;
Tags

Perbankan

( 2327 )

BANK SENTRAL DI PERSIMPANGAN

HR1 20 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Arah kebijakan moneter dalam jangka panjang tampaknya tengah berada di persimpangan. Maklum, kebijakan pengetatan maupun pengenduran yang dieksekusi oleh bank sentral masing-masing memiliki konsekuensi yang tak bisa dianggap remeh.Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin, Kamis (19/10), Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6%. Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan ini dalam rangka merespons pelemahan rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global dan sebagai langkah preemptive dan forward looking memitigasi dampaknya ke imported infl ation.Akan tetapi, jika dipahami dengan saksama, menaikkan suku bunga acuan bisa dibilang langkah aman yang bisa ditempuh oleh BI pada saat ini. Musababnya, rupiah masih rawan pelemahan akibat besarnya arus keluar modal asing. Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan memiliki efek yang tak ramah bagi perekonomian nasional. Secara teori, makin tinggi suku bunga maka makin tinggi pula biaya pinjaman yang diakses oleh masyarakat dan pelaku usaha. Sebaliknya, jika BI mempertahankan suku bunga acuan di tengah tingginya volatilitas mata uang Garuda, maka cadangan devisa berisiko makin menyusut lantaran besarnya intervensi yang dilakukan di pasar valuta asing. Inilah yang kemudian memosisikan bank sentral di persimpangan.Solusinya adalah, otoritas moneter pun wajib mengoptimalkan instrumen lain untuk menenangkan rupiah, terutama dua program anyar, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan penempatan valuta asing Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Gubernur BI Perry Warjiyo, menyadari betul kondisi yang dilematis itu. Menurutnya, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) memberikan hantaman bagi mata uang lain, termasuk rupiah. Sejalan dengan itu, selain memaksimalkan instrumen yang ada, BI juga akan menerbitkan senjata baru untuk mendorong masuknya aliran modal asing ke dalam negeri, yakni Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).Kedua instrumen tersebut akan diimplementasikan pada 21 November 2023. SVBI diterbitkan pada tenor 1, 3, 6, 9, dan 12 bulan, sedangkan SUVBI akan diterbitkan dengan tenor 1, 3, dan 6 bulan. "Penerbitan SVBI dan SUVBI sebagai instrumen moneter yang pro market untuk pendalaman pasar uang dan menarik portfolio inflows, dengan mengoptimalkan aset surat berharga dalam valuta asing yang dimiliki BI sebagai underlying," jelas Perry. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, pelemahan rupiah dalam 3 bulan terakhir telah memukul pelaku usaha, khususnya dalam bentuk penggelembungan overhead cost.Anjloknya rupiah menyebabkan penurunan produktivitas usaha dan daya saing ekspor. Bahkan, banyak pebisnis terpaksa menaikkan harga jual akibat kenaikan overhead cost impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal.

Kuartal III, BCA Kantongi Laba Bersih Rp 36,44 Triliun

KT1 20 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan entitas anak mencetak laba bersih sebesar Rp36,44 trliun pada sembilan bulan pertama tahun ini, tumbuh 25,78% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba yang tinggi utamanya didukung dari volume kredit yang meningkat pada kuartal III-2023. Dari sisi profitabilitas, selama sembilan bulan pertama 2023, BCA membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 21,3%  (yoy) menjadi Rp18,3 triliun, ditopang kenaikan pendapatan fee dan komisi sebesar 7,7% (yoy). Secara total, pendapatan operasional tercatat sebesar Rp74,2 triliun atau naik 18,2% (yoy). "Seiring dengan peningkatan kualitas aset, biaya provisi tercatat turun Rp1,6 triliun dibandingkan taun sebelumnya. Secara keseluruhan, laba bersih tumbuh 25,8% (yoy) menjadi Rp36,4 triliun," ujar Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja. (Yetede)

Sembilan Bulan Menahan Bunga Acuan

KT1 20 Oct 2023 Tempo
JAKARTA – Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75 persen selama sembilan bulan sebelum akhirnya mengereknya ke level 6 persen, kemarin. Bank sentral selama ini dianggap bekerja keras menampik kenaikan suku bunga demi menjaga momentum pemulihan perekonomian pasca-pandemi Covid-19. “Harapannya suku bunga dijaga tidak naik agar masyarakat dan dunia usaha mengambil kredit untuk konsumsi dan berekspansi,” ujar Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara kepada Tempo, kemarin.

Mulanya kebijakan itu cukup efektif mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk kembali melakukan konsumsi dan mendorong geliat dunia usaha. Terbukti, pada kuartal pertama 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,03 persen, kemudian meningkat pada kuartal kedua menjadi 5,17 persen. Namun, seiring dengan dinamika perekonomian global, khususnya tren inflasi di berbagai negara di dunia yang melemahkan permintaan dan mendorong kenaikan harga-harga, pemulihan ekonomi melambat. Bhima berujar, indikator utamanya tampak dari kinerja neraca perdagangan yang surplus, tapi bukan surplus yang sehat. “Impor bahan baku dan barang modal turun. Ekspor, khususnya komoditas unggulan, juga turun,” ucapnya. (Yetede)

Jelang Rilis Kinerja, Saham Bank Besar Terkoreksi

HR1 19 Oct 2023 Kontan
Jelang rilis laporan keuangan kuartal III, saham-saham bank besar yang masuk dalam kategori Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 4 justru dilanda koreksi. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dijadwalkan mengumumkan kinerja hari ini. Kemarin, saham BBCA ditutup terkoreksi 1,12% ke level Rp 8.850 per saham. Sementara saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ditutup melorot 2,5% ke level Rp 5.850 per saham dan saham Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 1,44% jadi Rp 5.125 per saham. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tercatat stabil di level Rp 5.150 per saham. Tapi, saham bank ini sempat terkoreksi sebesar 1,9% pada hari sebelumnya. Memang, bila mengacu pada laporan keuangan per Agustus, kinerja bank besar di kuartal III tampaknya tak secerah di paruh pertama. Pertumbuhan laba secara bank only di periode tersebut lebih rendah dari pertumbuhan sepanjang enam bulan pertama. Laba bersih BBCA misalnya, dalam delapan bulan tumbuh 29,1%, lebih rendah dari pertumbuhan laba konsolidasi di paruh pertama, 34%. Laba bersih BBNI hanya tumbuh 11,9%. Padahal di semester satu  labanya naik 17%. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, koreksi yang terjadi saat ini masih dalam kategori wajar. Ini lebih dipengaruhi oleh sentimen makro. Nafan melihat investor sedang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) terkait penetapan tingkat suku bunga. Dia memprediksi suku bunga tidak akan berubah pada Oktober, karena The Fed masih mengambil kebijakan hawkish. Associate Director of Research & Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memaparkan, koreksi saham bank besar kemarin dipengaruhi faktor eksternal, yakni perang Israel-Hamas. Jika eskalasi perang membesar, dampaknya bisa terasa ke ekonomi.

Waspada Kredit Macet Memburuk

KT1 19 Oct 2023 Tempo
JAKARTA — Industri pembiayaan atau multifinance terus berupaya menjaga kualitas penyaluran kredit, khususnya terhadap segmen kredit kendaraan bermotor. BCA Finance, misalnya, berupaya menjaga tingkat rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) perseroan tetap di bawah 3 persen.  Direktur Utama BCA Finance Roni Haslim menuturkan tingkat NPL pada September lalu tercatat 2,63 persen. BCA Finance berkomitmen untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam menyalurkan pembiayaan, meski target pembiayaan baru pada tahun ini diharapkan dapat melesat hingga Rp 37 triliun. 

Adapun pada periode Januari hingga September 2023, pertumbuhan pembiayaan baru perseroan mencapai Rp 29,4 triliun atau naik 26 persen dibanding pada periode yang sama tahun lalu.  “Selebihnya, untuk mengantisipasi NPL, kami berusaha maksimal menagih kepada nasabah yang sudah masuk kategori macet,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. Dari sisi porsi pembiayaan, BCA Finance masih didominasi oleh pembiayaan mobil baru sebesar 70 persen. Sedangkan pembiayaan mobil bekas sebesar 30 persen. (Yetede)

Perbankan Optimistis Kredit Terus Tumbuh

KT3 18 Oct 2023 Kompas

Industri perbankan optimistis dapat membukukan pertumbuhan penyaluran kredit yang positif sampai akhir 2023. Penyaluran kredit selama dua bulan terakhir diharapkan menjadi tren positif bagi industri perbankan sehingga target pertumbuhan kredit hingga dua digit pada tahun ini akan tercapai. Menjawab pertanyaan harian Kompas, Sekretaris Perusahaan PT BNI (Persero) Tbk, Okki Rushartomo, secara tertulis, Selasa (17/10) mengatakan,BNI optimistis penyaluran kredit pada 2023 tumbuh. Strategi untuk mengoptimalkannya dengan menyasar korporasi yang memiliki kapitalisasi pasar besar (blue chip) dan unggulan domestik (regional champion). Strategi lainnya adalah mengoptimalkan produk melalui rantai pasok dan rantai nilai serta mengekspansi sektor yang prospektif.

Hal ini mengingat adanya tren positif pada semester II-2023, seperti peningkatan belanja masyarakat dan pemerintah. Kedua tren positif tersebut akan memberi efek berganda positif bagi perekonomian nasional, termasuk segmen korporasi dan komersial. ”Per Agustus 2023, kami mencatatkan pertumbuhan kredit 8,8 % secara tahunan. Kami juga optimistis kredit dapat bertumbuh sesuai dengan target pertumbuhan kredit perseroan sebesar 7 % hingga 9 % pada akhir 2023,” katanya. Okki menambahkan, pihaknya tetap disiplin menumbuhkan current account saving account (CASA) sebagai basis likuiditas utama sehingga total biaya bunga yang dikeluarkan oleh bank dapat terjaga efisien. (Yoga)

Investor Bertambah, Cuan Bank Semakin Wah

HR1 18 Oct 2023 Kontan
Tren peningkatan investor di pasar modal membawa berkah bagi perbankan. Bank-bank tidak hanya diuntungkan dari layanan bank kustodian yang bertanggung jawab menyimpan efek milik investor, tetapi juga meraup cuan dari rekening dana nasabah (RDN). Seperti diketahui, investor yang berinvestasi di pasar modal wajib memiliki RDN untuk melakukan transaksi jual beli saham atau instrumen lain. Pembukaan RDN tak dapat dilakukan di sembarang bank, tapi harus di bank yang terdaftar sebagai administrator di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Saat ini, jumlahnya hanya sebanyak 18 bank. Bagi bank, keuntungan menjadi administrator RDN antara lain bisa mendatangkan dana murah dan sekaligus sebagai sumber pendapatan non bunga. Bank Mandiri adalah salah satu bank administrator RDN. Jumlah RDN yang dikelola bank ini terus mengalami kenaikan. "Hingga September 2023, jumlahnya sudah tumbuh 5,4% dari akhir tahun lalu," kata Rudi As Aturridha, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, kemarin. Namun, ia tidak merinci jumlahnya. Adapun dana di RDN Bank Mandiri tercatat tumbuh 8,3 % sejak akhir tahun lalu. “Peningkatan portofolio RDN ini berkontribusi cukup pada dana murah Bank Mandiri,” ujar Rudi, Selasa (17/10). Sependapat, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut RDN di BCA memiliki tren positif. Ini seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya berinvestasi. Hera menyebut, pertumbuhan RDN berkontribusi positif terhadap kenaikan pendapatan non bunga BCA. Pada paruh pertama 2023, BCA meraup pendapatan non bunga Rp 12,2 triliun, tumbuh 9,4% secara tahunan. "Ini ditopang kenaikan pendapatan fee dan komisi 5,4%,” ujarnya. Sedikit berbeda, Kepala Divisi Wealth Management BTN, Frengky Rosadrian mengungkapkan, penggunaan RDN BTN masih dioptimalkan untuk karyawan BTN. Rencananya, peluncuran ke nasabah umum baru akan dilakukan pada semester pertama tahun depan. “Sepanjang Januari-September 2023, transaksi rekening RDN meningkat 8,75%,” ujarnya. 

Bank Optimistis Mencatatkan Hasil Positif

HR1 17 Oct 2023 Kontan
Musim rilis laporan keuangan perbankan untuk kuartal III akan segera tiba. Bank-bank besar akan mulai merilis kinerja mulai pekan ini. Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya dijadwalkan merilis kinerja keuangannya pada Kamis (19/10). Jika mengacu laporan bulanan perbankan per Agustus, kinerja bank-bank besar per kuartal tiga tampaknya tak akan secerah kinerja paruh pertama. Bank Rakyat Indonesia (BRI) hanya mencatat laba bersih bank only naik 3,7% selama delapan bulan pertama tahun ini. Sedangkan di semester pertama laba konsolidasinya tumbuh 18,7%. Laba bersih BCA secara bank only dalam delapan bulan tumbuh 29,1%, sedangkan laba konsolidasi semester pertama tumbuh 34%. Laba BNI dalam delapan bulan tumbuh 11,9%, padahal semester pertama sudah tumbuh 17%. Hanya Bank Mandiri yang menorehkan peningkatan pertumbuhan laba. Dalam delapan bulan tumbuh 27,5%, sementara paruh pertama baru meningkat 24,7%. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, BRI tahun ini menargetkan laba bersih Rp 58 triliun. Adapun pada semester pertama sudah tercapai Rp 29,42 triliun. Artinya, perolehan laba di semester II harus lebih tinggi untuk bisa mencapai target itu. Sementara itu, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar memperkirakan kinerja sampai akhir tahun akan tumbuh lebih tinggi seiring dengan kinerja kredit yang semakin solid. Per Agustus, kredit BNI tumbuh 8,45%. Praktisi perbankan BUMN dan Peneliti Lembaga Ekonomi, Sosial, dan Ekosistem Digital (ESED) Chandra Bagus Sulistyo menilai, kinerja perbankan kuartal III terjaga stabil didukung permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga.

Perbankan Kantongi Laba Bersih Rp 141,11 T

KT1 16 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Memasuki paruh kedua tahun ini,  perbankan nasional berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp 141,11 triliun per Juli 2023. Pencapaian tersebut tumbuh 20,42% dibandingkan periode Juli 2022 yang sebesar Rp 117,18 triliun. Meski masih tumbuh dua digit, laba bersih perbankan mencatatkan peningkatan yang mulai landai. Adapun, pada akhir Desember 2022 laba bersih melesat 43,94% secara year on year (yoy) menjadi Rp201,82 triliun. Kemudian, pada Maret 2023 laba bersih tumbuh 33,68% (yoy) menjadi Rp 60,65 triliun. Pada Mei 2023, pertumbuhan laba bersih kembali melandai sebesar 24,08% (yoy). Di akhir Juni 2023, laba tumbuh  23,42% (yoy) menjadi Rp 119,97 triliun, dan kembali melandai pada Juli dengan pertumbuhan 20,42% (yoy). Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya menjelaskan, net interest  margin (NIM) per Juli 2023 tercatat 4,84% meningkat dari akhir Desember  2022 sebesar 4,71%. (Yetede)

Kembangkan Ekosistem Kewirausahaan Lewat Talenta Wirausaha BSI dan Aceh Muslimpreneur

HR1 13 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Langkah perbankan untuk mengembangan ekosistem kewirausahaan memainkan peran sentral dalam men dorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Upaya PT Bank Syariah Indonesia TBk. (BSI) melalui Awarding Talenta Wirausaha BSI dan BSI Aceh Muslimpreneur tidak hanya memperkokoh ketangguhan UMKM untuk naik kelas, tetapi juga sekaligus mendorong pengembangan kewirausahaan berbasis syariah di Indonesia, terutama di Provinsi Aceh. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi Islamic Ecosystem yang kuat. Ekosistem ini menyimpan potensi kewirausahaan yang sangat besar. “Amanah inilah yang menjadi spirit BSI untuk terus menjalankan program kewirausahaan salah satunya melalui Program Talenta Wirausaha BSI dan BSI Aceh Muslimpreneur,” katanya. Program Talenta Wirausaha BSI merupakan program inkubator bagi para wirausaha muda dan muslimpreneur untuk membangun dan meningkatkan kapasitas usahanya sehingga mampu tumbuh dan baik, bankable, dan diharapkan mampu membuka lapangan pekerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pilihan Editor