Perbankan
( 2293 )Kebutuhan Pendanaan Non-DPK Perbankan Meningkat
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai kebutuhan perbankan
untuk meningkatkan penyaluran kredit diperkirakan mendorongpendanaan non dana
pihak ketiga (non-DPK) semakin meningkat. Meski demikian, likuiditas perbankan
yang masih memadai saat ini dan selisih biaya menyebabkan pertumbuhan dana
non-DPK belum signifikan.
“Pemanfaatan pendanaan non-DPK potensial lebih banyak
digunakan bank skala menengah dan atas untuk memperbaiki struktur pendanaan
jangka panjang dan mendapatkan selisih biaya dana yang lebih murah,” Jelas
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber dana non-DPK meningkat 3,28 % (yoy) pada Januari 2024
yang mencapai Rp 585,82 triliun atau terkoreksi 0,59 % secara bulanan (month to
month/mtm). Kenaikan pendanan non-DPK secara tahunan terutama dikontribusi oleh
meningkatnya kewajiban bank lain sebesar Rp 17,78 triliun dan pinjaman
pembiayaan diterima sebesar Rp 27,46 triliun. (Yetede)
2023, Hibank Cetak Laba Rp 130,18 Miliar
PT Bank Hibank Indonesia (Hibank) perusahaan anak dari PT
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berhasil membukukan laba bersih
senilai 130,18 miliar. Perolehan tersebut melesat 58,72 % dibandingkan laba
bersih 2022 senilai Rp 82,02 miliar. Pertumbuhan yang tinggi tersebut didukung
setelah proses akuisisi oleh BNI sehingga Hibank lebih ekspansif dalam
meningkatkan kinerjanya, lantaran didukung oleh Induk.
Kredit yang disalurkan Hibank sepanjang 2023 sebesar Rp 6,02
triliun, meningkat 90.51 %. Hibank merupakan bank digital yang difokuskan untuk
menyasar segmen UMKM. Dengan penyaluran kredit tersebut, total aset Hibank
menjadi Rp 14,6 triliun, tumbuh 25,97 % (yoy) pada Desember 2023. (Yetede)
Berkah Gunakan Produk dan Layanan Keuangan Syariah
Bulan Ramadhan menjadi kesempatan merefleksikan produk dan
layanan keuangan yang kita gunakan. Selain produk dan layanan keuangan
konvensional, industri jasa keuangan sudah banyak mengeluarkan produk dan
layanan keuangan syariah. Produk dan layanan keuangan ini menerapkan prinsip-prinsip
syariah, termasuk mengatur pelaku usaha jasa keuangan untuk menempatkan investasinya
di sektor yang halal. Produk dan layanan keuangan syariah sangat beragam,
misalnya produk dan layanan perbankan syariah, sukuk, reksa dana syariah, dan
saham syariah.
Masyarakat dapat memanfaatkan produk dan layanan keuangan
syariah untuk memenuhi kebutuhan berinvestasi dan ibadah serta mendapatkan permodalan
untuk mengembangkan usaha. Produk dan layanan jasa keuangan syariah yang dapat digunakan
masyarakat: 1. Menabung dana haji dengan Tabungan Haji Syariah. Dengan Tabungan Haji Syariah, nasabah yang juga calon jemaah haji akan mampu
mengumpulkan dana untuk beribadah secara disiplin dan terukur. 2. Membayar
sedekah dan zakat. Dengan menggunakan layanan keuangan digital, pembayaran
sedekah dan zakat dilakukan dengan lebih mudah melalui m-banking, ATM, atau QRIS.
3. Memanfaatkan pendanaan syariah untuk usaha/bisnis. 4.
Investasi di instrument keuangan syariah. Instrumen investasi di pasar modal berbasis
syariah adalah sukuk, saham syariah, dan reksa dana syariah. Sukuk adalah efek
berbentuk sekuritisasi aset yang memenuhi prinsip syariah di pasar modal. Pada
umumnya, bentuknya berupa surat berharga atau obligasi yang dikeluarkan
pemerintah atau korporat. Saham syariah merupakan efek berupa saham yang
ditawarkan di pasar modal dan sesuai dengan prinsip syariah. Pengecekan dapat
dilakukan pada Daftar Efek Syariah yang telah dirilis oleh OJK. Reksa dana
syariah merupakan wadah investasi kolektif yang dikelola manajer investasi
menurut prinsip syariah. (Yoga)
Bank Muamalat Siapkan Uang Tunai Rp 736 Miliar
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menyiapkan uang tunai senilai
Rp 736 miliar untuk melayani kebutuhan transaksi selama Ramadhan dan Idufitri
tahun ini. Dirut Bank Muamalat Indra Falatehan mengatakan, uang tersebut
disiapkan untuk penukaran uang baru dan
penarikan tunai di ATM dan kantor cabang. Persiapan ini sekaligus mendukung
program BI untuk memastikan kesiapan uang tunai layak edar selama Ramadhan dan
Idulfitri 1445 Hijriah
Menurut dia, menjelang libur lebaran, kebutuhan transaksi
perbankan masyarakat seperti pengiriman dan penarikan uang meningkat. “Oleh
karena itu sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini kami kembali
berpartisipasi dengan menyiapkan uang
tunai. Hal ini sekaligus wuhjud kontribusi kami dalam melayani umat,” ujarnya,
Jumat (29/3). (Yetede)
Ekspansi Kredit Valas, BNI Rilis Global Bond Rp. 7.94
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) bakal
menerbitkan surat utang senior berdenominasi dolar AS atau global bond sebesar
USD 500 juta atau Rp 7,94 triliun (kurs Rp 15.874). Aksi korporasi tersebut
sebagai upaya diversifikasi sumber pendanaan perseroan untuk menyalurkan kredit
valuta asing (valas).
Perseroan telah menyelesaikan roadshow pada 26 Maret 2024 dan
pricing pada 27 Maret 2024 sehubungan rencana penerbitan surat utang senior
senilai USD 500 juta dengan indikasi kupon sebesar 5,28 % per tahun. Dengan merujuk
ketentuan Regulation S berdasarkan US Senior Act, yang akan terdaftar di
Singapore Stock Exchange. (Yetede)
Target Dividen dan Kredit yang Tak Optimal
Kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tergolong
minim dan bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu. Namun, laba yang diperoleh
perbankan terus meroket dengan pertumbuhan yang fantastis. Contohnya, tahun
2023 diperlukan dana investasi sekitar Rp 9.800 triliun untuk membiayai
pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05 % secara tahunan (yoy) dengan
penambahan produk domestik bruto (PDB) atas harga berlaku sekitar Rp 1.558 triliun.
Dana untuk membiayai pertumbuhan tersebut memang jumbo karena rasio modal yang
dibutuhkan untuk menambah output (incremental capital output ratio/ICOR) Indonesia
saat ini tergolong besar, yakni 6,3. Ternyata kontribusi industri perbankan yang
berasal dari penyaluran kredit investasi dan modal kerja hanya di bawah 10 %.
Pada 2023, Bank Mandiri meraih laba bersih Rp 55,1 triliun
atau tumbuh 33,7 % dibanding tahun sebelumnya. BRI meraup laba Rp 60,4 triliun,
tumbuh 17,5 %. Laba BNI Rp 20,9 triliun, tumbuh 14,2 %. BTN meraih laba Rp 3,5
triliun, tumbuh 15 %, dan laba BSI Rp 5,7 triliun atau tumbuh 33,9 %. Sedang pertumbuhan
penyaluran kreditnya, Bank Mandiri sebesar 16,3 %, BRI 11,2 %, BNI 7,6 %, BTN
11,9 %, dan BSI 16 %, berarti pertumbuhan laba bank-bank BUMN jauh di atas
pertumbuhan kreditnya. Dengan laba jumbo tersebut, bank-bank BUMN pun bisa
menyalurkan dividen tahun buku 2023 kepada pemegang saham dalam jumlah fantastis.
Karena itu, tatkala target dividen tahun buku 2024 dinaikkan oleh Menteri BUMN
Erick Thohir menjadi Rp 85,8 triliun, tentu saja dividen dari bank-bank BUMN
juga harus ditingkatkan.
Agar bisa menyetor dividen lebih besar, bank-bank BUMN
otomatis harus meningkatkan labanya pada tahun 2024. Di sinilah para bankir
diduga akan kembali memainkan paradoksnya, yakni bagaimana di tengah penyaluran
kredit yang tidak optimal, bank tetap bisa meningkatkan labanya. Untuk
meningkatkan laba, bank biasanya akan memperbesar margin keuntungan (profit
margin) dengan memperlebar spread antara suku bunga kredit dan suku bunga dana.
Jika terjadi tren penurunan suku bunga pada semester II-2024, bank akan
menurunkan bunga dana secepat mungkin mengikuti suku bunga acuan, tetapi akan
memperlambat penurunan suku bunga kredit. Bagi bank, strategi ini akan
menguntungkan. Namun, bagi sektor riil dan perekonomian secara keseluruhan, ini
jelas merugikan. Sektor riil, yang sudah dalam kondisi sulit, akan makin
terbebani dengan suku bunga kredit yang masih tinggi. (Yoga)
Layanan Penukaran Uang
Kredit Mikro Perbankan Melesat 23,6 %
Transaksi Muamalat DIN Capai Rp 76,5 Triliun
Februari, Perbankan Himpun DPK Rp 8.193 Triliun
Pilihan Editor
-
Kluster Industri Fintech Kian Luas
22 Nov 2019 -
Hyundai Teken Investasi US$ 1 Miliar
14 Nov 2019 -
Dark Skies Ahead for Jokowi's economy : Experts
21 Oct 2019 -
Menteri Ekonomi Harus Benahi Iklim Usaha
21 Oct 2019









