Perbankan
( 2293 )Memacu KPR, Bank Menabur Promo Bunga
Perbankan semakin memacu penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) pada paruh kedua 2023. Kredit di sektor ini diharapkan menjadi salah satu penunjang pertumbuhan kredit perbankan tahun ini.
Memasuki semester II, laju pertumbuhan KPR semakin membaik. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), KPR tercatat tumbuh 10,3% secara tahunan, lebih tinggi dari Januari yang tumbuh 7,38%.
Sejumlah bank optimistis prospek KPR tahun ini tumbuh dua digit. Berbagai strategi telah disiapkan untuk memacu penyaluran KPR, termasuk promo bunga.
Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya, menargetkan total outstanding KPR menyentuh Rp 122 triliun tahun ini atau tumbuh 12% secara tahunan.
Untuk mencapai itu, Direktur BCA Haryanto Budiman mengatakan, BCA akan mendorong penyaluran KPR atau booking baru sepanjang tahun ini Rp 43 triliun.
Sementara BTN menargetkan KPR tumbuh 10% tahun ini. Hingga Juni 2023, total KPR BTN mencapai Rp 243 triliun atau tumbuh 9,2% secara tahunan. KPR subsidi tumbuh 10,8% jadi Rp 152 triliun dan KPR non subsidi naik 7,49% jadi Rp 90,83 triliun.
Sekretaris Perusahaan BTN, Ramon Armando mengatakan, selama tujuh bulan pertama, BTN sudah menyalurkan KPR baru Rp 23 triliun atau tumbuh 14% secara tahunan. KPR disalurkan untuk membiayai 115.922 unit rumah.
BRI telah menorehkan outstanding KPR Rp 47,9 triliun per Juni 2023, tumbuh 14% secara tahunan. Melihat capaian ini, BRI optimistis bisa mencatatkan pertumbuhan KPR dua digit.
Agustya Hendy Bernadi, Sekretaris Perusahaan BRI mengatakan, perseroan akan memperkuat kolaborasi dengan pengembang dan agen properti untuk mempermudah layanan KPR. Selain itu, BRI juga menggelar pameran secara hybrid dengan menawarkan promo bunga KPR mulai 1,27% fixed satu tahun.
PERSAINGAN BANK DIGITAL : Bank Jago Buka Lebar Ruang Kolaborasi
Penguatan kolaborasi menjadi salah satu strategi kunci yang dijalankan PT Bank Jago Tbk. (ARTO) untuk mengakselerasi bisnis, sekaligus mengantisipasi persaingan di kalangan bank digital yang diramal bakal makin ketat tahun ini. Pionir bank digital di Indonesia itu pun bakal mengoptimalkan berbagai peluang kemitraan strategis dengan korporasi lain. Salah satunya adalah kolaborasi dengan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), termasuk GoTo Finansial. Apalagi, GOTO melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa juga tercatat sebagai pemegang saham Bank Jago dengan porsi 21,4%. Sejumlah fitur anyar tengah dirancang untuk oleh kedua korporasi itu guna memaksimalkan ekosistem GOTO yang terus berkembang. Direktur Utama Bank Jago Arief Harris Tandjung mengatakan pertumbuhan perseroan dalam 3 tahun terakhir cukup bagus, baik dari dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) maupun penyaluran kredit. Begitu pula dengan pertumbuhan jumlah nasabah yang terakselerasi, imbas dari kemitraan strategis dengan GOTO. Capaian positif juga terlihat dari pertumbuhan jumlah nasabah yang hingga tengah tahun ini telah mencapai 8,3 juta nasabah. Menurut Arief, ekosistem GOTO berkontribusi sekitar 35% dari jumlah nasabah tersebut. Menurutnya, perbankan digital akan terus tumbuh. Apalagi, bank-bank konvensional terus mendigitalisasi layanannya. Kendati demikian, dia optimistis Bank Jago mampu kompetitif dengan menyasar segmen khusus, salah satunya nasabah muda. Gayung bersambut, Direktur sekaligus Presiden Financial Technology GOTO Hans Patuwo mengatakan kerja sama dengan Bank Jago bersifat saling melengkapi. Peluang kolaborasi antara Gopay dan Bank Jago juga terbuka luas. Setali tiga uang, Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah Redjalam mengatakan kolaborasi akan menjadi kunci dalam menghadapi persaingan di industri bank digital.
Meski Turun, Cadangan Devisa Dinilai Aman
JAKARTA,ID-Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2023 sebesar US$ 137,1 miliar, menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2023 sebesar US$ 137,7 miliar. Meski demikian, cadangan devisa tersebut dinilai masih dalam posisi aman. Adapun dampak dari kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), baru akan dirasakan dalam beberapa bulan ke depan, karena para pelaku usaha masih melakukan penyesuaian. "Penurunan cadangan devisa ini adalah sesuatu yang wajar, apalagi nilai penurunannya yang relatif tipis. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari penurunannya yang relatif tipis. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari cadangan devisa ini, karena kondisinya masih aman," pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi kepada Investor Daily, Kamis (07/09/2023). Hal senada dikemukakan Ekonom Bank Mandiri Faisal Racman. Dia berpendapat kondisi global saat ini masih menunjukkan adanya ketidakpastian. Dia memperkirakan terjadinya pergeseran neraca transaksi berjalan dari surplus 0,96% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2022 menjadi defisit sekitar -0,65% dari PDB pada tahun 2023. (Yetede)
RASIO NPL BANK : ARAH TERKENDALI KREDIT BERMASALAH
Bisnis perbankan di Indonesia masih mampu mengelola rasio kredit bermasalah dengan cukup baik. Nilai nonperforming loan atau NPL bisnis bank menyusut meski terjadi kenaikan jumlah kredit yang disalurkan.
Hampir sebagian besar lapangan usaha dengan porsi kredit besar, mampu mencatatkan penurunan NPL.Dari sisi nilai, NPL perbankan sampai dengan Juni 2023 sebesar Rp162,2 triliun atau lebih rendah dibandingkan dengan posisi Juni 2022 sebesar Rp176,64 triliun.Jika diukur secara persentase, rasio NPL pada Juni 2023 tercatat 2,44%; lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 2,9%.Sementara, secara bulanan NPL terlihat stagnan. Terbukti, pada 2,57% pada Januari, lalu bergerak 2,58% pada Februari, dilanjutkan menjadi 2,49% pada Maret, kemudian 2,53% pada April, hingga besaran NPL menjadi 2,52% pada Mei 2023.
Direktur Risk Management PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. David Pirzada mengatakan bahwa perbaikan NPL ini sesuai dengan usaha perseroan dalam memperbaiki kualitas kredit. Dia optimistis sampai dengan akhir 2023, level NPL perseroan terjaga di posisi 2,2%—2,3%, lebih baik dibandingkan dengan Desember 2022 yang ada di level 2,8%.
Emiten bank pelat merah dengan kode BBNI itu mencatat rasio kredit bermasalah yang turun 71 basis poin (bps) pada semester I/2023.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga mencatatkan rasio kredit bermasalah sebesar 1,9% pada semester I/2023 atau turun dari 2,2% pada tahun sebelumnya.Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan penurunan NPL BCA utamanya didorong oleh pemulihan arus kas debitur seiring dengan perbaikan aktivitas perekonomian, serta BCA yang terus menerapkan disiplin manajemen risiko dalam penyaluran kredit.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. konsisten menjaga kualitas aset. Hal ini tecermin dari posisi NPL bank only yang melandai ke level 1,53% per Juni 2023. Posisi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan periode Juni 2022 di level 2,47%.Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi turut mengatakan dalam menjaga kualitas aset, Bank Mandiri terus membentuk pencadangan yang memadai.
Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan penurunan NPL secara year-to-date dibanding periode yang sama tahun sebelumnya merupakan kondisi lazim.
Bank Menanti Kajian OJK Soal Kredit Kategori Hijau
Peluang sektor bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara masuk kategori kredit hijau masih terbuka. Peluang ini dibuka oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menegaskan, saat ini OJK tengah mengkaji perluasan indikator pembiayaan PLTU batubara yang bisa masuk dalam kategori hijau.
Sebelumnya, pembiayaan terhadap PLTU batubara bisa masuk kategori hijau jika hanya digunakan untuk transisi energi. Tapi kini, OJK akan memperluas peran PLTU batubara yang digunakan untuk menghasilkan produk hijau dan berkelanjutan.
Dari hasil kajian ini, OJK akan menentukan apakah sektor batubara bisa masuk taksonomi hijau atau tidak. Jika hasil kajian menyebut PLTU batubara bisa memberi dampak positif besar terhadap industri EBT, bisa saja sektor ini masuk kategori hijau.
Ekonom Perbankan Binus University Dody Arifianto menilai wajar jika kajian tersebut dilakukan OJK. Terlebih, sektor pertambangan termasuk batubara di Indonesia tergolong besar.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja juga menyambut baik langkah OJK. Menurut dia, kebutuhan batubara untuk pasar domestik masih besar. "Kebutuhan batubara cukup banyak, dan masih cukup menarik," ujar Jahja.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility
BCA Hera F. Haryn menambahkan, penyaluran kredit BCA ke sektor-sektor berkelanjutan masih besar. Per Juni 2023, total kredit BCA ke sektor ini mencapai Rp 181,2 triliun, naik 6,9% secara tahunan.
Laba Emiten Bank Tembus Rp105 T, Saham Berpotensi Naik 20%
JAKARTA,ID-Emiten perbankan berhasil mencatatkan kinerja moncer selama tujuh bulan 2023 dengan raihan laba bersih mencapai Rp 105 triliun, atau tumbuh 18,7% dibanding periode sama tahun lalu. Kenaikan yang didorong penurunan biaya provisi ini, berpotensi berlanjut seiring likuiditas perbankan Indonesia yang masih cukup besar. Kondisi tersebut membuka peluang peningkatan harga sahamnya di lantai bursa dengan potensi kenaikan harga 20%. "Sejumlah bank yang kami pantau telah merilis kinerja bank-onlynya di Januari-September 2023, dengan laba bersih gabungan sebesar Rp105,6 triliun atau tumbuh 18,7% year on year (yoy)." kata Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi, dan Brandon Boedhiman dalam riset yang dikutip Selasa (5/9/2023). Bank-bank tersebut membukukan angka kredit gabungan sebesar Rp4,0 triliun atau naik 0,9% yoy pada Juli kemarin. Likuiditas perbankan Indonesia juga masih cukup besar, dengan LDR gabungan sebanyak 83,5% pada Juli, dengan total simpanan gabungan mencapai Rp4,8 triliun. "Yang menarik, kami melihat adanya peningkatan performa BBNI setelah kuartal II-2023 yang cenderung lemah, didukung oleh ekspansi NII yang kuat, yang mendorong ekpansi NIM pada bulan Juli 2023," ujar Prasetya. (Yetede)
Aji Baru Pendorong Kredit Usaha Rakyat
Perbankan kini bisa lebih ngebut, memacu penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Aturan besaran subsidi bunga KUR terbaru terbit, meskipun penerbitan beleid ini terbilang lambat dari janji pemerintah. Itu pula yang biang kerok atas penyaluran KUR sejak awal tahun berjalan bak siput. Sebab, jauh-jauh hari pemerintah menebar janji untuk mengubah aturan main penyaluran KUR, berikut subsidi baru. Alhasil, banyak pihak memilih wait and see, menunggu kepastian aturan. Saking lambatnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bahkan memangkas target KUR tahun ini dari semula Rp 450 triliun menjadi hanya Rp 297 triliun.
Dus, Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomer 317 tahun 2023 diharapkan bisa memacu KUR lebih cepat di sisa tahun ini. Apalagi, aturan itu juga memperluas cakupan penerima KUR.
Menetapkan besaran subsidi bunga KUR super mikro sebesar 15%, dengan besaran bunga 3% dibebankan ke nasabah, sesuai dengan Permenko Bidang Perekonomian Nomor 1/2023, maka bunga dasar KUR super mikro sebelum dapat subsidi adalah 18%. General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Sunarna Eka Nugraha menyebut, BNI sudah menyalurkan KUR 50% dari kuota yang diberi pemerintah tahun ini. Sebelumnya, BNI minta kuota KUR turun jadi Rp 22 triliun dari semula Rp 36,5 triliun. Bank Syariah Indonesia (BSI) siap menggenjot KUR. BSI mendapat jatah Rp 14 triliun dan hingga akhir Agustus sudah disalurkan Rp 7,97 triliun atau 56,9%.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna bilang, BSI mendorong penyaluran KUR melalui ekosistem islamik, skema klaster dan komunitas, serta mendorong UMKM naik kelas. "Terbitnya KMK subsidi bunga/margin dapat mendorong percepatan KUR," ujar dia.
Bersiap Spin Off, UUS Perbankan Masih Kaji Model Bisnis
JAKARTA,ID-Ketentuan pemisahan unit usaha syariah (UUS) dari bank induk telah dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sejumlah UUS perbankan masih melakukan kajian mendalam terkait model bisnis sebelum spin off. Pada Juli lalu, diterbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12 Tahun 2023 tentang Unit Usaha Syariah (POJK UUS) sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2KS) Pasal 68 mengenai ketentuan pemisahan UUS, konsolidasi, dan sanksi. POJK UUS selain mengatur pemisahan UUS, juga memuat aturan mengenai UUS, juga memuat aturan mengenai UUS secara konprehensif mulai pembukaan, kepengurusan, jaringan kantor, sampai dengan pencabutan izin usaha UUS atas permintaan bank umum konvensional (BUK). Salah satunya PT Bank CIMB Niaga Syariah Tbk yang masih menggodok strategi pemisahaan UUS. "Spin off ini kan peraturan yang harus ditaati. Saat ini kami masih melakukan assesment untuk jalan terbaik dari sisi model bisnis," jelas Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan kepada Investor Daily, Senin (4/9/2023). (Yetede)
Likuiditas Bank Kian Ketat
Likuiditas perbankan mulai ketat. Kondisi ini tercermin dari rasio
loan to deposit ratio
(LDR) perbankan yang melejit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, LDR perbankan pada Juli 2023 berada di level 82,90%.
Padahal, pada Juni 2023, LDR perbankan masih 82,76%. Bahkan, posisi LDR di akhir 2022 hanya 81,43%. Artinya, baik secara tahunan maupun sejak awal tahun, LDR terus melonjak.
Senior Faculty
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin melihat, meningkatnya LDR bank lebih banyak dipengaruhi oleh pertumbuhan DPK yang melambat.
Menurut Amin, ada sejumlah faktor yang membuat DPK bank melambat. Salah satunya, semakin banyak instrumen investasi, seperti saham dan kripto. Seiring itu, banyak orang mulai mengalihkan dananya ke instrumen investasi lain yang memberi imbal hasil lebih menarik dari bank.
Toh, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengklaim, saat ini likuiditas perbankan masih memadai. Ini terlihat dari rasio alat likuid terhadap
non core deposit
dan alat likuid terhadap DPK per Juli 2023 yang masing-masing 118,37% dan 26,57%. "Ini masih jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing yang sebesar 50% dan 10%," ujar Mahendra.
Pernyataan Mahdendra diamini para bankir. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sunarso mengakui, saat ini tren likuiditas perbankan memang tampak semakin ketat.
Direktur Distribution & Funding
Bank BTN Jasmin mengakui, saat ini tingkat likuiditas bank tergolong ketat. Kondisi ini masih akan terjadi hingga akhir tahun. "LDR BTN saat ini sekitar 94%-95%," katanya.
Laba Perbankan Masih Melaju
JAKARTA,ID-Laba bersih emiten perbankan di Bursaa Efek Indonesia (BEI) masih melaju kencang memasuki semester II-2023. Hal ini ditopang pesatnya pertumbuhan kredit, stabilnya suku bunga acuan, penurunan inflasi, serta akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Per Jui 2023, empat bank besar dari sisi market cap, yakni PT Bank Rakyat Asia Tbk (BRI/BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI), mencetak pertumbuhan laba bersih yang solid, melanjutkan tren positif semester I. Tak ketinggalan, bank dengan market cap di bawah Rp 100 triliun seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI/BRIS) dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) turut menuai pertumbuhan laba bersih yang solid, melanjutkan tren positif semester I. Berdasakan data di lama resmi BCA, per Juli 2023, perseroan mencetak pertumbuhan laba bersih 31,6% menjadi Rp 27,9 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp21,2 triliun. Ini terjadi seiring kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) menjadi Rp 40,4 triliun dari Rp32,9 triliun. (Yetede)









