIT
Ruang akselerasi penyaluran kredit korporasi terbuka sejalan dengan permintaan kredit yang masih tinggi pada Hasil Survei Penawaran dan Permintaan Pembiayaan Perbankan yang dirilis oleh BI (BI) pada Maret 2024 yang dirilis kemarin. Berdasarkan survei tersebut, Senin (29/4), BI memproyeksikan permintaan kredit korporasi 3 bulan mendatang atau pada Juni 2024 masih tetap tinggi, tercermin dari SBT 36,8%, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode Mei 2024 dengan saldo bersih tertimbang (SBT) 36,2%. Peningkatan kebutuhan pembiayaan pada Juni 2024 diperkirakan terjadi pada lapangan usaha pertambangan, perdagangan, serta reparasi mobil dan motor. Pertumbuhan pembiayaan korporasi terutama digunakan untuk mendukung aktivitas operasional dan membayar kewajban jatuh tempo yang tidak bisa diakumulasikan atau rollover.
Adapun, pembiayaan korporasi pada Maret 2024 terindikasi meningkat tecermin dari SBT pembiayaan korporasi sebesar 25,3%, meningkat pesat dibandingkan SBT 11,1% pada Februari 2024. Kondisi itu ditopang oleh kebutuhan pembiayaan pada sektor perdagangan, industri, pengolahan, serta konstruksi. Hasil survei itu memberikan ekspektasi kinerja kredit korporasi yang kokoh setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke 6,25% pada pekan lalu. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan secara umum, kinerja kredit korporasi bakal tertahan di tengah iklim suku bunga tinggi.
Dari kalangan perbankan, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya tetap menyalurkan kredit ke sektor-sektor potensial, tentunya dengan memperhatikan berbagai pertimbangan seperti kondisi perkonomian domestik maupun global. EVP Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia Hera F. Haryn menyebutkan pihaknya terus mengupayakan menyalurkan kredit secara hati-hati dengan menerapkan manajemen risiko. Sebagai informasi, BCA mencatatkan pertumbuhan total kredit sebesar 17,1% YoY menjadi Rp835,7 triliun per Maret 2024. Dari realisasi itu, perusahaan menyalurkan kredit korporasi sebesar Rp389,2 triliun atau naik 22,1% Yo Y. Selain BCA, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) turut memanfaatkan insentif likuiditas BI untuk menggenjot penyaluran kredit korporasi.
Direktur Utama Bank BTN Nixon L. P. Napitupulu mengatakan kebijakan itu bisa membantu penyaluran kredit di tengah likuiditas perbankan yang mengetat.
Sebagai bank penyalur kredit pemilikan rumah (KPR) terbesar di Tanah Air, dia menilai pengaruh kenaikan suku bunga atas permintaan kredit, utamanya konstruksi tidaklah signifi kan.
Pada saat dihubungi terpisah, Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman memproyeksikan kinerja kredit korporasi tumbuh di tengah kenaikan suku bunga. Perusahaan pun selektif menyalurkan kredit sesuai dengan insentif KLM bank sentral.
Sebagai informasi, kredit korporasi BJTM mengalami kenaikan 17,97% pada kuartal I/2024. Berdasarkan presentasi perusahaan, Bank Jatim paling banyak menyalurkan pembiayaan ke Perdagangan Besar dan Eceran. Kemudian, disusul konstruksi, industri pengolahan. Selanjutnya, sektor pertanian, perburuan dan kehutanan hingga perantara keuangan.
Biaya Dana Perbankan Bakal Semakin Mahal
Biaya dana perbankan pada kuartal pertama 2024 meningkat. Kenaikan suku bunga acuan bakal membuat kenaikan biaya dana akan terus berlanjut. Apalagi kondisi likuditas juga semakin ketat di tengah selisih pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan pertumbuhan laju kredit yang semakin lebar. Guna menekan kenaikan biaya dana, bank-bank harus bisa mengoptimalkan penghimpunan dana murah alias current account saving account (CASA), dari giro dan deposito. Namun, mendorong kenaikan rasio CASA tidak mudah. Pasalnya, semua bank berlomba-lomba menawarkan bunga tinggi dan menarik untuk menjaring DPK, di saat likuiditas mengetat. Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat penurunan rasio dana murah 287 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 61,66%.
Ini terjadi karena pertumbuhan deposito bank ini meningkat hingga 21,95%, sementara CASA hanya naik 7,8%. Namun, Direktur Utama BRI Sunarso rupanya tak begitu khawatir melihat kondisi ini. Alasannya, CASA masih mendominasi DPK. "CASA BRI tetap tumbuh sejalan dengan transformasi liabilitas," kata dia, baru-baru ini. Bank Central Asia (BCA), sebagai bank dengan CASA terbesar di Tanah Air, mengalami hal serupa. Rasio CASA BCA turun 4 bps dari Maret 2023 jadi 81,5%. Tapi, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyebut, bila dibanding kuartal sebelumnya, CASA masih stabil.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat rasio CASA turun 227 bps jadi 49,9%. Direktur Distribution & Institutional Funding BTN Jasmin menyebut, penurunan ini disebabkan kebijakan BTN yang mulai melepas simpanan giro dengan special rate untuk mendorong CASA. “Sekarang giro-giro tersebut bukan special rate lagi, nantinya menjadi CASA yang berbasis transaksi,” ujarnya.
Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman bilang, kenaikan ini didorong penetrasi layanan digital. Dalam waktu dekat, Bank Jatim akan terus melakukan inovasi layanan digital, salah satunya dengan merilis JConnect New Generation.
Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo menyebut, dana murah Allo Bank stabil, tetapi deposito tercatat turun. "Untuk mendorong CASA, kami berkolaborasi dengan ekosistem CT Corpora," ujar dia.
Strategi Bank Jaga Kredit Bermasalah
Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps basis poin (bps) ke level 6,25%. Sejumlah bank melihat kebijakan tersebut akan berpotensi mempengaruhi kualitas kredit. Terlebih, kondisi ekonomi global masih belum sepenuhnya pulih. Presiden Direktur CIMB Niaga (BNGA) Lani Darmawan menyebut, kualitas kredit yang tercermin dari non performing loan (NPL) merupakan indikator kinerja yang terus dipantau pasca naiknya BI rate. "Naiknya BI rate mengerek cost of fund , sehingga bunga pinjaman harus naik," kata Lani, akhir pekan lalu.
Per akhir 2023 lalu, NPL CIMB Niaga berada di level 2,0%. Dus, lanjut Lani, CIMB Niaga akan lebih selektif menyalurkan kredit baru, untuk memastikan agar NPL tidak melonjak. "Ini termasuk memastikan nasabah yang mengalami kenaikan bunga pinjaman masih bisa mencicil dengan lancar," imbuh Lani.
Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo menimpali, kenaikan NPL kemungkinan bisa terjadi, meski tidak signifikan. Terlebih, portofolio BTN tidak terpapar depresiasi nilai tukar rupiah secara langsung, seperti industri yang bahan bakunya impor.
Senior Faculty
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin menilai, dalam jangka pendek, kenaikan suku bunga tidak akan berpengaruh ke NPL. "Memang, pasti akan ada tingkat pembayaran kredit yang sulit dilakukan oleh debitur. Jika
account
keterlambatan pembayarannya jatuh setelah 6 bulan, pasti akan meningkatkan NPL," katanya.
KINERJA KUARTAL I/2024 : Performa Optimal BPD Bali
PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali berhasil mencatatkan performa ciamik selama kuartal I/2024. Hal ini lantaran laba bersih tercatat sebesar Rp270,53 miliar pada kuartal I/2024, atau tumbuh hingga 35,96% secara tahunan (year-on-year/YoY). Direktur Utama BPD Bali I Nyoman Sudharma menjelaskan bahwa tumbuhnya capaian laba dipacu oleh sejumlah indikator keuangan yang berdampak terhadap makin membaiknya kinerja perseroan. Hal itu, imbuhnya, tercermin dari total aset yang berhasil dibukukan pada kuartal I/2024 mencapai Rp35,86 triliun, atau naik 14,53% YoY. Kepercayaan tersebut yang dijaga dengan sangat baik oleh manajemen dan dibuktikan dari rasio-rasio keuangan yang tetap terjaga.
Pasalnya pada kuartal I/2024, tercatat NPL gross yang terjaga di angka 1,3%, return of asset (ROA) 3,75%, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 64,39%, dan loan to deposit ratio (LDR) 69,69%. Sudharma optimistis bahwa kinerja perseroan akan terus membaik hingga akhir tahun 2024.
BPD Bali melakukan segmentasi penerima KUR, di antaranya sektor prioritas UMKM pertanian dan peningkatan digitalisasi yang mempercepat penilaian terhadap debitur. Selain KUR, BPD Bali juga berinovasi melalui Kredit Usaha Untuk Sejahtera, Unggul dan Maju (Kredit Kusuma), dan Kredit Usaha Untuk Sejahtera, Unggul dan Maju untuk Masyarakat Bali (Kusuma Sari).
PPTP Lampu Kuning
Divestasi yang berlarut-larut dan piutang usaha yang menumpuk berpotensi membuat target PT PP Tbk (PTPP) untuk menurunkan beban utang bak panggang jauh dari api. Kini, perseroan mengerem besar-besaran eksposur pendanaan perbankan dan selektif mengembangkan proyek investasi. Kebijakan itu tidak diambil tidak lepas dari utang menggunung yang ditanggung PTPP. Dalam laporan keuangannya, emiten BUMN Karya ini mengoleksi total utang sebesar Rp41,38 triliun, turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp42,79 triliun. Imbasnya jumlah aset perseroan sedikit menciut dari sebelumnya Rp 57,61 triliun, menjadi Rp56,52 trriliun pada tahun buku 2023. Pada saat bersamaan, PTPP juga bakal menghadapi kewajiban yang mesti dipenuhi dalam jangka pendek sebesar Rp26,99 triliun dan jangka panjang sebesar Rp 14,38 triliun. (Yetede)
Kuartal I Laba Bank Jago Naik 24%
BRI Bukukan Laba Rp15,98 Triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mampu membukukan per tumbuhan laba yang positif dengan berhasil berhasil mencetak laba konsolidasian sebesar Rp15,98 triliun per akhir kuartal I/2024. Pencapaian kinerja perseroan antara lain didukung oleh kinerja penyaluran kredit. Hingga akhir Maret 2024, BRI berhasil menyalurkan kredit se besar Rp1.308,65 triliun atau tumbuh double digit sebesar 10,89% year on year (yoy). Dari total kredit yang tersalurkan tersebut, sebesar 83,25% di antaranya atau sebesar Rp1.089,41 triliun merupakan por tofolio kredit untuk seg men usaha menengah kecil mikro (UMKM).
Penyaluran kredit yang tumbuh double digit tersebut berdampak terhadap meningkatnya aset perseroan yang mencapai Rp1.989,07 triliun atau tumbuh 9,11% yoy. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan bahwa perseroan meyakini pemberdayaan yang terus dilakukan pada segmen UMKM berdampak pada daya tahan ekonomi nasional.
Meskipun mampu mendorong penyaluran kredit tumbuh double digit, perseroan tetap mampu menjaga kualitas kredit yang disalurkannya. Hingga akhir kuartal I 2024 tercatat rasio non performing loan (NPL) BRI terkendali di kisaran 3,11% dengan rasio loan at risk yang membaik, dari 16,39% pada akhir kuartal I/2023 menjadi 12,70% pada akhir kuartal I/2024.
Dari sisi liabilities, perseroan mampu menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp1.416,21 triliun atau tumbuh 12,80% yoy hingga akhir Maret 2024. Dana murah atau current account savings account (CASA) mendominasi portofolio simpanan dengan pertumbuhan 7,80% yoy.Pertumbuhan CASA ini tak lepas dari aspirasi BRI untuk melakukan transformasi liabilitas melalui penguatan basis pendanaan dengan fokus pada lowcost funding dari CASA yang lebih stabil dan berkelanjutan.
BTN Catat Laba Bersih Rp 860 M
Meredam Gejolak Global
Pilihan Editor
-
Kluster Industri Fintech Kian Luas
22 Nov 2019 -
Hyundai Teken Investasi US$ 1 Miliar
14 Nov 2019 -
Dark Skies Ahead for Jokowi's economy : Experts
21 Oct 2019 -
Menteri Ekonomi Harus Benahi Iklim Usaha
21 Oct 2019









